Perubahan Fungsi Penglihatan Seiring Penuaan: Apa yang Terjadi dan Apa yang Dapat Dilakukan
Abstrak
Penuaan menyebabkan berbagai perubahan fisiologis pada sistem penglihatan, termasuk penurunan akomodasi, peningkatan risiko penyakit mata degeneratif, dan gangguan fungsi lapang pandang. Studi epidemiologis menunjukkan bahwa lebih dari 80% individu berusia di atas 60 tahun mengalami kelainan penglihatan, baik akibat presbiopia, katarak, glaukoma, retinopati diabetik, maupun degenerasi makula terkait usia (AMD). Artikel ini menguraikan perubahan fisiologis mata yang terjadi seiring bertambahnya usia, jenis penyakit mata yang umum dijumpai, serta langkah-langkah preventif berbasis bukti ilmiah untuk mempertahankan kesehatan mata lansia.
Sistem penglihatan merupakan salah satu fungsi sensorik paling vital yang menurun secara progresif dengan bertambahnya usia. Perubahan fisiologis pada kornea, lensa, retina, dan saraf optik dapat menyebabkan gangguan visual signifikan. Berdasarkan data World Health Organization (WHO, 2023), sekitar 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan, dan setengahnya dapat dicegah dengan intervensi dini.
Faktor risiko utama termasuk penuaan, paparan radiasi ultraviolet kronis, merokok, konsumsi alkohol, diabetes melitus, dan hipertensi. Oleh karena itu, pemahaman mengenai mekanisme degenerasi visual dan strategi pencegahan berbasis bukti menjadi penting dalam kesehatan masyarakat.
Perubahan Fisiologis Penglihatan pada Penuaan
Proses penuaan menyebabkan perubahan anatomis dan biokimiawi pada mata, antara lain:
- Penurunan elastisitas lensa yang menyebabkan presbiopia.
- Degenerasi sel epitel kornea sehingga terjadi penurunan kejernihan penglihatan.
- Penurunan sensitivitas retina terhadap cahaya yang memperlambat adaptasi terhadap perubahan pencahayaan.
- Penurunan fungsi otot siliaris sehingga kemampuan akomodasi berkurang.
Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa mulai usia 40 tahun, kemampuan melihat dekat menurun rata-rata 0,3 dioptri per dekade, sedangkan sensitivitas kontras berkurang hingga 20% setelah usia 60 tahun (JAMA Ophthalmology, 2022).
Penyakit Mata yang Umum pada Usia Lanjut
| Penyakit Mata | Patogenesis | Gejala Utama | Data Epidemiologi (Global) | Penatalaksanaan |
|---|---|---|---|---|
| Presbiopia | Hilangnya elastisitas lensa dan kemampuan akomodasi | Sulit membaca dekat | 1,8 miliar kasus global (WHO 2023) | Kacamata baca, lensa multifokal |
| Katarak | Oksidasi protein lensa akibat UV, merokok, atau diabetes | Pandangan buram, silau | 51% penyebab kebutaan dunia | Operasi fakoemulsifikasi |
| Degenerasi Makula Terkait Usia (AMD) | Degenerasi sel fotoreseptor retina pusat | Distorsi bentuk, kehilangan penglihatan sentral | 196 juta kasus global (Lancet, 2020) | Anti-VEGF, suplementasi lutein |
| Glaukoma | Peningkatan tekanan intraokular merusak saraf optik | Penglihatan menyempit, kebutaan progresif | 76 juta kasus global (AAO 2023) | Obat tetes penurun tekanan, pembedahan |
| Retinopati Diabetik | Mikroangiopati retina akibat hiperglikemia kronik | Bintik hitam, pandangan kabur | 30% penderita diabetes mengalami komplikasi ini | Kontrol gula darah, laser fotokoagulasi |
| Mata Kering (Dry Eye) | Disfungsi kelenjar lakrimal dan hormon estrogen | Sensasi terbakar, perih, iritasi | 20–30% lansia mengalami gejala | Air mata buatan, omega-3 |
| Pelepasan Retina (Retinal Detachment) | Pemisahan retina dari epitel pigmen retina | Kilatan cahaya, bayangan tirai | 1:10.000 per tahun (AAO, 2023) | Laser, vitrektomi |
Masalah pada Kelopak Mata
Perubahan elastisitas dan otot kelopak menyebabkan kondisi seperti:
- Ptosis: penurunan posisi kelopak mata atas.
- Dermatochalasis: kelebihan kulit di kelopak mata yang dapat mengganggu penglihatan.
- Blefaritis: inflamasi kronis tepi kelopak disertai gatal dan bengkak.
Studi di Ophthalmic Plastic and Reconstructive Surgery (2021) menunjukkan bahwa 20% pasien berusia di atas 60 tahun memiliki ptosis signifikan, dan 15% mengalami blefaritis kronik.
Faktor Risiko dan Strategi Pencegahan
Penelitian menunjukkan beberapa intervensi gaya hidup dapat menurunkan risiko penyakit mata akibat penuaan:
| Faktor Risiko | Strategi Pencegahan Ilmiah | Sumber Ilmiah |
|---|---|---|
| Paparan sinar UV | Gunakan kacamata hitam 100% UV protection | Ophthalmology Science, 2020 |
| Merokok | Hentikan kebiasaan merokok untuk menurunkan risiko AMD & katarak | British Journal of Ophthalmology, 2021 |
| Pola makan buruk | Konsumsi vitamin C, E, lutein, zeaxanthin, seng, tembaga | AREDS-2 Study, NIH 2020 |
| Diabetes & hipertensi | Kontrol gula darah dan tekanan darah | Diabetes Care, 2021 |
| Kurang pemeriksaan mata | Lakukan pemeriksaan mata rutin 1x/tahun setelah usia 60 tahun | American Academy of Ophthalmology (AAO) |
Rekomendasi Pemeriksaan Mata Berdasarkan Usia
| Usia | Frekuensi Pemeriksaan Mata Komprehensif |
|---|---|
| 40–54 tahun | Setiap 2–4 tahun |
| 55–64 tahun | Setiap 1–3 tahun |
| ≥65 tahun | Setiap tahun |
| Penderita diabetes atau hipertensi | Setiap tahun tanpa memandang usia |
Kesimpulan
Penuaan merupakan proses fisiologis yang tak terhindarkan, namun dampaknya terhadap fungsi penglihatan dapat diminimalkan melalui intervensi gaya hidup sehat, kontrol penyakit sistemik, dan deteksi dini penyakit mata degeneratif. Berbagai studi membuktikan bahwa tindakan preventif seperti penggunaan pelindung UV, penghentian merokok, konsumsi makanan kaya antioksidan, serta pemeriksaan mata berkala dapat menurunkan risiko kebutaan hingga 40–60% pada populasi lansia. Edukasi kesehatan mata sejak usia produktif merupakan kunci keberhasilan pencegahan.
Saran
- Untuk individu usia >60 tahun, lakukan pemeriksaan mata komprehensif minimal setiap tahun.
- Terapkan diet tinggi antioksidan dengan memperbanyak konsumsi sayuran hijau dan buah berwarna oranye-kuning.
- Hindari merokok dan paparan sinar UV berlebih dengan penggunaan kacamata pelindung berkualitas.
- Kontrol penyakit sistemik seperti diabetes dan hipertensi yang menjadi faktor risiko utama gangguan penglihatan.
- Pemerintah dan tenaga kesehatan perlu memperkuat program skrining dan edukasi mata sehat bagi lansia untuk menekan angka kebutaan akibat penyakit yang dapat dicegah.











Leave a Reply