Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), Gejala dan Penanganannya

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan suatu keadaan patologis sebagai akibat reluks kandungan lambung ke dalam esophagus, dengan berbagai gejala yang timbul akibat keterlibatan esofagus, laring, dan saluran napas, akibat kelemahan otot sfingter bagian bawah (LES/ Lower Esophageal Sfingter).

Refluks dapat terjadi melalui 3 mekanisme yaitu refluks spontan pada saat relaksasi LES, aliran balik sebelum kembalinya tonus LES setelah menelan, meningkatnya tekanan dalam abdomen.

Faktor risiko terjadinya refluks esophagus yaitu alkohol, hernia hiatus, obesitas, kehamilan, skleroderma,rokok, obat-obatan seperti antikolinergik, beta blocker, bronkodilator, calcium channel blockers, progestin, sedative, antidepresi trisiklik.

Terdapat dua kelompok pasien GERD yaitu pasien dengan esofagitis erosive yang ditandai dengan adanya mucosal break di esofagus pada pemeriksaan endoskopi dan pasien GERD yang pada pemeriksaan endoskopi tidak ditemukan mucosal break (Non Erosive Reflux Disease/NERD).

  • Keluhan paling sering: merasakan adanya makanan yang menyumbat di dada, nyeri seperti rasa terbakar di dada yang meningkat dengan membungkukkan badan, tiduran, makan, dan menghilang dengan pemberian antasida, non cardiac chest pain
  • Keluhan yang jarang dikeluhkan: batuk atau asma, kesulitan menelan, hiccups, suara serak atau perubahan suara, sakit tenggorokan, bronchitis
  • Pada anamnesis juga perlu ditanyakan riwayat pemakaian obat-obatan

Pemeriksaan Fisik

  • Pada pemeriksaan fisik tidak ada yang khas untuk GERD. Pada pemeriksaan laring dapat ditemukan inflamasi yang mengindikasikan GERD.
  • Pemeriksaan PenunjangJika keluhan tidak berat, jarang dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan dilakukan jika keluhan berat atau timbul kembali setelah diterapi.
  • Esophagogastroduodenoscopy (EGD) melihat adanya kerusakan esophagus
  • Barium meal melihat stenosis esophagus, hiatus hernia
  • Continuous esophageal pH monitoring : mengevaluasi pasien GERD yang tidak respon dengan PPI (Proton pump inhibitor), evaluasi pasien-pasien dengan gejala ekstra esophageal sebelum terapi PPI, memastikan diagnosis GERD sebelum operasi anti refluks atau mengevaluasi NERD berulang setelah operasi anti refluks
  • Manometri esophagus: mengevaluasi pengobatan pasien NERD dan untuk tujuan penelitian.
  • Stool occult blood test: untuk melihat adanya perdarahan dari iritasi esophagus, lambung, atau usus
  • Pemeriksaan histopatologis: menentukan adanya metaplasia, dysplasia, atau keganasan

Diagnosis Banding

  • Dispepsia,Ulkus peptikum,Kolik bilier,Eosinophilic esophagitis,Infeksi esofagitis,Penyakit jantung koroner, Gangguan motilitas esophagus.

Nonfarmakologis

  • Modifikasi gaya hidup, menghentikan obat-obatan (anti kolinergik,teofilin) dan mengurangi makan makanan yang dapat menstimulasi sekresi asam seperti kopi, mengurangi coklat, keju dan minuman bersoda
  • Menaikkan posisi kepala saat tidur jika keluhan seringkali dirasakan pada malam hari
  • Makan selambat-lamatnya 2 jam sebelum tidur

Farmakologis

  • HISTAMINE TYPE 2 – receptor antagonist (H2RAs)
  • Proton pump inhibitors (PPIs) umumnya diberikan selama 8 minggu dengan dosis ganda
  • Untuk NERD (Non Erosive Reflux Disease), terapi inisial dengan dosis standar selam 8 minggu lalu diberikan pada saat keluhan timbul dan dilanjutkan sampai keluhan hilang
  • Antasida hanya untuk mengurangi gejala yang timbul

TINDAKAN INVASIF

  • Pembedahan anti refluks : laparoscopic nissen fundoplication
  • Terapi endoskopi: radiofrequency ablation, endoscopic suturing, endoscopic implantation, endoscopic gastroplasty

KOMPLIKASI

  • Refluks esofagus dapat menimbulkan komplikasi esofagus maupun ekstra esofagus.
  • Komplikasi esofagus: striktur; ulkus, Barrett’s esophagus bahkan adeno karsinoma di kardia dan esofagus.
  • Komplikasi ekstra esofagus: asma, bronkospasme, batuk kronik atau suara serak,masalah gigi,

PROGNOSIS

  • Pengobatan dengan penghambat sekresi asam lambung dapat mengurangi keluhan, derajat esofagitis dan perjalanan penyakit. Risiko dari striktur menjadi Barrett’s esophagus atau adenokarsinoma yaitu 6% dalam 2-20 tahun pada kasus.

REFERENSI

  • Kahrilas PJ.Esophageal Structure and Function.Harrisons principles of internal medicine. 18th edition.2012

`

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s