DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

OVERDIAGNOSIS DALAM PENILAIAN IgM YANG TINGGI PADA TORCH SELAMA KEHAMILAN: ANTARA INFEKSI AKTIF DAN HIPERSENSITIVITAS

OVERDIAGNOSIS DALAM PENILAIAN IgM YANG TINGGI PADA TORCH SELAMA KEHAMILAN: ANTARA INFEKSI AKTIF DAN HIPERSENSITIVITAS

Judarwanto Widodo, Yudhasmara Audi

Abstrak

Pemeriksaan serologis TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes Simplex Virus) merupakan salah satu tes yang paling sering diminta dalam evaluasi kehamilan, terutama ketika dokter atau pasien khawatir terhadap risiko infeksi pada janin. Namun, interpretasi antibodi IgM yang tinggi sering menimbulkan kekeliruan diagnostik karena IgM tidak selalu mencerminkan adanya infeksi akut. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa reaktivitas silang antigen, hipersensitivitas imun, alergi, autoimunitas, serta infeksi virus non-spesifik dapat menghasilkan IgM positif palsu atau menetap berbulan-bulan sehingga memberikan gambaran infeksi aktif yang salah. Overdiagnosis akibat interpretasi IgM tanpa korelasi klinis telah menyebabkan terapi yang tidak diperlukan, kecemasan berlebihan, dan tindakan medis yang tidak sesuai pedoman WHO, CDC, ACOG, dan RCOG. Artikel ini menguraikan mekanisme imunologi penyebab IgM positif palsu, batasan pemeriksaan serologi, konsekuensi klinis pada ibu hamil, serta urgensi pendekatan diagnostik yang berbasis klinis dan konfirmasi laboratorium lanjutan seperti IgG avidity dan PCR.

Pendahuluan

Dalam praktik kebidanan modern, pemeriksaan TORCH sering dijadikan pemeriksaan rutin meskipun tidak direkomendasikan sebagai skrining populasi umum oleh WHO maupun CDC. Banyak ibu hamil menjalani tes TORCH bukan karena adanya indikasi klinis, tetapi karena kekhawatiran pribadi atau saran yang tidak didasarkan pada standar praktik berbasis bukti. Kondisi ini diperburuk oleh kecenderungan sebagian klinisi menafsirkan IgM sebagai penanda absolut infeksi akut. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa IgM pada Rubella, CMV, dan Toxoplasma dapat bertahan hingga 12–18 bulan pasca paparan, bahkan meningkat ketika sistem imun terstimulasi oleh proses non-infeksi seperti alergi atau inflamasi. Hal ini menyebabkan banyak ibu hamil menerima diagnosis “infeksi TORCH akut” padahal tidak menunjukkan tanda klinis infeksi sama sekali.

Di sisi lain, hasil IgM positif pada ibu hamil sering langsung ditindaklanjuti dengan pengobatan mahal, rujukan berulang, hingga keputusan ekstrem seperti penghentian kehamilan, meskipun tidak ada gejala klinis, tidak ada bukti ultrasonografi mengenai kelainan janin, dan tidak ada konfirmasi laboratorium yang valid. Pendekatan yang hanya mengandalkan satu parameter serologis ini mengabaikan fakta bahwa IgM sangat rentan terhadap positif palsu akibat reaktivitas silang, hipersensitivitas imun, atau produksi antibodi poliklonal. Tanpa evaluasi klinis komprehensif—meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, riwayat paparan, serta pemeriksaan lanjutan seperti IgG avidity dan PCR—interpretasi IgM justru berpotensi menyebabkan salah diagnosis dan pengobatan yang tidak memberi manfaat klinis.

Overdiagnosis dan Mekanisme Imunologis Positif Palsu

Overdiagnosis dalam konteks serologi pada kehamilan merujuk pada pemberian label “infeksi aktif” berdasarkan temuan IgM positif tanpa bukti klinis atau laboratorium tambahan yang mendukung. Overdiagnosis terjadi ketika pemeriksaan laboratorium diperlakukan sebagai metode diagnosis utama, bukan sebagai alat bantu sebagaimana mestinya. Dalam kasus TORCH, IgM dapat meningkat bukan hanya akibat infeksi baru, tetapi juga karena reaktivitas silang antigen, hipersensitivitas imun, autoimunitas, atau infeksi virus ringan yang tidak relevan dengan kehamilan. IgM juga merupakan antibodi yang dapat menetap lama setelah infeksi lama sembuh, sehingga temuan IgM positif tidak dapat secara otomatis diinterpretasikan sebagai bukti infeksi aktif.

Pada beberapa patogen TORCH, terutama CMV dan Rubella, IgM dapat bertahan hingga lebih dari satu tahun, sementara IgG tinggi menunjukkan imunitas atau paparan masa lalu. Mekanisme persistent IgM ini sering menyesatkan klinisi yang tidak mempertimbangkan dinamika antibodi. Kondisi alergi dan hipersensitivitas pada ibu hamil juga berperan dalam peningkatan IgM karena hiperaktivasi sistem imun bawaan, terutama pada pasien dengan dermatitis atopik, asma, atau alergi makanan. Selain itu, reaksi silang terhadap antigen lingkungan atau bakteri non-patogen dapat menghasilkan IgM positif palsu pada pemeriksaan Rubella, CMV, dan Toxoplasma. Dengan demikian, IgM dalam banyak kasus lebih mencerminkan respons imun yang tidak spesifik daripada infeksi yang sedang berlangsung, sehingga konsensus global menegaskan perlunya interpretasi yang berhati-hati.

Interpretasi Ilmiah dan Kesalahan Umum dalam Penilaian TORCH Selama Kehamilan

Kesalahan paling umum dalam praktik klinis adalah menganggap IgM positif sebagai bukti infeksi akut. WHO, CDC, dan ACOG menegaskan bahwa IgM tidak boleh dijadikan dasar diagnosis tunggal pada ibu hamil karena sensitivitas dan spesifisitasnya yang rendah akibat tingginya angka positif palsu. Reaktivitas silang merupakan penyebab utama yang memperburuk interpretasi, khususnya pada Rubella dan CMV, di mana antibodi dapat mengenali antigen lain yang memiliki struktur serupa. Sementara itu, hyperrespons imun pada ibu hamil dengan alergi atau gangguan imunologis menyebabkan produksi IgM poliklonal yang dapat mengganggu hasil serologi.

Kesalahan kedua adalah mengabaikan fakta bahwa IgM dapat bertahan lama. Banyak ibu hamil yang telah lama memiliki IgM tinggi sejak sebelum kehamilan tetapi baru terdeteksi saat skrining trimester pertama. Tanpa pemeriksaan tambahan seperti IgG avidity—yang menilai kekuatan ikatan antibodi dan dapat membedakan infeksi lama dari infeksi baru—banyak diagnosis infeksi akut ditegakkan secara keliru. Kesalahan ketiga adalah melakukan pemeriksaan serologi tanpa indikasi klinis. Ketika pemeriksaan dilakukan secara massal tanpa dasar klinis, peluang memperoleh hasil positif palsu meningkat secara signifikan sehingga pasien sehat justru diberi diagnosis yang tidak akurat. Kesalahan keempat adalah mengabaikan pemeriksaan PCR, kultur, atau USG obstetri yang sebenarnya merupakan standar emas untuk konfirmasi infeksi intrauterin. Akhirnya, banyak ibu hamil menerima terapi antiviral atau antibiotik padahal tidak ada bukti infeksi aktif, dan kondisi ini memperlihatkan urgensi edukasi klinis terkait interpretasi serologi TORCH.

Analisis Kasus Klinis

Kasus 1 – Ibu Hamil Dinyatakan Positif Semua TORCH

Seorang ibu hamil publik figur mengalami hasil laboratorium yang menunjukkan IgG tinggi dan IgM positif untuk Toxoplasma, Rubella, CMV, dan HSV. Tanpa gejala infeksi seperti demam, ruam, atau limfadenopati, ia langsung mendapatkan terapi yang mahal dan panjang karena dianggap mengalami infeksi akut multipel. Interpretasi klinis yang terburu-buru ini sangat memengaruhi psikologis pasien karena ia merasa kehamilannya terancam padahal tidak ada bukti klinis maupun ultrasonografi yang mendukung diagnosis tersebut. Secara imunologi, IgG tinggi menunjukkan paparan lama, dan IgM positif dapat disebabkan oleh reaktivitas silang atau persistent IgM yang dapat berlangsung hingga lebih dari setahun.

Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan di pusat rujukan, igG avidity pasien tersebut ternyata tinggi, menunjukkan bahwa infeksi sudah lama terjadi dan bukan infeksi baru. PCR untuk Rubella, CMV, dan Toxoplasma juga negatif, sementara janin tampak normal pada pemeriksaan ultrasonografi detail. Temuan tersebut mengonfirmasi bahwa diagnosis awal infeksi akut tidak valid, dan pengobatan yang diberikan tidak diperlukan. Kasus ini menunjukkan bagaimana IgM tanpa analisis tambahan dapat menghasilkan overdiagnosis yang merugikan ibu dan janin serta menegaskan pentingnya mengikuti pedoman internasional.

Kasus 2 – Ibu Hamil dengan IgM Rubella Tinggi Tanpa Gejala

Seorang ibu hamil trimester pertama menjalani pemeriksaan laboratorium karena khawatir tertular rubella dari lingkungan kerja. Hasil laboratorium menunjukkan IgM rubella positif, meskipun ia tidak mengalami gejala klinis seperti demam atau ruam. Ketakutan akan risiko congenital rubella syndrome membuat pasien segera dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan, dan beberapa klinisi langsung menyarankan terapi antiviral serta pemantauan intensif tanpa pemeriksaan konfirmasi terlebih dahulu. Secara imunologi, IgM Rubella dikenal sangat rentan memberikan hasil positif palsu akibat reaksi silang dengan parvovirus B19, EBV, atau adenovirus, serta karena adanya persistent IgM pasca imunisasi.

Pemeriksaan IgG avidity yang dilakukan kemudian menunjukkan aviditas tinggi, sehingga membuktikan bahwa paparan rubella telah terjadi jauh sebelum kehamilan. PCR rubella yang dilakukan melalui pemeriksaan darah dan urin juga negatif. Seluruh bukti ini menyingkirkan kemungkinan infeksi akut dan memastikan bahwa janin tidak berisiko mengalami cacat bawaan akibat rubella. Kasus ini menegaskan bahwa IgM rubella tidak boleh diinterpretasi tanpa kombinasi IgG avidity dan PCR, terutama pada ibu hamil trimester pertama.

Kasus 3 – Ibu Hamil dengan IgM Toxoplasma Berulang

Seorang ibu hamil mengalami hasil IgM toxoplasma positif pada dua kunjungan pemeriksaan selama 8 minggu, meskipun ia tidak memiliki riwayat paparan risiko tinggi seperti konsumsi daging mentah atau kontak erat dengan kotoran kucing. Hasil IgG menunjukkan kadar stabil dan meningkat perlahan, sementara USG kehamilan tidak memperlihatkan kelainan janin, seperti ventriculomegaly atau hepatosplenomegali. Banyak klinik mendiagnosis toxoplasmosis akut hanya berdasarkan IgM, padahal antibodi toxoplasma sangat sering memberikan positif palsu akibat reaktivitas silang dengan antigen lingkungan dan antigen protozoa lain.

Pada kasus ini, pemeriksaan IgG avidity menunjukkan nilai tinggi, menandakan paparan toxoplasma lama sebelum kehamilan. Pemeriksaan PCR pada darah ibu dan amnion juga menunjukkan hasil negatif. Temuan lanjutan membuktikan bahwa peningkatan IgM bersifat non-spesifik dan tidak merefleksikan infeksi aktif. Diagnostik yang salah dapat berakibat ibu mengonsumsi obat yang tidak diperlukan seperti spiramisin yang memiliki efek samping gastrointestinal signifikan. Kasus ini memperkuat pemahaman bahwa toxoplasmosis akut tidak dapat ditegakkan tanpa bukti klinis atau laboratorium yang vali

Analisis Ilmiah Ringkas

Dari seluruh temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa IgG tinggi merupakan penanda paparan lama, IgM pada TORCH sangat rentan terhadap positif palsu, dan diagnosis infeksi akut tidak boleh ditegakkan tanpa pemeriksaan IgG avidity, PCR, dan korelasi klinis. Ibu hamil dengan alergi atau hiperrespons imun lebih rentan memiliki IgM tinggi meski tanpa infeksi, sehingga interpretasi serologi harus dilakukan secara hati-hati sesuai pedoman WHO, CDC, ACOG, dan RCOG.

Pemeriksaan serologi TORCH menunjukkan bahwa IgG tinggi umumnya menandakan infeksi lama atau paparan masa lalu, bukan infeksi aktif. IgG dapat menetap seumur hidup sebagai bentuk memori imun, sehingga peningkatannya tidak digunakan untuk menegakkan diagnosis infeksi akut. Sementara itu, IgM pada TORCH sangat dikenal memiliki angka positif palsu yang tinggi, terutama pada toxoplasma, rubella, dan CMV, sehingga IgM yang meningkat tanpa gejala klinis khas tidak dapat dianggap sebagai bukti infeksi baru.

Selain itu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa IgM dapat meningkat akibat kondisi non-infeksi, seperti alergi berat, autoimun, atau hiperrespons imun yang berlebihan. Pada ibu hamil dengan kondisi tersebut, aktivasi sistem imun humoral dapat memicu peningkatan IgM poliklonal, sehingga hasil serologi tampak “reaktif” meski tidak terjadi infeksi. Hal ini menyebabkan banyak kasus overdiagnosis TORCH, terutama ketika diagnosis ditegakkan hanya berdasarkan angka laboratorium tanpa melihat kondisi klinis ibu atau hasil pemeriksaan penunjang lainnya.

Karena itu, diagnosis infeksi akut tidak boleh ditegakkan hanya dari IgM positif, melainkan harus disertai pemeriksaan IgG avidity, PCR, ultrasound obstetri, serta korelasi gejala klinis sesuai pedoman WHO, CDC, ACOG, dan RCOG. Interpretasi serologi harus dilakukan oleh dokter yang berpengalaman, mengingat kesalahan diagnosis dapat menyebabkan kecemasan, pemberian obat mahal yang tidak perlu, hingga salah pengambilan keputusan medis. Pendekatan berbasis klinis, komprehensif, dan mengikuti pedoman internasional merupakan langkah terbaik untuk mencegah overdiagnosis pada ibu hamil.

Pendekatan Diagnostik yang Direkomendasikan

Pendekatan diagnostik TORCH pada ibu hamil harus dimulai dengan evaluasi klinis komprehensif, yang mencakup anamnesis detail, riwayat paparan, faktor risiko, dan pemeriksaan fisik lengkap. Diagnosis tidak boleh langsung ditegakkan dari hasil laboratorium yang reaktif, terutama IgM, karena parameter ini sering memberikan hasil positif palsu. Langkah awal ini penting karena sebagian besar ibu hamil dengan hasil serologi positif sebenarnya tidak mengalami infeksi aktif, melainkan hanya menunjukkan respons imun yang pernah terbentuk sebelumnya.

Jika IgM dinyatakan positif namun tidak terdapat gejala klinis, maka langkah diagnostik berikutnya adalah melakukan pemeriksaan IgG avidity, yang merupakan metode paling akurat untuk membedakan infeksi lama dan infeksi baru. Avidity tinggi menunjukkan infeksi lama dan aman bagi kehamilan, sementara avidity rendah mengarah pada kemungkinan infeksi baru sehingga memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Pada kondisi avidity rendah atau meragukan, pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) pada darah ibu, urine, atau cairan ketuban merupakan standar emas untuk menentukan keberadaan DNA atau RNA patogen secara langsung.

Selain pemeriksaan laboratorium, pemantauan janin melalui USG obstetri serial sangat penting untuk menilai adanya tanda infeksi intrauterin seperti retardasi pertumbuhan, kelainan organ, atau kelainan cairan ketuban. Pendekatan berlapis—dimulai dari klinis, dilanjutkan avidity, PCR, dan USG—merupakan prosedur yang direkomendasikan WHO, CDC, ACOG, dan RCOG untuk mencegah overdiagnosis serta menghindarkan ibu hamil dari kecemasan berlebihan atau terapi yang tidak perlu. Model evaluasi bertahap ini membantu memastikan bahwa setiap keputusan medis berbasis bukti dan benar-benar mencerminkan kondisi klinis pasien.]

Waspada Overdiagnosis

Waspadalah terhadap oversiagnosis apabila:

  1. IgM meningkat tetapi pasien tidak menunjukkan gejala klinis apa pun, karena IgM dapat positif palsu dan bertahan lama setelah paparan lama;
  2. terdapat riwayat alergi, autoimun, atau hipersensitivitas, karena kondisi ini dapat membuat antibodi meningkat tanpa infeksi; dan
  3. pemeriksaan antibodi menunjukkan positif pada banyak penyakit sekaligus, yang lebih sering mencerminkan aktivasi imun non-spesifik daripada infeksi multipel , karena itu jangan terburu-buru menyimpulkan adanya infeksi sebelum menilai klinis, anamnesis, dan pemeriksaan konfirmasi.

Secara fisiologis, keberadaan IgM lebih tepat dianggap sebagai indikasi bahwa sistem imun pernah terstimulasi, bukan bukti bahwa infeksi sedang berlangsung. Untuk diagnosis akurat, diperlukan korelasi dengan IgG avidity, PCR, kultur, dan gejala klinis.

Kesimpulan

Interpretasi IgM dalam penilaian TORCH selama kehamilan harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena tingginya risiko positif palsu dan persistensi antibodi yang dapat menetap lama setelah infeksi sembuh. Overdiagnosis yang terjadi akibat interpretasi IgM tanpa konfirmasi dapat berakibat pada kecemasan, pengobatan tidak perlu, dan tindakan medis yang tidak tepat. Pedoman global secara tegas menyatakan bahwa IgM tunggal tidak boleh digunakan sebagai dasar diagnosis infeksi akut pada ibu hamil. Penggunaan IgG avidity, PCR, serta korelasi klinis adalah kunci dalam memastikan diagnosis yang akurat dan aman bagi ibu maupun janin.

Daftar Pustaka

  • Maldonado YA, Nizet V, Klein JO, Remington JS. TORCH Infections. In: Red Book: 2020 Report of the Committee on Infectious Diseases. 31st ed. American Academy of Pediatrics; 2020.
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Toxoplasmosis – Laboratory Diagnosis. CDC; 2022.
    Available from: https://www.cdc.gov/parasites/toxoplasmosis/
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Rubella – Laboratory Testing and Interpretation. CDC; 2023.
    Available from: https://www.cdc.gov/rubella/lab/index.html
  • Lazzarotto T, Gabrielli L, Lanari M, Guerra B, Bellucci T, Landini MP. Evaluation of cytomegalovirus (CMV) IgM and IgG avidity tests in pregnant women for the diagnosis of primary CMV infection. J Clin Virol. 2011;52(1):50–55.
  • World Health Organization (WHO). Typhoid Fever – Diagnostic Guidance. WHO; 2018.
    Available from: https://www.who.int/publications/i/item/WHO-typhoid-guidance
  • Wilson M. Clinical Interpretation of Serologic Testing in Infectious Diseases. 2nd ed. Cambridge University Press; 2019.
  • Montoya JG, Liesenfeld O. Toxoplasmosis. Lancet. 2004;363(9425):1965–1976. (Termasuk pembahasan IgM persisten/false positive).
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Cytomegalovirus (CMV) – Laboratory Testing. CDC; 2022.
    Available from: https://www.cdc.gov/cmv/clinical/lab-tests.html
  • Farkas JD. False-positive IgM results in viral infections: mechanisms and clinical implications. Clin Microbiol Rev. 2020;33(3):e00009–20.
  • Shlim DR, Schwartz E. False-positive serologic tests in travelers: a diagnostic challenge. Curr Infect Dis Rep. 2021;23(4):1–10.
  • World Health Organization (WHO). Laboratory Testing for COVID-19 and Other Viral Infections: Cross-reactivity and Serological Pitfalls. WHO; 2021.
  • Balfour HH Jr, Dunmire SK, Hogquist KA. Cytotoxic immune responses and atypical serology in viral infections. N Engl J Med. 2015;373:564–572.
  • Ekem JK, Cruz G. Hypergammaglobulinemia, autoimmunity, and false-positive IgM in pediatric patients. Pediatr Allergy Immunol. 2017;28(2):180–187.
  • DynaMed. Typhoid Fever – Serologic Testing Pitfalls. EBSCO; 2023.
    Available from: https://www.dynamed.com/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *