DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Leptospirosis: Imunopatofisiologi, Diagnosis dan Penanganan

Leptospirosis: Imunopatofisiologi, Diagnosis dan Penanganan

Yudhasmara Sandiaz , Judarwanto Widodo

Abstrak

Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira dan memiliki spektrum klinis mulai dari infeksi ringan hingga bentuk berat yang mengancam jiwa, seperti sindrom Weil, gagal ginjal, dan ARDS. Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus, sapi, dan hewan domestik lainnya, serta meningkat risiko setelah banjir atau paparan lingkungan basah. Patogenesis leptospirosis melibatkan penetrasi bakteri melalui kulit atau mukosa, penyebaran hematogen ke organ target, dan aktivasi sistem imun bawaan serta adaptif, yang menghasilkan sitokin proinflamasi dan antibodi spesifik. Gejala klinis meliputi demam, nyeri otot, sakit kepala, ikterus, ruam, dan pada kasus berat dapat terjadi komplikasi neurologis, kardiopulmoner, atau gagal organ multipel. Diagnosis didukung oleh pemeriksaan serologi, PCR, atau isolasi bakteri, sedangkan terapi utama adalah antibiotik seperti doxycycline atau penicillin disertai perawatan suportif. Pencegahan dilakukan melalui pengendalian hewan reservoir, sanitasi lingkungan, dan perlindungan diri. Pemahaman menyeluruh mengenai epidemiologi, imunopatofisiologi, manifestasi klinis, dan strategi manajemen penting untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas, serta mengendalikan penyebaran penyakit di masyarakat.

Pendahuluan

Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri spiral dari genus Leptospira. Penyakit ini dapat menyerang manusia melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus, sapi, babi, dan hewan domestik lainnya. Leptospirosis memiliki spektrum klinis yang luas, mulai dari infeksi ringan yang tidak spesifik hingga bentuk berat yang mengancam jiwa seperti sindrom Weil, ditandai dengan gagal ginjal, hemoragi, dan gagal hati. Penyakit ini endemik di wilayah tropis dan subtropis, terutama setelah banjir atau hujan lebat yang meningkatkan paparan terhadap air dan tanah yang terkontaminasi.

Leptospirosis sering menjadi perhatian kesehatan masyarakat karena sifatnya yang cepat menular, sulit dibedakan dari infeksi febril lain pada fase awal, dan potensi komplikasi serius. Diagnosis dini dan penanganan suportif dengan antibiotik yang tepat dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas. Pemahaman mendalam mengenai patogenesis, respon imun, dan faktor risiko sangat penting untuk strategi pencegahan dan pengendalian.


Penyebab dan Penularan

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans dan spesies terkait. Bakteri ini memiliki bentuk spiral, motil, dan mampu bertahan di lingkungan lembap seperti air, lumpur, atau tanah selama beberapa minggu hingga bulan. Reservoir utama adalah hewan pengerat seperti tikus, tetapi juga dapat ditemukan pada sapi, babi, anjing, dan hewan liar lainnya yang menjadi carrier asimtomatik.

Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan urine hewan yang terinfeksi atau kontak tidak langsung melalui air, tanah, atau makanan yang terkontaminasi. Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang rusak, mukosa mata, hidung, atau mulut. Aktivitas seperti berenang di sungai, wading setelah banjir, atau pekerjaan pertanian meningkatkan risiko paparan.

Setelah masuk, Leptospira menyebar melalui aliran darah (bakteriemia) ke organ target seperti hati, ginjal, paru, dan sistem saraf pusat. Faktor risiko meliputi paparan lingkungan basah, sanitasi buruk, pekerjaan tertentu (petani, pekerja limbah, pekerja pabrik) serta perilaku yang meningkatkan kontak dengan hewan reservoir.


Imunopatofisiologi

  • Setelah penetrasi melalui kulit atau mukosa, Leptospira segera memasuki sirkulasi darah, memicu aktivasi sistem imun bawaan. Sel makrofag dan neutrofil mengenali bakteri melalui pattern recognition receptor (PRR), memicu pelepasan sitokin proinflamasi seperti TNF-alfa, IL-6, IL-1β, dan interferon. Respon ini bertujuan menekan replikasi bakteri, namun juga berkontribusi pada gejala sistemik seperti demam, nyeri otot, dan malaise.
  • Bakteri Leptospira memiliki kemampuan untuk menghindari fagositosis, menempel pada sel endotel, dan menginduksi kerusakan vaskular langsung. Interaksi dengan sel endotel mengakibatkan peningkatan permeabilitas kapiler, yang menjadi dasar terjadinya hemoragi dan edema paru pada kasus berat.
  • Respon imun adaptif muncul beberapa hari kemudian, dengan aktivasi sel T CD4+ dan CD8+ serta produksi antibodi spesifik IgM dan IgG oleh sel B. Antibodi IgM dapat menetralkan bakteri dalam sirkulasi, sedangkan IgG berperan dalam pembersihan jangka panjang dan imunitas spesifik.
  • Dalam kasus berat, hiperaktivasi sitokin atau cytokine storm dapat terjadi, menyebabkan gagal organ multipel, kerusakan endotel sistemik, dan peningkatan risiko mortalitas. Variabilitas respons imun inilah yang menentukan spektrum klinis dari bentuk ringan hingga sindrom Weil yang fatal.

Tabel Tanda dan Gejala

Sistem / KelompokTanda / Gejala
Sistem umumDemam mendadak, malaise, lemah, sakit kepala, nyeri otot (myalgia)
KulitRuam, ikterus (pada kasus berat)
Ginjal / UrinOliguria, hematuria, gagal ginjal akut pada kasus berat
HatiIkterus, hepatomegali, peningkatan enzim hati
ParuBatuk, hemoptisis, edema paru, ARDS pada kasus berat
Sistem sarafMeningitis aseptik, ensefalitis ringan, letargi

Penjelasan: Gejala awal leptospirosis sering nonspesifik seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot, sehingga mudah dikira flu atau infeksi virus lain. Tanda khas seperti ikterus, hemoragi, dan disfungsi organ muncul pada fase lanjut atau kasus berat. Nyeri otot, terutama di betis, adalah gejala klasik yang membantu mencurigai leptospirosis pada anak dan dewasa.


Diagnosis

  • Diagnosis leptospirosis seringkali klinis, berdasarkan anamnesis paparan lingkungan atau pekerjaan risiko tinggi dan gejala khas. Laboratorium dapat membantu konfirmasi, termasuk pemeriksaan serologi, PCR, atau isolasi bakteri.
  • Metode serologi utama adalah Microscopic Agglutination Test (MAT), yang mendeteksi antibodi spesifik terhadap berbagai serovar Leptospira. IgM detectable biasanya mulai 5–7 hari setelah onset gejala. PCR dapat digunakan pada fase awal untuk mendeteksi DNA bakteri dari darah atau urine, memberikan diagnosis dini sebelum antibodi muncul.
  • Pemeriksaan tambahan termasuk hematologi (leukositosis, trombositopenia), fungsi hati (AST/ALT meningkat), fungsi ginjal (kreatinin, BUN), dan analisis urin untuk menilai keterlibatan organ. Diferensiasi dengan malaria, dengue, hepatitis virus, dan infeksi bakteri lain penting terutama di wilayah endemik.

Komplikasi

  • Komplikasi serius dapat muncul terutama pada bentuk berat atau bila diagnosis terlambat. Sindrom Weil adalah bentuk klasik dengan kombinasi gagal ginjal akut, ikterus, hemoragi, dan disfungsi multi-organ.
  • Edema paru, hemoptisis, dan ARDS dapat terjadi akibat kerusakan endotel dan respon inflamasi berlebihan. Gagal jantung dan shock septik juga dilaporkan pada kasus berat, meningkatkan mortalitas.
  • Komplikasi neurologis termasuk meningitis aseptik atau ensefalitis ringan. Komplikasi ini memerlukan perawatan intensif dan pemantauan ketat untuk mengurangi risiko jangka panjang.

Penanganan

  • Penanganan leptospirosis bersifat suportif dan antibiotik spesifik. Antibiotik yang efektif termasuk doxycycline, penicillin G, amoxicillin, atau ceftriaxone, diberikan sesuai usia, berat badan, dan berat-ringannya penyakit.
  • Dukungan cairan dan elektrolit sangat penting, terutama pada kasus dengan dehidrasi, gagal ginjal, atau shock. Dialisis dapat diperlukan bila gagal ginjal akut terjadi.
  • Pengendalian demam, nyeri, dan komplikasi organ lain melalui perawatan suportif, termasuk monitoring fungsi hati, ginjal, dan paru, merupakan bagian penting dari manajemen kasus berat.
  • Perawatan intensif dengan ventilasi mekanik mungkin diperlukan pada ARDS, sedangkan transfusi darah atau plasma dapat dipertimbangkan jika terjadi perdarahan berat.

Tabel Penanganan Medikamen­tosa

Obat / IntervensiTujuan / Indikasi
Doxycycline / Penicillin GAntibiotik untuk eliminasi bakteri
Amoxicillin / CeftriaxoneAlternatif antibiotik, sesuai usia dan kondisi pasien
Cairan IV / OralRehidrasi, stabilisasi hemodinamik
DialisisGagal ginjal akut berat
Supportive careMonitoring fungsi organ, kontrol demam dan nyeri

Antibiotik efektif diberikan sesegera mungkin untuk mengurangi durasi bakteriemia dan mencegah komplikasi berat. Rehidrasi dan pemantauan fungsi organ mendukung pemulihan dan menurunkan risiko mortalitas. Penanganan komplikasi seperti ARDS atau gagal ginjal memerlukan perawatan intensif dengan intervensi medis lanjutan.


Pencegahan

  • Langkah pencegahan leptospirosis meliputi pengendalian hewan reservoir (terutama tikus), sanitasi lingkungan, dan pengelolaan limbah. Anak-anak dan pekerja di lingkungan risiko tinggi harus menghindari kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan.
  • Selain itu, penggunaan alas kaki, sarung tangan, dan perlindungan diri lainnya saat bekerja di lingkungan basah atau banjir dapat mencegah infeksi. Edukasi masyarakat tentang risiko dan tanda awal penyakit membantu diagnosis dini dan intervensi cepat.

Kesimpulan

Leptospirosis adalah zoonosis serius dengan spektrum klinis dari ringan hingga berat, dapat mengancam jiwa melalui sindrom Weil, ARDS, dan gagal multi-organ. Diagnosis dini, penggunaan antibiotik yang tepat, dan perawatan suportif adalah kunci untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas. Pencegahan melalui sanitasi, pengendalian reservoir, dan perlindungan diri sangat penting terutama pada anak-anak dan populasi risiko tinggi.


Daftar Pustaka

  • World Health Organization. Leptospirosis Fact Sheet. WHO, 2025.
  • Haake DA, Levett PN. Leptospirosis in humans. Curr Top Microbiol Immunol. 2015;387:65–97.
  • Bharti AR, Nally JE, Ricaldi JN, et al. Leptospirosis: a zoonotic disease of global importance. Lancet Infect Dis. 2003;3(12):757–771.
  • Adler B, de la Peña Moctezuma A. Leptospira and leptospirosis. Vet Microbiol. 2010;140(3–4):287–296.
  • Levett PN. Leptospirosis. Clin Microbiol Rev. 2001;14(2):296–326.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *