DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Prosedur Tata Laksana Syok pada Neonatus, Bayi, dan Anak: Pendekatan Berbasis Pedoman PALS, AAP, ERC, dan Surviving Sepsis Campaign

Prosedur Tata Laksana Syok pada Neonatus, Bayi, dan Anak: Pendekatan Berbasis Pedoman PALS, AAP, ERC, dan Surviving Sepsis Campaign

Syok merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada neonatus, bayi, dan anak. Berbeda dengan orang dewasa, hipotensi merupakan tanda yang muncul pada fase lanjut sehingga diagnosis harus ditegakkan berdasarkan tanda hipoperfusi jaringan. Penyebab syok pada populasi pediatrik meliputi syok hipovolemik, septik, kardiogenik, dan obstruktif, yang memerlukan tata laksana berbeda meskipun seluruhnya diawali dengan stabilisasi jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi. Penatalaksanaan dini yang tepat dapat mencegah terjadinya gagal multiorgan dan meningkatkan angka kelangsungan hidup.

Pedoman terbaru dari American Heart Association (AHA) Pediatric Advanced Life Support (PALS), American Academy of Pediatrics (AAP), European Resuscitation Council (ERC), Surviving Sepsis Campaign, dan World Health Organization (WHO) menekankan pendekatan sistematis menggunakan prinsip ABCDE, resusitasi cairan yang terarah, penggunaan vasoaktif secara dini pada syok refrakter cairan, serta identifikasi dan terapi penyebab utama. Artikel ini mengulas prosedur penanganan syok secara sistematis berdasarkan bukti ilmiah terkini.

Syok pada anak merupakan keadaan kegawatdaruratan yang ditandai oleh ketidakmampuan sistem sirkulasi memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan sehingga terjadi hipoperfusi, hipoksia seluler, dan gangguan fungsi organ. Pada neonatus dan bayi, cadangan fisiologis relatif terbatas sehingga dekompensasi dapat berlangsung sangat cepat. Berbeda dengan pasien dewasa, anak sering mampu mempertahankan tekanan darah normal melalui vasokonstriksi dan takikardia sampai fase lanjut. Oleh karena itu, keterlambatan mengenali tanda-tanda awal syok dapat meningkatkan risiko henti jantung dan kematian.

Penatalaksanaan syok pada neonatus, bayi, dan anak memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, dokter emergensi, dokter anestesi, intensivis, perawat, dan laboratorium. Prinsip utama meliputi stabilisasi jalan napas, oksigenasi optimal, resusitasi cairan, pemberian antibiotik dini pada syok septik, transfusi darah bila diperlukan, penggunaan obat vasoaktif, serta koreksi penyebab dasar. Evaluasi klinis harus dilakukan secara berulang untuk memastikan respons terhadap terapi.

Prosedur Tata Laksana Syok pada Neonatus, Bayi, dan Anak: Pendekatan Berbasis Pedoman PALS, AAP, ERC, dan Surviving Sepsis Campaign

1. Jenis Syok pada Neonatus, Bayi, dan Anak

Jenis SyokPenyebab Tersering
HipovolemikDiare, muntah, perdarahan, dehidrasi
SeptikSepsis neonatorum, pneumonia, meningitis
KardiogenikPenyakit jantung bawaan, miokarditis, kardiomiopati
ObstruktifTamponade jantung, tension pneumotoraks, emboli paru (jarang)
Distributif lainAnafilaksis, cedera medula spinalis

2. Penilaian Awal (ABCDE)

A. Airway

  • Nilai patensi jalan napas.
  • Bersihkan sekret bila diperlukan.
  • Gunakan OPA/NPA sesuai indikasi.
  • Intubasi bila gagal mempertahankan jalan napas.

B. Breathing

  • Berikan oksigen FiO₂ tinggi.
  • Target SpO₂ ≥94–98%.
  • Ventilasi bag-valve-mask bila apnea atau ventilasi tidak adekuat.
  • Ventilator bila diperlukan.

C. Circulation

  • Nilai frekuensi nadi, CRT, perfusi perifer, tekanan darah, dan diuresis.
  • Pasang akses IV atau intraosseous dalam ≤5 menit bila akses IV sulit.
  • Ambil darah untuk pemeriksaan laboratorium.

D. Disability

  • Nilai AVPU/GCS.
  • Periksa glukosa darah.
  • Koreksi hipoglikemia segera.

E. Exposure

  • Cari sumber infeksi atau perdarahan.
  • Jaga suhu tubuh agar tetap normotermia.

3. Cara Mengenali Syok Dini

Tanda awal:

  • Takikardia.
  • CRT >2–3 detik.
  • Ekstremitas dingin.
  • Nadi perifer lemah.
  • Oliguria.
  • Gelisah atau letargi.

Tanda lanjut:

  • Hipotensi.
  • Penurunan kesadaran.
  • Asidosis laktat.
  • Bradikardia terminal.

4. Terapi Cairan

Kristaloid isotonik merupakan terapi awal.

Pilihan:

  • Ringer Laktat.
  • NaCl 0,9%.

Dosis:

  • 20 mL/kg bolus selama 5–10 menit.
  • Evaluasi setelah setiap bolus.
  • Dapat diulang hingga 40–60 mL/kg pada syok hipovolemik atau septik dengan pemantauan ketat.

Pada neonatus dan pasien dengan penyakit jantung, bolus 10 mL/kg diberikan lebih hati-hati.

5. Kapan Transfusi Darah?

Indikasi:

  • Perdarahan masif.
  • Syok hemoragik.
  • Hb <7 g/dL (atau sesuai kondisi klinis).
  • Tidak respons terhadap cairan.

PRC diberikan 10–15 mL/kg kemudian dievaluasi.

6. Target Resusitasi

  • CRT <2 detik.
  • Nadi perifer kuat.
  • Kesadaran membaik.
  • Urine ≥1 mL/kg/jam.
  • MAP sesuai usia.
  • Laktat menurun.
  • SpO₂ ≥94%

7. Vasopresor dan Inotropik

Diberikan bila syok tidak membaik setelah cairan adekuat

Norepinefrin

  • Indikasi:
  • Warm septic shock.
  • Vasodilatasi berat.
  • Dosis:0,05–2 µg/kg/menit.

Epinefrin

  • Indikasi:
  • Cold septic shock.
  • Syok refrakter.
  • Dosis: 0,05–1 µg/kg/menit.

Dobutamin

  • Indikasi:
  • Syok kardiogenik.
  • Dosis:5–20 µg/kg/menit.

Dopamin

  • Alternatif bila obat lain tidak tersedia.
  • Dosis:5–20 µg/kg/menit.

8. Terapi Berdasarkan Penyebab

Syok Hipovolemik

  • Cairan cepat.
  • Hentikan perdarahan.
  • Transfusi bila perlu.

Syok Septik

  • Antibiotik spektrum luas dalam 1 jam pertama.
  • Cairan.
  • Vasopresor bila refrakter.

Syok Kardiogenik

  • Cairan hati-hati.
  • Dobutamin atau epinefrin.
  • Konsultasi kardiologi.

Syok Obstruktif

  • Needle thoracostomy pada tension pneumotoraks.
  • Perikardiosentesis pada tamponade.
  • Tata laksana penyebab obstruksi.

9. Monitoring

  • EKG kontinu.
  • SpO₂.
  • Tekanan darah.
  • Frekuensi napas.
  • Diuresis.
  • Gas darah.
  • Laktat.
  • Elektrolit.
  • Glukosa darah.

10. Kriteria Masuk PICU/NICU

  • Membutuhkan ventilator.
  • Syok refrakter.
  • Membutuhkan infus vasopresor.
  • Gagal multiorgan.
  • Penurunan kesadaran.
  • Kejang.
  • Asidosis berat.

11. Pemeriksaan Penunjang

  • Pemeriksaan penunjang dilakukan segera setelah stabilisasi awal tanpa menunda resusitasi. Tujuannya adalah mengidentifikasi penyebab syok, menilai derajat hipoperfusi jaringan, mendeteksi gangguan metabolik, serta memantau respons terapi. Pemeriksaan laboratorium dasar meliputi darah lengkap, elektrolit, glukosa darah, ureum, kreatinin, fungsi hati, analisis gas darah, kadar laktat, C-reactive protein (CRP), prokalsitonin (bila dicurigai sepsis), kultur darah sebelum antibiotik jika memungkinkan, serta pemeriksaan koagulasi (PT, aPTT, INR, fibrinogen, D-dimer) pada pasien dengan perdarahan atau dugaan DIC.
  • Pemeriksaan penunjang lain disesuaikan dengan penyebab yang dicurigai, seperti foto toraks untuk pneumonia atau edema paru, elektrokardiografi (EKG) untuk gangguan irama atau penyakit jantung, ekokardiografi untuk menilai fungsi jantung, USG FAST pada trauma, USG abdomen bila dicurigai perdarahan intraabdomen, serta pungsi lumbal pada dugaan meningitis setelah kondisi hemodinamik stabil. Pemeriksaan kadar laktat serial sangat bermanfaat sebagai indikator keberhasilan resusitasi dan prognosis.

12. Terapi Medikamentosa

  • Terapi medikamentosa diberikan sesuai etiologi syok. Pada syok septik, antibiotik spektrum luas harus diberikan dalam waktu ≤1 jam setelah diagnosis dicurigai. Pilihan antibiotik disesuaikan dengan usia, lokasi infeksi, pola kuman rumah sakit, dan hasil kultur. Pada syok anafilaksis, epinefrin intramuskular 0,01 mg/kg (1:1000), maksimal 0,5 mg, merupakan terapi lini pertama, disertai oksigen, cairan, antihistamin, dan kortikosteroid sebagai terapi tambahan.
  • Pada hipoglikemia diberikan dekstrosa intravena sesuai usia (D10% pada neonatus, D10–25% pada bayi dan anak sesuai rekomendasi), sedangkan gangguan elektrolit seperti hipokalsemia, hiperkalemia, atau asidosis berat dikoreksi sesuai indikasi. Kortikosteroid (misalnya hidrokortison) dipertimbangkan pada syok septik refrakter yang dicurigai disertai insufisiensi adrenal atau tidak respons terhadap cairan dan vasopresor.

13. Indikasi Intubasi dan Ventilasi Mekanik

Intubasi endotrakeal dipertimbangkan pada pasien dengan gagal napas, apnea, hipoksemia berat yang tidak membaik dengan terapi oksigen, penurunan kesadaran yang mengancam jalan napas, syok refrakter dengan peningkatan kerja napas, atau kebutuhan ventilasi mekanik untuk mengurangi konsumsi oksigen. Intubasi harus dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman dengan persiapan lengkap karena pasien syok memiliki risiko tinggi mengalami hipotensi selama induksi.

Ventilasi mekanik bertujuan memperbaiki oksigenasi, mengurangi beban kerja otot pernapasan, dan mengoptimalkan perfusi organ. Pengaturan ventilator disesuaikan dengan usia, berat badan, dan penyakit yang mendasari. Setelah intubasi, pasien harus dipantau menggunakan pulse oximetry, kapnografi, analisis gas darah, dan parameter ventilator secara berkala.

14. Evaluasi Respons Resusitasi

Evaluasi dilakukan setiap 5–15 menit pada fase awal resusitasi. Respons dinilai melalui perbaikan frekuensi nadi, pengisian kapiler, kualitas nadi perifer, tekanan darah, kesadaran, diuresis, suhu ekstremitas, saturasi oksigen, serta kadar laktat. Tidak adanya perbaikan setelah resusitasi cairan mengharuskan evaluasi ulang terhadap diagnosis, kemungkinan syok campuran, atau kebutuhan terapi vasoaktif.

Selain parameter klinis, pemantauan laboratorium serial seperti laktat, gas darah, glukosa, dan fungsi ginjal penting untuk menilai keberhasilan terapi. Bila kondisi memburuk atau tidak membaik, pasien harus segera dirujuk atau dipindahkan ke PICU/NICU untuk mendapatkan pemantauan dan terapi intensif.

15. Prognosis

Prognosis sangat bergantung pada kecepatan diagnosis, penyebab syok, usia pasien, penyakit penyerta, dan waktu dimulainya terapi. Syok yang dikenali pada fase kompensasi memiliki angka kesembuhan yang tinggi apabila ditangani sesuai pedoman. Sebaliknya, keterlambatan resusitasi meningkatkan risiko gagal multiorgan, cedera neurologis permanen, dan kematian.

Penelitian menunjukkan bahwa pemberian cairan secara tepat, antibiotik dini pada sepsis, penggunaan vasoaktif sesuai indikasi, serta pemantauan intensif mampu menurunkan mortalitas secara bermakna. Oleh karena itu, pendidikan berkelanjutan, simulasi kegawatdaruratan, dan penerapan protokol berbasis bukti sangat penting dalam meningkatkan luaran pasien pediatrik.

Ringkasan Poin Penting

  • Gunakan pendekatan ABCDE pada semua pasien.
  • Hipotensi merupakan tanda akhir syok pada anak.
  • Berikan cairan kristaloid 20 mL/kg (atau 10 mL/kg pada neonatus tertentu) dengan evaluasi berkala.
  • Pasang akses intraosseous bila akses intravena sulit.
  • Berikan antibiotik dalam 1 jam pertama pada syok septik.
  • Gunakan epinefrin untuk cold septic shock dan norepinefrin untuk warm septic shock.
  • Monitor respons terapi secara kontinu dan rujuk ke PICU/NICU bila diperlukan sesuai pedoman PALS, AAP, ERC, WHO, dan Surviving Sepsis Campaign.

Kesimpulan

Syok pada neonatus, bayi, dan anak merupakan kegawatdaruratan medis yang memerlukan diagnosis dini dan penatalaksanaan segera. Pendekatan ABCDE, resusitasi cairan yang terarah, pemberian oksigen, penggunaan antibiotik dini pada syok septik, transfusi darah bila diperlukan, serta terapi vasoaktif yang tepat merupakan dasar tata laksana modern berdasarkan pedoman AHA-PALS, AAP, ERC, WHO, dan Surviving Sepsis Campaign.

Keberhasilan terapi sangat ditentukan oleh pemantauan klinis yang berkesinambungan, evaluasi respons resusitasi secara berkala, identifikasi penyebab dasar, serta kerja sama tim multidisiplin. Penerapan protokol yang terstandarisasi dan berbasis bukti diharapkan dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat syok pada neonatus, bayi, dan anak.

Daftar Pustaka (Format AMA)

  • Topjian AA, Raymond TT, Atkins D, et al. Part 4: Pediatric Basic and Advanced Life Support: 2020 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2020;142(16_suppl_2):S469-S523. doi:10.1161/CIR.0000000000000901.
  • de Caen AR, Berg MD, Chameides L, et al. Pediatric Advanced Life Support (PALS) Provider Manual. Dallas, TX: American Heart Association; 2020. Available from: https://cpr.heart.org
  • Lillitos PJ, Maconochie IK, Bingham R, et al. European Resuscitation Council Guidelines 2021: Paediatric Life Support. Resuscitation. 2021;161:327-387. doi:10.1016/j.resuscitation.2021.02.015. Available from: https://www.resuscitationjournal.com/article/S0300-9572(21)00096-3/fulltext
  • Weiss SL, Peters MJ, Alhazzani W, et al. Surviving Sepsis Campaign International Guidelines for the Management of Septic Shock and Sepsis-Associated Organ Dysfunction in Children. Intensive Care Med. 2020;46(Suppl 1):10-67. doi:10.1007/s00134-019-05878-6. Available from: https://link.springer.com/article/10.1007/s00134-019-05878-6
  • World Health Organization. Pocket Book of Hospital Care for Children: Guidelines for the Management of Common Childhood Illnesses. 3rd ed. Geneva: World Health Organization; 2022. Available from: https://www.who.int/publications/i/item/9789241548373

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *