DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Panel Tes Alergi Makanan: Antara Sensitisasi dan Diagnosis yang Menyesatkan

Panel Tes Alergi Makanan: Antara Sensitisasi dan Diagnosis yang Menyesatkan

Abstrak

Alergi makanan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan dan terus meningkat. Pemeriksaan imunoglobulin E spesifik (specific IgE/s-IgE) sering digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis alergi makanan. Namun, penggunaan panel tes alergi makanan, yaitu pemeriksaan s-IgE terhadap banyak alergen sekaligus tanpa indikasi klinis yang jelas, telah terbukti menimbulkan masalah serius berupa salah diagnosis. Artikel ini mengulas bukti ilmiah mengenai keterbatasan panel tes alergi makanan, dampak negatif yang ditimbulkan, serta rekomendasi praktik klinis yang lebih tepat dan berbasis bukti untuk mencegah overdiagnosis dan kerugian pada pasien serta keluarganya.


Diagnosis alergi makanan yang akurat merupakan tantangan tersendiri dalam praktik klinis. Tidak semua hasil positif pada pemeriksaan laboratorium mencerminkan alergi makanan yang nyata secara klinis. Dalam beberapa dekade terakhir, penggunaan panel tes IgE makanan semakin meluas, terutama karena kemudahan akses dan persepsi bahwa pemeriksaan ini dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai alergi makanan seseorang.

Padahal, berbagai pedoman internasional telah menegaskan bahwa alergi makanan adalah diagnosis klinis, bukan diagnosis laboratorium semata. Pemeriksaan s-IgE hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mengonfirmasi kecurigaan klinis, bukan sebagai alat skrining tanpa indikasi.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Pediatrics tahun 2015 oleh Bird, Crain, dan Varshney menilai kegunaan pemeriksaan panel alergen makanan pada pasien yang dirujuk ke pusat alergi makanan anak tersier. Penelitian ini menggunakan desain telaah rekam medis retrospektif terhadap seluruh pasien baru yang diperiksa oleh satu dokter antara September 2011 hingga Desember 2012. Dari total 797 kunjungan pasien baru, sebanyak 284 anak (35%) telah menjalani tes panel alergi makanan sebelum dirujuk. Namun, hanya 90 pasien (32,8%) yang memiliki riwayat klinis yang benar-benar mendukung kecurigaan alergi makanan. Sebanyak 126 pasien justru menghindari makanan tertentu semata-mata berdasarkan rekomendasi dokter perujuk tanpa dasar klinis yang kuat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tes panel alergi makanan pada populasi yang tidak terseleksi memiliki nilai prediktif positif yang sangat rendah, yaitu hanya 2,2%. Dampak klinisnya signifikan, karena dari 126 pasien yang melakukan pembatasan makanan, sebanyak 112 anak (88,9%) dapat kembali mengonsumsi setidaknya satu jenis makanan setelah evaluasi alergi yang tepat. Selain risiko salah diagnosis dan pembatasan diet yang tidak perlu, penelitian ini juga menyoroti beban ekonomi, dengan estimasi biaya evaluasi mencapai USD 79.412. Penulis menyimpulkan bahwa tes panel alergi makanan sering menyebabkan salah diagnosis, pembatasan diet berlebihan, serta pemborosan biaya layanan kesehatan, sehingga pemeriksaan alergi seharusnya selalu didasarkan pada riwayat klinis yang jelas dan terarah.

Editorial yang ditulis oleh David M. Fleischer dan A. Wesley Burks dalam The Journal of Pediatrics tahun 2015 menyoroti berbagai jebakan (pitfalls) dalam diagnosis alergi makanan, khususnya terkait penggunaan pemeriksaan serum IgE spesifik. Penulis menegaskan bahwa hasil IgE positif tidak selalu mencerminkan adanya alergi makanan yang bermakna secara klinis, karena sensitisasi imunologis sering disalahartikan sebagai alergi sejati. Tanpa korelasi yang kuat dengan riwayat klinis dan gejala yang konsisten, pemeriksaan IgE dapat menyebabkan salah diagnosis, pembatasan diet yang tidak perlu, kecemasan pada keluarga, serta peningkatan biaya layanan kesehatan. Editorial ini menekankan bahwa diagnosis alergi makanan harus berbasis pada anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik, dan bila perlu uji provokasi makanan terkontrol, bukan semata-mata bergantung pada hasil laboratorium.

Ulasan oleh Moneret-Vautrin, Kanny, dan Frémont dalam European Annals of Allergy and Clinical Immunology tahun 2003 membahas secara komprehensif kelebihan, keterbatasan, dan perspektif masa depan berbagai pemeriksaan laboratorium dalam diagnosis alergi makanan. Penulis menegaskan bahwa banyak tes biologis, seperti deteksi IgE spesifik (RAST), panel multi-detection, uji aktivasi basofil, hingga biomarker mediator inflamasi, lebih menunjukkan sensitisasi daripada alergi makanan yang bermakna secara klinis, sehingga sering menimbulkan hasil positif palsu, terutama akibat reaktivitas silang dengan alergen serbuk sari atau lateks. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium tidak dianjurkan sebagai lini pertama diagnosis. Uji tusuk kulit (skin prick test) dinilai lebih mendekati manifestasi klinis karena mencerminkan ikatan fungsional IgE, namun baku emas diagnosis alergi makanan tetap uji provokasi oral terstandar, dengan pengecualian pada kadar IgE spesifik yang sangat tinggi terhadap makanan tertentu (telur, kacang tanah, ikan, dan susu) yang memiliki nilai prediktif positif sekitar 95%. Ulasan ini juga menyoroti peran pemeriksaan laboratorium dalam tindak lanjut penyakit dan prediksi toleransi, serta perkembangan riset seperti penggunaan alergen rekombinan dan chip alergen yang diharapkan meningkatkan akurasi diagnosis di masa depan.


Panel Tes Alergi Makanan: Konsep dan Permasalahan

Panel tes alergi makanan merujuk pada pemeriksaan s-IgE terhadap berbagai jenis makanan sekaligus, sering kali tanpa mempertimbangkan riwayat klinis pasien. Setiap komponen dalam panel tersebut sebenarnya adalah tes terpisah, dengan nilai prediktif positif dan negatif yang berbeda-beda.

Masalah utama dari pendekatan ini adalah:

  1. Sensitisasi ≠ Alergi Klinis
    Banyak individu memiliki s-IgE positif terhadap makanan tertentu tetapi dapat mengonsumsi makanan tersebut tanpa gejala apa pun.
  2. Spesifisitas Rendah
    Tes s-IgE memiliki tingkat positif palsu yang tinggi, terutama bila digunakan sebagai skrining.
  3. Tidak Terstandarisasi sebagai Tes Skrining
    Panel tes tidak pernah divalidasi untuk penggunaan skrining populasi.

Dampak Negatif Penggunaan Panel Tes Alergi Makanan

  1. Dampak Fisik Pembatasan makanan yang tidak perlu akibat diagnosis alergi makanan yang keliru dapat menimbulkan dampak fisik yang signifikan, terutama pada anak. Eliminasi berbagai jenis makanan esensial tanpa dasar klinis yang kuat berisiko menyebabkan defisiensi zat gizi makro dan mikro, seperti protein, kalsium, zat besi, dan vitamin tertentu. Kondisi ini dapat berujung pada gangguan pertumbuhan, baik berat badan maupun tinggi badan, serta menghambat perkembangan optimal anak. Dalam jangka panjang, pembatasan diet yang berlebihan juga dapat menurunkan kualitas kesehatan secara umum dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit.
  2. Dampak Psikologis Diagnosis alergi makanan yang tidak akurat tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga menimbulkan konsekuensi psikologis yang serius bagi anak dan keluarganya. Orang tua sering mengalami kecemasan berlebihan terkait keamanan makanan, yang pada akhirnya menciptakan lingkungan makan yang penuh ketakutan. Pada anak, kondisi ini dapat berkembang menjadi ketakutan makan (food fear), perilaku makan selektif, hingga gangguan hubungan anak dengan makanan. Akumulasi stres ini berdampak pada penurunan kualitas hidup anak dan keluarga secara keseluruhan.
  3. Beban Finansial Penggunaan panel tes alergi makanan yang tidak tepat juga meningkatkan beban finansial yang tidak perlu. Biaya pemeriksaan laboratorium yang mahal sering kali tidak sebanding dengan manfaat klinisnya, terutama bila hasilnya menimbulkan diagnosis berlebih. Selain itu, keluarga sering diarahkan untuk membeli makanan pengganti yang harganya jauh lebih mahal, seperti susu formula khusus atau produk bebas alergen. Kunjungan medis berulang untuk evaluasi lanjutan dan konsultasi juga menambah beban ekonomi, yang pada akhirnya dapat mengganggu kestabilan finansial keluarga.
  4. Opportunity Cost Ketergantungan berlebihan pada hasil panel tes alergi dapat mengalihkan perhatian klinisi dan keluarga dari pencarian penyebab gejala yang sebenarnya. Fokus pada hasil tes laboratorium sering membuat kondisi lain yang lebih relevan terabaikan, seperti gangguan saluran cerna fungsional, infeksi berulang, atau intoleransi makanan non-imunologis. Akibatnya, penanganan yang seharusnya tepat menjadi tertunda, dan pasien tidak mendapatkan terapi yang sesuai dengan penyebab utama keluhannya.
  5. Memperlebar Kesenjangan Layanan Kesehatan Dampak negatif penggunaan panel tes alergi makanan juga berpotensi memperlebar kesenjangan layanan kesehatan. Pasien dari kelompok sosial ekonomi tertentu lebih rentan mengalami kerugian akibat pembatasan diet yang tidak tepat dan biaya tambahan yang harus ditanggung. Keterbatasan akses terhadap edukasi kesehatan dan layanan spesialis membuat kelompok ini lebih mudah menerima diagnosis yang keliru tanpa klarifikasi lebih lanjut, sehingga memperkuat ketidakadilan dalam pelayanan kesehatan dan hasil kesehatan jangka panjang.

Panduan Ilmiah dan Konsensus Terkini

Berbagai pedoman internasional, termasuk dari organisasi alergi dan imunologi, tidak merekomendasikan penggunaan panel tes s-IgE makanan tanpa dasar klinis yang kuat. Diagnosis alergi makanan harus didasarkan pada:

  1. Anamnesis yang cermat
  2. Hubungan temporal antara konsumsi makanan dan gejala
  3. Pemeriksaan s-IgE atau skin prick test yang terarah
  4. Oral Food Challenge (OFC) sebagai standar emas bila diperlukan

Rekomendasi Praktik Klinis

Berdasarkan bukti ilmiah terkini, beberapa rekomendasi penting adalah:

  • Hindari Panel Tes Alergi Makanan sebagai Skrining
    Tes hanya dilakukan bila terdapat kecurigaan klinis yang jelas terhadap makanan tertentu.
  • Edukasi Tenaga Kesehatan dan Masyarakat
    Penting untuk menyampaikan bahwa hasil tes positif tidak selalu berarti alergi.
  • Pendekatan Diagnosis Berbasis Klinis
    Riwayat dan gejala pasien harus menjadi landasan utama pengambilan keputusan.
  • Gunakan Oral Food Challenge Secara Tepat
    OFC tetap merupakan standar emas untuk menegakkan atau menyingkirkan alergi makanan.
  • Cegah Pembatasan Diet yang Tidak Perlu
    Eliminasi makanan hanya boleh dilakukan bila benar-benar terbukti secara klinis.

Kesimpulan

Panel tes alergi makanan dengan s-IgE bukanlah alat skrining yang aman dan efektif. Penggunaan yang tidak tepat justru berpotensi menimbulkan dampak fisik, psikologis, dan sosial yang signifikan. Diagnosis alergi makanan harus kembali pada prinsip dasar kedokteran berbasis bukti: anamnesis yang kuat, pemeriksaan yang terarah, dan konfirmasi klinis yang tepat. Upaya edukasi berkelanjutan sangat diperlukan untuk mengurangi praktik yang berpotensi merugikan pasien dan keluarganya.


Daftar Pustaka

  1. Parrish CP. A review of food allergy panels and their consequences. Ann Allergy Asthma Immunol. 2023; DOI:10.1016/j.anai.2023.04.011. PMID: 37098403.
  2. Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: A review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. J Allergy Clin Immunol.
  3. Boyce JA, et al. Guidelines for the diagnosis and management of food allergy in the United States. J Allergy Clin Immunol.
  4. Muraro A, et al. EAACI food allergy and anaphylaxis guidelines. Allergy.
  5. Bird JA, Crain M, Varshney P. Food allergen panel testing often results in misdiagnosis of food allergy. J Pediatr. 2015;166(1):97–100. doi:10.1016/j.jpeds.2014.07.062.
  6. Fleischer DM, Burks AW. Pitfalls in food allergy diagnosis: serum IgE testing. J Pediatr. 2015 Jan;166(1):8-10. doi: 10.1016/j.jpeds.2014.09.057. Epub 2014 Nov 8. PMID: 25449218.
  7. Moneret-Vautrin DA, Kanny G, Frémont S. Laboratory tests for diagnosis of food allergy: advantages, disadvantages and future perspectives. Eur Ann Allergy Clin Immunol. 2003;35(4):113–119. PMID: 12793113.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *