DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Penanganan Asma dan Status Asmatikus pada Bayi dan Anak: Tinjauan Ilmiah Berbasis Evidence-Based Medicine Menurut GINA, AAP, PALS, dan WHO

Penanganan Asma dan Status Asmatikus pada Bayi dan Anak: Tinjauan Ilmiah Berbasis Evidence-Based Medicine Menurut GINA, AAP, PALS, dan WHO

Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang paling sering dijumpai pada anak dan menjadi penyebab utama kunjungan ke instalasi gawat darurat, rawat inap, serta absensi sekolah di seluruh dunia. Status asmatikus merupakan eksaserbasi asma berat yang tidak memberikan respons adekuat terhadap terapi bronkodilator awal sehingga dapat berkembang menjadi gagal napas dan henti jantung apabila tidak ditangani secara cepat. Penatalaksanaan modern menekankan identifikasi derajat keparahan, pemberian bronkodilator inhalasi kerja cepat, kortikosteroid sistemik dini, terapi oksigen terkontrol, serta eskalasi terapi sesuai respons klinis. Pendekatan berbasis bukti telah terbukti menurunkan angka rawat inap, kebutuhan ventilasi mekanik, dan mortalitas.

Pedoman Global Initiative for Asthma (GINA), American Academy of Pediatrics (AAP), American Heart Association Pediatric Advanced Life Support (PALS), dan World Health Organization (WHO) menekankan bahwa tata laksana asma akut harus dilakukan secara sistematis dengan pemantauan ketat terhadap oksigenasi, ventilasi, dan tanda kelelahan otot napas. Pada status asmatikus, terapi dapat meliputi nebulisasi β2-agonis berulang atau kontinu, ipratropium bromida, kortikosteroid sistemik, magnesium sulfat intravena, hingga ventilasi mekanik pada kasus refrakter. Artikel ini membahas definisi, epidemiologi, faktor risiko, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan berbasis bukti, prognosis, dan pencegahan asma serta status asmatikus pada bayi dan anak.

Pendahuluan

Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang ditandai oleh hiperrespons bronkus, obstruksi jalan napas yang bersifat reversibel, dan inflamasi persisten. Penyakit ini mengenai lebih dari 260 juta orang di dunia dan merupakan salah satu penyakit kronis tersering pada anak. Serangan asma dapat dipicu oleh infeksi virus saluran napas, paparan alergen, aktivitas fisik, perubahan cuaca, polusi udara, maupun asap rokok. Pada sebagian besar pasien, tata laksana yang baik dapat mengendalikan gejala dan mencegah eksaserbasi berat.

Status asmatikus merupakan bentuk paling berat dari eksaserbasi asma, ditandai dengan obstruksi jalan napas yang progresif dan tidak membaik setelah terapi bronkodilator awal. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis yang memerlukan penanganan segera karena dapat menyebabkan hipoksemia, hiperkapnia, kelelahan otot napas, pneumotoraks, hingga henti jantung akibat gagal napas. Oleh karena itu, setiap tenaga kesehatan harus memahami algoritma penanganan berdasarkan pedoman internasional terbaru.

Definisi

Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran napas yang ditandai oleh episode berulang mengi (wheezing), batuk, sesak napas, dan rasa berat di dada akibat obstruksi jalan napas yang bervariasi dan umumnya reversibel.

Status asmatikus adalah eksaserbasi asma berat yang menetap meskipun telah diberikan terapi bronkodilator awal secara adekuat dan memerlukan terapi intensif atau perawatan di rumah sakit.

Definisi Asma Ringan, Sedang, dan Berat pada Bayi dan Anak

Berdasarkan GINA 2025, British Thoracic Society (BTS), Pediatric Advanced Life Support (PALS), dan Canadian Paediatric Society

Pada praktik klinis, derajat serangan asma (acute asthma exacerbation) dinilai berdasarkan gejala, tanda vital, penggunaan otot bantu napas, kemampuan berbicara atau menyusu, saturasi oksigen, dan bila memungkinkan Peak Expiratory Flow (PEF) atau FEV₁.

ParameterAsma RinganAsma SedangAsma Berat / Status Asmatikus
KesadaranBaikBaik, mulai gelisahGelisah berat, mengantuk, penurunan kesadaran
AktivitasMasih dapat bermainAktivitas berkurangTidak mampu bermain, tidak mampu berjalan
Bicara / MenyusuKalimat lengkap, menyusu baikKalimat pendek, menyusu berkurangKata per kata atau tidak mampu bicara/menyusu
Frekuensi napasSedikit meningkatMeningkat jelasSangat cepat atau melambat akibat kelelahan
RetraksiMinimalSedangBerat, penggunaan otot bantu napas nyata
Mengi (wheezing)EkspirasiInspirasi dan ekspirasiSangat keras atau justru silent chest
Frekuensi jantungSedikit meningkatTakikardiaTakikardia berat, dapat menjadi bradikardia terminal
SpO₂≥95%92–95%<92%
PEF / FEV₁≥70% prediksi40–69% prediksi<40% prediksi

1. Asma Ringan

Asma ringan ditandai dengan sesak napas ringan, mengi, dan batuk, tetapi anak masih dapat berbicara dengan kalimat lengkap, bermain, atau menyusu dengan baik. Retraksi dinding dada minimal atau tidak ada, saturasi oksigen umumnya ≥95%, dan respons terhadap bronkodilator cepat.

Sebagian besar pasien dapat ditangani dengan salbutamol inhalasi menggunakan spacer atau nebulizer, kemudian diobservasi. Bila gejala membaik dan tidak ada faktor risiko, pasien dapat dipulangkan dengan edukasi dan rencana tindak lanjut.

2. Asma Sedang

Asma sedang ditandai dengan sesak napas yang lebih nyata sehingga aktivitas anak terganggu. Anak hanya mampu berbicara dalam kalimat pendek atau menyusu lebih sedikit, dengan takipnea, retraksi sedang, dan mengi inspirasi-ekspirasi. Saturasi oksigen biasanya 92–95%.

Penatalaksanaan meliputi oksigen bila diperlukan, salbutamol inhalasi berulang, ipratropium bromida, dan kortikosteroid sistemik sedini mungkin. Pasien harus dievaluasi kembali setelah 1 jam untuk menentukan kebutuhan rawat inap.

3. Asma Berat

Asma berat merupakan keadaan gawat darurat yang ditandai oleh obstruksi jalan napas berat dengan peningkatan kerja napas yang signifikan. Anak tampak sangat sesak, tidak mampu berbicara atau menyusu, menggunakan seluruh otot bantu napas, dengan saturasi oksigen <92%. Pada pemeriksaan dapat ditemukan silent chest akibat aliran udara yang sangat minimal, yang merupakan tanda sangat berat.

Penanganan harus segera meliputi oksigen konsentrasi tinggi, nebulisasi salbutamol berulang atau kontinu, ipratropium bromida, kortikosteroid intravena, dan magnesium sulfat intravena. Pasien memerlukan perawatan di rumah sakit, dan bila tidak membaik harus dirawat di PICU.

4. Status Asmatikus

Status asmatikus adalah eksaserbasi asma berat yang tidak memberikan respons adekuat terhadap terapi bronkodilator awal dan kortikosteroid, sehingga menimbulkan gangguan ventilasi progresif dan berisiko menyebabkan gagal napas. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis yang memerlukan terapi intensif.

Tanda-tanda status asmatikus meliputi:

  • Sesak napas sangat berat.
  • Tidak mampu berbicara atau menyusu.
  • Penggunaan otot bantu napas berat.
  • Silent chest.
  • Hipoksemia persisten.
  • Hiperkapnia progresif.
  • Penurunan kesadaran.
  • Kelelahan otot napas.

Terapi mencakup nebulisasi salbutamol kontinu, ipratropium bromida, kortikosteroid intravena, magnesium sulfat, pertimbangan terbutalin intravena atau ketamin, dan bila terjadi gagal napas dilakukan intubasi endotrakeal serta ventilasi mekanik.

Epidemiologi

Asma merupakan penyakit kronis tersering pada anak dengan prevalensi global sekitar 5–15%, bergantung pada wilayah dan metode survei. WHO memperkirakan lebih dari 260 juta orang hidup dengan asma, dengan beban terbesar pada anak dan remaja.

Di Indonesia, prevalensi asma anak diperkirakan berkisar 4–8%. Status asmatikus merupakan penyebab penting rawat inap dan perawatan di unit perawatan intensif anak (PICU), meskipun angka kematian telah menurun dengan penerapan pedoman berbasis bukti.

Faktor Risiko

Faktor risiko meliputi riwayat atopi atau asma dalam keluarga, dermatitis atopik, rinitis alergi, sensitisasi terhadap alergen, infeksi virus saluran napas, paparan asap rokok, polusi udara, obesitas, prematuritas, dan paparan alergen dalam rumah.

Risiko status asmatikus meningkat pada anak dengan riwayat rawat inap karena asma, penggunaan β2-agonis kerja cepat yang berlebihan, kepatuhan buruk terhadap kortikosteroid inhalasi, serta keterlambatan mencari pertolongan medis.

Patofisiologi

Asma ditandai oleh inflamasi kronis saluran napas yang melibatkan eosinofil, limfosit T helper tipe 2, mastosit, dan mediator inflamasi seperti leukotrien dan interleukin. Inflamasi menyebabkan edema mukosa, bronkospasme, hipersekresi mukus, dan remodeling saluran napas sehingga meningkatkan resistensi aliran udara.

Pada status asmatikus, bronkospasme berat menyebabkan hiperinflasi paru, peningkatan kerja napas, gangguan ventilasi-perfusi, hipoksemia, dan pada tahap lanjut retensi karbon dioksida akibat kelelahan otot pernapasan. Kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal napas apabila tidak segera ditangani.

Manifestasi Klinis

Gejala asma meliputi batuk berulang terutama malam hari, mengi, sesak napas, napas cepat, penggunaan otot bantu napas, dan penurunan toleransi aktivitas.

Pada status asmatikus ditemukan takipnea berat, retraksi hebat, kesulitan berbicara atau menyusu, saturasi oksigen <92%, takikardia, penurunan suara napas (silent chest), kelelahan, perubahan kesadaran, hingga henti napas pada fase terminal.

Diagnosis

Diagnosis didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan bila memungkinkan pemeriksaan fungsi paru (spirometri pada anak ≥5–6 tahun). Variabilitas gejala dan respons terhadap bronkodilator merupakan karakteristik utama asma.

Pada eksaserbasi berat dilakukan pemantauan saturasi oksigen, analisis gas darah bila diperlukan, foto toraks bila dicurigai komplikasi (pneumotoraks, pneumonia), serta pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi klinis.

Penatalaksanaan Terkini Berbasis Bukti (GINA, WHO, AAP, PALS)

  • Terapi awal meliputi pemberian oksigen untuk mempertahankan saturasi 94–98%, inhalasi salbutamol melalui MDI dengan spacer atau nebulizer, serta ipratropium bromida pada serangan sedang hingga berat. Kortikosteroid sistemik (prednisolon oral atau metilprednisolon intravena) diberikan sedini mungkin karena terbukti menurunkan kebutuhan rawat inap dan mempercepat pemulihan.
  • Pada status asmatikus yang tidak membaik diberikan nebulisasi β2-agonis kontinu, magnesium sulfat intravena (25–50 mg/kg, maksimum 2 g), serta dipertimbangkan aminofilin atau adrenalin hanya pada indikasi tertentu. Bila terjadi kelelahan napas, hiperkapnia progresif, atau penurunan kesadaran, pasien harus dirawat di PICU dan dipertimbangkan ventilasi mekanik oleh tim yang berpengalaman.

Tabel Terapi Medikamentosa Asma Akut dan Status Asmatikus pada Bayi dan Anak (Berdasarkan GINA 2025, AAP, PALS/AHA, BTS/SIGN, dan ESPR)

ObatDosis Bayi dan AnakIndikasiCara PemberianEfek Samping UtamaKeterangan
Salbutamol (Albuterol)MDI: 4–10 puff setiap 20 menit × 3; Nebulisasi: 0,15 mg/kg (minimal 2,5 mg; maksimal 5 mg) tiap 20 menit × 3, kemudian sesuai responsSemua eksaserbasi asmaInhalasi (MDI + spacer atau nebulizer)Tremor, takikardia, hipokalemiaBronkodilator pilihan pertama
Salbutamol kontinu0,5 mg/kg/jam (maksimum ±20 mg/jam)Status asmatikus beratNebulisasi kontinuTakikardia, hipokalemiaDilakukan di PICU atau ruang intensif
Ipratropium bromida<20 kg: 250 µg; ≥20 kg: 500 µg, tiap 20 menit × 3 dosisAsma sedang–beratNebulisasiMulut kering, iritasiDikombinasi dengan salbutamol
Prednisolon1–2 mg/kg/hari (maksimum 40–50 mg) selama 3–5 hariEksaserbasi sedang–beratOralMual, hiperglikemiaDiberikan sedini mungkin
Metilprednisolon1–2 mg/kg/dosis IV setiap 6 jamTidak dapat minum atau status asmatikusIntravenaHiperglikemia, hipertensiAlternatif prednisolon
Hidrokortison4–6 mg/kg IV setiap 6 jamAlternatif kortikosteroid IVIntravenaRetensi cairanDigunakan bila metilprednisolon tidak tersedia
Magnesium sulfat25–50 mg/kg IV (maksimum 2 g) selama 20–30 menitStatus asmatikus berat yang tidak respons terhadap terapi awalIntravenaHipotensi, flushingDirekomendasikan GINA dan PALS
TerbutalinBolus 10 µg/kg IV, kemudian infus 0,1–10 µg/kg/menitStatus asmatikus refrakterIV/SubkutanTakikardia, tremorBila nebulisasi tidak efektif
Epinefrin (Adrenalin)0,01 mg/kg IM (1:1000), maksimum 0,5 mgAnafilaksis atau bronkospasme berat tertentuIntramuskularTakikardia, hipertensiBukan terapi rutin asma
AminofilinLoading 5–6 mg/kg IV selama 20–30 menit, lalu infus 0,5–1 mg/kg/jamKasus refrakter (jarang digunakan)IntravenaAritmia, muntah, kejangTidak direkomendasikan sebagai terapi rutin
Ketamin1–2 mg/kg IV, dilanjutkan infus 0,5–2 mg/kg/jamIntubasi atau bronkospasme refrakterIVHipersalivasi, halusinasiMemiliki efek bronkodilator
Heliox (Helium–Oksigen)Sesuai alatObstruksi berat tertentuInhalasiMinimalFasilitas terbatas

Contoh nama dagang (merek dagang) yang umum dikenal. Nama dagang dapat berbeda menurut negara, produsen, dan ketersediaan di rumah sakit. Dalam praktik klinis, pedoman GINA, AAP, dan WHO menganjurkan penggunaan nama generik untuk menghindari kekeliruan obat.

Nama GenerikContoh Nama Dagang
Salbutamol (Albuterol)Ventolin®, Asthalin®, Salbutamol OGB Dexa®, Salbutamol Kimia Farma®, Salbulin®
Ipratropium bromidaAtrovent®
Salbutamol + IpratropiumCombivent®, Duovent®
PrednisolonPrednison® (beberapa produsen), Lexacort®, Prednol®, Prednicort®
MetilprednisolonMedrol®, Solu-Medrol®, Methylprednisolone OGB Dexa®, Methylprednisolone Kimia Farma®
HidrokortisonSolu-Cortef®, Hydrocortisone Kalbe®, Hydrocortisone OGB Dexa®
Magnesium sulfatMagnesium Sulfate OGB®, Magnesium Sulfat Kimia Farma® (sediaan injeksi; umumnya dipasarkan sebagai nama generik)
TerbutalinBricanyl®
Epinefrin (Adrenalin)Adrenalin® (ampul generik), Epinephrine Aguettant® (di beberapa negara)
AminofilinAminophylline OGB Dexa®, Aminofilin Kimia Farma®, Euphyllin® (beberapa negara)
KetaminKetalar®, Ketamine Kalbe®, Ketamine OGB Dexa®
Heliox (campuran Helium–Oksigen)Tidak memiliki nama dagang baku; dipasarkan sebagai Heliox® atau campuran helium–oksigen oleh pemasok gas medis.

Catatan penting:

  • Nama dagang dapat berbeda antarnegara dan dapat berubah sesuai registrasi masing-masing perusahaan farmasi.
  • Di rumah sakit di Indonesia, obat-obatan kegawatdaruratan umumnya tersedia dalam sediaan generik sesuai Formularium Nasional dan Formularium Kementerian Kesehatan.

Catatan Penting Berdasarkan Pedoman Terbaru

  • Terapi utama: oksigen, salbutamol inhalasi, dan kortikosteroid sistemik.
  • Ipratropium bromida direkomendasikan pada serangan asma sedang hingga berat.
  • Magnesium sulfat intravena diberikan bila respons terhadap terapi awal kurang memadai.
  • Aminofilin tidak lagi direkomendasikan secara rutin oleh GINA dan AAP karena manfaatnya terbatas dan risiko efek samping serius lebih tinggi dibandingkan terapi inhalasi modern.
  • Antibiotik tidak diberikan secara rutin, kecuali terdapat bukti infeksi bakteri (misalnya pneumonia atau sinusitis bakterial).
  • Mukolitik, obat penenang (sedatif), dan obat antitusif tidak dianjurkan pada serangan asma akut karena dapat memperburuk obstruksi jalan napas.

Rekomendasi Tahapan Terapi Medikamentosa Asma Akut dan Status Asmatikus pada Bayi dan Anak

Berdasarkan GINA 2025, AAP, PALS (AHA), BTS/SIGN, dan ERS

Pedoman internasional menekankan bahwa terapi diberikan secara bertahap (stepwise) sesuai derajat keparahan serangan dan respons terhadap pengobatan.

TahapanTerapi MedikamentosaDosisTujuan
Tahap 1 (5–10 menit pertama)OksigenTarget SpO₂ 94–98%Mengatasi hipoksemia
Salbutamol inhalasiMDI 4–10 puff atau nebulisasi 2,5–5 mg tiap 20 menit ×3Bronkodilatasi cepat
Tahap 2 (10–20 menit)Ipratropium bromida250–500 µg nebulisasi tiap 20 menit ×3Menambah efek bronkodilator
Kortikosteroid sistemikPrednisolon 1–2 mg/kg PO atau Metilprednisolon 1–2 mg/kg IVMengurangi inflamasi
Tahap 3 (30–60 menit)Nebulisasi salbutamol berulang/kontinu0,5 mg/kg/jam (maks. ±20 mg/jam)Bila respons belum adekuat
Magnesium sulfat IV25–50 mg/kg (maks. 2 gram)Bronkodilator tambahan
Tahap 4 (Status asmatikus refrakter)Terbutalin IV/SCBolus 10 µg/kg, infus 0,1–10 µg/kg/menitBronkodilator sistemik
Ketamin1–2 mg/kg IV, infus 0,5–2 mg/kg/jamSedasi sekaligus bronkodilator
Aminofilin*Loading 5–6 mg/kg, infus 0,5–1 mg/kg/jamHanya bila terapi lain gagal
Tahap 5 (Gagal napas)Intubasi dan ventilasi mekanikSesuai protokol PICUMengatasi gagal napas

*Aminofilin tidak lagi direkomendasikan sebagai terapi rutin oleh GINA maupun AAP karena manfaatnya terbatas dan risiko efek samping lebih tinggi.

Algoritma Terapi Berdasarkan Derajat Serangan

1. Asma Ringan

Terapi

  • Salbutamol inhalasi (MDI + spacer lebih disukai).
  • Observasi 30–60 menit.
  • Bila membaik → pulang dengan edukasi dan pengobatan rumatan bila diperlukan.

2. Asma Sedang

Terapi

  • Oksigen bila SpO₂ <94%.
  • Salbutamol setiap 20 menit selama 1 jam.
  • Ipratropium bromida.
  • Kortikosteroid oral sedini mungkin.

Evaluasi ulang setelah 60 menit.

3. Asma Berat

Terapi

  • Oksigen.
  • Salbutamol nebulisasi kontinu atau berulang.
  • Ipratropium bromida.
  • Kortikosteroid IV.
  • Magnesium sulfat IV.

Rawat inap dan observasi ketat.

4. Status Asmatikus

Terapi Intensif

  • Salbutamol kontinu.
  • Ipratropium.
  • Kortikosteroid IV.
  • Magnesium sulfat IV.
  • Terbutalin IV bila perlu.
  • Pertimbangkan ketamin.
  • PICU.

5. Status Asmatikus Mengancam Jiwa

Tanda:

  • Silent chest.
  • Bradikardia.
  • Hiperkapnia progresif.
  • Penurunan kesadaran.
  • Henti napas.

Terapi

  • Intubasi endotrakeal.
  • Ventilasi mekanik.
  • Sedasi (ketamin sering dipilih).
  • Bronkodilator kontinu.
  • PICU.

Obat yang Direkomendasikan sebagai Lini Pertama

UrutanObatKekuatan Rekomendasi
1Salbutamol inhalasiSangat kuat (GINA, AAP, PALS)
2OksigenSangat kuat
3Kortikosteroid sistemikSangat kuat
4Ipratropium bromidaKuat pada asma sedang–berat
5Magnesium sulfat IVKuat pada status asmatikus berat
6Terbutalin IVKondisional
7KetaminKondisional
8AminofilinTidak direkomendasikan rutin

Obat yang Tidak Direkomendasikan Rutin

Menurut GINA 2025, AAP, PALS, BTS/SIGN, dan ERS, obat berikut tidak dianjurkan sebagai terapi rutin:

  • Antibiotik (tanpa infeksi bakteri).
  • Mukolitik.
  • Antitusif.
  • Antihistamin untuk serangan asma akut.
  • Sedatif (kecuali untuk intubasi).
  • Cairan berlebihan tanpa indikasi.

Target Keberhasilan Terapi

  • Saturasi oksigen 94–98%.
  • Frekuensi napas membaik sesuai usia.
  • Wheezing dan retraksi berkurang.
  • Anak dapat berbicara atau menyusu dengan baik.
  • Peak Expiratory Flow (PEF) atau FEV₁ ≥60–80% dari nilai prediksi (bila dapat diukur).
  • Tidak memerlukan bronkodilator berulang dalam waktu singkat.
  • Tidak terdapat tanda kelelahan napas atau gangguan kesadaran.

Pedoman ini konsisten dengan rekomendasi Global Initiative for Asthma (GINA) 2025, American Academy of Pediatrics (AAP), American Heart Association Pediatric Advanced Life Support (PALS), British Thoracic Society/Scottish Intercollegiate Guidelines Network (BTS/SIGN), dan European Respiratory Society (ERS).

Monitoring Selama Terapi

Parameter yang harus dipantau meliputi:

  • Frekuensi napas.
  • Frekuensi jantung.
  • Saturasi oksigen (target 94–98%).
  • Skor distres napas dan penggunaan otot bantu napas.
  • Peak Expiratory Flow (PEF) atau FEV₁ bila memungkinkan.
  • Analisis gas darah pada status asmatikus berat atau tanda gagal napas.
  • Kadar kalium darah bila menggunakan β₂-agonis dosis tinggi atau kontinu.

Tabel ini disusun berdasarkan rekomendasi GINA 2025, American Academy of Pediatrics (AAP), PALS/AHA 2020, British Thoracic Society/Scottish Intercollegiate Guidelines Network (BTS/SIGN), dan European Respiratory Society (ERS).

Prognosis

Dengan diagnosis dini dan terapi yang tepat, sebagian besar anak memiliki prognosis yang baik dan dapat mencapai kontrol gejala optimal. Mortalitas akibat asma anak relatif rendah, tetapi meningkat secara signifikan pada status asmatikus yang terlambat ditangani.

Faktor yang memperburuk prognosis meliputi kepatuhan pengobatan yang rendah, paparan asap rokok, tidak menggunakan kortikosteroid inhalasi pada asma persisten, riwayat intubasi sebelumnya, dan penyakit penyerta seperti obesitas atau penyakit paru kronis.

Pencegahan

Pencegahan eksaserbasi dilakukan melalui penggunaan kortikosteroid inhalasi sesuai tingkat keparahan, edukasi keluarga mengenai teknik inhalasi yang benar, penghindaran pencetus, pengendalian rinitis alergi, imunisasi influenza sesuai indikasi, dan pemantauan berkala.

Setiap pasien sebaiknya memiliki Asthma Action Plan yang menjelaskan cara mengenali perburukan gejala, penggunaan obat pereda, dan kapan harus segera mencari pertolongan medis.

Ringkasan Poin Penting

  • Asma merupakan inflamasi kronis saluran napas dengan obstruksi yang umumnya reversibel.
  • Status asmatikus adalah kegawatdaruratan yang memerlukan terapi segera.
  • Oksigen, salbutamol inhalasi, dan kortikosteroid sistemik merupakan terapi utama.
  • Ipratropium bromida dianjurkan pada serangan sedang–berat.
  • Magnesium sulfat intravena diberikan pada kasus berat yang tidak respons terhadap terapi awal.
  • Ventilasi mekanik dipertimbangkan bila terjadi gagal napas.
  • Pencegahan terbaik adalah kontrol asma jangka panjang dengan kortikosteroid inhalasi dan edukasi keluarga.

Daftar Pustaka 

  • Global Initiative for Asthma (GINA). Global Strategy for Asthma Management and Prevention 2025. Available from: https://ginasthma.org
  • World Health Organization. Asthma Fact Sheet. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/asthma
  • Topjian AA, Raymond TT, Atkins D, et al. Pediatric Advanced Life Support: 2020 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2020;142(16_suppl_2):S469-S523.
  • American Academy of Pediatrics. Red Book: 2024–2027 Report of the Committee on Infectious Diseases. 33rd ed. Itasca, IL: American Academy of Pediatrics; 2024.
  • Global Initiative for Asthma. Global Strategy for Asthma Management and Prevention 2025. Available from: https://ginasthma.org
  • Topjian AA, Raymond TT, Atkins D, et al. Pediatric Advanced Life Support: 2020 American Heart Association Guidelines for CPR and ECC. Circulation. 2020;142(16 Suppl 2):S469-S523.
  • British Thoracic Society, Scottish Intercollegiate Guidelines Network. British Guideline on the Management of Asthma. Available from: https://www.brit-thoracic.org.uk
  • Canadian Paediatric Society. Managing an Acute Asthma Exacerbation in Children. Available from: https://cps.ca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *