Campak pada Dewasa: Tinjauan Klinis, Patofisiologi, Diagnosis dan Penanganan
Yudhasmara Sandiaz
Abstrak
Campak — meskipun sering dianggap sebagai penyakit masa kanak-kanak — juga dapat terjadi pada orang dewasa, terutama mereka yang tidak pernah diimunisasi atau belum pernah terinfeksi sebelumnya. Pada dewasa, campak dapat menunjukkan gambaran klinis yang lebih berat serta risiko komplikasi lebih tinggi dibandingkan anak-anak. Artikel ini meninjau definisi, epidemiologi, jalur penularan, imunopatofisiologi, presentasi klinis, diagnosis, komplikasi, penanganan, serta pencegahan campak pada populasi dewasa. Pemahaman komprehensif terhadap aspek-aspek ini penting untuk deteksi dini, penanganan tepat, dan strategi pencegahan yang efektif, terutama di komunitas dengan tingkat kekebalan rendah.
Pendahuluan
Campak (measles) merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus, family Paramyxoviridae. Penyakit ini dikenal luas terutama sebagai penyakit pada masa kanak-kanak. Namun, seiring dengan penurunan cakupan imunisasi pada sebagian populasi dan populasi dewasa yang belum kebal, campak pada dewasa kembali menjadi perhatian. Kasus pada dewasa sering disertai dengan morbiditas yang lebih berat serta risiko komplikasi serius.
Walaupun banyak literatur tentang campak pada anak, data klinis dan epidemiologis pada dewasa relatif lebih sedikit. Studi dari India terhadap klaster dewasa menunjukkan bahwa meskipun measles lebih identik dengan anak-anak, dewasa dapat terinfeksi dan menunjukkan gejala khas termasuk demam, ruam, batuk, dan gejala mata/konjungtivitis. Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan dan masyarakat untuk memahami karakteristik campak dewasa agar diagnosis dan penanganan tidak tertunda.
Definisi
- Campak adalah infeksi akibat measles virus — virus RNA negatif ber-sense tunggal, genus Morbillivirus, family Paramyxoviridae.
- Infeksi ini ditandai oleh periode inkubasi rata-rata 11–12 hari setelah paparan virus, kemudian muncul prodromal yang meliputi demam, batuk, pilek (coryza), dan konjungtivitis. Setelah 3–7 hari dari onset prodromal, ruam makulopapular sifat khas muncul, biasanya mulai dari wajah lalu menyebar ke tubuh dan ekstremitas.
- Secara klinis, kasus campak bisa diklasifikasikan sebagai kasus “klinis” bila terdapat demam, ruam makulopapular, dan sedikitnya salah satu gejala batuk/pilek atau mata merah (konjungtivitis), terutama jika belum dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Epidemiologi
- Sebelum program imunisasi meluas, campak bertanggung jawab terhadap jutaan kematian per tahun di seluruh dunia. (NCBI) Meskipun vaksin tersedia, penyakit ini tetap muncul, terutama di area dengan cakupan imunisasi rendah atau populasi dewasa yang belum kebal
- Pada populasi dewasa, studi kohort terbaru menunjukkan bahwa campak dapat menyebabkan rawat inap, dan presentasi sering lebih berat dibanding pada anak-anak. Sebagai contoh, dalam satu studi di Romania, pasien dewasa dengan campak (usia 16–64 tahun) menunjukkan bahwa sebagian besar (≈ 74.6%) tidak memerlukan terapi oksigen, namun beberapa mengalami bentuk klinis sedang hingga berat.
- Risiko komplikasi berat lebih tinggi pada kelompok usia ≥ 20 tahun, pada orang dewasa dengan status gizi kurang atau imunokompetensi rendah, dibandingkan populasi dengan kekebalan atau nutrisi baik. (CDC) Epidemiologi di Indonesia menunjukkan bahwa campak tetap terjadi — di tahun 2022 dilaporkan ribuan kasus di banyak kabupaten/kota, menunjukkan bahwa penularan masih berlangsung terutama di daerah dengan cakupan imunisasi menurun
Penyebab dan Penularan
- Penyebab utama campak adalah virus measles yang telah disebut di atas. Struktur virus ini memungkinkan penempelan ke sel inang melalui protein hemagglutinin (HA), selanjutnya masuk dan bereplikasi dalam sel pernapasan.
- Penularan terjadi terutama melalui droplet pernapasan — saat penderita batuk, bersin, atau berbicara — serta kontak langsung dengan sekresi pernapasan atau permukaan yang terkontaminasi. Virus ini sangat menular, dan manusia adalah reservoir utama.
- Selain itu, virus dapat bertahan dalam udara (aerosol) maupun droplet kecil di lingkungan untuk periode tertentu, sehingga orang dewasa yang belum kebal — terutama dalam ruangan tertutup atau padat — berisiko tinggi tertular. Faktor utama risiko tinggi meliputi ketiadaan riwayat imunisasi, status gizi buruk, atau imunodefisiensi.
Imunopatofisiologi
- Setelah virus masuk melalui saluran pernapasan, terutama epitel respirasi atas, virus melekat pada sel inang melalui protein hemagglutinin (HA) dan kemudian masuk ke dalam sel. Virus bereplikasi dalam sel epitel, sel limfoid, dan makrofag regional.
- Dari sana, virus menyebar ke kelenjar limfa regional, menyebabkan viremia sistemik. Selama fase viremia, virus mencapai organ tubuh lain — termasuk sistem pernapasan, kulit, konjungtiva, serta organ limfoid — sehingga memunculkan gejala sistemik seperti demam, batuk, dan konjungtivitis.
- Respon imun tubuh terhadap infeksi melibatkan aktivasi sel T dan produksi antibodi spesifik (termasuk IgM) terhadap virus. Respons imun ini akhirnya membantu membersihkan virus dari tubuh, dan biasanya memberikan imunitas jangka panjang.
- Namun, infeksi juga dapat menyebabkan penurunan sementara limfosit perifer — efek imunosupresif — yang membuat penderita rentan terhadap infeksi sekunder (bakteri, paru, telinga) selama dan setelah penyakit akut. Studi dewasa menunjukkan bahwa infeksi campak pada orang dewasa sering diiringi gangguan ringan pada hati, tetapi prognosis umum tetap baik bila tidak ada komplikasi berat.
- Setelah masuk melalui saluran pernapasan atas, virus campak (Measles morbillivirus) menempel pada sel epitel respirasi menggunakan protein hemagglutinin (H) dan melewati membran sel melalui fusi yang dimediasi protein F. Virus kemudian bereplikasi dalam sel epitel, makrofag, dan sel limfoid regional seperti sel dendritik dan sel T memori. Sel dendritik yang terinfeksi memfasilitasi penyebaran virus ke kelenjar getah bening dan organ limfoid primer, termasuk limpa dan timus, menghasilkan limfosupresi sementara. Replikasi virus pada sel epitel dan sel limfoid memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi seperti IL-1, IL-6, TNF-α, serta chemokine yang menarik sel imun ke lokasi infeksi. Akibatnya, terjadi kerusakan epitel respirasi atas dan penurunan fungsi sel T yang sementara, yang berkontribusi pada peningkatan kerentanan terhadap infeksi sekunder.
- Sel T CD4+ dan CD8+ diaktifkan melalui pengenalan antigen viral oleh sel dendritik, memicu proliferasi dan diferensiasi sel T efektor serta produksi sitokin spesifik seperti IFN-γ dan IL-2 yang membantu kontrol replikasi virus. Sel B merespons antigen virus dengan menghasilkan antibodi IgM awal dan kemudian IgG serta IgA sekretori, yang penting untuk penetralan virus dan pencegahan infeksi ulang. Interaksi kompleks antara sitokin, sel T, dan sel B memodulasi imunitas humoral dan seluler, sementara virus tetap dapat menginfeksi organ target lain seperti kulit dan konjungtiva, menghasilkan eksantema khas campak. Akumulasi respons imun inilah yang menyebabkan gejala sistemik, termasuk demam, malaise, dan ruam makulopapular, sekaligus memberikan dasar imunitas jangka panjang terhadap infeksi selanjutnya.
Tanda dan Gejala
| Gejala / Tanda | Penjelasan / Catatan Klinis |
|---|---|
| Demam tinggi (≤ 40–40,5 °C) | Biasanya muncul awal, sebagai bagian dari prodromal. |
| Batuk, pilek (coryza), sakit tenggorokan | Gejala saluran napas atas, umum pada tahap awal |
| Konjungtivitis (mata merah, berair), fotofobia | Inflamasi mata sering terjadi; pasien bisa sensitif terhadap cahaya. |
| Bercak putih keabuan di mukosa mulut (Koplik’s spots) | Tanda patognomonik campak, muncul pada fase prodromal. |
| Ruam makulopapular (merah, bercak-bercak) | Muncul 3–7 hari setelah gejala awal, mulai dari wajah lalu menyebar ke tubuh. |
| Nyeri otot, malaise, kelelahan, menurunnya nafsu makan | Gejala sistemik tambahan yang umum, terutama pada dewasa. |
| Gejala gastrointestinal (diare, mual, muntah) | Bisa terjadi, terutama pada kasus dengan komplikasi |
Secara umum, presentasi klinis campak pada dewasa mirip dengan anak-anak — namun gejala cenderung lebih berat dan risiko komplikasi lebih besar
Diagnosis
- Diagnosis campak pada dewasa awalnya bersifat klinis: kombinasi demam, batuk/pilek, konjungtivitis, kemudian ruam makulopapular dan/atau Koplik’s spots, terutama bila ada riwayat kontak atau epidemiologi mendukung.
- Namun, karena presentasi bisa bervariasi — misalnya pada dewasa dengan kekebalan parsial, imunokompromis, atau vaksinasi sebelumnya — diagnosis klinis saja kadang tidak cukup. Oleh karena itu pemeriksaan laboratorium penting: deteksi antibodi IgM terhadap virus measles, atau menggunakan metode molekuler seperti RT-PCR pada spesimen respirasi atau urin.
- Perlu dicatat bahwa IgM bisa negatif jika diambil terlalu awal (< 4 hari setelah ruam muncul), sehingga idealnya dilakukan pemeriksaan ulang bila kecurigaan klinis tetap tinggi. Diagnosis banding penting dilakukan—misalnya dengan rubella, infeksi virus lain (HHV6), parvovirus B19, atau penyakit dengan ruam makulopapular serupa.
Komplikasi
- Pada orang dewasa, campak berisiko menimbulkan komplikasi serius. Komplikasi yang sering dilaporkan meliputi pneumonia (infeksi paru), infeksi telinga (otitis media), dehidrasi akibat diare/muntah, dan infeksi sekunder lainnya — terutama bila status gizi kurang atau sistem imun terganggu.
- Komplikasi neurologis seperti encephalitis terkadang terjadi, meskipun jarang, dan dapat mengakibatkan kematian atau cacat neurologis permanen. Komplikasi jangka panjang juga mungkin — salah satunya Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), meskipun sangat jarang, yang bisa muncul bertahun-tahun setelah infeksi akut.
- Risiko kematian lebih tinggi pada kelompok dewasa dengan faktor risiko seperti malnutrisi, imunodefisiensi, atau akses pelayanan kesehatan terbatas.
Penanganan
- Penanganan campak pada dewasa pada dasarnya suportif. Fokus utama adalah menjaga hidrasi, nutrisi, istirahat, dan mengatasi gejala — demam, batuk, konjungtivitis, serta mencegah dan menangani komplikasi.
- Pemberian suplemen seperti vitamin A dianjurkan, khususnya pada pasien dengan risiko komplikasi berat atau status gizi kurang, karena vitamin A dapat membantu memperbaiki respons imun dan menurunkan morbiditas.
- Perawatan suportif lain bisa meliputi pemberian oksigen atau terapi pernapasan bila terjadi pneumonia, serta perawatan intensif bila ada komplikasi neurologis. Penting juga menghindari penggunaan antibiotik profilaksis kecuali ada indikasi infeksi bakteri sekunder. Studi dewasa menunjukkan bahwa meskipun perubahan biokimia (misalnya kerusakan ringan hati) bisa terjadi, prognosis umumnya baik jika komplikasi ditangani secara tepat.
- Perawatan rawat jalan dapat dipertimbangkan jika tidak ada komplikasi dan pasien dapat dipantau dengan baik. Namun, pasien dewasa dengan komorbiditas, status gizi buruk, atau risiko tinggi komplikasi sebaiknya dirawat di fasilitas kesehatan.
Tabel Penanganan Medikamentosa dan Supportif
| Intervensi | Indikasi / Catatan |
|---|---|
| Vitamin A | Dianjurkan pada pasien berisiko tinggi atau dengan defisiensi nutrisi; membantu mendukung sistem imun dan mengurangi keparahan. |
| Terapi suportif (hidrasi, nutrisi, istirahat) | Semua pasien campak, untuk mendukung pemulihan dan mencegah dehidrasi. |
| Terapi simptomatik (antipiretik, decongestan, pelembab mata) | Untuk mengendalikan demam, batuk/pilek, konjungtivitis; memudahkan pasien dalam fase akut. |
| Terapi komplikasi (oksigen, antibiotik bila infeksi bakteri sekunder, perawatan intensif) | Bila terjadi pneumonia, infeksi telinga, atau komplikasi berat — tergantung kondisi klinis dan hasil pemeriksaan. |
Penanganan medikamentosa terfokus pada suplemen (vitamin A) dan terapi suportif; tidak ada antivirus spesifik untuk virus campak yang tersedia secara luas.
Pencegahan
- Pencegahan utama campak adalah imunisasi lengkap — misalnya melalui vaksin MMR vaccine (Measles, Mumps, Rubella) atau vaksin campak tunggal sesuai program imunisasi.
- Selain itu, strategi pencegahan lain meliputi memastikan cakupan imunisasi yang tinggi dalam komunitas (herd immunity), serta meningkatkan kesadaran bahwa orang dewasa tanpa kekebalan tetap berisiko. Pada situasi wabah atau populasi rentan, vaksinasi catch-up untuk dewasa juga dapat dipertimbangkan.
Kesimpulan
Campak pada dewasa — meskipun kurang umum dibanding pada anak-anak — tetap merupakan masalah kesehatan yang nyata, terutama bagi mereka tanpa kekebalan atau imunisasi lengkap. Presentasi klinis bisa lebih berat, dan risiko komplikasi serius lebih tinggi dibandingkan anak-anak. Diagnosis harus mempertimbangkan presentasi klinis dan pemeriksaan laboratorium bila memungkinkan. Penanganan sebagian besar suportif, dengan suplementasi vitamin A dan perawatan komplikasi bila muncul. Pencegahan melalui imunisasi tetap menjadi strategi paling efektif. Oleh karena itu, upaya imunisasi dan pendidikan kesehatan perlu diperkuat, termasuk di kalangan dewasa, untuk mencegah terjadinya kasus campak dewasa.
Daftar Pustaka
- Daniels D. Measles (Rubeola). Pediatric Care Online. 2025.
- StatPearls. Measles. NCBI Bookshelf. 2025
- Clinical characteristics of adult inpatients with Measles in Beijing from 2010 to 2021: a retrospective analysis. BMC Infectious Diseases. 2023
- Measles — Clinical and Biological Manifestations in Adult Patients, Including a Focus on the Hepatic Involvement: Results from a Single-Center Observational Cohort Study from Romania. J Clin Med. 2024.
- Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Mengenal Penyakit Campak. 2017
- RSA UGM. Campak Merebak di Indonesia: Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya. 2025.









Leave a Reply