
Nyeri Otot dan Sendi pada Anak: Tinjauan Myalgia, Artritis, dan Growing Pain dalam Konteks Imunopatofisiologi
Abstrak
Nyeri otot (myalgia), nyeri sendi (artritis), dan nyeri pertumbuhan (growing pain) merupakan keluhan umum pada anak-anak yang dapat berdampak pada kualitas hidup dan fungsi motorik. Meskipun growing pain sering dianggap jinak dan fungsional, berbagai bukti menunjukkan keterlibatan sistem imun dalam etiologi nyeri muskulotendinosa, termasuk peran interleukin dan sel imun dalam merespon inflamasi, infeksi, dan alergen makanan. Studi terbaru menyoroti peran interleukin seperti IL-6, IL-1β, IL-17, dan TNF-α dalam memediasi inflamasi otot dan sendi, baik akut maupun kronis. Kajian ini membahas mekanisme biologis dan imunologis nyeri muskuloskeletal pada anak serta meninjau keterkaitan antara alergi makanan, disregulasi imun, dan nyeri otot-sendi melalui aktivitas interleukin. Pemahaman ini membuka peluang untuk pendekatan terapeutik yang lebih komprehensif dan individual pada populasi pediatrik.
Nyeri muskuloskeletal pada anak seringkali menjadi alasan kunjungan ke layanan kesehatan. Keluhan dapat berupa myalgia (nyeri otot), artritis (nyeri dan pembengkakan sendi), atau nyeri pertumbuhan (growing pain), yang biasanya timbul pada malam hari tanpa tanda inflamasi yang jelas. Meskipun sebagian besar kasus bersifat jinak, gejala persisten dapat mengganggu aktivitas anak dan menimbulkan kekhawatiran orang tua terhadap kemungkinan penyakit rematik atau gangguan autoimun.
Perbedaan etiologi antara nyeri pertumbuhan, nyeri inflamasi, dan nyeri akibat alergi makanan menjadi tantangan klinis. Bukti terbaru menunjukkan bahwa respon imun, aktivasi sel T, serta produksi interleukin memainkan peran penting dalam menimbulkan dan mempertahankan nyeri otot dan sendi. Oleh karena itu, pendekatan berbasis imunologi diperlukan dalam menilai dan mengelola nyeri muskuloskeletal yang tidak dijelaskan oleh trauma atau kelainan struktural.
Tanda dan Gejala
- Myalgia pada anak ditandai dengan rasa nyeri, kaku, atau kelelahan otot, terutama setelah aktivitas fisik. Nyeri bisa bersifat menyebar atau terlokalisasi pada kelompok otot besar seperti paha, betis, atau punggung. Anak mungkin mengeluh lemas, malas bergerak, atau sulit berdiri lama.
- Artritis pada anak ditandai dengan nyeri sendi yang disertai pembengkakan, kemerahan, dan keterbatasan gerak. Sendi yang paling sering terkena adalah lutut, pergelangan kaki, dan pergelangan tangan. Gejala biasanya memburuk di pagi hari atau setelah periode tidak bergerak, dan bisa disertai demam atau kelelahan.
- Growing pain biasanya menyerang anak usia 3–12 tahun, muncul pada malam hari dan membaik di pagi hari. Rasa nyeri sering muncul di tungkai bawah, tanpa tanda peradangan lokal. Anak tetap aktif dan normal secara fisik di siang hari, dan tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan fisik maupun penunjang.
Kajian Mekanisme Terjadinya Gangguan
- Nyeri otot dan sendi dapat terjadi akibat aktivasi reseptor nyeri (nociceptor) oleh mediator inflamasi, trauma mikro, atau disfungsi metabolik pada jaringan muskuloskeletal. Proses ini menyebabkan pelepasan zat seperti prostaglandin dan bradikinin yang merangsang saraf nyeri.
- Pada artritis, terjadi peradangan sinovium sendi yang disebabkan oleh aktivasi sel imun dan akumulasi cairan sinovial. Proses inflamasi ini mempertebal lapisan sinovium dan menimbulkan nyeri serta keterbatasan gerak. Dalam artritis idiopatik juvenil, aktivasi autoimun memainkan peran kunci.
- Myalgia juga dapat disebabkan oleh kerusakan mikroskopik pada serat otot akibat aktivitas berlebih, infeksi virus, atau proses inflamasi sistemik. Interleukin dan mediator inflamasi menyebabkan hiperalgesia otot dan meningkatkan kepekaan sistem saraf perifer terhadap nyeri.
- Pada growing pain, meskipun tidak ditemukan inflamasi lokal, beberapa hipotesis menyebutkan adanya ketidakseimbangan dalam persepsi nyeri, mikropatologi muskuloskeletal, dan respon imun ringan yang dapat memodulasi reseptor nyeri secara sentral maupun perifer.
- Stres emosional dan gangguan tidur juga diketahui dapat memperparah nyeri muskuloskeletal melalui sumbu HPA (hipotalamus-hipofisis-adrenal) dan memicu pelepasan kortisol serta interleukin proinflamasi yang memengaruhi ambang nyeri anak.
Imunopatofisiologi
- IL-6 adalah salah satu interleukin utama yang dilepaskan selama proses inflamasi otot dan sendi. IL-6 memicu reaksi akut fase dan meningkatkan ekspresi CRP serta mengaktivasi jalur nyeri melalui reseptor spesifik pada neuron perifer.
- IL-1β diproduksi oleh makrofag dan sel dendritik sebagai respons terhadap kerusakan jaringan. IL-1β memicu inflamasi lokal, meningkatkan ekspresi enzim penghancur jaringan seperti MMPs, serta meningkatkan persepsi nyeri dengan menurunkan ambang rangsang nociceptor.
- TNF-α adalah sitokin proinflamasi kuat yang meningkatkan permeabilitas vaskular, aktivasi sel T, dan kerusakan jaringan. Dalam kondisi seperti artritis autoimun, TNF-α bertanggung jawab terhadap nyeri dan kerusakan struktur sendi.
- IL-17, yang diproduksi oleh sel Th17, terlibat dalam inflamasi kronik pada artritis juvenil. IL-17 merekrut neutrofil dan meningkatkan produksi IL-6 serta TNF-α sehingga menciptakan siklus inflamasi berulang yang mempertahankan nyeri.
- IL-10 adalah sitokin antiinflamasi yang penting dalam menghambat produksi IL-1β dan TNF-α. Kadar IL-10 yang rendah pada anak dengan nyeri muskuloskeletal kronik menunjukkan adanya disregulasi imun yang berkontribusi terhadap keparahan gejala.
- Sel mast dan eosinofil juga berperan dalam nyeri otot dan sendi melalui pelepasan histamin, leukotrien, dan interleukin. Aktivasi ini sering dipicu oleh alergen makanan atau lingkungan yang meningkatkan sensitivitas saraf terhadap nyeri.
Alergi Makanan dan Nyeri Otot-Tulang
- Alergi makanan dapat mencetuskan reaksi inflamasi sistemik yang memengaruhi jaringan otot dan sendi. Paparan terhadap alergen memicu respon imun Th2 dengan produksi IL-4 dan IL-5 yang memperkuat produksi IgE dan aktivasi sel mast.
- Sel mast yang teraktivasi melepaskan mediator inflamasi seperti histamin, prostaglandin, dan tryptase yang dapat meningkatkan kontraksi otot polos dan menyebabkan myalgia atau kejang otot. Ini juga memperkuat jalur nyeri perifer melalui aktivasi neuron sensorik.
- IL-5 juga memicu infiltrasi eosinofil, yang melepaskan ECP dan MBP yang toksik bagi jaringan, menyebabkan inflamasi lokal termasuk di otot dan sendi. Eosinofilia jaringan dapat ditemukan pada anak dengan hipersensitivitas makanan dan keluhan nyeri muskuloskeletal.
- IL-13 menurunkan regulasi sitokin antiinflamasi dan memperpanjang aktivitas inflamasi. Dalam konteks alergi makanan, IL-13 turut memperparah respon inflamasi terhadap antigen makanan yang mempengaruhi area tubuh lain seperti otot dan sendi.
- Pemahaman bahwa nyeri otot dan sendi pada anak bisa menjadi manifestasi sistemik dari alergi makanan membuka peluang untuk melakukan pendekatan eliminasi makanan atau terapi imunomodulasi yang menargetkan jalur interleukin tertentu.
Tabel Peran Interleukin dalam Nyeri Otot dan Sendi pada Anak
| Interleukin | Sumber Seluler | Peran Imunologis | Efek Klinis |
|---|---|---|---|
| IL-6 | Makrofag, sel otot | Proinflamasi, aktivasi fase akut, sensitisasi nyeri | Nyeri otot, kelelahan, demam |
| IL-1β | Makrofag, sel dendritik | Aktivasi inflamasi lokal, destruksi jaringan | Artritis, kekakuan sendi, nyeri |
| TNF-α | Sel T, makrofag | Aktivasi inflamasi kronik, rekrutmen sel inflamasi | Nyeri kronik, inflamasi sendi |
| IL-17 | Sel Th17 | Induksi inflamasi kronis, rekrutmen neutrofil | Artritis juvenil, nyeri menetap |
| IL-10 | Sel T regulator | Anti-inflamasi, hambat IL-1β dan TNF-α | Menurunkan gejala nyeri dan inflamasi |
| IL-4 & IL-5 | Sel Th2 | Aktivasi sel mast dan eosinofil | Nyeri otot terkait alergi makanan |
Kesimpulan
Nyeri otot dan sendi pada anak, termasuk myalgia, artritis, dan growing pain, dapat disebabkan oleh kombinasi faktor mekanik, inflamasi, dan imunologis. Interleukin seperti IL-6, IL-1β, TNF-α, dan IL-17 memiliki peran penting dalam menengahi inflamasi dan memperkuat persepsi nyeri. Keterlibatan alergi makanan melalui respon Th2 dan aktivasi IL-4, IL-5, dan IL-13 juga memberikan wawasan baru terhadap pendekatan diagnosis dan manajemen. Terapi berbasis imunomodulasi atau diet eliminasi dengan pemantauan interleukin dapat menjadi strategi efektif untuk menangani nyeri muskuloskeletal kronis pada anak.





Leave a Reply