DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Strategi Suplementasi Nutrisi pada Lansia: Rekomendasi Global, Bukti Ilmiah, dan Risiko dalam Praktik Klinis

Strategi Suplementasi Nutrisi pada Lansia: Rekomendasi Global, Bukti Ilmiah, dan Risiko dalam Praktik Klinis

Judarwanto Widodo, Yudhasmara Audi

Abstrak

Suplementasi nutrisi pada lansia menjadi perhatian global mengingat meningkatnya angka malnutrisi, sarcopenia, dan penyakit kronis pada populasi usia lanjut. Organisasi internasional seperti WHO, ESPEN, dan American Geriatrics Society (AGS) memberikan rekomendasi suplementasi yang bersifat selektif, berbasis bukti, dan disesuaikan dengan kondisi individu. Artikel ini mengkaji definisi ilmiah suplementasi, bukti penelitian terkini, serta potensi risiko dan manfaatnya pada lansia. Selain itu, dibahas pula prinsip kehati-hatian klinis dalam pemberian suplemen, termasuk potensi bahaya akibat interaksi obat, gangguan ginjal, dan toksisitas dosis tinggi. Pendekatan “food first” dinilai menjadi prinsip utama dalam praktik geriatri modern. Artikel ini memberikan evaluasi kritis untuk membantu klinisi, perawat, dan pengambil kebijakan dalam menetapkan strategi nutrisi yang aman dan efektif pada lansia.

Pendahuluan

Penuaan menyebabkan perubahan fisiologis signifikan yang memengaruhi asupan, metabolisme, dan kebutuhan nutrisi, sehingga populasi lansia berisiko mengalami defisiensi beberapa zat gizi penting. Dalam konteks ini, suplementasi nutrisi sering dianggap solusi cepat untuk mengatasi kekurangan zat gizi. Namun, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan suplemen tidak selalu aman dan dapat menyebabkan efek samping serius bila tidak diberikan berdasarkan indikasi klinis. Oleh karena itu, organisasi global seperti WHO, ESPEN, dan AGS menekankan bahwa suplementasi harus dipertimbangkan secara hati-hati dan hanya diberikan ketika benar-benar diperlukan.

Selain itu, lansia merupakan kelompok yang rentan terhadap polifarmasi dan penurunan fungsi organ seperti ginjal dan hati, yang dapat meningkatkan risiko toksisitas dan interaksi obat. Praktik pemberian suplemen yang tidak terkontrol, terutama vitamin dosis tinggi atau produk herbal yang tidak terstandar, dapat meningkatkan risiko hospitalisasi. Artikel ini berupaya memberikan panduan ilmiah dan komprehensif mengenai strategi suplementasi, bukti manfaat dan risiko sesuai literatur, serta pedoman organisasi internasional untuk memastikan keselamatan dan efektivitas intervensi nutrisi pada populasi lansia.

Suplementasi Nutrisi pada Lansia

  • Suplementasi nutrisi didefinisikan sebagai pemberian zat gizi mikro atau makro dalam bentuk non-makanan (tablet, kapsul, serbuk, cairan), bertujuan mengoreksi defisiensi atau mendukung fungsi fisiologis tertentu. Pada lansia, suplementasi sering difokuskan pada vitamin D, kalsium, vitamin B12, asam lemak omega-3, dan protein tambahan karena tingginya prevalensi defisiensi nutrisi akibat penurunan nafsu makan, gangguan absorpsi, dan perubahan metabolisme. Secara ilmiah, suplementasi harus dibedakan dari fortifikasi dan konsumsi makanan alami, karena bioavailabilitas dan efek fisiologisnya berbeda.
  • Selain itu, suplementasi nutrisi harus didasarkan pada konsep evidence-based medicine. Tidak semua suplemen terbukti efektif, dan beberapa justru tidak memberikan manfaat signifikan pada populasi sehat. Dalam konteks lansia, indikasi klinis yang jelas diperlukan karena potensi toksisitas meningkat seiring penurunan fungsi ginjal dan hati. Oleh karena itu, definisi ilmiah menekankan bahwa suplementasi bukan bagian rutin dari pola makan, melainkan intervensi medis.
  • Suplementasi juga harus dipahami sebagai bagian dari manajemen nutrisi keseluruhan, bukan terapi tunggal. Suplemen tidak menggantikan kebutuhan diet seimbang, konsumsi protein adekuat, aktivitas fisik, serta manajemen komorbiditas. Karena itu, pendekatan individual dan multidisiplin menjadi dasar dalam praktik geriatri modern.

Berdasarkan Penelitian Ilmiah

  • Bukti ilmiah menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D berperan penting untuk kesehatan tulang dan imunitas pada lansia. Meta-analisis ESPEN dan Cochrane menunjukkan bahwa suplementasi 800–1000 IU/hari dapat menurunkan risiko jatuh dan fraktur pada lansia yang kekurangan vitamin D, terutama mereka yang jarang terpapar matahari. Namun, dosis tinggi lebih dari 4000 IU/hari tidak meningkatkan manfaat dan justru menambah risiko hiperkalsemia. Ini mendukung pentingnya dosis yang terukur dan pemantauan laboratorium.
  • Suplementasi kalsium juga banyak digunakan untuk mencegah osteoporosis, tetapi penelitian terbaru menunjukkan hasil yang beragam. Sebagian meta-analisis menemukan manfaat moderat pada kepadatan tulang, namun beberapa studi menunjukkan kemungkinan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular terutama pada penggunaan kalsium dalam dosis tinggi sebagai suplemen, bukan dari makanan. Oleh karena itu, banyak organisasi kini menganjurkan memenuhi kebutuhan kalsium melalui makanan terlebih dahulu.
  • Vitamin B12 merupakan suplemen lain yang diperlukan, terutama pada lansia dengan gangguan absorpsi akibat atrofik gastritis atau penggunaan metformin. Studi menunjukkan bahwa suplemen hingga 500–1000 mcg/hari aman dan efektif memperbaiki kadar serum B12 serta mencegah neuropati. Namun, suplementasi tanpa indikasi tidak memberikan manfaat tambahan.
  • Suplemen protein seperti whey dan BCAA digunakan dalam manajemen sarcopenia. Penelitian menunjukkan peningkatan sintesis protein otot bila dikombinasikan dengan latihan fisik intensitas ringan–sedang. Namun, risiko terjadi penurunan fungsi ginjal pada lansia dengan penyakit ginjal kronis (CKD) harus dipertimbangkan, sehingga skrining fungsi ginjal menjadi penting sebelum memberikan suplemen protein.
  • Omega-3 memiliki manfaat dalam kesehatan kardiovaskular dan fungsi otak pada lansia. Namun, dosis tinggi (>2 gram EPA/DHA per hari) dapat meningkatkan risiko perdarahan terutama pada pasien yang menggunakan antikoagulan. Hal ini menegaskan perlunya pengawasan ketat ketika suplemen digunakan sebagai intervensi medis.

Rekomendasi Organisasi Global (WHO, ESPEN, AGS)

Organisasi-organisasi global menekankan prinsip kehati-hatian. WHO hanya merekomendasikan suplementasi ketika terdapat defisiensi yang terbukti secara epidemiologis atau klinis. ESPEN merekomendasikan suplementasi terarah berdasarkan penilaian nutrisi (NRS-2002 atau MNA), terutama pada kasus malnutrisi, sarkopenia, dan kondisi akut. AGS menekankan bahwa suplemen tidak boleh menggantikan intervensi diet dan aktivitas fisik, serta harus diberikan dengan evaluasi komprehensif termasuk interaksi obat.

Tabel Rekomendasi Suplemen untuk Lansia

Jenis SuplemenIndikasi Klinis UtamaDosis yang Umum DirekomendasikanCatatan Risiko / PeringatanSumber Rekomendasi
Vitamin DPaparan matahari rendah, risiko jatuh, osteoporosis, fragilitas otot800–1000 IU/hariRisiko hiperkalsemia terutama bila gangguan ginjalWHO, ESPEN, AGS
KalsiumDefisiensi kalsium, osteoporosis, asupan kalsium diet < 1000 mg/hari500–1200 mg/hari (dari total diet + suplemen)Risiko batu ginjal, potensi peningkatan risiko kardiovaskularESPEN, AGS
Vitamin B12Gastritis atrofik, penggunaan metformin/PPI, neuropati500–1000 mcg/hari (oral) atau injeksi sesuai indikasiDosis tinggi umumnya aman, tetapi perlu evaluasi berkalaWHO, ESPEN
Protein Whey / Protein TambahanSarkopenia, malnutrisi, pemulihan penyakit kronis20–40 g/hari sebagai tambahan dietHindari pada gagal ginjal beratESPEN, AGS
Omega-3 (EPA/DHA)Inflamasi kronis, penyakit kardiometabolik, sarkopenia1–2 g/hariRisiko perdarahan pada pengguna antikoagulanESPEN, AGS
MultivitaminAsupan makan sangat rendah, fragil, atau institutionalizedDosis RDA harianRisiko hepatotoksisitas bila mengandung herbal atau megadosisWHO, AGS

Rekomendasi suplemen pada lansia harus selalu bersifat terarah dan berbasis indikasi, sebagaimana ditegaskan oleh WHO, ESPEN, dan American Geriatrics Society. Suplemen yang paling sering dibutuhkan adalah vitamin D, kalsium, vitamin B12, protein tambahan, dan omega-3, terutama pada lansia dengan asupan nutrisi rendah, sarkopenia, atau kondisi medis tertentu seperti osteoporosis atau inflamasi kronis. Namun, suplemen bukan terapi universal dan memiliki risiko, misalnya hiperkalsemia akibat vitamin D dosis tinggi, batu ginjal dari kalsium, atau perdarahan akibat omega-3 terutama bila dikombinasikan dengan obat antikoagulan. Karena itu, suplemen harus diberikan melalui evaluasi klinis, pemantauan teratur, dan prinsip “food first, supplement second”, memastikan bahwa pola makan tetap menjadi sumber utama nutrisi lansia.

Bagaimana Sikap Kita?

  • Pertama, tenaga kesehatan perlu mengedepankan pendekatan berbasis bukti (evidence-based), dengan menghindari pemberian suplemen tanpa indikasi. Pemeriksaan laboratorium, penilaian fungsi ginjal, serta evaluasi konsumsi makanan harus dilakukan sebelum meresepkan suplemen apa pun. Prinsip ini mencegah risiko toksisitas dan interaksi obat yang sering terjadi pada lansia.
  • Kedua, edukasi masyarakat sangat penting, karena banyak lansia membeli suplemen secara mandiri berdasarkan iklan komersial atau informasi non-ilmiah. Tenaga kesehatan harus menjelaskan bahwa banyak suplemen tidak terbukti bermanfaat pada orang sehat dan justru dapat menimbulkan kebahayaan. Pendekatan “food first” perlu diutamakan—pemenuhan nutrisi dari makanan alami jauh lebih aman.
  • Ketiga, kebijakan layanan kesehatan perlu memastikan pemantauan berkala bagi lansia yang mengonsumsi suplemen. Intervensi harus dipersonalisasi berdasarkan kondisi fungsional, komorbiditas, dan faktor sosial. Dengan pengawasan ketat, suplemen dapat memberikan manfaat tanpa mengorbankan keselamatan pasien.

Kesimpulan

Suplementasi pada lansia merupakan intervensi medis yang memerlukan penilaian cermat dan berbasis bukti. WHO, ESPEN, dan AGS sepakat bahwa suplemen tidak boleh diberikan secara rutin tanpa indikasi klinis yang jelas. Bukti ilmiah menunjukkan manfaat suplementasi vitamin D, B12, omega-3, dan protein pada kondisi tertentu, tetapi juga menegaskan potensi risiko seperti hiperkalsemia, perdarahan, dan interaksi obat. Pendekatan komprehensif yang mengutamakan makanan alami, pemantauan laboratorium, dan evaluasi fungsional merupakan kunci keselamatan lansia dalam penggunaan suplemen. Kebijakan dan edukasi yang tepat diperlukan untuk memastikan penggunaan suplemen yang aman dan efektif.

Daftar Pustaka

  • European Society for Clinical Nutrition and Metabolism (ESPEN) Guideline on Clinical Nutrition and Hydration in Geriatrics. Clin Nutr. 2019.
  • World Health Organization (WHO). Nutritional interventions for older adults: WHO Guideline. 2023.
  • American Geriatrics Society. AGS Clinical Guidelines for Older Adults: Nutrition and Supplement Use. 2021.
  • Bischoff-Ferrari HA et al. Vitamin D supplementation and fall prevention: meta-analysis. N Engl J Med.
  • Reid IR et al. Calcium supplementation and cardiovascular risk: review and meta-analysis. BMJ.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *