Penanganan Kejang Demam pada Neonatus, Bayi, dan Anak: Pendekatan Berbasis Evidence-Based Medicine Menurut AAP, ILAE, PALS, WHO, dan IDAI
Abstrak
Kejang demam merupakan kejang yang terjadi bersamaan dengan demam tanpa adanya infeksi sistem saraf pusat, gangguan metabolik, atau riwayat epilepsi sebelumnya. Kejang demam merupakan kejang tersering pada anak usia 6–60 bulan dengan angka kejadian sekitar 2–5% populasi anak. Sebagian besar kejang demam bersifat sederhana (simple febrile seizure) dan memiliki prognosis yang sangat baik, sedangkan kejang demam kompleks memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan penyebab neurologis lain. Tata laksana modern menekankan stabilisasi jalan napas, penghentian kejang yang berlangsung lama, identifikasi penyebab demam, serta edukasi keluarga. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan antiepilepsi jangka panjang maupun intermiten secara rutin tidak direkomendasikan pada kejang demam sederhana karena risiko efek samping lebih besar dibandingkan manfaatnya.
Pedoman American Academy of Pediatrics (AAP), International League Against Epilepsy (ILAE), American Heart Association Pediatric Advanced Life Support (PALS), World Health Organization (WHO), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa terapi utama meliputi penanganan ABC, pemberian benzodiazepin bila kejang berlangsung ≥5 menit, serta evaluasi penyebab demam. Pemeriksaan laboratorium, EEG, maupun pencitraan otak tidak dilakukan secara rutin pada kejang demam sederhana, tetapi hanya berdasarkan indikasi klinis.
Pendahuluan
Kejang demam merupakan salah satu kegawatdaruratan neurologi yang paling sering dijumpai pada pelayanan kesehatan anak. Meskipun tampak dramatis dan menimbulkan kecemasan yang besar pada orang tua, sebagian besar kejang demam merupakan kondisi jinak dengan prognosis yang sangat baik. Insidens tertinggi terjadi pada usia 12–18 bulan, dan sekitar sepertiga pasien akan mengalami kekambuhan pada episode demam berikutnya. Risiko berkembang menjadi epilepsi di kemudian hari hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan populasi umum, terutama pada kejang demam sederhana.
Penatalaksanaan berbasis bukti telah mengalami perubahan penting dalam dua dekade terakhir. Fokus utama tidak lagi pada pencegahan kekambuhan dengan obat antiepilepsi, melainkan pada stabilisasi pasien, penghentian kejang yang berkepanjangan, identifikasi penyebab demam, dan edukasi keluarga. Pendekatan ini terbukti mengurangi tindakan diagnostik yang tidak perlu, menurunkan biaya pelayanan kesehatan, serta menghindari efek samping obat antiepilepsi yang tidak sebanding dengan manfaatnya.
Definisi
Neonatus (<28 hari)
Kejang yang disertai demam pada neonatus tidak disebut kejang demam. Setiap neonatus dengan demam dan kejang harus dianggap mengalami infeksi sistem saraf pusat, sepsis, gangguan metabolik, perdarahan intrakranial, atau kelainan neurologis hingga terbukti sebaliknya. Oleh karena itu, tata laksana berbeda dengan kejang demam pada bayi dan anak.
Bayi dan Anak (6–60 bulan)
AAP mendefinisikan kejang demam sebagai kejang yang terjadi pada anak usia 6–60 bulan dengan suhu ≥38°C tanpa bukti infeksi sistem saraf pusat, gangguan metabolik akut, atau riwayat kejang afebril sebelumnya. Kejang demam dibagi menjadi:
- Kejang demam sederhana: berlangsung <15 menit, bersifat umum (generalisata), dan hanya sekali dalam 24 jam.
- Kejang demam kompleks: berlangsung ≥15 menit, bersifat fokal, atau berulang dalam 24 jam.
Epidemiologi
- Insidens 2–5% anak usia 6–60 bulan.
- Puncak usia 12–18 bulan.
- Sekitar 30–35% mengalami kekambuhan.
- Risiko epilepsi setelah kejang demam sederhana sekitar 2–3%.
Faktor Risiko
- Riwayat keluarga kejang demam.
- Demam tinggi yang timbul cepat.
- Infeksi virus (influenza, HHV-6, adenovirus).
- Usia <18 bulan.
- Prematuritas.
- Keterlambatan perkembangan.
- Riwayat NICU.
Patofisiologi
Demam meningkatkan eksitabilitas neuron pada otak yang masih imatur. Sitokin proinflamasi seperti IL-1β, IL-6, dan TNF-α meningkatkan aktivitas neuronal sehingga ambang kejang menurun. Faktor genetik berperan penting melalui mutasi pada kanal ion tertentu.
Manifestasi Klinis
Kejang demam sederhana
- Generalisata tonik-klonik.
- Durasi <15 menit.
- Tidak berulang dalam 24 jam.
- Pulih sempurna.
Kejang demam kompleks
- Durasi ≥15 menit.
- Fokal.
- Berulang.
- Defisit neurologis sementara dapat ditemukan.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan:
- Riwayat demam.
- Pemeriksaan neurologis.
- Mencari penyebab demam.
Pada kejang demam sederhana:
- EEG tidak rutin.
- CT/MRI tidak rutin.
- Laboratorium hanya bila ada indikasi.
- Pungsi lumbal bila dicurigai meningitis.
Tabel Gejala Kejang Demam pada Bayi dan Anak
| Parameter Klinis | Kejang Demam Sederhana | Kejang Demam Kompleks | Kondisi yang Mengarah ke Penyebab Lain (Red Flags) |
|---|---|---|---|
| Usia | 6–60 bulan | 6–60 bulan | <6 bulan atau >5 tahun (curiga penyebab lain) |
| Demam | ≥38°C | ≥38°C | Demam tidak jelas atau tanpa demam |
| Jenis kejang | Generalisata (tonik-klonik) | Fokal atau generalisata | Fokal menetap, spasme infantil, mioklonus |
| Durasi kejang | <15 menit | ≥15 menit | >30 menit (status epileptikus) |
| Frekuensi | Sekali dalam 24 jam | Berulang dalam 24 jam | Berulang terus tanpa sadar penuh |
| Kesadaran setelah kejang | Cepat pulih | Pulih lebih lambat | Tidak sadar berkepanjangan |
| Defisit neurologis | Tidak ada | Dapat ada sementara (Todd’s paresis) | Defisit menetap |
| Meningismus | Tidak ada | Tidak ada | Kaku kuduk, ubun-ubun menonjol |
| Muntah proyektil | Tidak ada | Kadang | Curiga peningkatan tekanan intrakranial |
| Nyeri kepala berat | Tidak ada | Jarang | Curiga meningitis/ensefalitis |
| Ruam petekie/purpura | Tidak ada | Tidak ada | Curiga sepsis meningokokus |
| Status mental | Normal setelah kejang | Mengantuk sementara | Penurunan kesadaran menetap |
| Prognosis | Sangat baik | Umumnya baik, perlu evaluasi lebih lanjut | Bergantung penyebab dasar |
Manifestasi Klinis Berdasarkan Fase Kejang
| Fase | Manifestasi Klinis |
|---|---|
| Sebelum kejang (Prodromal) | Demam, rewel, batuk, pilek, muntah, diare, infeksi saluran napas atau infeksi virus lainnya. |
| Saat kejang (Iktal) | Hilang kesadaran, mata mendelik ke atas, tubuh kaku (fase tonik), diikuti gerakan kejang berulang (fase klonik), sianosis ringan, hipersalivasi, kadang inkontinensia urin atau feses. |
| Setelah kejang (Postiktal) | Mengantuk, lemas, bingung sementara, tidur beberapa menit hingga beberapa jam, kemudian kembali normal pada kejang demam sederhana. |
Tanda Bahaya yang Memerlukan Rujukan Segera
| Tanda Bahaya | Makna Klinis |
|---|---|
| Kejang >5 menit | Memerlukan benzodiazepin segera |
| Kejang >30 menit | Status epileptikus |
| Kejang fokal | Curiga kelainan struktural atau infeksi SSP |
| Kejang berulang dalam 24 jam | Kejang demam kompleks |
| Tidak sadar >30 menit setelah kejang | Curiga ensefalitis, meningitis, atau kelainan metabolik |
| Kaku kuduk | Curiga meningitis |
| Ubun-ubun menonjol (bayi) | Curiga peningkatan tekanan intrakranial |
| Ruam petekie/purpura | Curiga sepsis meningokokus |
| Defisit neurologis menetap | Curiga stroke, tumor, atau ensefalitis |
| Kejang pada neonatus (<28 hari) | Bukan kejang demam, harus dievaluasi sebagai kegawatdaruratan neonatus |
Tabel ini disusun berdasarkan rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP), International League Against Epilepsy (ILAE), American Heart Association Pediatric Advanced Life Support (PALS), World Health Organization (WHO), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Penatalaksanaan Berbasis Evidence-Based Medicine
A. Stabilisasi Awal (ABCDE)
- Airway.
- Breathing.
- Circulation.
- Disability.
- Exposure.
B. Bila Kejang <5 Menit
- Tidak memerlukan obat antikejang.
- Posisi miring.
- Longgarkan pakaian.
- Berikan oksigen bila hipoksia.
C. Bila Kejang ≥5 Menit
Lini pertama (benzodiazepin):
- Diazepam IV: 0,2–0,3 mg/kg.
- Diazepam rektal: 0,5 mg/kg.
- Midazolam intranasal/bukal: 0,2 mg/kg.
- Lorazepam IV: 0,1 mg/kg.
Bila masih kejang setelah 5–10 menit, dosis dapat diulang satu kali.
D. Bila Kejang Berlanjut (>10–15 Menit)
Lini kedua:
- Levetiracetam IV 40–60 mg/kg.
- Fosphenytoin 20 mg PE/kg.
- Fenitoin 20 mg/kg.
- Fenobarbital 20 mg/kg, terutama pada neonatus.
E. Status Epileptikus
- Intubasi.
- PICU.
- Midazolam infus.
- Propofol (anak besar, dengan kehati-hatian).
- Pentobarbital sesuai indikasi ICU.
Terapi Antipiretik
- Parasetamol dan ibuprofen diberikan untuk meningkatkan kenyamanan anak, bukan untuk mencegah kekambuhan kejang demam. Penelitian menunjukkan antipiretik tidak efektif mencegah kejang demam berulang.
Profilaksis Antiepilepsi
- AAP dan ILAE tidak merekomendasikan pemberian fenobarbital, valproat, maupun diazepam intermiten secara rutin setelah kejang demam sederhana karena risiko efek samping lebih besar dibandingkan manfaat pencegahan kekambuhan. Pada keadaan tertentu dengan kecemasan keluarga yang sangat berat, diazepam intermiten saat awal demam dapat dipertimbangkan secara individual.
Tabel Terapi Medikamentosa Kejang Demam pada Bayi dan Anak. Berdasarkan AAP, ILAE, PALS (AHA), WHO, dan IDAI
| Tahapan | Obat | Dosis | Nama Dagang (Contoh) | Indikasi | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
| Lini pertama (<5 menit) | Tidak perlu antikejang | – | – | Kejang berhenti spontan | Fokus ABC dan observasi |
| Lini pertama (≥5 menit) | Diazepam IV | 0,2–0,3 mg/kg IV perlahan (maks. 10 mg) | Stesolid®, Valium®, Diazepam OGB | Kejang masih berlangsung | Dapat diulang 1 kali setelah 5 menit |
| Diazepam rektal | 0,5 mg/kg (maks. 10 mg) | Stesolid® Rectal Tube | Bila akses IV belum tersedia | Pilihan utama di rumah atau IGD | |
| Midazolam intranasal/bukal | 0,2 mg/kg | Dormicum®, Midazolam OGB | Alternatif diazepam | Sangat efektif pada pra-rumah sakit | |
| Lorazepam IV | 0,1 mg/kg (maks. 4 mg) | Ativan® | Bila tersedia | Durasi kerja lebih panjang | |
| Lini kedua (10–20 menit) | Levetiracetam IV | 40–60 mg/kg (maks. 4.500 mg) | Keppra®, Levetiracetam OGB | Kejang menetap | Semakin banyak digunakan |
| Fosphenytoin IV | 20 mg PE/kg | Cerebyx® | Status epileptikus | Lebih aman dibanding fenitoin | |
| Fenitoin IV | 20 mg/kg | Dilantin®, Phenytoin OGB | Bila fosphenytoin tidak tersedia | Infus perlahan dengan monitor EKG | |
| Fenobarbital IV | 20 mg/kg | Gardenal®, Luminal® | Neonatus atau refrakter | Pilihan utama pada kejang neonatus | |
| Lini ketiga (Status epileptikus refrakter) | Midazolam infus | Loading 0,2 mg/kg, infus 0,05–2 mg/kg/jam | Dormicum® | PICU | Memerlukan ventilasi bila perlu |
| Propofol | 1–2 mg/kg, lanjut infus | Diprivan® | Anak besar, PICU | Hindari penggunaan lama pada anak | |
| Pentobarbital | Sesuai protokol ICU | Nembutal® | Status epileptikus refrakter | Monitoring intensif | |
| Antipiretik | Parasetamol | 10–15 mg/kg/dosis setiap 4–6 jam | Sanmol®, Tempra®, Pamol®, Paracetamol OGB | Mengurangi demam dan ketidaknyamanan | Tidak mencegah kekambuhan kejang |
| Ibuprofen | 5–10 mg/kg/dosis setiap 6–8 jam (usia ≥6 bulan) | Proris®, Bufect®, Ibuprofen OGB | Alternatif antipiretik | Hindari pada dehidrasi berat |
Obat yang Tidak Direkomendasikan untuk Kejang Demam Sederhana
| Obat | Alasan Tidak Direkomendasikan |
|---|---|
| Fenobarbital oral jangka panjang | Efek samping kognitif dan perilaku lebih besar daripada manfaat |
| Asam valproat | Risiko hepatotoksisitas, tidak dianjurkan sebagai profilaksis rutin |
| Diazepam oral rutin | Tidak efektif sebagai terapi jangka panjang |
| Antiepilepsi profilaksis rutin | Tidak direkomendasikan oleh AAP, ILAE, maupun IDAI pada kejang demam sederhana |
Catatan Penting Berdasarkan Pedoman
- Benzodiazepin hanya diberikan bila kejang berlangsung ≥5 menit atau diperkirakan tidak akan berhenti spontan.
- Neonatus (<28 hari) dengan kejang dan demam bukan kejang demam; tata laksana mengikuti algoritma kejang neonatus dan evaluasi sepsis/meningitis.
- Antipiretik (parasetamol atau ibuprofen) diberikan untuk kenyamanan anak, bukan untuk mencegah kekambuhan kejang demam.
- Profilaksis antiepilepsi rutin tidak dianjurkan pada kejang demam sederhana karena manfaatnya tidak sebanding dengan risiko efek samping.
Tabel ini disusun berdasarkan rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP), International League Against Epilepsy (ILAE), American Heart Association Pediatric Advanced Life Support (PALS), World Health Organization (WHO), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Prognosis
- >95% sembuh tanpa gangguan neurologis.
- Risiko epilepsi rendah.
- Fungsi intelektual umumnya normal.
- Mortalitas hampir tidak ada pada kejang demam sederhana.
Pencegahan
- Imunisasi lengkap.
- Penanganan infeksi secara tepat.
- Edukasi orang tua mengenai pertolongan pertama saat kejang.
- Tidak memberikan obat antiepilepsi rutin pada kejang demam sederhana.
Ringkasan Poin Penting
- Neonatus dengan demam dan kejang bukan kejang demam, tetapi kegawatdaruratan yang memerlukan evaluasi menyeluruh.
- Kejang demam hanya didefinisikan pada usia 6–60 bulan.
- Benzodiazepin diberikan bila kejang berlangsung ≥5 menit.
- Antipiretik tidak mencegah kekambuhan kejang demam.
- Antiepilepsi profilaksis rutin tidak dianjurkan.
- Prognosis kejang demam sederhana sangat baik
Daftar Pustaka
- American Academy of Pediatrics. Febrile Seizures: Clinical Practice Guideline for the Long-term Management of the Child With Simple Febrile Seizures. Pediatrics. 2008;121(6):1281-1286. Available at AAP Publications.
- American Academy of Pediatrics. Febrile Seizures: Guideline for the Neurodiagnostic Evaluation of the Child With a Simple Febrile Seizure. Pediatrics. 2011. Updated in AAP Clinical Practice Guidelines 2024.
- Topjian AA, Raymond TT, Atkins D, et al. 2020 American Heart Association Guidelines for Pediatric Advanced Life Support. Circulation. 2020;142(Suppl 2):S469-S523.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis IDAI: Kejang Demam pada Anak. Jakarta: IDAI.











Leave a Reply