Penanganan Terkini Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) 

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit yang ditandai dengan adanya keterbatasan aliran udara kronis dan perubahan patologis pada paru-paru, beberapa memiliki efek ekstra pulmonal.

Ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel. Keterbatasan aliran udara biasanya progresif dan berhubungan dengan respon inflamasi abnormal paru-paru terhadap partikel berbahaya atau gas. 

Faktor risiko yaitu perokok aktif atau pasif, tinggal di daerah berpolusi, lingkungan kerja) industri kapas, pertambangan batu bara, pertambangan emas) defisiensi a1 antitripsin 

  • Sesak napas yang diperberat oleh latihan, batuk-batuk kronis, sputum yang produktif, faktor risiko (+), PPOK ringan dapat tanpa keluhan atau gejala. 
  • Laju napas meningkat > 20 kalijmenit, bila sesak napas berat: sianosis (hipoksia berat), retraksi intercostal.
  • Pemeriksaan paru : barrel chest : meningkatnya diameter anteroposterior (merupakan tanda hiperinflasi), diafragma letak rendah, suara napas melemah dapat ditemukan ronki dan wheezing.
  • Suara jantung melemah. Pada PPOK berat dapat ditemukan gagal jantung kanan, kor pulmonal : bunyi jantung kedua meningkat, distensi vena jugular, kongesti hati, edema mata kaki.
  • Uji spirometri (standard baku)
  • Volume Ekspirasi Paksa VEPh / Kapasitas Vital Paru (KVP) atau FEV/FVC < 70 % Meningkatnya kapasitas total paru-paru, kapasitas residual fungsional, dan volume residual. Rontgen Thorax: paru hiperinflasi, diafragma mendatar. Analisis gas darah Level serum a1 antitripsin sesuai indikasi PPOK EKSASERBASI AKUT Gejala eksaserbasi: bertambahnya sesak napas, kadang-kadang disertai mengi, bertambahnya batuk disertai meningkatnya sputum dan sputum menjadi lebih purulen atau berubah warna. Gejala non-spesifik: malaise, insomnia,fatigue, depresi Spirometri: fungsi paru sangat menurun DIAGNOSIS BANDINGAsma dapat berbarengan dengan PPOK. Beda asma dan PPOK dapat dilihat pada asma terjadi peningkatan eosinofil dan obstruksi saluran napas yang terjadi biasanya reversibel, sementara pada PPOK tampak peningkatan neutrofil dan obstruksi saluran napas yang terjadi tidak sepenuhnya reversibel.  Akan tetapi asma yang sudah berlangsung lama dapat saja menyebabkan terbatasnya aliran udara yang menetap. 2 Diagnosis banding lain: Bronkiektasis, gagal jantung kongestif. 

  • Nonfarmakologis 
  • Berhenti merokok Rehabilitasi : latihan fisik, latihan endurance, latihan pernapasan, rehabilitasi psikososial. Terapi oksigen jangka panjang ( > 15 jam sehari ): Pada PPOK stadium IV
  • Pemeriksaan Penunjang
  • Pa02 < 55 mmHg, atau Sa02 < 88 % dengan/tanpa hiperkapnia
  • Pa02 55- 60 mmHg, atau Sa02 < 88% disertai hipertensi pulmonal, edema perifer karena gagal jantung, polisitemia. 
  • Nutrisi Pembedahan: bullectomy, transplantasi paru, lung volume reduction surgery (LVRS). 
  • Farmakologis Bronkodilator Secara inhalasi (MDI/ metered dose inhalation), kecuali preparat tak tersedia/ tak terjangkau Rutin (bila gejala menetap, kapasitas fungsional rendah atau sering kambuh sesak) atau hanya bila diperlukan (kapasitas fungsional baik dan kambuh kurang dari 2 kali/ tahun) 3 golongan: agonis b-2: fenopterol, salbutamol, albuterol, terbutalin, formoterol, salmeterol, antikolinergik: ipratropium bromid, oksitroprium bromid metilxantin: teofilin lepas lam bat, bila kombinasi agonis b-2 dan steroid belum memuaskan 
  • Dianjurkan bronkodilator kombinasi daripada meningkatkan dosis bronkodilator monoterapi Steroid, pada: PPOK yang menunjukkan respons pada uji steroid PPOK dengan golongan C dan D Eksaserbasi akut Obat-obat tambahan lain mukolitik (mukokinetik, mukoregulator): ambroksol, karbosistein, gliserol iodida antioksidan: N-asetil-sistein imunoregulator (imunostimulator, imunomodulator): tidak rutin antitusif: tidak rutin vaksinasi: influenza, pneumokok 
  • Terapi PPOK Eksaserbasi Akut
  • Penatalaksanaan PPOK eksaserbasi akut di rumah: bronkodilator seperti pada PPOK stabil, dosis 4-6 kali 2-4 hirup sehari. Steroid oral dapat diberikan selama 10-14 hari. Bila infeksi: diberikan antibiotika spektrum luas (termasuk S pneumonie, H influenzae, M catarrhalis).  
  • Terapi eksaserbasi akut di rumah sakit: Terapi oksigen terkontrol, melalui kanul nasal atau venturi mask. Bronkodilator: inhalasi agonis ß-2 (dosis dan frekuensi ditingkatkan) + antikolinergik. Pada eksserbasi akut berat: + aminofilin (0,5 mg/kgbb/jam) Steroid: prednisolon 30-40 mg PO selama 10-14 hari. Steroid intra vena: pada keadaan berat. Antibiotika terhadap S pneumonie, H influenzae, M catarrhalis. Ventilasi mekanik pada: gagal napas akut atau kronik dengan PaC0 2 > 45 mmHg.

KOMPLIKASI

  • Bronkitis akut, pneumonia, tromboemboli pulmo, gagal jantung kanan, kor pulmonal, hipertensi pulmonal, gagal napas kronik, pneumotoraks spontan 

REFERENSI

  • Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Dalam: Fauci A Kasper D, Longo D, Braunwald E, Hauser S, Jameson J, Loscalzo J, editors. Harrison’s principles of internal medicine. 18 1″ ed. United States of America; The McGraw-Hill Companies, 2011.
  • Global strategy for the diagnosis, management. and prevention of chronic obstructive pulmonoligy disease. Global initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s