Pemberian Zinc dan Probiotik pada Diare Akut dan Diare Lainnya pada Bayi dan Anak: Tinjauan Evidence-Based Medicine Berdasarkan Rekomendasi WHO, AAP, ESPGHAN, dan IDAI
Diare akut masih merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada bayi dan anak, terutama di negara berkembang. Keberhasilan tata laksana diare tidak hanya bergantung pada terapi rehidrasi, tetapi juga pada intervensi adjuvan yang didukung bukti ilmiah, seperti suplementasi zinc dan penggunaan probiotik tertentu. Zinc berperan penting dalam regenerasi mukosa usus, fungsi imun, sintesis protein, dan metabolisme sel, sedangkan probiotik membantu mempertahankan keseimbangan mikrobiota usus, meningkatkan fungsi sawar mukosa, dan memodulasi respons imun. Berbagai uji klinis acak, meta-analisis, dan pedoman internasional menunjukkan bahwa zinc secara konsisten memberikan manfaat klinis yang bermakna pada anak dengan diare akut, sedangkan efektivitas probiotik lebih bergantung pada jenis strain, dosis, serta karakteristik pasien.
World Health Organization (WHO), American Academy of Pediatrics (AAP), European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memiliki rekomendasi yang berbeda mengenai penggunaan probiotik, tetapi relatif sejalan mengenai penggunaan zinc pada anak dengan diare akut. WHO dan IDAI merekomendasikan zinc sebagai terapi rutin pada seluruh anak dengan diare akut, sedangkan AAP menilai manfaat zinc terutama pada populasi dengan risiko defisiensi zinc. Sebaliknya, WHO tidak merekomendasikan probiotik sebagai terapi rutin karena heterogenitas bukti, sedangkan AAP, ESPGHAN, dan IDAI menyatakan probiotik tertentu dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan, namun bukan pengganti terapi utama berupa rehidrasi oral, nutrisi adekuat, dan pemberian ASI.
Pendahuluan
Diare akut masih menjadi penyebab utama kunjungan ke instalasi gawat darurat, rawat inap, serta kematian pada anak di bawah usia lima tahun. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan terdapat sekitar 1,7 miliar episode diare setiap tahun dengan ratusan ribu kematian balita, terutama akibat dehidrasi berat. Sebagian besar kasus disebabkan oleh infeksi virus, khususnya rotavirus dan norovirus, sedangkan bakteri dan parasit merupakan penyebab yang lebih jarang tetapi dapat menimbulkan penyakit yang lebih berat. Penanganan modern diare akut menitikberatkan pada terapi rehidrasi oral, nutrisi yang adekuat, serta intervensi berbasis bukti yang mampu mempercepat penyembuhan dan mengurangi komplikasi.
Selama dua dekade terakhir, suplementasi zinc dan penggunaan probiotik menjadi perhatian dalam tata laksana diare akut. Zinc telah terbukti mengurangi durasi dan keparahan diare terutama pada populasi dengan defisiensi zinc, sedangkan probiotik tertentu dapat membantu mempercepat pemulihan melalui modulasi mikrobiota usus. Namun demikian, manfaat probiotik tidak bersifat universal karena sangat dipengaruhi oleh strain mikroorganisme, dosis, kualitas produk, dan kondisi klinis pasien. Oleh karena itu, pemahaman terhadap rekomendasi organisasi profesi internasional menjadi penting agar penggunaan kedua terapi ini sesuai dengan prinsip evidence-based medicine.
Definisi Zinc
Zinc merupakan mineral esensial (trace element) yang diperlukan sebagai kofaktor lebih dari 300 enzim dalam tubuh manusia. Zinc berperan dalam sintesis DNA dan RNA, pembelahan sel, penyembuhan luka, pertumbuhan jaringan, fungsi imun, serta regenerasi epitel saluran cerna. Pada diare akut, kehilangan zinc melalui tinja meningkat sehingga dapat memperburuk kerusakan mukosa usus dan memperpanjang perjalanan penyakit.
Definisi Probiotik
Menurut WHO dan FAO, probiotik adalah mikroorganisme hidup yang apabila diberikan dalam jumlah yang adekuat memberikan manfaat kesehatan bagi pejamu. Probiotik bekerja dengan menekan pertumbuhan patogen, memperkuat integritas sawar mukosa usus, meningkatkan produksi imunoglobulin A (IgA), memodulasi sistem imun, dan membantu memulihkan keseimbangan mikrobiota usus setelah infeksi.
Manfaat Zinc pada Diare Akut
Suplementasi zinc terbukti mempercepat regenerasi mukosa usus, meningkatkan absorpsi air dan elektrolit, menurunkan sekresi cairan usus, serta memperbaiki fungsi imun mukosa. Berbagai meta-analisis menunjukkan bahwa pemberian zinc dapat memperpendek durasi diare sekitar 20–25%, mengurangi volume tinja, serta menurunkan risiko berkembangnya diare persisten. Efek ini paling nyata pada negara berkembang dengan prevalensi defisiensi zinc yang tinggi.
Selain mempercepat penyembuhan episode saat ini, zinc juga menurunkan kejadian diare berulang dalam waktu 2–3 bulan setelah terapi. Oleh karena itu, WHO dan IDAI merekomendasikan zinc sebagai terapi standar pada semua anak dengan diare akut, dikombinasikan dengan oral rehydration solution (ORS), nutrisi adekuat, dan ASI.
Manfaat Probiotik pada Diare Akut dan Diare Lainnya
Probiotik bekerja melalui kompetisi dengan mikroorganisme patogen, produksi zat antimikroba, peningkatan fungsi sawar mukosa, dan modulasi respons imun. Beberapa strain seperti Lactobacillus rhamnosus GG, Limosilactobacillus reuteri DSM 17938, dan Saccharomyces boulardii memiliki bukti manfaat pada gastroenteritis akut anak.
Namun, manfaat probiotik relatif lebih kecil dibandingkan zinc. Meta-analisis menunjukkan probiotik tertentu dapat memperpendek durasi diare sekitar satu hari, tetapi hasil penelitian tidak konsisten karena dipengaruhi strain, dosis, kualitas produk, penyebab diare, dan karakteristik pasien. Pada diare akibat antibiotik (antibiotic-associated diarrhea), beberapa probiotik juga dapat menurunkan risiko kejadian, tetapi penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi klinis
Dosis Zinc
Rekomendasi WHO dan IDAI:
- Bayi <6 bulan: 10 mg/hari selama 10–14 hari.
- Anak ≥6 bulan: 20 mg/hari selama 10–14 hari.
Pemberian dimulai segera setelah diagnosis diare akut ditegakkan dan diberikan bersama ORS.
Efek Samping Zinc
Zinc relatif aman dengan efek samping ringan, antara lain:
- mual,
- muntah,
- rasa logam di mulut,
- nyeri epigastrium ringan.
Efek samping biasanya bersifat sementara dan tidak memerlukan penghentian terapi.
Efek Samping Probiotik
Pada anak sehat, probiotik umumnya aman. Efek samping ringan meliputi:
- perut kembung,
- rasa tidak nyaman di perut,
- peningkatan produksi gas.
Pada pasien imunodefisiensi berat, neonatus sangat prematur, pasien dengan kateter vena sentral, atau penyakit kritis, terdapat risiko yang sangat jarang tetapi serius berupa bakteremia atau fungemia, sehingga probiotik tidak dianjurkan secara rutin pada kelompok tersebut.
Rekomendasi WHO, American Academy of Pediatrics (AAP), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tentang Pemberian Zinc dan Probiotik pada Diare Akut Anak
1. Rekomendasi WHO (World Health Organization)
A. Zinc
WHO bersama UNICEF merekomendasikan pemberian zinc pada seluruh anak dengan diare akut sebagai bagian dari terapi standar, selain rehidrasi oral dan nutrisi adekuat.
Dosis WHO:
- Bayi <6 bulan: 10 mg/hari selama 10–14 hari.
- Anak ≥6 bulan: 20 mg/hari selama 10–14 hari.
Manfaat zinc menurut WHO
- Memperpendek durasi diare sekitar 20–25%.
- Mengurangi keparahan diare.
- Menurunkan risiko diare berulang dalam 2–3 bulan berikutnya.
- Menurunkan kebutuhan rawat inap.
- Menurunkan mortalitas akibat diare pada populasi dengan defisiensi zinc.
WHO menekankan bahwa zinc bukan pengganti ORS, melainkan terapi tambahan.
B. Probiotik
WHO tidak merekomendasikan probiotik sebagai terapi rutin untuk semua anak dengan diare akut.
Alasannya:
- Bukti efektivitas bervariasi.
- Efek sangat bergantung pada strain.
- Tidak semua negara memiliki produk dengan kualitas yang terjamin.
Terapi utama menurut WHO tetap:
- ORS.
- Zinc.
- Nutrisi.
- ASI.
2. Rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP)
A. Zinc
AAP mengakui manfaat zinc terutama pada negara berkembang dengan prevalensi defisiensi zinc yang tinggi.
AAP menyatakan:
- Zinc bermanfaat terutama pada anak yang berisiko mengalami defisiensi zinc.
- Di negara maju, manfaatnya tidak sebesar di negara berkembang karena status gizi lebih baik.
Dengan demikian, AAP tidak mewajibkan pemberian zinc rutin pada semua anak, tetapi mengakui rekomendasi WHO untuk daerah dengan risiko tinggi.
B. Probiotik
AAP menyatakan:
Probiotik dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan pada anak sehat dengan gastroenteritis akut.
Namun:
- Manfaatnya relatif kecil (sekitar memperpendek diare ±1 hari).
- Tidak semua probiotik efektif.
- Efek tergantung strain.
AAP tidak menganjurkan probiotik secara rutin pada:
- imunodefisiensi,
- penyakit kritis,
- penggunaan kateter vena sentral,
- pasien dengan risiko sepsis.
3. Rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)
Panduan IDAI mengenai diare akut sejalan dengan WHO.
A. Zinc
IDAI merekomendasikan pemberian zinc pada seluruh anak dengan diare akut.
Dosis:
- <6 bulan: 10 mg/hari
- ≥6 bulan: 20 mg/hari
selama 10–14 hari.
IDAI menegaskan bahwa zinc:
- mempercepat penyembuhan,
- mengurangi kekambuhan,
- memperbaiki regenerasi mukosa usus,
- meningkatkan imunitas.
B. Probiotik
IDAI menyatakan bahwa probiotik bukan terapi utama.
Beberapa strain dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan, antara lain:
- Lactobacillus rhamnosus GG.
- Limosilactobacillus reuteri DSM 17938.
- Saccharomyces boulardii.
Namun manfaatnya:
- hanya memperpendek lama diare sekitar 1 hari,
- tidak menggantikan ORS maupun zinc,
- tergantung strain dan kualitas produk.
Perbandingan Rekomendasi
| Organisasi | Zinc | Probiotik |
|---|---|---|
| WHO | Direkomendasikan untuk semua anak dengan diare akut (<6 bulan: 10 mg/hari; ≥6 bulan: 20 mg/hari selama 10–14 hari) | Tidak direkomendasikan sebagai terapi rutin |
| AAP | Mengakui manfaat, terutama pada populasi berisiko defisiensi zinc; tidak mewajibkan untuk semua anak | Dapat dipertimbangkan pada anak sehat, bukan terapi rutin |
| IDAI | Direkomendasikan untuk seluruh anak dengan diare akut sesuai dosis WHO | Terapi tambahan pada strain tertentu, bukan terapi utama |
Catatan Penting
- Neonatus (<28 hari): Rekomendasi WHO untuk zinc ditujukan pada bayi dan anak secara umum. Bukti pada neonatus masih terbatas sehingga zinc maupun probiotik tidak direkomendasikan secara rutin pada neonatus kecuali atas pertimbangan dokter spesialis anak.
- Pada semua kelompok usia, rehidrasi oral/intravena, pemberian ASI atau nutrisi sesuai usia, dan identifikasi penyebab diare tetap merupakan pilar utama penatalaksanaan.
Rekomendasi WHO
WHO bersama UNICEF merekomendasikan:
- ORS sebagai terapi utama.
- Zinc untuk seluruh anak dengan diare akut.
- Nutrisi dan ASI tetap diberikan.
- Antibiotik hanya bila terdapat indikasi.
- Probiotik tidak direkomendasikan sebagai terapi rutin karena bukti efektivitasnya belum konsisten dan sangat bergantung pada strain.
Rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP)
AAP mengakui manfaat zinc terutama pada negara berkembang dengan prevalensi defisiensi zinc yang tinggi, tetapi tidak mewajibkan penggunaannya pada seluruh anak di negara maju. Untuk probiotik, AAP menyatakan bahwa beberapa strain dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan pada gastroenteritis akut, namun manfaatnya relatif kecil dan tidak boleh menggantikan terapi rehidrasi.
Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
IDAI mengikuti rekomendasi WHO dengan menganjurkan pemberian zinc pada seluruh anak dengan diare akut selama 10–14 hari. Mengenai probiotik, IDAI menyatakan bahwa penggunaannya dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan bila menggunakan strain yang telah terbukti secara ilmiah, tetapi bukan merupakan terapi utama dan tidak boleh menggantikan ORS, ASI, maupun nutrisi.
Kesimpulan
Suplementasi zinc merupakan intervensi berbasis bukti yang direkomendasikan secara konsisten oleh WHO dan IDAI untuk seluruh anak dengan diare akut, sedangkan AAP menekankan manfaatnya terutama pada populasi yang berisiko mengalami defisiensi zinc. Sebaliknya, penggunaan probiotik masih menjadi area dengan bukti yang bervariasi; manfaatnya bergantung pada strain dan kondisi pasien sehingga tidak direkomendasikan secara universal. Prinsip utama penatalaksanaan diare tetap meliputi rehidrasi oral, pemberian ASI dan nutrisi sesuai usia, identifikasi penyebab yang memerlukan terapi spesifik, serta edukasi orang tua mengenai tanda bahaya yang memerlukan penanganan segera.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Pocket Book of Hospital Care for Children: Guidelines for the Management of Common Childhood Illnesses. 3rd ed. Geneva: World Health Organization; 2022. Available from: https://www.who.int/publications/i/item/9789241548373
- World Health Organization, UNICEF. Clinical Management of Acute Diarrhoea. Geneva: World Health Organization; 2004. Available from: https://www.who.int/publications/i/item/9241593180
- Guarino A, Lo Vecchio A, Dias JA, et al. European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition/European Society for Paediatric Infectious Diseases Guidelines for the Management of Acute Gastroenteritis in Children. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2024;78(2):386-414.
- American Academy of Pediatrics. Red Book: 2024–2027 Report of the Committee on Infectious Diseases. 33rd ed. Itasca, IL: American Academy of Pediatrics; 2024.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Rekomendasi Penatalaksanaan Diare Akut pada Anak. Jakarta: IDAI
- World Health Organization, UNICEF. Clinical Management of Acute Diarrhoea. Geneva: World Health Organization; 2004. Available from: https://www.who.int/publications/i/item/9241593180
- World Health Organization. Pocket Book of Hospital Care for Children. 3rd ed. Geneva: World Health Organization; 2022. Available from: https://www.who.int/publications/i/item/9789241548373
- American Academy of Pediatrics. Red Book: 2024–2027 Report of the Committee on Infectious Diseases. 33rd ed. Itasca, IL: American Academy of Pediatrics; 2024.
- Guarino A, Lo Vecchio A, Dias JA, et al. European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition/European Society for Paediatric Infectious Diseases Guidelines for the Management of Acute Gastroenteritis in Children. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2024;78(2):386-414.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Rekomendasi Penatalaksanaan Diare Akut pada Anak. Jakarta: IDAI. (Pedoman nasional yang digunakan di Indonesia).











Leave a Reply