DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Sulit Makan pada Anak: Kajian Mekanisme Terjadinya Gangguan dan Imunopatofisiologi dalam Kaitan Dengan Alergi Makanan

Sulit Makan pada Anak: Kajian Mekanisme Terjadinya Gangguan dan Imunopatofisiologi dalam Kaitan Dengan Alergi Makanan


Abstrak

Sulit makan pada anak merupakan masalah umum yang dapat berdampak signifikan terhadap pertumbuhan, perkembangan, serta status nutrisi anak. Etiologi sulit makan sangat kompleks dan multifaktorial, melibatkan faktor organik, psikologis, perilaku, serta respon imunologis terhadap alergen atau infeksi. Kajian terbaru menunjukkan bahwa interleukin, sebagai mediator utama dalam sistem imun, berperan dalam menimbulkan gangguan makan melalui jalur inflamasi, iritasi mukosa gastrointestinal, hingga gangguan regulasi nafsu makan di sistem saraf pusat. Aktivasi interleukin seperti IL-6, IL-1β, dan TNF-α dapat mempengaruhi sistem saraf enterik dan hipotalamus, sehingga memperburuk anoreksia dan keengganan makan. Artikel ini menguraikan mekanisme patofisiologi sulit makan pada anak, peran interleukin dan sel imun, serta kaitannya dengan alergi makanan, guna menunjang pendekatan diagnostik dan terapi yang lebih komprehensif.


Masalah sulit makan merupakan keluhan yang sering ditemukan dalam praktik pediatri. Anak yang mengalami sulit makan sering menunjukkan penolakan makan, pemilihan makanan yang sangat terbatas, atau asupan yang tidak mencukupi. Hal ini bisa bersifat sementara atau menetap, dan dapat berdampak pada status gizi, pertumbuhan linear, dan perkembangan neurokognitif anak.

Berbagai penyebab telah diidentifikasi, mulai dari infeksi saluran cerna, gangguan fungsi oromotor, gangguan saluran pencernaan, hingga faktor perilaku dan psikososial. Namun, penelitian terkini menunjukkan bahwa sistem imun juga memainkan peran penting dalam menimbulkan anoreksia pada anak, terutama melalui pelepasan interleukin proinflamasi yang mempengaruhi pusat nafsu makan dan sistem pencernaan.


Tanda dan Gejala

  • Anak yang mengalami sulit makan sering menunjukkan tanda awal berupa penolakan terhadap makanan tertentu, baik karena rasa, tekstur, atau warna. Mereka mungkin hanya mengonsumsi jenis makanan tertentu dalam jumlah terbatas, atau secara aktif menghindari waktu makan. Hal ini dapat mengarah pada kekhawatiran orang tua dan pola makan yang semakin tidak teratur.
  • Selain itu, gejala fisik seperti mual, muntah, perut kembung, atau nyeri perut ringan dapat muncul akibat iritasi mukosa gastrointestinal atau reaksi imunologis terhadap makanan. Anak juga bisa menjadi lebih rewel, mudah marah, atau menunjukkan tanda stres saat disodori makanan.
  • Dalam kasus yang lebih berat, sulit makan disertai penurunan berat badan, keterlambatan pertumbuhan, gangguan tidur, hingga defisiensi mikronutrien. Kondisi ini sering memerlukan evaluasi lebih lanjut, termasuk untuk kemungkinan gangguan alergi makanan atau kondisi inflamasi kronis pada saluran pencernaan.

Kajian Mekanisme Terjadinya Gangguan 

  • Mekanisme sulit makan pada anak dapat dimulai dari gangguan fungsi oromotor, seperti refleks mengunyah atau menelan yang belum matang. Hal ini sering terjadi pada bayi atau anak dengan keterlambatan perkembangan neurologis.
  • Gangguan sensorik terhadap rasa atau tekstur makanan juga dapat menyebabkan anak menolak makan. Hipersensitivitas terhadap rangsangan oral bisa muncul pada anak dengan gangguan pemrosesan sensorik atau spektrum autisme.
  • Dalam kondisi infeksi atau peradangan, sistem imun melepaskan interleukin yang mempengaruhi hipotalamus sebagai pusat pengatur nafsu makan. IL-1β dan IL-6 dikenal menghambat pelepasan neuropeptida Y (NPY) yang merangsang nafsu makan, dan meningkatkan pelepasan leptin yang menekan nafsu makan.
  • Gangguan gastrointestinal seperti refluks, intoleransi makanan, atau disbiosis usus juga dapat menyebabkan anak menolak makan karena ketidaknyamanan. Proses ini sering diperkuat oleh respon imun lokal yang menghasilkan inflamasi kronik ringan di mukosa usus.
  • Faktor perilaku dan psikologis, seperti trauma makan sebelumnya, stres di rumah, atau tekanan saat makan, juga memperburuk gangguan makan. Interaksi antara sumbu usus-otak dan mediator imun membuat anak menjadi sangat sensitif terhadap sensasi internal yang tidak nyaman, sehingga membentuk pola penolakan makan.

Imunopatofisiologi

  • IL-1β adalah interleukin proinflamasi yang dilepaskan oleh makrofag dan sel dendritik sebagai respons terhadap infeksi atau inflamasi. IL-1β berperan dalam menurunkan aktivitas pusat nafsu makan di hipotalamus dan menyebabkan anoreksia sistemik.
  • IL-6 merupakan sitokin multifungsi yang dihasilkan oleh sel epitel usus, makrofag, dan sel T. IL-6 menurunkan aktivitas sistem saraf parasimpatis gastrointestinal dan menghambat motilitas lambung, menyebabkan anak merasa kenyang lebih cepat dan menolak makan.
  • TNF-α dilepaskan dalam jumlah besar pada respon inflamasi kronik, seperti pada penyakit radang usus atau alergi makanan. TNF-α berperan menekan ekspresi oreksigenik (zat peningkat nafsu makan) di sistem saraf pusat, serta menyebabkan katabolisme otot dan jaringan lemak.
  • IL-10 adalah interleukin anti-inflamasi yang membantu menurunkan produksi IL-1 dan TNF-α. Namun, pada anak dengan gangguan imun atau alergi makanan, kadar IL-10 sering rendah, sehingga respon inflamasi yang menekan nafsu makan terus berlangsung.
  • IL-4 dan IL-13, sitokin khas dari respon Th2, dapat meningkatkan permeabilitas usus dan memicu iritasi mukosa. Hal ini menyebabkan ketidaknyamanan abdominal setelah makan, sehingga anak menjadi enggan makan meskipun kebutuhan energinya tinggi.
  • Sel mast dan eosinofil, yang banyak ditemukan pada gangguan alergi makanan, melepaskan histamin dan leukotrien yang menimbulkan mual, nyeri perut, dan gangguan motilitas. Mediator-mediator ini berperan langsung dalam gangguan asupan makan dan perilaku menghindar.

Alergi Makanan dan Sulit Makan

  • Alergi makanan adalah salah satu penyebab utama sulit makan kronik pada anak. Reaksi hipersensitivitas terhadap protein makanan tertentu dapat memicu respon imun tipe Th2, yang menghasilkan IL-4, IL-5, dan IL-13. Respon ini berkontribusi terhadap kerusakan epitel mukosa, sehingga menyebabkan rasa tidak nyaman setelah makan.
  • IL-4 meningkatkan produksi IgE oleh sel B dan aktivasi sel mast di mukosa gastrointestinal. Ketika anak mengonsumsi makanan alergenik, sel mast akan degranulasi dan melepaskan histamin yang menyebabkan mual dan gangguan pencernaan, yang pada akhirnya membuat anak menolak makan.
  • IL-5 mengaktivasi eosinofil, yang melepaskan protein toksik seperti MBP dan ECP yang merusak epitel usus. Kondisi ini menyebabkan nyeri perut kronis dan gangguan penyerapan, meskipun tanpa gejala alergi kulit atau pernapasan yang khas.
  • IL-13 memperparah kondisi dengan meningkatkan permeabilitas mukosa usus dan mengganggu toleransi imun terhadap makanan. Anak menjadi lebih sensitif terhadap berbagai jenis makanan, dan ini memperparah pola makan selektif atau fobia makan.
  • Pemahaman tentang peran interleukin dalam alergi makanan dan gangguan makan memberikan dasar penting untuk diagnosis berbasis imunologi dan intervensi diet yang tepat, termasuk eliminasi makanan dan terapi imunomodulasi jika diperlukan.

Tabel Peran Interleukin dalam Sulit Makan pada Anak

InterleukinSumber SelulerPeran dalam Sulit MakanEfek Klinis
IL-1βMakrofag, sel dendritikMenekan pusat nafsu makan di hipotalamusAnoreksia, lemas, penurunan berat badan
IL-6Sel epitel, makrofagMenghambat motilitas GI, menurunkan stimulasi saraf vagusRasa kenyang cepat, mual
TNF-αSel T, makrofagMenginduksi inflamasi, menekan oreksigenik, meningkatkan katabolismeHilang nafsu makan, wasting
IL-10Sel T regulatorAnti-inflamasi, menekan IL-1β dan TNF-αMenurunkan gejala anoreksia
IL-4Sel Th2Induksi IgE dan aktivasi sel mast terhadap alergen makananReaksi mual, nyeri perut setelah makan
IL-13Sel Th2Meningkatkan permeabilitas usus, reaksi terhadap makananIntoleransi makanan, iritasi mukosa

Kesimpulan

Sulit makan pada anak merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi oleh faktor biologis, perilaku, dan imunologis. Peran interleukin dalam menurunkan nafsu makan, mengganggu motilitas gastrointestinal, dan menimbulkan ketidaknyamanan setelah makan sangat penting untuk dipahami. Aktivasi jalur IL-1β, IL-6, TNF-α, dan jalur Th2 melalui IL-4 dan IL-13 menjadi penanda penting dalam identifikasi penyebab sulit makan yang berkaitan dengan alergi atau inflamasi. Penanganan yang komprehensif, termasuk pendekatan berbasis imunologi dan diet eliminasi selektif, dapat memberikan perbaikan signifikan terhadap kondisi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *