DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Terapi dan Prosedur Penanganan Syok pada Kegawatdaruratan Obstetri Berdasarkan WHO, ACOG, RCOG, FIGO, dan Surviving Sepsis Campaign

Terapi dan Prosedur Penanganan Syok pada Kegawatdaruratan Obstetri Berdasarkan WHO, ACOG, RCOG, FIGO, dan Surviving Sepsis Campaign

Syok pada kegawatdaruratan obstetri merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal di seluruh dunia. Penyebab tersering meliputi perdarahan obstetri, sepsis, emboli cairan ketuban, emboli paru, dan gangguan kardiovaskular yang mengakibatkan hipoperfusi jaringan, hipoksia seluler, disfungsi multiorgan, hingga kematian apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Penatalaksanaan syok memerlukan pendekatan sistematis melalui penilaian Airway, Breathing, Circulation, Disability, dan Exposure (ABCDE), resusitasi cairan yang terarah, transfusi darah bila diindikasikan, penggunaan vasopresor secara rasional, serta terapi definitif sesuai penyebab yang mendasarinya. Perubahan fisiologis selama kehamilan sering kali menyebabkan tanda-tanda syok muncul lebih lambat sehingga keterlambatan diagnosis dapat memperburuk prognosis ibu dan janin.

Pedoman terkini dari World Health Organization (WHO), American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO), serta Surviving Sepsis Campaign menekankan pentingnya deteksi dini, aktivasi tim multidisiplin, resusitasi berbasis target hemodinamik, penggunaan Massive Transfusion Protocol (MTP) pada perdarahan masif, dan pemberian vasopresor, terutama norepinefrin, pada hipotensi persisten setelah resusitasi cairan adekuat. Artikel ini membahas klasifikasi syok obstetri, diagnosis, diferensiasi jenis syok, terapi cairan, transfusi darah, penggunaan vasopresor, serta penatalaksanaan komprehensif berdasarkan bukti ilmiah dan rekomendasi internasional terbaru.

Pendahuluan

Kegawatdaruratan obstetri masih menjadi tantangan utama dalam pelayanan kesehatan maternal, terutama di negara berkembang. Sebagian besar kematian ibu terjadi akibat kondisi yang sebenarnya dapat dicegah melalui pengenalan dini dan tata laksana yang cepat. Syok merupakan manifestasi akhir dari berbagai komplikasi obstetri seperti perdarahan postpartum, plasenta previa, solusio plasenta, ruptur uteri, kehamilan ektopik terganggu, sepsis puerperalis, emboli cairan ketuban, maupun emboli paru. Kondisi ini ditandai oleh ketidakmampuan sistem sirkulasi memenuhi kebutuhan oksigen jaringan sehingga terjadi gangguan metabolisme sel, asidosis laktat, disfungsi organ multipel, dan akhirnya kematian bila tidak segera dikoreksi. Perubahan fisiologis pada kehamilan, termasuk peningkatan volume plasma hingga 40–50%, peningkatan curah jantung, dan penurunan resistensi vaskular sistemik, menyebabkan gejala syok sering tersamar sehingga diperlukan kewaspadaan klinis yang tinggi.

Penatalaksanaan syok obstetri modern telah mengalami perkembangan signifikan dengan diterapkannya prinsip resusitasi berbasis bukti (evidence-based resuscitation). Pendekatan tidak lagi hanya berfokus pada pemberian cairan dalam jumlah besar, tetapi juga mencakup identifikasi cepat penyebab syok, pengendalian sumber perdarahan atau infeksi, penggunaan transfusi darah secara dini dan seimbang, pemantauan parameter hemodinamik, serta penggunaan vasopresor dan terapi penunjang secara tepat. Kolaborasi antara dokter obstetri, anestesiologi, intensivis, bank darah, radiologi intervensi, dan tenaga kesehatan lainnya merupakan kunci keberhasilan penanganan. Dengan penerapan pedoman internasional terbaru dari WHO, FIGO, ACOG, RCOG, dan Surviving Sepsis Campaign, diharapkan angka kematian dan komplikasi akibat syok obstetri dapat ditekan secara bermakna melalui tata laksana yang cepat, sistematis, dan terstandarisasi.

1. Jenis Syok pada Obstetri

Jenis SyokPenyebab TerseringGambaran Klinis
HipovolemikPerdarahan postpartum, ruptur uteri, solusio plasenta, kehamilan ektopikHipotensi, takikardia, kulit dingin, CRT memanjang
SeptikSepsis puerperalis, abortus septik, korioamnionitisDemam/hipotermia, hipotensi, vasodilatasi, laktat meningkat
KardiogenikKardiomiopati peripartum, infark miokard, penyakit jantungEdema paru, JVP meningkat, curah jantung menurun
ObstruktifEmboli paru, emboli cairan ketuban, tamponade jantungHipoksia berat, distensi vena jugularis, hipotensi mendadak

2. Cara Membedakan Jenis Syok

ParameterHipovolemikSeptikKardiogenikObstruktif
KulitDinginHangat (awal)DinginDingin
NadiCepatCepatCepatCepat
Tekanan darahTurunTurunTurunTurun
JVPRendahNormal/rendahTinggiTinggi
Edema paruTidakKadangSeringDapat terjadi
LaktatNaikNaikNaikNaik
PenyebabPerdarahanInfeksiGagal pompaHambatan aliran darah

3. Penatalaksanaan Awal (ABCDE)

A. Airway

  • Pastikan jalan napas terbuka.
  • Intubasi bila GCS ≤8, gagal napas, atau hipoksia berat.

B. Breathing

  • Oksigen 10–15 L/menit dengan non-rebreathing mask.
  • Target SpO₂ ≥95%.
  • Ventilasi mekanik bila diperlukan.

C. Circulation

  • Pasang 2 jalur IV besar (14–16 G).
  • Ambil darah untuk:
    • Darah lengkap
    • Golongan darah dan crossmatch
    • PT, aPTT, fibrinogen
    • Elektrolit
    • Fungsi ginjal
    • Gas darah
    • Lakta

D. Disability

  • Nilai GCS.
  • Evaluasi tanda hipoperfusi otak.

E. Exposure

  • Cari sumber perdarahan atau infeksi.
  • Jaga suhu tubuh (hindari hipotermia).

4. Terapi Cairan

Terapi cairan merupakan langkah awal pada syok hipovolemik dan septik.

Pilihan cairan pertama:

  • Ringer Laktat (RL) (pilihan utama)
  • Plasma-Lyte (bila tersedia)
  • NaCl 0,9% bila RL tidak tersedia

Dosis awal:

  • Bolus 500–1000 mL dalam 10–15 menit.
  • Evaluasi respons.
  • Ulangi sesuai kebutuhan.

Pada perdarahan obstetri, pemberian kristaloid berlebihan harus dihindari karena dapat memperburuk koagulopati. Bila kehilangan darah masif, segera beralih ke transfusi darah.

5. Kapan Dilakukan Transfusi?

Transfusi darah tidak menunggu hasil hemoglobin bila terdapat perdarahan aktif dengan syok.

Indikasi:

  • Kehilangan darah >1500 mL.
  • Syok hemoragik.
  • Tidak membaik setelah cairan.
  • Hb <7 g/dL (atau <8 g/dL pada kondisi tertentu).

Pada Massive Transfusion Protocol (MTP), diberikan secara seimbang:

  • PRC : FFP : Trombosit = 1 : 1 : 1.

Tambahkan:

  • Fibrinogen (atau kriopresipitat) bila <2 g/L.
  • Asam traneksamat 1 g IV, diikuti 1 g setelah 30 menit–24 jam bila perdarahan berlanjut (ideal dalam ≤3 jam sejak onset perdarahan).

6. Target Hemodinamik

Target resusitasi meliputi:

  • MAP ≥65 mmHg
  • Tekanan sistolik ≥90 mmHg
  • Urine ≥0,5 mL/kg/jam
  • SpO₂ ≥95%
  • Laktat menurun
  • CRT <2 detik
  • Status mental membaik

7. Indikasi Norepinefrin

Norepinefrin merupakan vasopresor lini pertama pada syok distributif (terutama syok septik) dan dapat dipertimbangkan pada syok hemoragik setelah volume intravaskular mulai dikoreksi bila hipotensi tetap persisten.

Indikasi:

  • MAP <65 mmHg setelah resusitasi cairan adekuat.
  • Syok septik.
  • Vasodilatasi berat.
  • Hipotensi persisten.

Diberikan melalui vena sentral bila memungkinkan, dengan pemantauan hemodinamik ketat.

8. Dosis Vasopresor

ObatDosis AwalKeterangan
Norepinefrin0,05–0,1 µg/kg/menitVasopresor lini pertama
Epinefrin0,02–0,5 µg/kg/menitSyok refrakter atau anafilaksis
Dobutamin2–20 µg/kg/menitSyok kardiogenik dengan curah jantung rendah
Vasopresin0,03 unit/menitTambahan pada syok septik refrakter

9. Terapi Definitif Berdasarkan Penyebab

  • Perdarahan postpartum: uterotonika, tamponade uterus, jahitan kompresi, embolisasi arteri uterina, atau histerektomi bila diperlukan.
  • Sepsis obstetri: antibiotik spektrum luas dalam 1 jam pertama dan kontrol sumber infeksi.
  • Emboli cairan ketuban: terapi suportif intensif, ventilasi, vasopresor, koreksi koagulopati.
  • Emboli paru: antikoagulan atau trombolisis sesuai indikasi dan stabilitas pasien.
  • Kardiomiopati peripartum: terapi gagal jantung sesuai pedoman dengan mempertimbangkan kondisi kehamilan atau nifas.7

Ringkasan Poin Penting

  • Syok obstetri adalah kondisi yang mengancam jiwa dan memerlukan penanganan segera.
  • Lakukan pendekatan ABCDE secara sistematis.
  • Gunakan Ringer Laktat sebagai cairan kristaloid awal pada sebagian besar kasus.
  • Aktifkan Massive Transfusion Protocol pada perdarahan masif tanpa menunggu hasil Hb.
  • Targetkan MAP ≥65 mmHg, SpO₂ ≥95%, dan diuresis ≥0,5 mL/kg/jam.
  • Norepinefrin adalah vasopresor lini pertama bila hipotensi menetap setelah resusitasi cairan yang adekuat.
  • Terapi definitif harus segera mengatasi penyebab utama syok, baik perdarahan, infeksi, gangguan jantung, maupun obstruksi sirkulasi, sesuai rekomendasi WHO, FIGO, ACOG, RCOG, dan Surviving Sepsis Campaign.

Daftar Pustaka 

  • World Health Organization. Consolidated Guidelines for the Prevention, Diagnosis and Treatment of Postpartum Haemorrhage. Geneva: World Health Organization; 2025. Available from: .
  • World Health Organization. Managing Complications in Pregnancy and Childbirth: A Guide for Midwives and Doctors. 3rd ed. Geneva: World Health Organization; 2023. Available from: .
  • American College of Obstetricians and Gynecologists. Practice Bulletin No. 183: Postpartum Hemorrhage. Obstet Gynecol. 2017;130(4):e168-e186. Reaffirmed 2024. Available from: .
  • Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Green-top Guideline No. 52: Prevention and Management of Postpartum Haemorrhage. London: RCOG; 2016 (updated guidance available through RCOG). Available from: .
  • International Federation of Gynecology and Obstetrics. FIGO recommendations on the management of postpartum hemorrhage 2022. Int J Gynaecol Obstet. 2022;157(Suppl 1):3-50. Available from: .
  • Society of Critical Care Medicine, European Society of Intensive Care Medicine. Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock 2021. Crit Care Med. 2021;49(11):e1063-e1143.
  • Evans L, Rhodes A, Alhazzani W, et al. Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock 2021. Intensive Care Med. 2021;47(11):1181-1247.
  • Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 27th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2025.
  • Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL, et al. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies. 8th ed. Philadelphia: Elsevier; 2024.
  • James DK, Steer PJ, Weiner CP, Gonik B, Crowther CA, Robson SC. High Risk Pregnancy: Management Options. 6th ed. Philadelphia: Elsevier; 2024.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *