DOKTER AIRLANGGA

"Together Advancing Healthcare, Inspiring Humanity the Future."

Mengapa Lansia Sering Sulit Tidur atau Terbangun Berkali-kali di Malam Hari?

😴 Mengapa Lansia Sering Sulit Tidur atau Terbangun Berkali-kali di Malam Hari?

Pertanyaan:

Mengapa lansia sering mengalami sulit tidur, tidur lebih dangkal, mudah terbangun beberapa kali pada malam hari, atau bangun terlalu pagi, apakah perubahan tersebut merupakan bagian normal dari proses penuaan, dan kapan gangguan tidur pada lansia justru harus dicurigai sebagai tanda adanya penyakit atau masalah kesehatan yang memerlukan pemeriksaan?

Jawaban:

Seiring bertambahnya usia, pola tidur memang dapat berubah. Lansia cenderung tidur lebih ringan, lebih mudah terbangun, mengalami lebih banyak periode terjaga pada malam hari, dan sering bangun lebih pagi. Jadi, perubahan tertentu merupakan bagian dari proses penuaan, tetapi bukan berarti semua gangguan tidur pada lansia harus dianggap normal.

Salah satu perubahan yang terjadi adalah berkurangnya tidur dalam atau deep sleep. Akibatnya, suara kecil, cahaya, perubahan suhu, atau rasa tidak nyaman dapat lebih mudah membangunkan lansia. Setelah terbangun, sebagian lansia juga lebih sulit kembali tidur dibandingkan ketika masih muda.

Jam biologis tubuh juga dapat berubah. Lansia dapat merasa mengantuk lebih awal pada malam hari dan bangun lebih pagi. Pola ini dikenal sebagai perubahan ritme sirkadian yang berkaitan dengan proses penuaan dan dapat menyebabkan waktu tidur menjadi lebih maju dibandingkan kebiasaan sebelumnya.

Sering buang air kecil pada malam hari atau nokturia merupakan salah satu penyebab yang sangat umum. Lansia dapat terbangun karena kandung kemih, pembesaran prostat pada pria, konsumsi cairan menjelang tidur, obat diuretik, atau kondisi medis tertentu. Jika frekuensinya tinggi, penyebabnya perlu dievaluasi.

Nyeri kronis juga dapat mengganggu tidur. Nyeri akibat osteoartritis, nyeri punggung, neuropati, atau penyakit lainnya dapat membuat lansia sulit menemukan posisi nyaman dan menyebabkan tidur terputus-putus. Mengatasi penyebab nyeri dapat menjadi bagian penting dari perbaikan kualitas tidur.

Gangguan pernapasan saat tidur juga harus diperhatikan. Obstructive sleep apnea dapat menyebabkan seseorang berhenti bernapas berulang kali selama tidur, kemudian terbangun singkat untuk kembali bernapas. Dengkur keras, terengah-engah saat tidur, sakit kepala pagi hari, dan mengantuk berlebihan pada siang hari dapat menjadi petunjuk yang perlu diperiksa.

Obat-obatan tertentu juga dapat memengaruhi tidur. Beberapa obat dapat menyebabkan kantuk pada siang hari sehingga tidur malam terganggu, sementara obat lainnya dapat menyebabkan sulit tidur. Karena itu, jangan menghentikan atau mengubah obat sendiri; dokter perlu menilai apakah waktu pemberian atau jenis obat berperan.

Kebiasaan tidur siang yang terlalu lama juga dapat membuat lansia sulit tidur pada malam hari. Demikian pula kurangnya aktivitas fisik pada siang hari, terlalu lama berada di tempat tidur, paparan cahaya yang kurang pada pagi hari, serta penggunaan gawai atau aktivitas yang merangsang menjelang tidur dapat mengganggu ritme tidur.

Kondisi psikologis juga mempunyai pengaruh besar. Kecemasan, stres, kesepian, kesedihan, dan depresi dapat menyebabkan pikiran terus aktif ketika seseorang mencoba tidur. Pada lansia, perubahan tidur terkadang menjadi salah satu tanda bahwa kondisi psikologisnya perlu diperhatikan.

Demensia dan gangguan neurodegeneratif tertentu juga dapat mengubah pola tidur. Sebagian lansia dapat mengalami kebingungan pada malam hari, sering terbangun, tidur pada siang hari, atau mengalami perubahan ritme tidur-bangun. Bila perubahan tersebut baru muncul dan cukup berat, evaluasi medis penting dilakukan.

Gangguan tidur perlu mendapat perhatian lebih apabila berlangsung terus-menerus dan menyebabkan dampak pada siang hari. Misalnya lansia menjadi sangat mengantuk, mudah jatuh, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, kehilangan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, atau kualitas hidupnya menurun.

Yang juga perlu dihindari adalah langsung memberikan obat tidur tanpa mencari penyebabnya. Pada lansia, beberapa obat penenang atau obat tidur dapat meningkatkan risiko kantuk berlebihan, kebingungan, gangguan keseimbangan, dan jatuh. Penggunaan obat harus mempertimbangkan kondisi kesehatan dan obat lain yang sedang dikonsumsi.

Langkah awal yang dapat membantu antara lain mempertahankan jadwal tidur dan bangun yang relatif teratur, mendapatkan paparan cahaya pagi, tetap aktif pada siang hari sesuai kemampuan, membatasi tidur siang yang terlalu lama, mengurangi kafein terutama menjelang sore atau malam, serta menciptakan kamar tidur yang nyaman dan tenang.

Jadi, tidur yang menjadi lebih ringan dan mudah terputus dapat merupakan bagian dari penuaan, tetapi insomnia berat atau perubahan tidur yang baru, menetap, atau mengganggu fungsi siang hari bukan sesuatu yang sebaiknya dianggap “wajar karena sudah tua.” Jika disertai mendengkur keras dan terengah-engah, nyeri, sering buang air kecil, kebingungan, depresi, penurunan fungsi, atau kantuk berat pada siang hari, lansia sebaiknya mendapatkan evaluasi untuk mencari penyebab yang mendasarinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *