Diare Akut pada Bayi dan Anak: Tinjauan Ilmiah Berbasis Bukti Mengenai Diagnosis, Penatalaksanaan, dan Pencegahan
Diare akut merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada bayi dan anak, terutama di negara berkembang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diare masih menjadi penyebab kematian sekitar setengah juta anak balita setiap tahun meskipun angka kematiannya terus menurun berkat peningkatan akses terhadap terapi rehidrasi oral, imunisasi, dan perbaikan sanitasi. Sebagian besar kasus disebabkan oleh infeksi virus, terutama Rotavirus dan Norovirus, sedangkan bakteri dan parasit merupakan penyebab yang lebih jarang tetapi sering menimbulkan penyakit yang lebih berat. Kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan metabolik, syok hipovolemik, bahkan kematian apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Pendekatan modern dalam tata laksana diare akut menekankan rehidrasi sebagai terapi utama, mempertahankan nutrisi dan pemberian ASI, suplementasi zinc, serta penggunaan antibiotik hanya pada indikasi tertentu. Pedoman internasional dari WHO, American Academy of Pediatrics (AAP), European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN), dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan bahwa sebagian besar kasus dapat ditangani secara konservatif tanpa pemberian antibiotik maupun obat antidiare. Artikel ini mengulas definisi, epidemiologi, faktor risiko, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan terkini berbasis bukti, prognosis, pencegahan, serta poin-poin penting dalam penanganan diare akut pada bayi dan anak
Pendahuluan
Diare akut masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, khususnya pada bayi dan anak di bawah usia lima tahun. Walaupun kemajuan dalam imunisasi rotavirus, sanitasi, dan akses pelayanan kesehatan telah menurunkan angka kematian secara signifikan, diare tetap menjadi salah satu penyebab utama kunjungan ke fasilitas kesehatan dan rawat inap pada anak. Dampak klinis diare tidak hanya berupa kehilangan cairan dan elektrolit, tetapi juga gangguan nutrisi, penurunan berat badan, gangguan pertumbuhan, dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi lain. Pada bayi, cadangan cairan tubuh yang relatif kecil menyebabkan dehidrasi dapat berkembang dengan cepat sehingga memerlukan penanganan segera.
Pendekatan diagnosis dan terapi diare akut telah mengalami perkembangan pesat dalam beberapa dekade terakhir. Fokus utama telah bergeser dari penggunaan antibiotik dan obat antidiare menuju strategi berbasis bukti yang menitikberatkan pada rehidrasi oral, pemberian ASI, suplementasi zinc, nutrisi dini, dan edukasi keluarga. Selain itu, identifikasi tanda bahaya dan faktor risiko komplikasi sangat penting untuk menentukan kebutuhan rawat inap atau terapi intensif. Dengan pendekatan yang sistematis dan sesuai pedoman internasional, sebagian besar kasus diare akut dapat sembuh tanpa komplikasi.
Definisi
Diare akut didefinisikan sebagai peningkatan frekuensi buang air besar menjadi tiga kali atau lebih per hari dengan konsistensi tinja lebih cair dari biasanya yang berlangsung kurang dari 14 hari. Pada bayi yang mendapat ASI eksklusif, frekuensi buang air besar dapat lebih sering sehingga diagnosis harus mempertimbangkan perubahan dari pola normal bayi tersebut.
Secara klinis, diare akut dapat disertai muntah, demam, nyeri perut, penurunan nafsu makan, dan berbagai derajat dehidrasi. Penyakit ini sebagian besar bersifat self-limited, tetapi dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa bila menyebabkan kehilangan cairan yang berat atau disebabkan oleh infeksi invasif.
Epidemiologi
WHO memperkirakan terdapat sekitar 1,7 miliar episode diare pada anak setiap tahun di seluruh dunia. Diare merupakan salah satu penyebab utama rawat inap dan kematian pada anak balita, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah.
Di Indonesia, diare masih termasuk sepuluh penyakit terbanyak pada anak. Risiko tertinggi terjadi pada bayi usia 6–24 bulan karena mulai mendapat makanan pendamping ASI, meningkatnya paparan patogen lingkungan, dan sistem imun yang belum matang sepenuhnya.
Faktor Risiko
Faktor risiko utama meliputi tidak mendapat ASI eksklusif, sanitasi yang buruk, konsumsi air yang terkontaminasi, malnutrisi, imunisasi rotavirus yang belum lengkap, penggunaan susu formula yang tidak higienis, serta kontak dengan penderita diare.
Selain itu, defisiensi zinc, penyakit kronis, imunodefisiensi, penggunaan antibiotik yang tidak rasional, dan kondisi sosial ekonomi rendah juga meningkatkan risiko terjadinya diare akut maupun komplikasinya.
Patofisiologi
Diare terjadi akibat gangguan keseimbangan antara absorpsi dan sekresi cairan di usus. Virus seperti rotavirus merusak enterosit pada ujung vili usus sehingga absorpsi air dan elektrolit menurun, sedangkan enterotoksin bakteri meningkatkan sekresi cairan ke lumen usus.
Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlanjut menyebabkan dehidrasi, hipovolemia, gangguan perfusi jaringan, asidosis metabolik, hipokalemia, dan pada kasus berat dapat berkembang menjadi syok hipovolemik serta gagal multiorgan.
Manifestasi Klinis
Gejala utama berupa buang air besar cair berulang, muntah, demam, nyeri perut, rewel, penurunan nafsu makan, dan penurunan aktivitas. Derajat dehidrasi ditentukan berdasarkan tanda klinis seperti mata cekung, mukosa mulut kering, penurunan turgor kulit, ubun-ubun cekung pada bayi, takikardia, CRT memanjang, dan penurunan produksi urin.
Tanda bahaya yang memerlukan evaluasi segera meliputi letargi, kejang, muntah terus-menerus, darah pada tinja, distensi abdomen, syok, atau ketidakmampuan minum.
Diagnosis
Diagnosis terutama ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan fokus pada penilaian derajat dehidrasi. Pemeriksaan laboratorium tidak diperlukan pada sebagian besar kasus ringan.
Pemeriksaan darah lengkap, elektrolit, fungsi ginjal, analisis gas darah, kultur darah, atau pemeriksaan tinja dilakukan pada kasus dengan dehidrasi berat, diare berdarah, dugaan sepsis, gangguan elektrolit, atau diare yang berkepanjangan.
Penatalaksanaan Terkini Berbasis Bukti
- Terapi utama adalah rehidrasi oral menggunakan ORS osmolaritas rendah WHO pada dehidrasi ringan hingga sedang, atau cairan intravena (Ringer Laktat atau NaCl 0,9%) pada dehidrasi berat atau syok. ASI dan pemberian makanan sesuai usia harus tetap dilanjutkan. WHO juga merekomendasikan suplementasi zinc selama 10–14 hari (10 mg/hari untuk bayi <6 bulan dan 20 mg/hari untuk anak ≥6 bulan) karena terbukti mengurangi durasi dan kekambuhan diare.
- Antibiotik tidak diberikan secara rutin dan hanya diindikasikan pada kolera, disentri akibat Shigella, demam tifoid, sepsis, atau infeksi bakteri yang terbukti. Obat antidiare seperti loperamide tidak dianjurkan pada anak karena risiko efek samping serius. Probiotik tertentu dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan, tetapi bukan pengganti rehidrasi.
Penatalaksanaan Diare Akut dan Dehidrasi pada Bayi dan Anak: Pendekatan Berbasis Bukti WHO, ESPGHAN, AAP, dan CDC
Tujuan utama terapi diare akut pada bayi dan anak adalah mencegah serta mengatasi dehidrasi, mempertahankan status nutrisi, mengurangi komplikasi, dan mengobati penyebab spesifik bila diperlukan. Sebagian besar kasus disebabkan oleh infeksi virus sehingga bersifat self-limited dan tidak memerlukan antibiotik. Penatalaksanaan modern menekankan rehidrasi oral sebagai terapi utama, pemberian zinc pada kelompok usia yang sesuai, mempertahankan pemberian ASI dan makanan, serta menghindari penggunaan obat antidiare yang tidak direkomendasikan.
Terapi Rehidrasi Oral (Oral Rehydration Therapy/ORT)
ORT merupakan terapi pilihan pertama pada diare akut dengan dehidrasi ringan hingga sedang.
Indikasi
- Diare akut dengan dehidrasi ringan.
- Diare akut dengan dehidrasi sedang.
- Anak masih mampu minum.
Larutan yang digunakan
- Oral Rehydration Solution (ORS) osmolaritas rendah WHO (75 mmol/L natrium).
Dosis
Tanpa dehidrasi
- Tambahan ORS setiap BAB cair:
- <2 tahun: 50–100 mL
- 2–10 tahun: 100–200 mL
10 tahun: sesuai kebutuhan.
Dehidrasi ringan–sedang
- 75 mL/kg selama 4 jam pertama.
- Evaluasi ulang setelah 4 jam.
Pemberian
- Sedikit demi sedikit.
- 5–10 mL tiap 1–2 menit.
- Bila muntah, hentikan 5–10 menit kemudian lanjutkan perlahan.
Terapi Cairan Intravena
Indikasi
- Dehidrasi berat.
- Syok hipovolemik.
- Penurunan kesadaran.
- Tidak dapat minum.
- Muntah terus-menerus.
- Ileus.
- Gagal ORT.
Pilihan cairan
- Ringer Laktat.
- NaCl 0,9%.
Resusitasi awal
Syok:
- 20 mL/kg bolus dalam 5–20 menit.
- Ulangi sesuai evaluasi.
Setelah sirkulasi membaik:
- Lanjutkan terapi defisit cairan dan kebutuhan rumatan.
Manfaat Zinc pada Diare Akut
- Zinc merupakan mikronutrien esensial yang berperan penting dalam regenerasi mukosa usus, fungsi sistem imun, sintesis protein, dan aktivitas berbagai enzim yang terlibat dalam proses penyembuhan jaringan. Pada diare akut, kehilangan zinc melalui tinja meningkat sehingga dapat memperburuk kerusakan mukosa usus dan memperpanjang perjalanan penyakit. Berbagai uji klinis dan meta-analisis menunjukkan bahwa suplementasi zinc dapat mempercepat perbaikan epitel usus, meningkatkan absorpsi air dan elektrolit, mengurangi sekresi cairan usus, serta memperkuat respons imun terhadap infeksi enterik. Oleh karena itu, WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian zinc selama 10–14 hari pada anak dengan diare akut sebagai bagian dari terapi standar bersama rehidrasi oral dan nutrisi yang adekuat.
- Secara klinis, pemberian zinc terbukti memperpendek durasi diare sekitar 12–24 jam, menurunkan volume tinja, mengurangi risiko diare persisten, serta menurunkan kejadian kekambuhan diare dalam 2–3 bulan berikutnya, terutama pada populasi dengan risiko defisiensi zinc. Manfaat terbesar ditemukan pada negara berkembang, termasuk Indonesia, di mana defisiensi zinc masih cukup sering dijumpai. Namun, suplementasi zinc tidak menggantikan terapi rehidrasi dan tidak direkomendasikan secara rutin pada neonatus karena bukti ilmiah mengenai keamanan dan efektivitasnya pada kelompok usia tersebut masih terbatas.
Manfaat Probiotik pada Diare Akut
- Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang, apabila diberikan dalam jumlah yang adekuat, memberikan manfaat kesehatan bagi pejamu melalui modulasi mikrobiota usus, peningkatan fungsi sawar mukosa, dan regulasi respons imun. Pada diare akut, beberapa strain probiotik seperti Lactobacillus rhamnosus GG, Limosilactobacillus reuteri DSM 17938, dan Saccharomyces boulardii telah diteliti secara luas. Probiotik bekerja dengan menghambat kolonisasi patogen melalui kompetisi terhadap tempat perlekatan di mukosa usus, menghasilkan zat antimikroba, meningkatkan produksi imunoglobulin A (IgA), serta mempercepat pemulihan keseimbangan mikrobiota usus setelah infeksi.
- Meskipun sejumlah penelitian menunjukkan bahwa probiotik tertentu dapat memperpendek durasi diare sekitar satu hari dan mengurangi lama rawat inap pada sebagian anak, besarnya manfaat relatif kecil dan sangat bergantung pada jenis strain, dosis, serta kualitas produk yang digunakan. Oleh karena itu, pedoman WHO tidak merekomendasikan probiotik sebagai terapi rutin, sedangkan AAP, ESPGHAN, dan IDAI menyatakan bahwa probiotik dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan pada kasus tertentu, tetapi tidak boleh menggantikan terapi utama berupa rehidrasi, pemberian zinc, nutrisi yang adekuat, dan ASI. Penggunaan probiotik juga harus dihindari pada anak dengan imunodefisiensi berat atau kondisi kritis karena adanya risiko infeksi oportunistik yang sangat jarang tetapi dapat terjadi.
Zinc
WHO dan UNICEF merekomendasikan zinc untuk seluruh anak dengan diare akut.
Dosis
- Usia <6 bulan: 10 mg/hari selama 10–14 hari.
- Usia ≥6 bulan: 20 mg/hari selama 10–14 hari
Manfaat
- Mempercepat penyembuhan.
- Mengurangi durasi diare.
- Mengurangi kekambuhan 2–3 bulan berikutnya.
- Menurunkan risiko rawat inap
Probiotik
- Probiotik bukan terapi wajib.
- ESPGHAN menyatakan beberapa strain memiliki manfaat sedang.
Strain dengan bukti terbaik
- Lactobacillus rhamnosus GG
- Saccharomyces boulardii
- Limosilactobacillus reuteri DSM 17938
Manfaat
- Memperpendek durasi diare sekitar 1 hari.
- Mempercepat pemulihan flora usus.
Tidak dianjurkan pada:
- Imunodefisiensi berat.
- Pasien dengan kateter vena sentral.
- Anak kritis tertentu.
Rekomendasi WHO, American Academy of Pediatrics (AAP), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tentang Pemberian Zinc dan Probiotik pada Diare Akut Anak
1. Rekomendasi WHO (World Health Organization)
A. Zinc WHO bersama UNICEF merekomendasikan pemberian zinc pada seluruh anak dengan diare akut sebagai bagian dari terapi standar, selain rehidrasi oral dan nutrisi adekuat.
Dosis WHO:
- Bayi <6 bulan: 10 mg/hari selama 10–14 hari.
- Anak ≥6 bulan: 20 mg/hari selama 10–14 hari.
Manfaat zinc menurut WHO
- Memperpendek durasi diare sekitar 20–25%.
- Mengurangi keparahan diare.
- Menurunkan risiko diare berulang dalam 2–3 bulan berikutnya.
- Menurunkan kebutuhan rawat inap.
- Menurunkan mortalitas akibat diare pada populasi dengan defisiensi zinc.
WHO menekankan bahwa zinc bukan pengganti ORS, melainkan terapi tambahan.
B. Probiotik
WHO tidak merekomendasikan probiotik sebagai terapi rutin untuk semua anak dengan diare akut.
Alasannya:
- Bukti efektivitas bervariasi.
- Efek sangat bergantung pada strain.
- Tidak semua negara memiliki produk dengan kualitas yang terjamin.
Terapi utama menurut WHO tetap:
- ORS.
- Zinc.
- Nutrisi.
- ASI
2. Rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP)
A. Zinc
AAP mengakui manfaat zinc terutama pada negara berkembang dengan prevalensi defisiensi zinc yang tinggi.
AAP menyatakan:
- Zinc bermanfaat terutama pada anak yang berisiko mengalami defisiensi zinc.
- Di negara maju, manfaatnya tidak sebesar di negara berkembang karena status gizi lebih baik.
Dengan demikian, AAP tidak mewajibkan pemberian zinc rutin pada semua anak, tetapi mengakui rekomendasi WHO untuk daerah dengan risiko tinggi.
B. Probiotik
AAP menyatakan:
Probiotik dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan pada anak sehat dengan gastroenteritis akut.
Namun:
- Manfaatnya relatif kecil (sekitar memperpendek diare ±1 hari).
- Tidak semua probiotik efektif.
- Efek tergantung strain.
AAP tidak menganjurkan probiotik secara rutin pada:
- imunodefisiensi,
- penyakit kritis,
- penggunaan kateter vena sentral,
- pasien dengan risiko sepsis.
3. Rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)
Panduan IDAI mengenai diare akut sejalan dengan WHO.
A. Zinc
IDAI merekomendasikan pemberian zinc pada seluruh anak dengan diare akut.
Dosis:
- <6 bulan: 10 mg/hari
- ≥6 bulan: 20 mg/hari
selama 10–14 hari.
IDAI menegaskan bahwa zinc:
- mempercepat penyembuhan,
- mengurangi kekambuhan,
- memperbaiki regenerasi mukosa usus,
- meningkatkan imunitas.
B. Probiotik
IDAI menyatakan bahwa probiotik bukan terapi utama.
Beberapa strain dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan, antara lain:
- Lactobacillus rhamnosus GG.
- Limosilactobacillus reuteri DSM 17938.
- Saccharomyces boulardii.
Namun manfaatnya:
- hanya memperpendek lama diare sekitar 1 hari,
- tidak menggantikan ORS maupun zinc,
- tergantung strain dan kualitas produk.
Perbandingan Rekomendasi
| Organisasi | Zinc | Probiotik |
|---|---|---|
| WHO | Direkomendasikan untuk semua anak dengan diare akut (<6 bulan: 10 mg/hari; ≥6 bulan: 20 mg/hari selama 10–14 hari) | Tidak direkomendasikan sebagai terapi rutin |
| AAP | Mengakui manfaat, terutama pada populasi berisiko defisiensi zinc; tidak mewajibkan untuk semua anak | Dapat dipertimbangkan pada anak sehat, bukan terapi rutin |
| IDAI | Direkomendasikan untuk seluruh anak dengan diare akut sesuai dosis WHO | Terapi tambahan pada strain tertentu, bukan terapi utama |
Catatan Penting
- Neonatus (<28 hari): Rekomendasi WHO untuk zinc ditujukan pada bayi dan anak secara umum. Bukti pada neonatus masih terbatas sehingga zinc maupun probiotik tidak direkomendasikan secara rutin pada neonatus kecuali atas pertimbangan dokter spesialis anak.
- Pada semua kelompok usia, rehidrasi oral/intravena, pemberian ASI atau nutrisi sesuai usia, dan identifikasi penyebab diare tetap merupakan pilar utama penatalaksanaan.
Nutrisi
ASI
- ASI harus tetap diberikan.
- Tidak perlu dihentikan.
Susu Formula
- Tetap dilanjutkan pada sebagian besar kasus.
- Formula bebas laktosa hanya dipertimbangkan bila terdapat intoleransi laktosa sekunder yang bermakna
Makanan
Segera diberikan kembali setelah rehidrasi.
Anjurkan:
- Bubur.
- Nasi.
- Kentang.
- Pisang.
- Sayuran.
- Daging.
- Telur.
Hindari puasa berkepanjangan.
Antibiotik
Antibiotik tidak diberikan secara rutin.
Indikasi
- Kolera.
- Disentri (Shigella).
- Demam tifoid.
- Sepsis.
- Infeksi bakteri terbukti.
- Kolitis berat.
Pemilihan antibiotik disesuaikan dengan hasil kultur dan pola resistensi lokal.
Obat Antidiare
Tidak direkomendasikan.
- Loperamide Tidak dianjurkan pada anak karena meningkatkan risiko ileus, depresi sistem saraf pusat, dan efek samping serius.
- Diphenoxylate-atropine Kontraindikasi pada anak kecil.
Obat Antiemetik
Ondansetron dapat dipertimbangkan pada anak dengan muntah berulang yang menghambat ORT, terutama di instalasi gawat darurat.
Dosis oral
- 8–15 kg: 2 mg
- 15–30 kg: 4 mg
- >30 kg: 6–8 mg
Tidak digunakan secara rutin di rumah.
Koreksi Gangguan Elektrolit
Periksa elektrolit pada:
- Dehidrasi berat.
- Syok.
- Gangguan kesadaran.
- Kejang.
- Diare berkepanjangan.
Gangguan yang sering ditemukan:
- Hiponatremia.
- Hipernatremia.
- Hipokalemia.
- Asidosis metabolik.
Koreksi dilakukan secara bertahap sesuai hasil laboratorium.
Indikasi Rawat Inap
- Dehidrasi berat.
- Syok.
- Gagal ORT.
- Kejang.
- Penurunan kesadaran.
- Bayi usia <3 bulan dengan diare berat.
- Malnutrisi berat.
- Penyakit penyerta berat.
- Dugaan sepsis.
Pencegahan
Pencegahan meliputi:
- ASI eksklusif selama 6 bulan.
- Imunisasi rotavirus sesuai jadwal.
- Cuci tangan dengan sabun.
- Air minum bersih.
- Sanitasi yang baik.
- Makanan yang higienis.
- Zinc pada episode diare sesuai rekomendasi.
Ringkasan Poin Penting
- ORT adalah terapi utama pada dehidrasi ringan–sedang.
- Ringer Laktat atau NaCl 0,9% digunakan pada dehidrasi berat atau syok.
- Zinc diberikan selama 10–14 hari (10 mg/hari untuk <6 bulan; 20 mg/hari untuk ≥6 bulan).
- ASI dan makanan tidak boleh dihentikan selama diare.
- Antibiotik hanya bila ada indikasi spesifik.
- Obat antidiare (misalnya loperamide) tidak dianjurkan pada anak.
- Probiotik tertentu dapat dipertimbangkan, tetapi bukan terapi utama.
- Edukasi orang tua mengenai tanda bahaya (tidak bisa minum, letargi, kejang, muntah terus-menerus, darah pada tinja, atau tanda dehidrasi berat) sangat penting untuk mencegah komplikasi
Prognosis
Sebagian besar anak dengan diare akut akan sembuh sempurna dalam waktu kurang dari satu minggu apabila mendapatkan rehidrasi yang adekuat. Prognosis sangat baik pada kasus ringan tanpa komplikasi.
Prognosis menjadi lebih buruk pada bayi usia muda, anak dengan malnutrisi, imunodefisiensi, penyakit penyerta berat, atau yang mengalami dehidrasi berat dan keterlambatan mendapatkan terapiPencegahan
Pencegahan dilakukan melalui pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, imunisasi rotavirus sesuai jadwal, penggunaan air bersih, sanitasi yang baik, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, penyimpanan makanan yang higienis, dan edukasi keluarga mengenai tanda bahaya diare.
Pemberian zinc selama episode diare, peningkatan status gizi, serta akses terhadap pelayanan kesehatan yang cepat juga berperan penting dalam menurunkan angka komplikasi dan kematian akibat diare.
Ringkasan Poin Penting
- Diare akut adalah buang air besar cair ≥3 kali/hari selama <14 hari.
- Penyebab tersering adalah infeksi virus, terutama rotavirus.
- Rehidrasi oral merupakan terapi utama pada dehidrasi ringan–sedang.
- Cairan intravena diberikan pada dehidrasi berat atau syok.
- Zinc diberikan selama 10–14 hari sesuai rekomendasi WHO.
- ASI dan makanan tidak boleh dihentikan selama diare.
- Antibiotik hanya diberikan pada indikasi tertentu.
- Pencegahan terbaik meliputi ASI eksklusif, imunisasi rotavirus, sanitasi, dan higiene.
Daftar Pustaka (Format AMA)
- World Health Organization. Pocket Book of Hospital Care for Children: Guidelines for the Management of Common Childhood Illnesses. 3rd ed. Geneva: World Health Organization; 2022. Available from: https://www.who.int/publications/i/item/9789241548373
- Guarino A, Lo Vecchio A, Dias JA, et al. European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition/European Society for Paediatric Infectious Diseases Guidelines for the Management of Acute Gastroenteritis in Children. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2024;78(2):386-414.
- American Academy of Pediatrics. Red Book: 2024–2027 Report of the Committee on Infectious Diseases. 33rd ed. Itasca, IL: American Academy of Pediatrics; 2024.
- Centers for Disease Control and Prevention. Managing Acute Gastroenteritis Among Children: Oral Rehydration, Maintenance, and Nutritional Therapy. Available from: https://www.cdc.gov/nutrition/infantandtoddlernutrition/diarrhea-and-vomiting.html
- World Health Organization, UNICEF. Clinical Management of Acute Diarrhoea. Geneva: World Health Organization; 2004. Available from: https://www.who.int/publications/i/item/9241593180
- World Health Organization. Pocket Book of Hospital Care for Children. 3rd ed. Geneva: World Health Organization; 2022. Available from: https://www.who.int/publications/i/item/9789241548373
- American Academy of Pediatrics. Red Book: 2024–2027 Report of the Committee on Infectious Diseases. 33rd ed. Itasca, IL: American Academy of Pediatrics; 2024.
- Guarino A, Lo Vecchio A, Dias JA, et al. European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition/European Society for Paediatric Infectious Diseases Guidelines for the Management of Acute Gastroenteritis in Children. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2024;78(2):386-414.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Rekomendasi Penatalaksanaan Diare Akut pada Anak. Jakarta: IDAI. (Pedoman nasional yang digunakan di Indonesia).











Leave a Reply