DOKTER AIRLANGGA

SMART HEALTH, SMART GENERATION

Hirschsprung Disease pada Bayi: Diagnosis, Tata Laksana, dan Luaran Jangka Panjang

Hirschsprung Disease pada Bayi: Diagnosis, Tata Laksana, dan Luaran Jangka Panjan

Tinjauan Ilmiah Berbasis Bukti (Evidence-Based Review)

Abstrak

Penyakit Hirschsprung (Hirschsprung Disease/HD) merupakan kelainan kongenital saluran cerna yang ditandai oleh tidak adanya sel ganglion pada pleksus submukosa (Meissner) dan mienterikus (Auerbach), sehingga menyebabkan gangguan motilitas usus distal. Insidensinya sekitar 1 dari 5.000 kelahiran hidup dan lebih sering terjadi pada laki-laki dibanding perempuan dengan rasio sekitar 4:1. Manifestasi klinis utama meliputi keterlambatan pengeluaran mekonium (>48 jam), distensi abdomen, muntah hijau, konstipasi kronis, hingga enterokolitis yang dapat mengancam jiwa. Diagnosis ditegakkan melalui kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, foto polos abdomen, enema kontras, manometri anorektal, dan konfirmasi melalui biopsi rektum yang merupakan baku emas (gold standard). Tata laksana definitif adalah pembedahan pull-through setelah stabilisasi kondisi pasien. Prognosis umumnya baik bila diagnosis ditegakkan dini dan komplikasi dapat dicegah.


Pendahuluan

Penyakit Hirschsprung merupakan penyebab tersering obstruksi usus bagian bawah pada neonatus. Penyakit ini pertama kali dideskripsikan oleh Harald Hirschsprung pada tahun 1888. Kelainan terjadi akibat kegagalan migrasi sel krista neural selama perkembangan embrio sehingga segmen usus distal kehilangan sistem persarafan intrinsik.

Akibat tidak adanya sel ganglion, segmen usus tersebut tetap dalam keadaan spasme sehingga isi usus tidak dapat melewati daerah tersebut dengan baik. Bagian usus proksimal mengalami dilatasi progresif sehingga timbul megakolon kongenital.


Embriologi

Migrasi sel krista neural berlangsung pada minggu ke-5 hingga ke-12 kehamilan.

Gangguan migrasi menyebabkan:

  • Aganglionosis rektum
  • Aganglionosis rektosigmoid
  • Long-segment disease
  • Total colonic aganglionosis

Epidemiologi

KarakteristikData
Insidensi1 : 5.000 kelahiran
Laki-laki : perempuan4 : 1
Neonatus±80% terdiagnosis
Sindrom Down5–15%
Riwayat keluarga4–20%

Genetika

Beberapa gen yang sering ditemukan:

GenPeranan
RETPaling sering
EDNRBMigrasi krista neural
EDN3Diferensiasi neuron
SOX10Perkembangan sistem saraf enterik
GDNFPertumbuhan neuron

Patofisiologi

  1. Tidak terbentuk sel ganglion.
  2. Usus distal mengalami spasme.
  3. Terjadi hambatan aliran feses.
  4. Usus proksimal melebar.
  5. Timbul megakolon.
  6. Risiko enterokolitis meningkat.

Manifestasi Klinis

Manifestasi Klinis Hirschsprung pada Neonatus

Sekitar 80–90% kasus penyakit Hirschsprung menunjukkan gejala pada masa neonatus (0–28 hari). Manifestasi klinis sangat bergantung pada panjang segmen usus yang mengalami aganglionosis, derajat obstruksi, dan ada tidaknya komplikasi berupa Hirschsprung-associated enterocolitis (HAEC). Pada sebagian besar bayi, gejala muncul dalam 24–72 jam pertama setelah lahir, meskipun pada kasus segmen pendek keluhan dapat baru tampak beberapa minggu atau bulan kemudian.

Manifestasi KlinisPenjelasanFrekuensi/Keterangan
Keterlambatan pengeluaran mekonium (>48 jam)Mekonium tidak keluar atau hanya sedikit akibat obstruksi fungsional usus distal. Merupakan gejala klasik yang harus menimbulkan kecurigaan Hirschsprung, terutama pada bayi cukup bulan.Sangat sering (≈80–90%)
Distensi abdomenPerut tampak membesar akibat penumpukan gas dan isi usus di bagian proksimal segmen aganglionik. Distensi biasanya semakin progresif bila tidak dilakukan dekompresi.Sangat sering
Muntah hijau (bilious vomiting)Menunjukkan adanya obstruksi usus bagian distal. Muntah dapat berulang dan merupakan tanda yang memerlukan evaluasi segera.Sering
Sulit menyusu atau tidak mau menyusuBayi tampak lemah, cepat kenyang, rewel, dan menolak menyusu akibat distensi abdomen dan rasa tidak nyaman.Sering
Konstipasi sejak lahirBAB sangat jarang atau hanya dapat keluar setelah stimulasi rektal atau pemasangan selang.Sering
Ampula rektum kosongPada colok dubur, ampula rektum terasa kosong meskipun abdomen tampak sangat distensi.Temuan khas
Squirt signSetelah jari pemeriksa atau kateter ditarik, keluar semburan feses dan gas akibat pelepasan tekanan usus.Khas, tetapi tidak selalu ditemukan
Enterokolitis (Hirschsprung-associated enterocolitis/HAEC)Komplikasi paling serius yang ditandai demam, diare berbau menyengat atau eksplosif, distensi abdomen bertambah berat, muntah, letargi, hingga syok dan sepsis. Memerlukan penanganan segera.Dapat terjadi pada 15–35% pasien, sebelum maupun sesudah operasi
Gagal tumbuhBila diagnosis terlambat, bayi mengalami kesulitan naik berat badan karena gangguan nutrisi dan obstruksi kronis.Lebih sering pada diagnosis yang terlambat
Ikterus berkepanjanganDilaporkan pada sebagian kecil neonatus, kemungkinan berkaitan dengan gangguan motilitas usus dan peningkatan sirkulasi enterohepatik bilirubin.Jarang

Tanda Bahaya yang Memerlukan Penanganan Segera

Tanda BahayaMakna Klinis
Mekonium tidak keluar >48 jamSangat mencurigakan penyakit Hirschsprung atau obstruksi usus kongenital lainnya.
Muntah hijauTanda obstruksi usus hingga terbukti bukan.
Distensi abdomen progresifMenunjukkan obstruksi yang semakin berat.
Demam disertai diare dan perut membesarCuriga Hirschsprung-associated enterocolitis (HAEC).
Letargi, perfusi buruk, atau syokMengarah ke sepsis akibat enterokolitis dan merupakan kegawatdaruratan.

Poin Klinis Penting

  • Tidak semua bayi dengan keterlambatan mekonium menderita Hirschsprung, tetapi pada bayi cukup bulan, mekonium yang belum keluar dalam 48 jam pertama harus segera dievaluasi.
  • Muntah hijau pada neonatus merupakan keadaan gawat darurat sampai penyebab obstruksi usus dapat disingkirkan.
  • Enterokolitis terkait Hirschsprung (HAEC) adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit ini, sehingga diagnosis dan terapi dini sangat penting.
  • Pada aganglionosis segmen pendek, gejala dapat lebih ringan sehingga diagnosis baru ditegakkan saat bayi atau anak mengalami konstipasi kronis.

Manifestasi Klinis Hirschsprung pada Bayi (Usia 1–12 Bulan)

Pada bayi, terutama dengan aganglionosis segmen pendek, gejala penyakit Hirschsprung sering tidak dikenali sejak periode neonatus. Keluhan berkembang secara bertahap berupa konstipasi kronis, gangguan pertumbuhan, hingga episode enterokolitis berulang. Bayi umumnya masih dapat BAB, tetapi frekuensinya jarang, sulit, atau hanya setelah stimulasi rektal maupun penggunaan pencahar.

Manifestasi KlinisPenjelasanFrekuensi/Keterangan
Konstipasi kronisKeluhan paling sering. BAB jarang (misalnya >3–5 hari sekali), feses keras, mengejan kuat, sering memerlukan stimulasi anus, supositoria, enema, atau pencahar.Sangat sering
Sulit BAB (diskezia berat)Bayi tampak mengejan lama, menangis saat BAB, wajah memerah, tetapi hanya sedikit feses yang keluar akibat hambatan usus distal.Sangat sering
Perut buncit (distensi abdomen kronis)Abdomen tampak membesar akibat penumpukan gas dan feses pada kolon proksimal. Distensi biasanya berkurang setelah BAB atau irigasi rektal.Sangat sering
Berat badan sulit naikAsupan makan menurun akibat rasa penuh di perut, muntah berulang, dan gangguan fungsi usus sehingga kenaikan berat badan tidak sesuai kurva pertumbuhan.Sering
Gagal tumbuh (Failure to Thrive)Berat badan, panjang badan, dan kadang lingkar kepala berada di bawah target usia karena malnutrisi kronis dan penyakit yang tidak tertangani.Sering pada diagnosis terlambat
Nafsu makan menurunBayi cepat kenyang, minum ASI atau susu lebih sedikit, sering rewel saat makan akibat distensi abdomen.Sering
Muntah berulangDapat berupa muntah susu atau muntah hijau bila obstruksi semakin berat.Sering
Rewel dan mudah menangisBayi tampak tidak nyaman, terutama sebelum BAB atau saat perut semakin kembung.Sering
BAB hanya setelah stimulasiFeses baru keluar setelah colok dubur, irigasi rektal, supositoria gliserin, atau enema.Temuan khas
Episode diare akibat enterokolitis (HAEC)Diare cair berbau menyengat, kadang eksplosif, dapat disertai lendir atau darah, demam, muntah, dan distensi abdomen. Ini merupakan komplikasi serius yang memerlukan penanganan segera.Dapat terjadi (±15–35%)
DemamBiasanya merupakan tanda enterokolitis atau infeksi sekunder.Tidak selalu, tetapi penting dikenali
DehidrasiTerjadi pada enterokolitis berat akibat diare dan muntah berulang.Pada kasus berat
LetargiBayi tampak lemas, mengantuk, kurang responsif, terutama bila terjadi enterokolitis atau sepsis.Tanda bahaya
Anemia dan malnutrisiDapat ditemukan pada penyakit kronis yang tidak terdiagnosis dalam waktu lama.Kasus lanjut

Tanda Bahaya pada Bayi

Tanda BahayaMakna Klinis
Perut semakin membesar dan tegangObstruksi usus progresif atau enterokolitis.
Muntah hijauMengarah pada obstruksi usus dan memerlukan evaluasi segera.
Diare cair berbau menyengat disertai demamSangat mencurigakan Hirschsprung-associated enterocolitis (HAEC).
Bayi tampak lemas, tidak mau minumRisiko dehidrasi, sepsis, atau syok.
BAB tidak keluar sama sekali selama beberapa hari disertai muntah dan distensiKegawatdaruratan yang memerlukan penanganan segera.

Poin Klinis Penting

  • Konstipasi kronis sejak lahir yang tidak membaik dengan terapi biasa harus menimbulkan kecurigaan penyakit Hirschsprung.
  • Bayi yang bergantung pada stimulasi rektal atau enema agar dapat BAB perlu dievaluasi lebih lanjut.
  • Episode diare pada bayi dengan konstipasi kronis tidak selalu berarti infeksi, tetapi dapat merupakan Hirschsprung-associated enterocolitis (HAEC), yaitu komplikasi tersering dan penyebab utama morbiditas serta mortalitas pada penyakit Hirschsprung.
  • Diagnosis dini dapat mencegah komplikasi serius dan memperbaiki pertumbuhan serta kualitas hidup anak.

Manifestasi Klinis Hirschsprung pada Anak Besar

Pada anak yang tidak terdiagnosis saat periode neonatus atau bayi, penyakit Hirschsprung umumnya muncul sebagai konstipasi kronis yang berat sejak lahir atau sejak awal kehidupan. Gejala berkembang perlahan dan dapat disertai gangguan pertumbuhan, distensi abdomen kronis, serta episode enterokolitis berulang. Berbeda dengan konstipasi fungsional, anak dengan Hirschsprung biasanya tidak memiliki riwayat BAB normal pada masa bayi.

Manifestasi KlinisPenjelasanFrekuensi/Keterangan
Konstipasi kronis beratBAB sangat jarang (misalnya hanya 1–2 kali/minggu atau lebih jarang), feses keras dan besar, mengejan lama, sering memerlukan pencahar, enema, atau stimulasi rektal. Keluhan biasanya sudah ada sejak lahir atau awal kehidupan.Hampir selalu ditemukan
Perut membuncit (distensi abdomen kronis)Abdomen tampak membesar akibat penumpukan gas dan feses di kolon proksimal. Distensi dapat berkurang setelah BAB atau enema.Sangat sering
Sulit BABAnak membutuhkan waktu lama untuk BAB, sering mengejan, merasa tidak tuntas, dan kadang mengalami nyeri saat defekasi.Sangat sering
Enkopresis (fecal soiling)Kebocoran feses cair yang mengotori pakaian akibat impaksi feses. Pada Hirschsprung lebih jarang dibanding konstipasi fungsional, tetapi dapat terjadi pada kasus lanjut.Jarang–kadang
Impaksi feses (fecal impaction)Penumpukan feses keras dalam kolon atau rektum yang menyebabkan obstruksi parsial, nyeri perut, dan sulit BAB.Sering
Nafsu makan menurunAnak cepat kenyang dan makan sedikit akibat distensi abdomen kronis.Sering
Berat badan sulit naikPertambahan berat badan tidak sesuai usia karena gangguan nutrisi dan konstipasi kronis.Sering
MalnutrisiBerat badan rendah, massa otot berkurang, dan kekurangan zat gizi akibat penyakit kronis yang tidak tertangani.Kasus sedang–berat
Gagal tumbuh (Failure to Thrive)Pertumbuhan berat badan dan tinggi badan berada di bawah kurva pertumbuhan sesuai usia.Kasus lanjut
Nyeri perut berulangNyeri atau rasa tidak nyaman akibat penumpukan gas dan feses. Keluhan sering membaik setelah BAB.Sering
Muntah berulangTerjadi bila konstipasi berat menyebabkan obstruksi usus parsial atau total; dapat menjadi muntah hijau pada kasus berat.Kadang–sering
Episode enterokolitis (HAEC)Demam, diare eksplosif berbau menyengat, distensi abdomen, muntah, hingga sepsis. Dapat terjadi sebelum maupun sesudah operasi.Komplikasi serius
Aktivitas menurun dan mudah lelahBerkaitan dengan malnutrisi, anemia, dan ketidaknyamanan akibat konstipasi kronis.Kasus kronis

Perbedaan Hirschsprung dengan Konstipasi Fungsional pada Anak

KarakteristikHirschsprungKonstipasi Fungsional
Awal keluhanSejak lahir atau masa bayiBiasanya setelah usia 1 tahun
Riwayat mekonium >48 jamSeringJarang
KonstipasiSangat berat dan menetapBervariasi
Distensi abdomenSangat seringRingan atau tidak ada
Gagal tumbuhDapat terjadiJarang
EnkopresisLebih jarangLebih sering
Ampula rektumKosong saat colok duburBerisi feses
Squirt signDapat positifTidak ada
Respons terhadap pencaharSering kurang memadaiUmumnya baik
Diagnosis pastiBiopsi rektum menunjukkan aganglionosisTidak ada kelainan anatomis

Tanda Bahaya pada Anak Besar

Tanda BahayaMakna Klinis
Konstipasi sejak lahir yang tidak membaik dengan terapi standarSangat mencurigakan penyakit Hirschsprung.
Distensi abdomen progresifMengarah pada obstruksi usus kronis.
Muntah hijauKegawatdaruratan akibat obstruksi usus.
Demam disertai diare eksplosif dan perut membesarCuriga Hirschsprung-associated enterocolitis (HAEC).
Penurunan berat badan atau gagal tumbuhMenandakan penyakit kronis yang memerlukan evaluasi segera.
Letargi, dehidrasi, atau tanda sepsisMemerlukan penanganan darurat.

Poin Klinis Penting

  • Konstipasi kronis sejak lahir merupakan petunjuk penting yang membedakan Hirschsprung dari konstipasi fungsional.
  • Enkopresis memang dapat terjadi pada Hirschsprung, tetapi lebih jarang dibandingkan pada konstipasi fungsional.
  • Pada anak besar yang mengalami konstipasi refrakter, distensi abdomen kronis, dan gangguan pertumbuhan, penyakit Hirschsprung harus selalu dipertimbangkan dan dikonfirmasi dengan biopsi rektum sebagai baku emas diagnosis.

Pemeriksaan Fisik pada Penyakit Hirschsprung

Pemeriksaan fisik merupakan langkah penting untuk meningkatkan kecurigaan klinis terhadap penyakit Hirschsprung. Temuan khas meliputi distensi abdomen, ampula rektum kosong, squirt sign, dan tanda-tanda gangguan pertumbuhan pada kasus kronis. Meskipun tidak ada satu temuan fisik yang bersifat diagnostik, kombinasi beberapa temuan berikut sangat mendukung diagnosis dan menjadi dasar untuk pemeriksaan lanjutan.

Pemeriksaan FisikTemuanPenjelasan KlinisNilai Diagnostik
Keadaan umumBayi tampak rewel, lemah, atau letargiDapat menunjukkan obstruksi usus atau enterokolitis; pada kasus berat dapat disertai tanda sepsis.Tidak spesifik
Status giziBerat badan kurang, gagal tumbuh, malnutrisiTerjadi pada kasus yang terlambat terdiagnosis akibat gangguan nutrisi kronis.Mendukung
Inspeksi abdomenAbdomen membuncit (distensi)Disebabkan penumpukan gas dan feses pada kolon proksimal terhadap segmen aganglionik.Sangat sering
Palpasi abdomenMassa feses pada kolon proksimalKolon yang melebar berisi feses keras dapat teraba terutama di kuadran kiri bawah atau suprapubik.Sering
Palpasi abdomenNyeri tekan ringan hingga sedangDapat ditemukan pada obstruksi atau enterokolitis. Nyeri hebat mengarah pada komplikasi.Kadang ditemukan
Perkusi abdomenHipertimpaniMenunjukkan akumulasi gas dalam usus yang mengalami dilatasi.Mendukung
Auskultasi ususBising usus normal, meningkat, atau menurunPada obstruksi dini dapat meningkat; pada obstruksi lanjut atau enterokolitis dapat melemah.Tidak spesifik
Inspeksi anusPosisi anus normalMembantu menyingkirkan malformasi anorektal sebagai penyebab konstipasi.Diagnosis banding
Colok dubur (Digital Rectal Examination)Ampula rektum kosongRektum tidak berisi feses meskipun kolon proksimal penuh akibat hambatan pada segmen aganglionik.Temuan khas
Colok duburSquirt sign (blast sign)Setelah jari pemeriksa ditarik, keluar semburan gas dan feses cair akibat pelepasan tekanan intrakolon.Sangat khas, tetapi tidak selalu ditemukan
Colok duburSfingter ani terasa kencangTonus sfingter ani intern dapat meningkat akibat kegagalan relaksasi.Mendukung
PerineumTidak ditemukan kelainan anatomisMembantu membedakan dari atresia ani, stenosis anus, atau malformasi anorektal lainnya.Diagnosis banding
Tanda dehidrasiMata cekung, mukosa kering, turgor menurunDapat terjadi pada enterokolitis dengan diare dan muntah.Kasus berat
Tanda sepsisDemam atau hipotermia, takikardia, perfusi burukMengarah pada Hirschsprung-associated enterocolitis (HAEC) berat yang memerlukan penanganan segera.Kegawatdaruratan

Temuan Pemeriksaan Fisik Berdasarkan Usia

Kelompok UsiaTemuan yang Paling Sering
NeonatusMekonium terlambat, distensi abdomen, muntah hijau, ampula rektum kosong, squirt sign
BayiKonstipasi kronis, perut membuncit, massa feses pada kolon, berat badan sulit naik
Anak besarDistensi abdomen kronis, konstipasi berat, malnutrisi, massa feses kolon, ampula rektum kosong

Tanda Bahaya pada Pemeriksaan Fisik

TemuanMakna Klinis
Distensi abdomen progresif dan tegangObstruksi usus berat atau perforasi yang mengancam jiwa
Muntah hijau disertai distensiObstruksi usus hingga terbukti bukan
Demam dengan abdomen sangat distensiCuriga Hirschsprung-associated enterocolitis (HAEC)
Letargi, perfusi buruk, atau syokKemungkinan sepsis akibat enterokolitis
Nyeri abdomen hebat dengan tanda peritonitisCuriga perforasi usus, memerlukan tindakan bedah segera

Poin Klinis Penting

  • Ampula rektum kosong dan squirt sign merupakan dua temuan pemeriksaan fisik yang paling khas pada penyakit Hirschsprung.
  • Tidak ditemukannya squirt sign tidak menyingkirkan diagnosis, terutama pada penyakit segmen pendek.
  • Pemeriksaan colok dubur harus dilakukan dengan hati-hati oleh tenaga medis yang berpengalaman, terutama pada neonatus, karena dapat memicu pelepasan feses dalam jumlah besar atau memperberat kondisi pada enterokolitis aktif.
  • Pemeriksaan fisik saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis; konfirmasi tetap memerlukan biopsi rektum sebagai baku emas (gold standard).

Diagnosis

Diagnosis penyakit Hirschsprung ditegakkan berdasarkan kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologi, pemeriksaan fisiologi anorektal, dan konfirmasi histopatologi. Tidak ada satu pemeriksaan tunggal (selain biopsi rektum) yang dapat menegakkan diagnosis secara pasti. Oleh karena itu, pendekatan diagnosis dilakukan secara bertahap, dimulai dari pemeriksaan yang kurang invasif hingga pemeriksaan baku emas (gold standard).

Tabel Pemeriksaan Penunjang

PemeriksaanTemuan KhasKelebihanKeterbatasan
Foto polos abdomen (Abdominal X-ray)Dilatasi kolon, banyak udara dalam usus, sedikit atau tidak ada udara di rektum, gambaran obstruksi usus distal, kadang terlihat air-fluid levelCepat, mudah dilakukan, berguna sebagai pemeriksaan awal pada neonatus dengan muntah hijau dan distensi abdomenTidak spesifik; tidak dapat memastikan Hirschsprung
Enema kontras (Contrast Enema/Barium Enema)Terlihat zona transisi antara usus distal yang sempit (aganglionik) dan kolon proksimal yang melebar (dilatasi). Rasio rektosigmoid <1 mendukung Hirschsprung. Retensi kontras >24 jam juga mendukung diagnosis.Pemeriksaan radiologi paling informatif sebelum biopsi; membantu menentukan panjang segmen aganglionikZona transisi mungkin tidak tampak pada neonatus dini atau penyakit segmen sangat pendek; tidak boleh dilakukan saat enterokolitis akut
Manometri anorektalTidak adanya Rectoanal Inhibitory Reflex (RAIR), yaitu sfingter ani intern gagal relaksasi saat rektum dikembangkan dengan balonSangat berguna sebagai skrining pada bayi >1 bulan dan anak besar; tidak invasifSulit dilakukan pada neonatus; hasil dapat dipengaruhi teknik pemeriksaan; hasil abnormal tetap memerlukan biopsi
Biopsi hisap rektum (Rectal Suction Biopsy)Tidak ditemukan sel ganglion pada pleksus submukosa, disertai hipertrofi serabut sarafGold standard untuk menegakkan diagnosis; tidak memerlukan anestesi umum pada sebagian besar bayiSampel dapat tidak adekuat sehingga perlu diulang
Biopsi rektum full-thicknessTidak terdapat sel ganglion pada pleksus submukosa dan mienterikus; hipertrofi serabut saraf lebih jelasDigunakan bila hasil biopsi hisap meragukan atau tidak adekuatMemerlukan anestesi dan tindakan bedah
Pewarnaan asetilkolinesterase (Acetylcholinesterase/AChE staining)Aktivitas asetilkolinesterase meningkat pada serabut saraf mukosa dan submukosaMembantu mengonfirmasi diagnosis pada biopsiMembutuhkan laboratorium patologi khusus dan interpretasi ahli
Imunohistokimia CalretininTidak terdapat pewarnaan (hilangnya ekspresi calretinin) pada pleksus saraf usus aganglionikSemakin banyak digunakan karena lebih mudah diinterpretasikan dibanding AChETidak tersedia di semua pusat layanan
Pemeriksaan genetikMutasi gen seperti RET, EDNRB, EDN3, SOX10, GDNFBermanfaat pada kasus familial atau sindromikTidak digunakan sebagai pemeriksaan rutin untuk diagnosis klinis

Akurasi Pemeriksaan Penunjang

PemeriksaanSensitivitasSpesifisitasPeran Klinis
Foto polos abdomenRendah–sedangRendahSkrining awal obstruksi usus
Enema kontras70–90%80–90%Menunjukkan zona transisi dan memperkirakan panjang segmen
Manometri anorektal85–95%85–95%Skrining, terutama pada bayi lebih besar dan anak
Biopsi hisap rektum>95%Mendekati 100%Baku emas diagnosis
Pewarnaan AChE/CalretininSangat tinggiSangat tinggiKonfirmasi histopatologi

Urutan Diagnosis yang Dianjurkan

TahapPemeriksaanTujuan
1AnamnesisMencari riwayat mekonium terlambat (>48 jam), konstipasi sejak lahir, muntah hijau, distensi abdomen
2Pemeriksaan fisikMenemukan distensi abdomen, ampula rektum kosong, squirt sign
3Foto polos abdomenMenilai adanya obstruksi usus distal dan dilatasi kolon
4Enema kontrasMengidentifikasi zona transisi dan memperkirakan panjang segmen aganglionik
5Manometri anorektalMenilai ada atau tidaknya refleks relaksasi sfingter ani intern (RAIR)
6Biopsi hisap rektum ± pewarnaan AChE/CalretininMenegakkan diagnosis definitif

Gold Standard Diagnosis

Biopsi hisap rektum (Rectal Suction Biopsy) merupakan baku emas (gold standard) diagnosis penyakit Hirschsprung.

Temuan histopatologi meliputi:

  • Tidak ditemukan sel ganglion pada pleksus submukosa (Meissner).
  • Pada biopsi full-thickness juga tidak ditemukan sel ganglion pada pleksus mienterikus (Auerbach).
  • Hipertrofi serabut saraf pada submukosa.
  • Peningkatan aktivitas asetilkolinesterase (AChE) pada serabut saraf.
  • Tidak adanya pewarnaan calretinin pada jaringan aganglionik.

Poin Klinis Penting

  • Biopsi rektum tetap diperlukan meskipun hasil enema kontras atau manometri sangat mengarah ke Hirschsprung.
  • Enema kontras sebaiknya dilakukan sebelum tindakan colok dubur atau irigasi rektal, karena manipulasi rektum dapat mengaburkan gambaran zona transisi.
  • Pada neonatus, kombinasi riwayat mekonium terlambat, distensi abdomen, dan muntah hijau harus segera mengarahkan evaluasi untuk kemungkinan penyakit Hirschsprung atau penyebab obstruksi usus kongenital lainnya.

Diagnosis Banding Penyakit Hirschsprung

Beberapa penyakit dapat memberikan gambaran klinis yang menyerupai penyakit Hirschsprung, terutama berupa keterlambatan pengeluaran mekonium, distensi abdomen, muntah hijau, dan konstipasi kronis. Oleh karena itu, diagnosis banding harus dipertimbangkan sebelum diagnosis definitif ditegakkan melalui biopsi rektum.

PenyakitGambaran KlinisPembeda Utama dari HirschsprungPemeriksaan Penunjang
Konstipasi fungsionalKonstipasi kronis, nyeri saat BAB, kadang enkopresisTidak ada keterlambatan mekonium (>48 jam), pertumbuhan umumnya normal, ampula rektum berisi feses, respons baik terhadap pencaharDiagnosis klinis berdasarkan kriteria Rome IV
Ileus mekoniumTidak keluar mekonium, distensi abdomen, muntah hijau sejak lahirSangat berhubungan dengan fibrosis kistik; obstruksi disebabkan mekonium yang sangat kental, bukan aganglionosisFoto polos abdomen, enema kontras, pemeriksaan fibrosis kistik (uji keringat/genetik)
Atresia usus (jejunum/ileum/kolon)Muntah hijau dini, distensi abdomen, tidak dapat BABObstruksi anatomis total akibat putusnya lumen usus; tidak terdapat zona transisi khas HirschsprungFoto polos abdomen, enema kontras, pemeriksaan bedah
Malformasi anorektal (atresia ani/stenosis anus)Tidak dapat BAB sejak lahirKelainan anatomi anus tampak jelas pada inspeksi perineumPemeriksaan fisik, foto invertogram, USG
Hipotiroid kongenitalKonstipasi, ikterus berkepanjangan, hipotonia, bayi tampak lesuDisertai gejala sistemik seperti lidah besar (makroglosia), hernia umbilikalis, tangisan serak, pertumbuhan lambatTSH dan Free T4
Small Left Colon SyndromeDistensi abdomen dan keterlambatan mekonium pada neonatusUmumnya terjadi pada bayi dari ibu diabetes, kelainan biasanya membaik setelah enema kontrasEnema kontras menunjukkan kolon kiri sempit
Meconium Plug SyndromeMekonium terlambat, distensi abdomen ringanDisebabkan sumbatan mekonium lunak; biasanya membaik setelah enema kontras tanpa operasiEnema kontras memperlihatkan meconium plug
Pseudo-obstruksi usus kronis (Chronic Intestinal Pseudo-obstruction)Distensi abdomen, muntah, konstipasi kronisTidak terdapat aganglionosis; gangguan motilitas mengenai seluruh saluran cernaManometri usus, biopsi, pemeriksaan motilitas
Displasia neuronal intestinal (Intestinal Neuronal Dysplasia)Gejala menyerupai HirschsprungSel ganglion ada, tetapi jumlah dan strukturnya abnormalBiopsi rektum dengan pemeriksaan histopatologi khusus
Gangguan motilitas usus lainnyaKonstipasi kronisTidak ditemukan zona transisi maupun aganglionosisManometri dan biopsi bila diperlukan
Sepsis neonatorumTidak mau menyusu, muntah, distensi abdomenDisertai tanda infeksi sistemik; konstipasi bukan gejala utamaKultur darah, CRP, prokalsitonin
Nekrotizing Enterocolitis (NEC)Distensi abdomen, muntah, darah pada fesesUmumnya terjadi pada bayi prematur; foto abdomen menunjukkan pneumatosis intestinalisFoto polos abdomen, pemeriksaan laboratorium

Perbedaan Penyakit Hirschsprung dengan Diagnosis Banding Utama

KarakteristikHirschsprungKonstipasi FungsionalIleus MekoniumHipotiroid KongenitalSmall Left Colon Syndrome
Mekonium >48 jamSeringJarangSeringKadangSering
Konstipasi sejak lahirYaBiasanya tidakYaYaSementara
Distensi abdomenBeratRinganBeratRingan–sedangSedang
Muntah hijauSeringJarangSeringJarangDapat terjadi
Ampula rektum kosongYaTidakTidak khasTidakTidak
Squirt signDapat positifTidakTidakTidakTidak
Zona transisi pada enemaAdaTidakTidak khasTidakKolon kiri sempit
Sel ganglion pada biopsiTidak adaNormalNormalNormalNormal
Terapi definitifOperasi pull-throughPencahar dan modifikasi perilakuEnema/operasi bila perluHormon tiroidEnema kontras dan suportif

Poin Klinis Penting

  • Konstipasi yang dimulai sejak lahir, disertai keterlambatan pengeluaran mekonium (>48 jam), harus selalu menimbulkan kecurigaan terhadap penyakit Hirschsprung.
  • Biopsi rektum merupakan satu-satunya pemeriksaan yang dapat memastikan diagnosis Hirschsprung, sekaligus membedakannya dari hampir semua diagnosis banding lainnya.
  • Pada neonatus dengan muntah hijau, distensi abdomen, dan gagal mengeluarkan mekonium, penyebab obstruksi usus kongenital seperti Hirschsprung, ileus mekonium, atresia usus, dan malformasi anorektal harus segera dievaluasi karena merupakan keadaan gawat darurat.

Komplikasi

Hirschsprung-associated Enterocolitis (HAEC)

Merupakan komplikasi tersering dan paling berbahaya.

Gejala:

  • Demam
  • Diare eksplosif
  • Distensi abdomen
  • Syok
  • Sepsis

Tata Laksana

Sebelum Operasi

TerapiTujuan
Resusitasi cairanStabilitas hemodinamik
NGT bila perluDekompresi lambung
Irigasi rektalMengurangi distensi
AntibiotikBila enterokolitis

Operasi Definitif

Teknik utama:

ProsedurKeterangan
SoaveEndorectal pull-through
SwensonReseksi penuh segmen aganglionik
DuhamelAnastomosis retrorektal
Transanal endorectal pull-throughMinimal invasif, banyak digunakan

Perawatan Pascaoperasi

  • Nutrisi bertahap
  • Pemantauan fungsi BAB
  • Dilatasi anus bila diindikasikan
  • Edukasi keluarga
  • Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan

Prognosis

FaktorPrognosis
Diagnosis diniSangat baik
Setelah pull-through>90% fungsi usus memuaskan
Enterokolitis berulangPrognosis lebih buruk
Total colonic aganglionosisLebih kompleks

Follow-up Jangka Panjang

Yang perlu dipantau:

  • Frekuensi BAB
  • Konstipasi
  • Inkontinensia
  • Enterokolitis berulang
  • Status nutrisi
  • Pertumbuhan
  • Kualitas hidup

Ringkasan Poin Penting Penyakit Hirschsprung

AspekRingkasanPoin Klinis Penting
DefinisiKelainan kongenital akibat tidak adanya sel ganglion pada pleksus submukosa (Meissner) dan mienterikus (Auerbach).Menyebabkan obstruksi fungsional usus distal dan megakolon kongenital.
PenyebabKegagalan migrasi sel krista neural pada usia kehamilan minggu ke-5 hingga ke-12.Segmen usus yang terkena tidak mampu relaksasi sehingga terjadi hambatan pengeluaran feses.
EpidemiologiInsidensi sekitar 1:5.000 kelahiran hidup; laki-laki lebih sering daripada perempuan (≈4:1).Sekitar 80–90% kasus terdiagnosis pada masa neonatus.
Faktor RisikoRiwayat keluarga, mutasi gen (RET, EDNRB, EDN3, SOX10), Sindrom Down.Risiko meningkat pada keluarga dengan riwayat Hirschsprung.
PatofisiologiAganglionosis menyebabkan spasme usus distal dan dilatasi kolon proksimal.Menimbulkan konstipasi kronis dan megakolon.
Gejala NeonatusMekonium terlambat (>48 jam), distensi abdomen, muntah hijau, sulit menyusu.Muntah hijau pada neonatus merupakan keadaan gawat darurat sampai terbukti bukan obstruksi usus.
Gejala BayiKonstipasi kronis, perut buncit, sulit BAB, berat badan sulit naik, gagal tumbuh.Bayi sering membutuhkan stimulasi rektal atau enema agar dapat BAB.
Gejala Anak BesarKonstipasi berat sejak kecil, distensi abdomen kronis, malnutrisi, enkopresis (lebih jarang dibanding konstipasi fungsional).Konstipasi sejak lahir merupakan petunjuk penting.
Pemeriksaan FisikDistensi abdomen, ampula rektum kosong, squirt sign, massa feses pada kolon proksimal.Squirt sign sangat khas tetapi tidak selalu ditemukan.
Pemeriksaan AwalFoto polos abdomen dan enema kontras.Membantu mengenali obstruksi usus dan zona transisi.
Pemeriksaan Terbaik Sebelum BiopsiEnema kontras dan manometri anorektal.Manometri menunjukkan tidak adanya Rectoanal Inhibitory Reflex (RAIR).
Gold Standard DiagnosisBiopsi hisap rektum (Rectal Suction Biopsy).Menunjukkan tidak adanya sel ganglion dengan atau tanpa hipertrofi serabut saraf.
Pemeriksaan HistopatologiTidak ditemukan sel ganglion, hipertrofi serabut saraf, AChE meningkat, calretinin negatif.Menegakkan diagnosis definitif.
Diagnosis BandingKonstipasi fungsional, ileus mekonium, atresia usus, hipotiroid kongenital, small left colon syndrome, meconium plug syndrome.Biopsi rektum membedakan Hirschsprung dari sebagian besar diagnosis banding.
Komplikasi UtamaHirschsprung-associated Enterocolitis (HAEC).Komplikasi paling serius; dapat menyebabkan sepsis dan kematian bila terlambat ditangani.
Komplikasi LainObstruksi usus, perforasi usus, malnutrisi, gagal tumbuh, konstipasi persisten pascaoperasi.Memerlukan pemantauan jangka panjang.
Tatalaksana AwalResusitasi cairan, dekompresi lambung bila perlu, irigasi rektal, antibiotik jika terjadi enterokolitis.Bertujuan menstabilkan kondisi sebelum operasi.
Terapi DefinitifOperasi pull-through (Soave, Swenson, Duhamel, atau Transanal Endorectal Pull-through).Mengangkat segmen aganglionik dan menyambungkan usus normal ke anus.
Perawatan PascaoperasiPemantauan fungsi BAB, nutrisi, pertumbuhan, kemungkinan konstipasi atau inkontinensia, serta enterokolitis berulang.Follow-up jangka panjang sangat penting.
PrognosisUmumnya sangat baik bila diagnosis dan operasi dilakukan secara dini.Lebih dari 90% pasien memperoleh fungsi usus yang baik, meskipun sebagian masih memerlukan terapi konstipasi atau pemantauan lanjutan.
Pesan KlinisBayi cukup bulan yang tidak mengeluarkan mekonium dalam 48 jam pertama, mengalami distensi abdomen atau muntah hijau, harus segera dievaluasi untuk kemungkinan penyakit Hirschsprung.Diagnosis dini dan tindakan bedah tepat waktu dapat mencegah enterokolitis, perforasi usus, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Referensi Utama

  1. Pediatric Surgery (Ashcraft’s Pediatric Surgery), edisi terbaru.
  2. Nelson Textbook of Pediatrics, edisi terbaru.
  3. Holschneider AM, Puri P. Hirschsprung’s Disease and Allied Disorders.
  4. American Pediatric Surgical Association (APSA).
  5. European Reference Network for Rare Inherited and Congenital Digestive Disorders (ERNICA).
  6. UpToDate: Congenital aganglionic megacolon (Hirschsprung disease) in infants and children.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *