Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) pada Anak: Epidemiologi, Patofisiologi, Komplikasi, dan Strategi Penanganan
Judarwanto Widodo, Yudhasmara Sandiaz
Abstrak
Abstrak
Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) adalah infeksi virus akut yang sering menyerang anak-anak, terutama balita dan usia prasekolah, dengan penyebab utama Coxsackievirus A16 dan Enterovirus 71 (EV71). Penyakit ini ditandai oleh demam, lesi vesikular pada tangan, kaki, dan mulut, serta kadang disertai gejala gastrointestinal ringan. HFMD ditularkan melalui kontak langsung dengan sekresi pasien, termasuk air liur, lendir hidung, vesikel, atau feses, dan memiliki masa inkubasi 3–7 hari. Patogenesis melibatkan replikasi virus pada sel epitel dan sistem limfoid, diikuti aktivasi sistem imun bawaan dan adaptif yang menghasilkan sitokin proinflamasi serta antibodi spesifik, menjelaskan spektrum klinis dari ringan hingga komplikasi neurologis pada kasus berat. Diagnosis umumnya klinis, didukung pemeriksaan RT-PCR atau serologi pada kasus tidak khas. Penanganan bersifat suportif dan simptomatik, termasuk hidrasi, penurunan demam, analgesik, serta intervensi intensif pada kasus berat. Pencegahan dilakukan melalui higiene tangan, sanitasi lingkungan, isolasi anak terinfeksi, dan imunisasi EV71 di beberapa wilayah. Pemahaman menyeluruh mengenai epidemiologi, imunopatofisiologi, gejala klinis, serta strategi manajemen penting untuk menurunkan morbiditas, mortalitas, dan penularan HFMD di masyarakat.
Pendahuluan
HFMD merupakan penyakit menular yang sering muncul di daerah tropis dan subtropis, dengan puncak kejadian pada anak di bawah lima tahun. Penyakit ini dapat menyebar cepat di lingkungan dengan kepadatan tinggi, seperti taman kanak-kanak dan daycare, karena transmisi utamanya melalui kontak langsung dengan sekresi tubuh dari anak yang terinfeksi, misalnya air liur, cairan vesikel, atau feses.
Meskipun sebagian besar kasus HFMD ringan dan self-limiting, wabah di beberapa negara Asia-Pasifik menunjukkan bahwa Enterovirus 71 dapat menyebabkan bentuk berat dengan komplikasi neurologis atau kardiopulmoner. Oleh karena itu, pemahaman mengenai epidemiologi, imunopatofisiologi, gejala klinis, serta strategi penanganan dan pencegahan sangat penting dalam manajemen anak-anak yang terkena HFMD.
Definisi
- HFMD adalah penyakit infeksi virus akut yang menyerang anak-anak dan ditandai dengan demam serta lesi vesikular di tangan, kaki, dan mulut. Penyakit ini paling sering disebabkan oleh enterovirus, terutama Coxsackievirus A16 dan Enterovirus 71 (EV71), meskipun strain lain juga dapat terlibat.
- Virus HFMD menular melalui kontak langsung dengan sekresi tubuh dari pasien, termasuk air liur, lendir hidung, cairan dari vesikel, atau feses. Masa inkubasi biasanya 3–7 hari, setelah itu muncul gejala prodromal berupa demam, malaise, dan sakit tenggorokan, diikuti lesi vesikular.
- Pada anak, HFMD biasanya bersifat self-limiting dengan durasi 7–10 hari, namun komplikasi dapat muncul terutama bila disebabkan oleh EV71. Bentuk berat dapat melibatkan sistem saraf pusat, kardiopulmoner, atau menyebabkan dehidrasi berat akibat kesulitan makan dan minum.
Epidemiologi
- HFMD lebih sering menyerang anak usia balita, terutama di bawah lima tahun, dengan insidensi tertinggi pada kelompok 1–3 tahun. Penyakit ini umum di Asia, termasuk China, Malaysia, Singapura, dan Indonesia, dengan laporan wabah musiman yang sering terjadi pada bulan hujan atau akhir musim panas.
- Penyakit ini mudah menular di lingkungan dengan kepadatan tinggi anak-anak, seperti taman kanak-kanak, sekolah, dan penitipan anak. Transmisi dapat terjadi melalui droplet, kontak langsung dengan lesi vesikular, atau feses anak yang terinfeksi.
- Insidensi HFMD cenderung meningkat pada periode epidemi tertentu, terutama di wilayah tropis. Faktor risiko meliputi rendahnya kesadaran higiene, sanitasi yang buruk, dan tidak adanya imunitas spesifik pada anak-anak yang belum pernah terinfeksi.
Penyebab dan Penularan
- HFMD disebabkan oleh berbagai enterovirus, terutama Coxsackievirus A16 dan Enterovirus 71. Virus ini masuk ke tubuh melalui mulut atau hidung dan menyebar ke jaringan epitel dan sistem limfoid.
- Penularan utama adalah kontak langsung dengan sekresi dari anak yang terinfeksi, termasuk air liur, lendir hidung, vesikel, atau feses. Virus dapat bertahan di lingkungan dan permukaan benda selama beberapa jam hingga beberapa hari.
- Masa inkubasi rata-rata 3–7 hari, setelah itu anak dapat menjadi simptomatik. Anak dengan gejala ringan hingga berat dapat menularkan virus hingga seminggu, sementara bayi dan anak dengan EV71 berisiko menularkan lebih lama dan berpotensi menimbulkan komplikasi berat.
Imunopatofisiologi
- Setelah virus masuk melalui mukosa orofaring, enterovirus menginfeksi sel epitel mulut dan usus, serta menyebar ke kelenjar limfa regional. Virus kemudian menginduksi aktivasi sistem imun bawaan, termasuk makrofag dan sel dendritik, yang menghasilkan sitokin proinflamasi seperti interferon alfa/beta, interleukin-6, dan TNF-alfa untuk menghambat replikasi virus.
- Respon imun adaptif melibatkan aktivasi sel T CD4+ dan CD8+, yang mengenali antigen virus dan membantu penghancuran sel terinfeksi. Sel B menghasilkan antibodi spesifik IgM dan IgG, yang memberikan imunitas jangka panjang dan membantu pembersihan virus.
- Pada sebagian kasus, terutama akibat EV71, hiperaktivasi sitokin atau “cytokine storm” dapat terjadi, memicu inflamasi sistemik, keterlibatan sistem saraf pusat, edema paru, atau gangguan kardiopulmoner. Reaksi imun yang berlebihan inilah yang menjelaskan gejala berat dan komplikasi neurologis.
- Selain itu, sel imun seperti makrofag dapat membawa virus ke organ target seperti otak dan jantung pada kasus berat, memperbesar risiko ensefalitis, meningitis, dan kardiopulmoner. Faktor host seperti usia, status imun, dan komorbiditas memengaruhi berat-ringannya penyakit dan kemungkinan kronisitas.
Tabel Tanda dan Gejala
| Sistem / Kelompok | Tanda / Gejala |
|---|---|
| Sistem umum | Demam, malaise, anoreksia, sakit tenggorokan |
| Kulit / Mukosa | Ruam vesikular di tangan, kaki, mulut; lesi terkadang di bokong dan lengan |
| Gastrointestinal | Mual, muntah, diare ringan |
| Neurologis (kasus berat) | Letargi, kejang, meningismus, ensefalitis ringan hingga berat |
Penjelasan: Gejala awal HFMD biasanya demam ringan hingga sedang disertai malaise. Lesi vesikular yang khas muncul di tangan, kaki, dan mulut, kadang menjalar ke bokong atau ekstremitas lain. Pada sebagian anak, gastrointestinal gejala ringan dapat menyertai, sedangkan kasus berat ditandai gejala neurologis atau kardiopulmoner.
Diagnosis
- Diagnosis HFMD pada anak umumnya klinis, berdasarkan gejala khas: demam, lesi vesikular di tangan, kaki, dan mulut. Pemeriksaan laboratorium jarang diperlukan pada kasus ringan, namun dapat digunakan untuk konfirmasi atau kasus komplikasi.
- Pemeriksaan RT-PCR dari swab orofaring, vesikel, atau feses dapat mendeteksi enterovirus, terutama EV71. Serologi antibodi IgM dan IgG dapat digunakan untuk diagnosis retrospektif atau epidemiologi.
- Differensiasi dengan penyakit lain seperti varicella, herpangina, dan infeksi herpes simplex penting, terutama bila manifestasi vesikular tidak khas atau anak mengalami komplikasi.
Komplikasi
- Sebagian besar HFMD bersifat ringan, namun beberapa kasus dapat mengalami komplikasi. Komplikasi neurologis termasuk meningitis aseptik, ensefalitis, atau polio-like paralysis.
- Komplikasi kardiopulmoner seperti edema paru dan gagal jantung dapat terjadi terutama pada infeksi EV71 berat. Dehidrasi akibat kesulitan makan atau minum juga merupakan komplikasi yang sering ditemui pada balita.
- Komplikasi jangka panjang jarang, namun anak dengan EV71 berisiko mengalami gangguan neurologis residual, keterlambatan perkembangan, atau kecacatan neurologis ringan.
Penanganan
- Tidak ada terapi antivirus spesifik untuk HFMD. Penanganan bersifat suportif dan simptomatik: menjaga hidrasi, menurunkan demam dengan paracetamol, serta analgesik untuk nyeri atau iritasi mukosa.
- Perawatan kulit termasuk menjaga kebersihan lesi vesikular, menghindari pecahnya vesikel untuk mencegah infeksi sekunder. Kompres dingin dapat membantu mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan.
- Jika anak mengalami dehidrasi, pemberian cairan oral atau IV sesuai tingkat keparahan sangat penting. Nutrisi adekuat harus dijaga meskipun anak mengalami kesulitan makan.
- Pada kasus berat dengan komplikasi neurologis atau kardiopulmoner, perawatan di rumah sakit dengan monitoring ketat dan intervensi suportif lanjutan diperlukan. Fisioterapi dapat dipertimbangkan bila ada gangguan mobilitas akibat nyeri atau kelemahan otot.
Tabel Penanganan Medikamentosa (Suportif / Simtomatik)
| Obat / Intervensi | Tujuan / Indikasi |
|---|---|
| Paracetamol | Menurunkan demam dan nyeri |
| Analgesik ringan | Mengurangi nyeri mulut dan lesi vesikular |
| Cairan oral / IV | Mencegah dehidrasi |
| Kompres dingin | Mengurangi nyeri dan iritasi kulit |
| Fisioterapi | Mendukung pemulihan mobilitas (kasus berat) |
Penanganan medikamentosa HFMD berfokus pada pengendalian gejala dan pencegahan komplikasi. Paracetamol digunakan untuk demam dan nyeri, sedangkan analgesik lokal membantu nyeri mulut dan lesi vesikular. Cairan oral atau IV mencegah dehidrasi pada anak yang kesulitan makan/minum. Kompres dingin dan fisioterapi mendukung kenyamanan dan pemulihan fungsi motorik bila nyeri sendi atau otot menetap.
Pencegahan
- Langkah pencegahan utama adalah meningkatkan kebersihan tangan, sanitasi lingkungan, dan mengurangi kontak dengan anak terinfeksi. Mainan, permukaan meja, dan peralatan makan harus dibersihkan secara rutin.
- Selain itu, edukasi orang tua dan pengasuh tentang isolasi anak selama fase infeksi, terutama bila terdapat vesikel aktif, dapat mengurangi penularan. Imunisasi EV71 tersedia di beberapa negara dan dapat digunakan untuk mencegah kasus berat.
Kesimpulan
HFMD adalah penyakit virus akut yang umum menyerang anak-anak, ditandai demam, lesi vesikular pada tangan, kaki, dan mulut, serta gejala gastrointestinal ringan. Penanganan bersifat suportif dan simptomatik, dengan fokus pada hidrasi, penurunan demam, dan analgesik. Pencegahan melalui higiene, isolasi pasien, dan pengendalian lingkungan sangat penting untuk mengurangi penularan. Kasus berat, terutama akibat EV71, memerlukan perawatan intensif untuk mencegah komplikasi neurologis dan kardiopulmoner.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Hand, Foot and Mouth Disease Fact Sheet. WHO, 2025.
- Centers for Disease Control and Prevention. HFMD Overview. CDC, 2024.
- Zhang Y, Tan X, Wang H, et al. Clinical and epidemiological characteristics of HFMD in children. Pediatr Infect Dis J. 2022;41(5):e152–e158.
- Ooi MH, Wong SC, Lewthwaite P, et al. Clinical features, diagnosis, and management of Enterovirus 71 infection. Lancet Neurol. 2010;9(11):1097–1105.
- Ang LW, Koh BK, Chan KP, et al. Epidemiology and control of HFMD in Asia. Epidemiol Infect. 2009;137(3):314–324.








Leave a Reply