DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Demam Berdarah Dengue pada Dewasa: Aspek Klinis, Imunopatofisiologi, dan Penanganan

Demam Berdarah Dengue pada Dewasa: Aspek Klinis, Imunopatofisiologi, dan Penanganan


Abstrak

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Pada dewasa, penyakit ini dapat menyebabkan spektrum klinis mulai dari demam ringan hingga dengue berat dengan syok yang mengancam jiwa. Manifestasi klinis sering meliputi demam tinggi, nyeri perut, muntah, perdarahan mukosa, dan tanda kebocoran plasma. Patogenesis dengue melibatkan replikasi virus, aktivasi imun seluler, dan fenomena antibody-dependent enhancement (ADE) yang meningkatkan risiko bentuk berat pada infeksi sekunder. Diagnosis dan penatalaksanaan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi, terutama melalui tatalaksana cairan yang tepat. Artikel ini membahas definisi, imunopatofisiologi, gejala, komplikasi, penanganan, serta rangkuman bukti ilmiah terkini.


Pendahuluan

Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit infeksi tropis tersering di negara beriklim panas dan lembap, terutama wilayah Asia Tenggara, Afrika, Pasifik Barat, dan Amerika Latin. Perubahan iklim, urbanisasi cepat, mobilitas penduduk, serta resistensi vektor turut meningkatkan kejadian penyakit ini pada dewasa. Meskipun sering dianggap sebagai penyakit anak, beban kasus pada populasi dewasa meningkat signifikan dalam dua dekade terakhir.

Pada orang dewasa, presentasi klinis dengue lebih bervariasi dibandingkan anak, terutama karena komorbid seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit ginjal dapat memperberat perjalanan penyakit. Selain itu, dewasa lebih berisiko mengalami perdarahan hebat, gangguan organ, hingga syok dengue. Pemahaman mengenai imunopatofisiologi dan penanganan berbasis bukti sangat penting agar komplikasi fatal dapat dicegah.


Definisi 

  • DBD adalah infeksi virus dengue (DENV-1, DENV-2, DENV-3, atau DENV-4) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Penyakit ini ditandai oleh demam akut disertai manifestasi klinis dan laboratorium yang mencerminkan kebocoran plasma, perdarahan, dan gangguan organ. Pada dewasa, kriteria diagnosis mengacu pada pedoman WHO, yang mengelompokkan dengue menjadi dengue tanpa tanda bahaya, dengue dengan tanda bahaya, dan dengue berat.
  • Pada dewasa, gejala awal biasanya berupa demam mendadak, nyeri otot dan sendi, sakit kepala hebat, ruam, anoreksia, dan mual. Bila perjalanan penyakit berlanjut menuju fase kritis, dapat muncul tanda kebocoran plasma seperti hematokrit meningkat, efusi pleura, asites, dan tanda syok. Perdarahan spontan seperti epistaksis, gusi berdarah, atau hematemesis dapat terjadi.
  • Dengue berat ditandai oleh kebocoran plasma signifikan yang menyebabkan syok, perdarahan hebat, atau kegagalan organ seperti hepatitis berat, miokarditis, ensefalopati, atau gagal ginjal. Diagnosis klinis harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium seperti NS1 antigen, RT-PCR, atau serologi IgM/IgG.

Epidemiologi 

  • Situasi Global — Lonjakan Kasus Dengue
    • Beban global dengue terus meningkat secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir. Menurut World Health Organization (WHO), jumlah kasus yang dilaporkan tumbuh dari sekitar 505 430 kasus pada tahun 2000 menjadi sekitar 14,3 juta kasus pada 2024.
    • Estimasi model menunjukkan bahwa secara global, ada sekitar 390 juta infeksi dengue per tahun, dengan sekitar 96 juta di antaranya menunjukkan gejala klinis.
    • Penyakit ini kini endemik di lebih dari 100 negara.  Tren ini menunjukkan bahwa dewasa — sebagai bagian dari populasi umum — menghadapi risiko terkena DBD yang terus meningkat, seiring meluasnya distribusi vektor nyamuk dan perubahan iklim/globalisasi.
  • Tren Terkini dan Faktor Pemicu
    • Laporan global 2024 menunjukkan rekor tertinggi dalam pelaporan: 14,3 juta kasus dengue dan lebih dari 10.500 kematian dilaporkan dari 112 negara
    • Faktor-faktor yang diduga memperburuk penyebaran termasuk: perluasan wilayah vektor (nyamuk Aedes aegypti/Aedes albopictus), perubahan iklim (suhu, curah hujan, kelembapan), urbanisasi cepat, mobilitas populasi, serta sistem surveilans dan layanan kesehatan yang kadang tidak memadai — terutama di negara-negara dengan sumber daya terbatas.
    • Globalisasi, perjalanan manusia, dan pertumbuhan daerah urban dengan sanitasi buruk membuat populasi dewasa di kota besar rentan — bukan hanya anak-anak. Tren ini menunjukkan bahwa DBD sekarang bukan hanya “penyakit anak” tetapi juga ancaman nyata untuk dewasa.
  • Situasi di Indonesia — Lonjakan Jalur Nasional
    • Di Indonesia, upaya pengawasan dengue terus diperkuat. Baru-baru ini, pemerintah nasional bekerja sama dengan WHO meluncurkan kerangka multisource collaborative surveillance (MSCS) untuk dengue.
    • Menurut laporan 2024, Indonesia mencatat lonjakan kasus signifikan — hampir 150.000 kasus dengan sekitar 884 kematian di seluruh negeri.
    • Lonjakan ini terjadi meskipun upaya pengendalian dan surveilans, menunjukkan bahwa populasi dewasa (termasuk pekerja, mahasiswa, urban) sangat mungkin terpengaruh. Tren ini menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan klinis tidak hanya pada anak, tetapi juga pada dewasa
  • Implikasi untuk Dewasa & Public Health
    • Karena banyak infeksi dengue bersifat asimptomatik atau ringan, beban sebenarnya (termasuk kasus dewasa) hampir pasti lebih besar daripada yang dilaporkan — berarti risiko dan prevalensi terabaikan tinggi.
    • Dewasa dengan komorbiditas (misalnya hipertensi, diabetes, penyakit jantung) berada pada risiko lebih besar untuk mengalami dengue berat, karena mekanisme kebocoran plasma dan respons imun yang bisa memicu komplikasi — hal ini penting untuk strategi pencegahan dan edukasi.
    • Data global dan nasional menunjukkan bahwa upaya pengendalian harus melibatkan seluruh kelompok usia, dengan intervensi lingkungan, vektor, surveilans, edukasi dan kesiapsiagaan klinis agar dampak DBD dapat diminimalkan.

Imunopatofisiologi 

  • Infeksi virus dengue dimulai ketika virus masuk melalui kulit dan menginfeksi sel dendritik, makrofag, dan sel endotel. Virus bereplikasi di kelenjar getah bening dan menyebar secara sistemik, menimbulkan viremia. Aktivasi sistem imun bawaan menyebabkan pelepasan sitokin seperti interferon, TNF-α, IL-6, dan IL-10 yang memicu gejala demam dan inflamasi.
  • Pada infeksi sekunder, terjadi fenomena antibody-dependent enhancement (ADE), di mana antibodi non-netralisasi dari infeksi sebelumnya justru meningkatkan masuknya virus ke sel fagosit. Hal ini meningkatkan replikasi virus, memperberat inflamasi, dan meningkatkan risiko dengue berat. ADE menjadi mekanisme utama yang menjelaskan mengapa infeksi dengue berulang lebih berbahaya.
  • Disfungsi endotel terjadi akibat kombinasi efek langsung virus dan badai sitokin. Mediator inflamasi meningkatkan permeabilitas kapiler, menyebabkan kebocoran plasma yang mengarah pada hemokonsentrasi, efusi pleura, asites, dan syok. Aktivasi komplemen turut memperparah kerusakan endotel.
  • Gangguan hemostasis pada dengue melibatkan trombositopenia, inhibisi fungsi trombosit, koagulopati, dan fibrinolisis berlebihan. Kombinasi ini menjelaskan mengapa pasien dapat mengalami perdarahan spontan hingga perdarahan masif pada fase kritis.

  • Tabel Tanda dan Gejala 
KategoriTanda dan Gejala
Dengue tanpa tanda bahayaDemam mendadak, nyeri kepala, nyeri otot, nyeri sendi, ruam, mual, muntah ringan
Tanda bahayaNyeri perut hebat, muntah berulang, perdarahan mukosa, letargi/gelisah, hepatomegali, peningkatan hematokrit, trombosit turun cepat
Dengue beratSyok, efusi pleura/asites masif, perdarahan hebat, kegagalan organ (ginjal, hati, jantung, otak)
  • Tanda bahaya menjadi indikator penting bahwa pasien memasuki fase kritis, di mana kebocoran plasma mulai terjadi. Pada fase ini, pasien tampak lemah, mengeluh nyeri perut, muntah terus menerus, atau tampak gelisah akibat hipoperfusi. Pemeriksaan laboratorium biasanya menunjukkan peningkatan hematokrit dan penurunan drastis trombosit.
  • Pada dengue berat, kebocoran plasma yang masif dapat menyebabkan syok hipovolemik. Efusi pleura atau asites signifikan mengganggu fungsi organ. Perdarahan luas dapat muncul akibat trombositopenia berat dan koagulopati. Manifestasi organ seperti hepatitis berat, ensefalopati, dan miokarditis menandakan kondisi gawat darurat yang membutuhkan penanganan intensif.

Diagnosis DBD pada Dewasa menurut Pedoman WHO terkini

    • Pedoman WHO terbaru untuk manajemen penyakit arboviral — termasuk dengue — menekankan bahwa diagnosis harus dilakukan secara komprehensif, terutama pada tempat dengan sirkulasi virus arbovirus.
    • Bila tersedia laboratorium, konfirmasi diagnosis dengue dapat dilakukan melalui deteksi antigen (misalnya antigen NS1), deteksi RNA virus (RT-PCR), atau serologi (IgM/IgG), tergantung hari gejala.
    • Karena gejala dengue sering tumpang tindih dengan penyakit febril lain, diagnosis klinis saja tanpa konfirmasi lab bisa keliru — pedoman WHO menyarankan konfirmasi lab bila memungkinkan.
    • Setelah diagnosis dikonfirmasi atau suspek, penting untuk memantau fase penyakit secara berkala, karena dengue adalah penyakit dinamis — spektrum dari penyakit ringan hingga dengue berat yang mengancam jiwa.

Komplikasi

  • Komplikasi utama DBD adalah syok dengue, yang terjadi akibat kebocoran plasma masif dan hipovolemia. Syok dengue merupakan penyebab mortalitas tersering terutama bila terlambat diatasi. Syok terjadi pada fase kritis menjelang akhir demam (hari ke-3 sampai ke-7).
  • Komplikasi perdarahan dapat berupa perdarahan mukosa ringan hingga perdarahan masif seperti hematemesis, melena, atau perdarahan organ dalam. Kombinasi trombositopenia, koagulopati, dan kerusakan endotel memperburuk kondisi ini.
  • Komplikasi organ dapat mencakup hepatitis berat, gagal ginjal akut, ensefalitis atau ensefalopati, miokarditis, dan gangguan elektrolit. Pada dewasa dengan komorbid, risiko komplikasi jauh lebih tinggi.

Penanganan 

  • Penatalaksanaan DBD pada dewasa mengacu pada pedoman WHO 2009 dan pembaruan WHO 2025. Prinsip utamanya adalah terapi cairan yang tepat, monitoring ketat, dan penanganan komplikasi. Tidak ada antivirus spesifik untuk dengue.
  • Pada kasus tanpa tanda bahaya, terapi dapat dilakukan rawat jalan dengan hidrasi oral optimal, pemantauan tanda bahaya, dan parasetamol untuk demam. Pasien harus dipantau ketat terutama pada hari ke-3 sampai ke-7 penyakit ketika fase kritis kemungkinan terjadi.
  • Pada kasus dengan tanda bahaya atau risiko syok, pasien harus dirawat inap. Terapi utama adalah pemberian cairan intravena kristaloid secara terukur berdasarkan status hemodinamik. Pemantauan hematokrit, trombosit, elektrolit, fungsi ginjal, dan urin output sangat penting.
  • Pada dengue berat, penanganan harus dilakukan intensif. Cairan IV diberikan dengan strategi bolus dan penilaian respons cepat. Perdarahan hebat memerlukan transfusi darah atau trombosit bila ada indikasi. Gangguan organ seperti hepatitis berat atau gagal ginjal harus ditangani sesuai protokol ICU.
  • Penanganan DBD pada Dewasa menurut Pedoman WHO terkini
    • Menurut pedoman WHO 2025 untuk manajemen arboviral, penanganan DBD bergantung pada derajat keparahan: kasus ringan bisa dikelola di tingkat primer atau rawat jalan, sedangkan kasus dengan tanda bahaya atau severe dengue harus dirawat di rumah sakit.
    • Untuk kasus ringan tanpa tanda bahaya, perawatan suportif dengan hidrasi oral, istirahat, dan antipiretik seperti parasetamol dianjurkan. Hindari anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) atau aspirin karena risiko perdarahan meningkat.
    • Jika ada kebocoran plasma, tanda peringatan (warning signs), atau gejala berat — seperti syok, efusi, perdarahan — maka diperlukan cairan intravena kristaloid sebagai tatalaksana utama, dengan pemantauan ketat terhadap hemodinamik, output urin, hematokrit, dan tanda vital.
    • Tidak ada antiviral spesifik untuk dengue — perawatan bersifat suportif. Manajemen harus berfokus pada penghindaran komplikasi seperti syok, dehidrasi, dan perdarahan.

  • Catatan Penting & Implikasi
    • Karena gejala awal dengue (demam, nyeri otot sendi, sakit kepala, mual) sangat mirip dengan penyakit virus lain, konfirmasi lab sangat dianjurkan. Di daerah dengan banyak arbovirus, kejelian klinis + akses lab penting.
    • Manajemen dini terutama hidrasi dan pemantauan membantu mencegah perkembangan ke bentuk berat. Terlambat intervensi cairan bisa meningkatkan risiko syok dan kematian.
    • Karena pedoman WHO terbaru untuk arboviral (2025) bersifat global — implementasinya perlu disesuaikan dengan konteks lokal (misalnya fasilitas RS, akses lab, sumber daya), tetapi prinsip dasar — diagnosis komprehensif dan manajemen suportif — berlaku universal.

Kesimpulan

  • Demam Berdarah Dengue pada dewasa merupakan penyakit infeksi tropis yang dapat berkembang menjadi kondisi berat dan mengancam jiwa bila tidak ditangani tepat. Imunopatofisiologi yang kompleks, termasuk fenomena ADE, menyebabkan risiko infeksi sekunder lebih berat. Penanganan utama berfokus pada terapi cairan terkontrol dan monitoring intensif pada fase kritis. Diagnosis dini, edukasi, dan pemantauan klinis sangat penting untuk mencegah komplikasi fatal.

Daftar Pustaka

  • World Health Organization. Dengue: Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control. WHO; 2009.
  • World Health Organization. Clinical management of dengue and other arboviral diseases. WHO Guideline 2025.
  • Guzman MG, Harris E. Dengue. Lancet. 2015;385(9966):453–65.
  • Simmons CP, Farrar JJ, Nguyen VV, Wills B. Dengue. N Engl J Med. 2012;366:1423–32.
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Dengue Clinical Guidance. 2023.
  • Martina BEE, Koraka P, Osterhaus ADME. Dengue virus pathogenesis: an integrated view. Clin Microbiol Rev. 2009;22(4):564–81.
  • Huy NT, et al. Factors associated with dengue severity in adults. PLoS Negl Trop Dis. 2013;7(3):e2114.
  • Yacoub S, Wills B. Predicting outcome from dengue. BMC Med. 2014;12:147.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *