DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Fenilketonuria (PKU), Gangguan Metabolisme pada Anak


Abstrak

Fenilketonuria (PKU) merupakan salah satu penyakit metabolik bawaan yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh memecah asam amino fenilalanin akibat defisiensi enzim fenilalanin hidroksilase. Akumulasi fenilalanin yang tidak terurai dapat merusak sistem saraf pusat dan menyebabkan retardasi mental permanen. Penyakit ini bersifat genetik dan umumnya terdeteksi melalui skrining neonatal. Penanganan utama PKU adalah diet rendah fenilalanin seumur hidup. Artikel ini membahas penyebab, gejala, serta strategi pencegahan dan penanganan PKU secara komprehensif.


Fenilketonuria (PKU) adalah kelainan genetik langka yang mengganggu metabolisme asam amino fenilalanin, yang banyak ditemukan dalam makanan berprotein tinggi. Penyakit ini diturunkan secara autosomal resesif dan dapat menyebabkan kerusakan otak yang berat jika tidak ditangani sejak dini. Meskipun angka kejadian PKU tidak tinggi, dampaknya sangat besar terhadap tumbuh kembang anak.

Di banyak negara, termasuk Indonesia, PKU dapat dideteksi sejak dini melalui skrining neonatal (tes darah pada bayi baru lahir). Penemuan dini memungkinkan intervensi diet yang cepat dan tepat, sehingga anak dengan PKU dapat tumbuh secara normal. Namun, tanpa penanganan, PKU dapat mengakibatkan keterlambatan perkembangan, kejang, dan retardasi mental permanen.


Penyebab

PKU disebabkan oleh mutasi pada gen PAH (phenylalanine hydroxylase) yang berperan memproduksi enzim fenilalanin hidroksilase. Enzim ini diperlukan untuk mengubah fenilalanin menjadi tirosin, asam amino penting lainnya. Tanpa enzim ini, fenilalanin menumpuk di dalam darah dan jaringan tubuh, terutama otak, dan menjadi racun bagi sistem saraf.

Karena bersifat genetik autosomal resesif, seorang anak harus mewarisi dua salinan gen yang bermutasi (satu dari ayah dan satu dari ibu) untuk mengalami PKU. Orang tua yang hanya membawa satu salinan gen cacat disebut carrier dan tidak menunjukkan gejala.


Tanda dan Gejala

Gejala PKU biasanya tidak tampak segera setelah lahir, namun mulai muncul dalam beberapa bulan pertama kehidupan jika tidak ditangani. Salah satu gejala paling awal adalah keterlambatan perkembangan, di mana bayi tidak mencapai tonggak perkembangan sesuai usia seperti duduk, merangkak, atau berjalan.

  • Gejala berikutnya adalah gangguan perilaku dan kognitif, seperti hiperaktivitas, kejang, dan gangguan konsentrasi. Anak-anak PKU yang tidak ditangani juga dapat mengalami retardasi mental permanen, yang menghambat kemampuan belajar dan komunikasi.
  • Bau badan dan urin anak PKU seringkali khas, menyerupai bau “tikus” akibat akumulasi fenilalanin dan turunannya dalam tubuh. Kondisi ini disebut “musty odor” dan menjadi petunjuk penting dalam diagnosis klinis.
  • Selain itu, gangguan kulit seperti eksim juga sering ditemukan, disertai kulit yang pucat dan rambut pirang meski berasal dari etnis dengan pigmen gelap. Ini disebabkan oleh kurangnya tirosin yang dibutuhkan untuk produksi melanin.
  • Anak juga bisa mengalami mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil dari normal) sebagai dampak dari perkembangan otak yang terhambat. Gangguan motorik kasar dan halus, seperti tidak mampu memegang benda atau berjalan normal, juga menjadi indikasi yang perlu diwaspadai.
  • Dalam jangka panjang, anak yang tidak tertangani bisa mengalami gangguan psikologis, termasuk depresi, ansietas, dan isolasi sosial akibat keterbatasan fungsi intelektual dan sosial.

Tabel: Ringkasan Tanda dan Gejala PKU

KategoriTanda/Gejala
FisikBau khas “tikus”, kulit pucat, rambut pirang
NeurologisKejang, mikrosefali, gangguan motorik
PerkembanganKeterlambatan bicara, intelektual, dan belajar
PsikologisHiperaktif, mudah marah, depresi
KulitEksim, ruam kronis
SensorikGangguan pendengaran, gangguan perhatian
KognitifRetardasi mental, gangguan konsentrasi

Penanganan

  • Penanganan utama PKU adalah diet ketat rendah fenilalanin seumur hidup. Diet ini menghindari konsumsi protein tinggi seperti daging, telur, susu, dan produk turunannya. Sebagai gantinya, anak diberikan susu formula medis bebas fenilalanin yang mengandung semua nutrisi esensial lain.
  • Selain diet, anak PKU membutuhkan pengawasan rutin kadar fenilalanin dalam darah. Pemeriksaan ini dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa kadar fenilalanin tetap dalam batas aman (2–6 mg/dL), guna mencegah dampak jangka panjang pada otak.
  • Konseling gizi dan edukasi keluarga sangat penting agar diet dapat dilakukan konsisten. Orang tua perlu memahami daftar makanan yang dilarang, jumlah batasan konsumsi harian, serta mengenali gejala awal jika kadar fenilalanin meningkat.
  • Dalam beberapa kasus, terapi tambahan seperti pemberian suplemen BH4 (tetrahydrobiopterin) dapat diberikan pada anak-anak yang masih memiliki sedikit aktivitas enzim PAH. Ini membantu meningkatkan metabolisme fenilalanin secara alami.

Pencegahan

  • Pencegahan utama PKU dilakukan melalui skrining neonatal, yang kini menjadi standar di banyak negara. Bayi baru lahir diperiksa melalui tetesan darah dari tumit untuk mendeteksi kelainan metabolik, termasuk PKU. Dengan deteksi dini, penanganan segera dapat dimulai sebelum kerusakan otak terjadi.
  • Konseling genetik dianjurkan bagi pasangan yang memiliki riwayat PKU atau pernah melahirkan anak dengan kondisi ini. Tes DNA dapat membantu menentukan status carrier dan risiko penurunan ke anak.
  • Wanita penderita PKU yang hamil harus menjalani diet ketat selama kehamilan untuk mencegah kerusakan janin akibat tingginya fenilalanin dalam darah ibu. Hal ini disebut maternal PKU syndrome, yang dapat menyebabkan mikrosefali dan kelainan jantung pada bayi.
  • Edukasi masyarakat dan tenaga kesehatan tentang pentingnya skrining metabolik, bahaya fenilalanin tinggi, serta pentingnya diet khusus juga menjadi bagian penting dari upaya preventif jangka panjang.

Saran

  • Pemerintah dan fasilitas kesehatan harus memperluas program skrining metabolik neonatal di seluruh wilayah, khususnya daerah yang belum terjangkau layanan ini. Deteksi dini akan menyelamatkan banyak anak dari cacat intelektual permanen.
  • Lembaga pendidikan dan masyarakat harus memberi ruang dan dukungan kepada anak PKU melalui pendekatan inklusif. Guru, pengasuh, dan lingkungan sekolah perlu memahami kondisi anak dan mendukung diet yang harus dijalani.
  • Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan terapi gen dan pengobatan jangka panjang yang lebih efektif. Dukungan pemerintah untuk pengadaan formula medis PKU dengan harga terjangkau juga sangat dibutuhkan.

Kesimpulan

Fenilketonuria adalah gangguan metabolik bawaan serius yang dapat dicegah dampaknya melalui deteksi dan intervensi dini. Dengan diet ketat rendah fenilalanin dan pemantauan berkala, anak-anak PKU dapat tumbuh normal dan produktif. Dukungan sistem kesehatan, keluarga, dan masyarakat memegang peran vital dalam keberhasilan penanganan PKU jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *