DOKTER AIRLANGGA

"Together Advancing Healthcare, Inspiring Humanity the Future."

Pemanis Buatan vs Stevia: Apakah Berbahaya?

🍃 Pemanis Buatan vs Stevia: Apakah Berbahaya?

Pertanyaan:

Apakah pemanis buatan seperti aspartam, sukralosa, sakarin, dan asesulfam-K berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi setiap hari, apakah stevia lebih aman dibandingkan pemanis buatan lainnya, dan bagaimana sebaiknya masyarakat memilih serta menggunakan pemanis rendah atau tanpa kalori?

Jawaban:

Pemanis rendah atau tanpa kalori digunakan untuk memberikan rasa manis dengan energi yang jauh lebih rendah dibandingkan gula. Kelompok ini mencakup berbagai jenis pemanis dengan karakteristik berbeda, sehingga tidak tepat menyebut semua pemanis buatan sebagai satu kelompok yang sama dan otomatis berbahaya.

Keamanan pemanis ditentukan berdasarkan jenis zat, jumlah yang dikonsumsi, serta batas asupan yang dianggap aman. Badan pengawas pangan melakukan evaluasi toksikologi sebelum suatu pemanis diizinkan digunakan sebagai bahan pangan.

Beberapa pemanis seperti aspartam, sukralosa, sakarin, dan asesulfam-K telah digunakan secara luas dan memiliki batas acceptable daily intake (ADI). ADI merupakan perkiraan jumlah yang dapat dikonsumsi setiap hari sepanjang hidup tanpa risiko kesehatan yang berarti berdasarkan bukti keamanan yang tersedia.

Aspartam, misalnya, telah menjadi bahan perdebatan dalam beberapa tahun terakhir. IARC pada 2023 mengklasifikasikan aspartam sebagai “possibly carcinogenic to humans” (Group 2B) berdasarkan bukti yang terbatas, sementara JECFA tetap menyatakan ADI 40 mg/kg berat badan per hari. Kedua penilaian tersebut perlu dipahami bersama: klasifikasi bahaya tidak sama dengan penilaian risiko pada jumlah konsumsi tertentu.

Stevia berbeda dari pemanis sintetis karena berasal dari tanaman Stevia rebaudiana. Komponen pemanis utamanya adalah steviol glycosides, seperti stevioside dan rebaudioside. Steviol glikosida yang telah dimurnikan dan memenuhi spesifikasi keamanan telah dievaluasi oleh berbagai otoritas keamanan pangan.

Stevia memiliki keunggulan karena memberikan rasa manis dengan sangat sedikit atau tanpa kalori. Karena itu, stevia dapat membantu mengurangi penggunaan gula jika benar-benar digunakan untuk menggantikan gula, bukan sekadar ditambahkan ke pola makan yang tetap tinggi makanan dan minuman manis.

Namun, “alami” tidak otomatis berarti lebih aman dalam jumlah berapa pun. Keamanan tetap bergantung pada zat yang digunakan, tingkat kemurnian, dosis, dan kualitas produk. Steviol glikosida juga memiliki batas asupan harian yang dapat diterima.

Hal penting lainnya adalah tujuan penggunaan. Mengganti minuman berpemanis gula dengan minuman rendah atau tanpa kalori dapat mengurangi asupan gula dan energi. Tetapi pemanis bukan berarti makanan tersebut otomatis menjadi sehat. Pola makan secara keseluruhan tetap lebih menentukan.

Pada sebagian orang, konsumsi pemanis tertentu dapat menimbulkan keluhan pencernaan atau rasa tidak nyaman. Respons setiap orang dapat berbeda, sehingga jika muncul keluhan setelah mengonsumsi produk tertentu, jumlah konsumsi dan jenis pemanis perlu diperhatikan.

WHO juga memberikan perhatian terhadap penggunaan non-sugar sweeteners untuk pengendalian berat badan jangka panjang. Rekomendasi WHO tidak berarti bahwa pemanis tersebut terbukti beracun; rekomendasi tersebut terutama berkaitan dengan kurangnya manfaat jangka panjang yang konsisten untuk mengendalikan berat badan dan kemungkinan hubungan dengan berbagai luaran kesehatan dalam penelitian observasional.

Karena itu, pilihan yang paling sederhana bukan mengganti gula dalam jumlah besar dengan pemanis tanpa batas, tetapi secara bertahap mengurangi preferensi terhadap rasa manis. Air putih, kopi atau teh tanpa gula dapat menjadi pilihan sehari-hari bagi orang yang dapat menikmatinya.

Bagi penderita diabetes, pemanis rendah atau tanpa kalori dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi gula, tetapi penggunaannya tetap perlu ditempatkan dalam pola makan keseluruhan. Pemanis tidak menggantikan kebutuhan untuk mengatur jumlah karbohidrat, kualitas makanan, aktivitas fisik, dan terapi yang diberikan dokter.

Jadi, pemanis buatan tidak dapat secara umum disebut berbahaya, dan stevia tidak dapat dianggap otomatis bebas risiko hanya karena berasal dari tanaman. Keamanan bergantung pada jenis pemanis, kualitas produk, jumlah konsumsi, dan kondisi individu. Untuk kebanyakan orang, pendekatan yang masuk akal adalah mengurangi konsumsi rasa manis secara keseluruhan dan menggunakan pemanis—baik stevia maupun pemanis lainnya—secara wajar, bukan menjadikannya alasan untuk terus mengonsumsi makanan dan minuman manis dalam jumlah besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *