Skabies, Imfeksi Kulit Yang Mirip Alergi Kulit

Gangguan alergi bisa menyerang semua irgan dan sistem tubuh. Sehingga seringkali tanda dan gemala alergi menyerupai penyakit lainnya. Salah satunya dermatitis atopi tipe papular hampir menyerupai skabies. Bukan hanya orangtua bahkan klinisipun seringkali sulit membedakan antara dermatitis atopi dan skabies.

Scabies atau dikenal juga dengan nama kudis adalah penyakit kulit akibat tungau bernama Sarcoptes scabiei. Serangga berkaki delapan ini berukuran sangat kecil sehingga Anda tidak bisa melihatnya dengan mata telanjang. Dari permukaan kulit, tungau masuk ke lapisan dalam kulit untuk bertelur, hidup, dan makan. Kondisi ini bisa menyebabkan kulit terasa sangat gatal di area yang terinfeksi sebagai reaksi alergi. Di malam hari, rasa gatal biasanya akan meningkat. Tungau yang sangat kecil itu bahkan bisa berada di dalam kulit sampai dua bulan.

Scabies dianggap sebagai penyakit menular yang dapat menyebar dengan cepat melalui kontak fisik yang dekat dalam keluarga, play group anak, kelas sekolah, panti jompo, atau penjara.

Penyakit kulit yang satu ini terdiri atas dua jenis, yaitu scabies biasa dan Norwegian scabies atau scabies berkrusta. Orang dengan scabies berkrusta bisa memiliki hingga seribu tungau di kulit. Padahal, orang yang terkena kudis umumnya hanya memiliki 15 sampai 20 tungau di kulitnya

Scabies atau skabies adalah penyakit yang sangat umum terjadi dalam masyarakat. American Academy of Dermatology melaporkan bahwa ada jutaan orang yang terkena penyakit ini di seluruh dunia setiap tahunnya. Kudis dapat menyerang semua orang dari berbagai usia, ras, tingkat sosial, dan situasi hidupnya. Bahkan, orang yang sangat menjaga kebersihannya pun bisa terkena penyakit kulit yang satu ini.

Tanda-tanda & gejala

Tubuh baru akan menunjukkan gejala penyakit setelah 4-6 minggu setelah paparan awal terhadap tungau scabies. Namun, jika Anda pernah terkena penyakit ini sebelumnya, gejala bisa saja muncul lebih cepat, yaitu sekitar 1 hingga 4 hari setelah paparan.

Adapun berbagai tanda dan gejala kudis yang biasanya muncul, yaitu:

  • Gatal. Gatal menjadi salah satu gejala paling umum yang akan dirasakan jika Anda terkena skabies. Rasa gatal ini biasanya sangat kuat dan akan semakin parah saat malam tiba. Oleh sebab itu, orang dengan kondisi kulit ini biasanya mengalami susah tidur karena rasa gatal yang sangat mengganggu.
  • Ruam. Ruam pada kudis biasanya berupa benjolan keras yang sering kali membentuk garis seperti terowongan. Benjolan ini bisa terlihat seperti bekas gigitan kecil berwarna merah atau bahkan seperti jerawat. Sebagian orang bahkan mengalami ruam dengan bercak bersisik seperti eksim.
  • Luka. Orang dengan kudis umumnya memiliki luka di beberapa bagian tubuhnya. Luka biasanya terbentuk akibat menggaruk kulit terlalu keras. Luka ini kerap muncul di pagi hari karena tanpa sadar mereka menggaruk kulitnya dengan keras saat sedang tidur. Luka yang dibiarkan tanpa diobati bisa berkembang menjadi infeksi. Sepsis atau infeksi yang masuk ke aliran darah adalah kondisi gawat medis yang mengancam jiwa.
  • Kerak tebal pada kulit. Kerak biasanya muncul ketika Anda memiliki scabies berkrusta atau Norwegian scabies. Oleh karena jumlah tungau yang bisa mencapai ribuan di kulit, rasa gatalnya pun jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan jenis biasa. Salah satu tanda umum dari Norwegian scabies ini adalah kerak tebal yang tersebar luas di kulit. Biasanya kerak terlihat berwarna keabu-abuan dan mudah hancur saat disentuh. Kadang, kerak muncul di satu atau beberapa area tubuh yang terkena, seperti kulit kepala, punggung, atau kaki.

Pada orang dewasa dan anak yang lebih tua, scabies paling sering ditemukan di:

  • Antara jari tangan
  • Sekitar kuku
  • Ketiak
  • Sekitar pinggang
  • Pergelangan tangan
  • Atas siku bagian dalam
  • Telapak kaki
  • Sekitar payudara
  • Sekitar area kelamin pria
  • Pantat
  • Lutut
  • Atas tulang belikat
  • Area kulit yang ditutupi perhiasan

Kudis pada bayi dan anak kecil mungkin muncul di:

  • Kulit kepala
  • Wajah
  • Leher
  • Telapak tangan
  • Telapak kaki

Beberapa gejala atau tanda lainnya mungkin tidak tercantum di atas. Jika Anda merasa cemas tentang gejala tersebut, segera konsultasikan ke dokter.

Penyebab

Tungau berkaki delapan yang berukuran sangat kecil adalah penyebab kudis pada manusia. Tungau betina masuk kemudian menggali bawah kulit dan membuat saluran untuk bertelur.

Setelah telur menetas, larva tungau bergerak ke permukaan kulit untuk tumbuh. Tungau-tungau ini kemudian dapat menyebar ke area kulit lainnya atau bahkan ke orang lain.

Tungau, telur, dan kotoran mereka membuat Anda merasa gatal sebagai reaksi alergi tubuh terhadap keberadaan tungau.

Bila Anda melakukan kontak fisik dengan orang yang terinfeksi, tungau dapat menyebar. Selain itu, berbagi barang yang sama dengan orang yang terinfeksi, seperti handuk, sprei, dan pakaian, juga bisa membuat tungau menyebar.

Beberapa hewan juga diketahui memiliki tungau ini pada tubuhnya. Namun, perlu diingat bahwa penyakit kudis tidak menular dari hewan yang terinfeksi. Anda hanya akan tertular jika melakukan kontak dengan manusia lainnya yang terinfeksi.

Sekalipun menular, Anda tak perlu terlalu khawatir. Biasanya, Anda tidak akan tertular skabies hanya dengan berjabat tangan atau berpelukan. Sebab, tungau butuh waktu lebih lama untuk merangkak dari satu orang ke orang lainnya.

Anda perlu berhati-hati terhadap scabies berkrusta. Pasalnya kerak pada kulit pengidapnya bisa dengan mudah jatuh. Kerak ini sangat menular karena juga mengandung tungau di dalamnya.

Hal lain yang patut Anda waspadai adalah tungau bisa hidup selama satu minggu tanpa kontak dengan manusia. Ini karena kerak kulit menyediakan makanan dan perlindungan bagi tungau.

Oleh sebab itu, jangan menyentuh atau memegang rontokan kerak kulit dari tubuh orang yang memiliki Norwegian scabies jika tidak ingin tertular.

Faktor-faktor risiko

Risiko skabies akan meningkat pada:

  • Anak-anak
  • Dewasa muda yang akif secara seksual
  • Tinggal bersama di panti jompo, penjara, asrama, dan bermain tempat penitipan anak yang memiliki scabies
  • Pasien yang sedang rawat inap
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah juga meningkatkan risiko terkena scabies. Kondisi ini khususnya berlaku untuk Norwegian scabies.
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah membuat tungau berkembang biak dengan subur. Hal ini disebabkan oleh orang dengan imun rendah tidak mampu melawan tungau. Tanpa perlawanan dari tubuh, tungau akan berkembang biak dengan sangat cepat.
  • Lansia, orang dengan HIV/AIDS, penerima transplantasi organ, pengidap kanker, dan orang yang sedang menjalani kemoterapi juga sangat berisiko terkena skabies.

Diagnosis

  • Diagnosis scabies (kudis) dengan cara memeriksa kulit dari kepala hingga kaki. Dokter akan mencari tanda-tanda keberadaan tungau dari tampilan kulit Anda. Untuk memastikannya, biasanya dokter akan mengambil sedikit sampel kulit yang dicurigai menjadi tempat bersarangnya tungau.

  • Dokter kemudian akan melihatnya di bawah mikroskop untuk menemukan tungau dan telurnya. Dari sinilah dokter akan bisa melihat apakah Anda memang terkena kudis atau tidak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s