Apakah Lansia Perlu Mengonsumsi Vitamin dan Mineral Setiap Hari?
Pertanyaan:
Apakah setiap lansia perlu mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral setiap hari untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, mempertahankan kekuatan tubuh, dan memenuhi kebutuhan gizi, atau sebenarnya kebutuhan vitamin dan mineral pada lansia dapat dipenuhi melalui pola makan yang beragam dan seimbang? Bagaimana menentukan lansia yang memang membutuhkan suplementasi, jenis zat gizi apa yang perlu diperhatikan, serta apakah konsumsi suplemen secara rutin tanpa pemeriksaan dapat memberikan manfaat atau justru menimbulkan risiko?
Jawaban:
Tidak semua lansia memerlukan suplemen vitamin dan mineral setiap hari. Penuaan bukan berarti seseorang otomatis mengalami kekurangan semua vitamin dan mineral. Prinsip utama gizi geriatri adalah memenuhi kebutuhan zat gizi melalui pola makan yang beragam, seimbang, dan sesuai kondisi individu. Suplementasi lebih tepat diberikan apabila terdapat asupan yang tidak mencukupi, defisiensi yang terbukti atau sangat dicurigai, kebutuhan fisiologis tertentu, atau kondisi penyakit yang menyebabkan kebutuhan meningkat maupun penyerapan terganggu.
Risiko kekurangan zat gizi memang dapat meningkat pada lansia. Beberapa faktor yang berperan antara lain penurunan nafsu makan, perubahan kemampuan mengecap dan mencium, masalah gigi dan mulut, kesulitan mengunyah atau menelan, penyakit kronis, gangguan kognitif, keterbatasan ekonomi, penggunaan banyak obat, serta pola makan yang semakin sedikit atau monoton. Karena itu, yang penting bukan memberikan multivitamin secara otomatis, tetapi melakukan penilaian status gizi dan mencari faktor yang menyebabkan asupan tidak adekuat.
Vitamin dan mineral yang perlu mendapat perhatian antara lain vitamin D, vitamin B12, folat, kalsium, zat besi, dan beberapa mikronutrien lainnya. Namun, kebutuhan setiap orang berbeda. Misalnya, vitamin B12 dapat menjadi perhatian pada lansia dengan asupan pangan hewani yang rendah atau gangguan absorpsi, sedangkan vitamin D dan kalsium berkaitan dengan kesehatan tulang dan fungsi otot. Kebutuhan tersebut tidak berarti setiap lansia harus mengonsumsi seluruh zat tersebut dalam bentuk tablet setiap hari.
Vitamin D merupakan salah satu mikronutrien yang sering menjadi perhatian pada usia lanjut karena paparan sinar matahari dapat berkurang dan kemampuan kulit menghasilkan vitamin D juga menurun dengan usia. Namun, suplementasi vitamin D sebaiknya mempertimbangkan risiko individu, pola makan, paparan matahari, kondisi tulang, dan faktor klinis lainnya. Pemberian dosis tinggi tanpa indikasi tidak otomatis memberikan manfaat tambahan dan dapat menimbulkan masalah apabila digunakan secara berlebihan.
Vitamin B12 juga penting karena berperan dalam pembentukan sel darah dan fungsi sistem saraf. Kekurangan vitamin B12 dapat berhubungan dengan anemia dan gangguan neurologis. Risiko dapat meningkat pada lansia dengan pola makan tertentu atau kondisi yang mengganggu absorpsi. Karena itu, pada lansia dengan gejala atau faktor risiko yang sesuai, evaluasi medis dan pemeriksaan laboratorium dapat lebih bermanfaat daripada memberikan suplemen secara empiris dalam jangka panjang.
Zat besi juga tidak seharusnya diberikan secara rutin kepada semua lansia. Anemia pada usia lanjut mempunyai banyak kemungkinan penyebab, termasuk kekurangan zat besi, penyakit kronis, perdarahan, gangguan ginjal, atau penyakit lainnya. Memberikan tablet zat besi tanpa mengetahui penyebab anemia bukan pendekatan yang ideal. Jika terdapat anemia atau kecurigaan defisiensi zat besi, penyebabnya perlu dicari dan terapi disesuaikan dengan hasil evaluasi.
Kalsium dan vitamin D juga tidak boleh dipandang sebagai suplemen yang wajib diminum semua lansia tanpa mempertimbangkan asupan makanan dan kondisi klinis. Kebutuhan kalsium dapat dipenuhi melalui makanan seperti susu dan produk susu, ikan tertentu, serta makanan lain yang mengandung kalsium. Suplementasi dapat dipertimbangkan pada individu yang asupannya tidak mencukupi atau memiliki indikasi tertentu, terutama setelah mempertimbangkan kesehatan tulang, fungsi ginjal, obat yang digunakan, dan risiko lainnya.
Kesimpulannya, lansia tidak otomatis membutuhkan multivitamin dan mineral setiap hari. Yang lebih penting adalah memastikan kecukupan energi, protein, cairan, vitamin, dan mineral melalui pola makan yang adekuat, kemudian melakukan skrining terhadap risiko malnutrisi dan defisiensi pada individu yang berisiko. Suplementasi sebaiknya berdasarkan kebutuhan dan indikasi, bukan semata-mata karena usia. Pada lansia dengan penurunan berat badan, nafsu makan buruk, anemia, kelemahan, gangguan kognitif, penyakit kronis, gangguan menelan, atau pola makan sangat terbatas, evaluasi oleh dokter atau ahli gizi diperlukan untuk menentukan apakah diperlukan pemeriksaan dan suplementasi tertentu.











Leave a Reply