DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Strategi Intervensi Nutrisi & Suplementasi pada Lansia: Tinjauan Ilmiah dan Rekomendasi Global

Strategi Intervensi Nutrisi & Suplementasi pada Lansia: Tinjauan Ilmiah dan Rekomendasi Global

Abstrak

Malnutrisi pada lansia merupakan masalah kesehatan global yang berkontribusi terhadap peningkatan morbiditas, penurunan fungsi fisik, gangguan imunitas, dan mortalitas. Intervensi nutrisi menjadi pilar utama dalam pencegahan dan terapi, termasuk pengaturan asupan protein, energi, serta penggunaan suplementasi seperti protein whey, BCAA, dan vitamin D. Namun, keamanan dan efektivitas intervensi ini harus mempertimbangkan fisiologi lansia, komorbiditas, serta rekomendasi organisasi geriatrik internasional. Artikel ini membahas dasar ilmiah suplementasi, bukti klinis terkini, pedoman global (WHO, ESPEN, American Geriatrics Society), serta sikap klinis yang seharusnya diambil tenaga kesehatan dalam praktik. Fokus diberikan pada integrasi antara makanan alami, suplementasi terarah, monitoring klinis, dan personalisasi sesuai kondisi medis.

Pendahuluan

Malnutrisi pada lansia terus menjadi isu signifikan karena perubahan fisiologis yang menyertai penuaan, seperti penurunan massa otot (sarkopenia), gangguan nafsu makan (anorexia of aging), dan penurunan fungsi gastrointestinal. Kondisi ini diperberat oleh penyakit kronis seperti gagal jantung, diabetes, penyakit ginjal kronis, serta depresi yang memengaruhi asupan dan metabolisme nutrisi. Akibatnya, lansia rentan mengalami penurunan kualitas hidup, peningkatan risiko jatuh, hingga kebutuhan perawatan jangka panjang.

Intervensi nutrisi dan suplementasi menjadi pendekatan penting untuk mencegah dan mengatasi masalah tersebut. Namun, pemberian suplemen tanpa pemahaman ilmiah yang cukup menimbulkan risiko, terutama terkait interaksi obat, kelebihan dosis, atau gangguan fungsi organ seperti ginjal. Oleh karena itu, diperlukan kajian menyeluruh berbasis bukti ilmiah dan pedoman internasional agar rekomendasi nutrisi pada lansia dapat diterapkan secara aman, efektif, dan personal.

Definisi Ilmiah

  • Intervensi nutrisi pada lansia adalah upaya terstruktur untuk memperbaiki status gizi melalui modifikasi pola makan, peningkatan asupan nutrien, atau suplementasi dengan mempertimbangkan kebutuhan metabolik, fungsi organ, dan kondisi klinis. Pendekatan ini mencakup kebutuhan protein, energi, mikronutrien, serta penilaian risiko malnutrisi menggunakan alat seperti MNA (Mini Nutritional Assessment).
  • Suplemen nutrisi klinis adalah produk yang dirumuskan khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi yang tidak dapat dipenuhi melalui makanan biasa. Pada lansia, suplemen sering berupa protein whey, BCAA, vitamin D, kalsium, omega-3, atau multivitamin. Komponen tersebut bekerja melalui modulasi massa otot, peningkatan sintesis protein, peningkatan status mineral tulang, dan dukungan imunologi.
  • Konsep suplementasi pada lansia tidak hanya menambah nutrisi tetapi juga memperbaiki fungsi fisiologis. Misalnya, whey protein memiliki bioavailabilitas tinggi dan cepat diserap, sangat sesuai untuk mengatasi anabolik resistance. Vitamin D berperan penting dalam keseimbangan kalsium, fungsi otot, dan imunitas. Namun, intervensi ini perlu disesuaikan berdasarkan status gizi awal, pola makan, dan penyakit penyerta.

Intervensi Nutrisi dan Suplementasi Menurut Penelitian Ilmiah

  • Penelitian terbaru menunjukkan bahwa peningkatan asupan protein hingga 1,0–1,2 g/kgBB/hari terbukti memperbaiki massa dan kekuatan otot pada lansia, terutama jika dikombinasikan dengan latihan resistensi. Whey protein lebih unggul dibanding casein atau soy protein karena kandungan leucine yang lebih tinggi dan kecepatan absorbsi yang mendukung sintesis protein otot secara optimal.
  • Suplemen BCAA, terutama leucine, telah terbukti memicu mTOR pathway yang meningkatkan sintesis protein otot. Namun, studi meta-analisis menunjukkan bahwa BCAA tidak efektif bila diberikan sebagai suplemen tunggal tanpa dukungan protein total yang cukup. Dengan demikian, BCAA lebih bermanfaat sebagai komponen suplemen whey daripada suplementasi terpisah.
  • Vitamin D merupakan salah satu mikronutrien yang paling banyak diteliti dalam populasi lansia. Defisiensi vitamin D berkaitan dengan penurunan fungsi otot, peningkatan risiko jatuh, osteoporosis, dan imunitas yang rendah. Intervensi suplementasi vitamin D (800–1000 IU/hari) terbukti menurunkan risiko fraktur dan meningkatkan kekuatan otot, tetapi dosis tinggi di atas 4000 IU memiliki risiko seperti hiperkalsemia atau gangguan ginjal.
  • Suplementasi omega-3 (EPA/DHA) memiliki efek antiinflamasi yang bermanfaat untuk lansia dengan sarkopenia atau penyakit kronis. Studi menunjukkan bahwa kombinasi omega-3 dengan latihan resistensi meningkatkan massa otot secara lebih signifikan dibanding latihan saja.
  • Namun, penelitian juga menekankan risiko suplementasi berlebihan. Misalnya, pemberian protein tinggi (>1,5 g/kg/hari) pada lansia dengan penyakit ginjal kronis perlu berhati-hati karena dapat meningkatkan beban filtrasi glomerulus. Vitamin D dosis besar juga dapat memicu toksisitas. Artinya, suplementasi harus selalu dipersonalisasi dan dimonitor.

Rekomendasi Organisasi Geriatri Dunia

  • WHO menekankan pentingnya pola makan seimbang berbasis makanan alami, peningkatan konsumsi protein hewani & nabati, serta suplementasi vitamin D hanya pada individu yang berisiko atau terdiagnosis defisiensi. WHO menolak penggunaan suplemen dosis tinggi tanpa indikasi.
  • ESPEN (European Society for Clinical Nutrition and Metabolism) merekomendasikan asupan protein 1,0–1,2 g/kgBB/hari, atau lebih tinggi pada lansia dengan penyakit kronis. ESPEN juga menyarankan penggunaan Oral Nutritional Supplements (ONS) bila asupan makanan tidak mencukupi, terutama suplemen whey dan multinutrien.
  • American Geriatrics Society (AGS) memberikan panduan lebih spesifik, menekankan evaluasi status gizi secara rutin, penggunaan vitamin D 800–1000 IU/hari, dan hati-hati pada suplemen herbal yang tidak teregulasi. AGS menekankan pentingnya integrasi nutrisi, latihan, dan manajemen penyakit kronis.

Tabel Rekomendasi Diet Makronutrien & Mikronutrien Lansia (WHO – ESPEN – American Geriatrics Society)

Komponen NutrisiWHOESPENAmerican Geriatrics Society (AGS)
Energi25–30 kcal/kgBB/hari, disesuaikan aktivitas & penyakit30 kcal/kgBB/hari untuk risiko malnutrisiIndividualized; hindari defisit energi >500 kcal
Protein0,8–1,0 g/kgBB/hari1,0–1,2 g/kgBB/hari (1,2–1,5 untuk penyakit kronis)1,0–1,2 g/kgBB/hari; fokus protein berkualitas tinggi
Lemak20–35% energi totalTidak spesifik; anjurkan omega-3 untuk inflamasi & fungsi ototBatasi lemak jenuh; anjurkan omega-3 1–2 g/hari
Karbohidrat45–65% energi totalPrioritaskan karbohidrat kompleks & seratTinggi serat, rendah gula sederhana
Serat20–30 g/hari25–30 g/hari25–30 g/hari; penting untuk konstipasi & metabolik
Cairan≥1,6 L/hari1,6–2,0 L/hari1,7–2,0 L/hari, dimonitor kondisi jantung & ginjal
Vitamin D600–800 IU/hari800–1000 IU/hari800–1000 IU/hari; evaluasi kadar 25(OH)D
Kalsium1000–1200 mg/hari1200 mg/hari1000–1200 mg/hari + vitamin D
Vitamin B122,4 mcg/hariTambahan 500–1000 mcg/hari jika defisiensiPertimbangkan suplementasi rutin pada lansia
Omega-3 (EPA/DHA)Tidak spesifik; anjurkan konsumsi ikan1 g/hari untuk inflamasi & sarkopenia1–2 g/hari bila tidak ada kontraindikasi
Zat BesiBerdasarkan kebutuhan individuSuplementasi hanya bila anemia terbuktiHindari suplementasi rutin tanpa indikasi
Zinc8–11 mg/hariSuplementasi bila defisiensiPerhatian pada interaksi obat
Folat400 mcg/hariSuplemen bila defisiensiEvaluasi fungsi kognitif & homosistein

Rekomendasi nutrisi lansia dari WHO, ESPEN, dan American Geriatrics Society pada dasarnya menekankan prinsip yang sama: pemenuhan kebutuhan energi dan protein yang cukup, peningkatan kualitas makanan, serta pemantauan rutin status mikronutrien. Pada usia lanjut, kebutuhan protein meningkat karena adanya anabolic resistance dan risiko sarkopenia. Karena itu ESPEN dan AGS menaikkan rekomendasi protein menjadi 1,0–1,2 g/kgBB/hari, atau lebih tinggi pada kondisi penyakit kronis. Mikronutrien seperti vitamin D, kalsium, vitamin B12, dan omega-3 menjadi prioritas karena memiliki bukti kuat dalam menjaga kekuatan otot, fungsi imun, kesehatan tulang, dan kognisi.

WHO lebih menekankan pola makan seimbang berbasis makanan alami—buah, sayur, kacang-kacangan, dan protein berkualitas tinggi—serta pembatasan gula dan lemak jenuh. ESPEN lebih klinis karena berfokus pada lansia dengan risiko malnutrisi, sehingga merekomendasikan Oral Nutritional Supplements (ONS) bila asupan makanan tidak mencukupi. Sementara AGS menyoroti keamanan suplementasi, terutama pada lansia dengan polypharmacy atau penyakit ginjal, sehingga pengawasan medis menjadi wajib. Kesamaan ketiganya menegaskan bahwa intervensi nutrisi lansia harus terarah, personal, dan dimonitor secara berkala untuk mencegah malnutrisi dan komplikasi jangka panjang.

Rekomendasi Suplemen Menurut WHO, ESPEN, dan AGS

  • WHO, ESPEN, dan AGS sepakat bahwa suplementasi pada lansia tidak boleh diberikan secara rutin tanpa indikasi klinis, tetapi harus berdasarkan kebutuhan spesifik yang terukur. WHO menekankan pentingnya asupan vitamin dan mineral dari makanan alami, dan hanya merekomendasikan suplementasi ketika terdapat risiko defisiensi populasi tertentu, seperti vitamin D pada lansia dengan sedikit paparan matahari. ESPEN lebih klinis dan menganjurkan suplementasi terarah pada lansia dengan malnutrisi, sarkopenia, atau penyakit kronis, terutama vitamin D, kalsium, vitamin B12, protein whey, dan omega-3 karena memiliki bukti kuat mendukung fungsi otot, tulang, dan imun. AGS menekankan penggunaan suplemen sebagai bagian dari rencana perawatan komprehensif, terutama pada lansia dengan kesulitan makan, namun tetap mengingatkan bahwa kebutuhan harus dipersonalisasi dan ditinjau ulang secara berkala.
  • Risiko dan Bahaya Suplemen pada Lansia Ketiga organisasi besar ini juga mengingatkan bahwa suplementasi pada lansia membawa potensi risiko yang tidak dapat diabaikan. Vitamin D dosis tinggi dapat menyebabkan hiperkalsemia, terutama pada lansia dengan gangguan ginjal atau penggunaan obat tertentu seperti diuretik tiazid. Suplemen kalsium dalam jumlah besar dikaitkan dengan peningkatan risiko batu ginjal dan potensi risiko kardiovaskular pada beberapa studi. Suplemen omega-3 dosis tinggi dapat meningkatkan risiko perdarahan pada pasien yang menggunakan antikoagulan. Selain itu, suplemen herbal atau produk komersial yang tidak terstandar dapat menyebabkan hepatotoksisitas atau berinteraksi dengan obat-obatan yang umum digunakan lansia, seperti statin, warfarin, atau antidiabetik. WHO, ESPEN, dan AGS menggarisbawahi bahwa lansia jauh lebih rentan terhadap efek samping karena perubahan metabolisme, polifarmasi, dan penurunan fungsi organ.
  • Prinsip Kehati-hatian dan Pengawasan Medis WHO, ESPEN, dan AGS secara jelas merekomendasikan bahwa setiap keputusan pemberian suplemen harus melalui penilaian klinis yang memadai, termasuk pemeriksaan laboratorium, evaluasi obat yang sedang dikonsumsi, dan pemantauan efek samping. Ketiganya menekankan prinsip “food first, supplement second,” yakni prioritas harus selalu diberikan pada perbaikan pola makan sebelum mengandalkan suplemen. Bila suplemen diperlukan, dosis harus mengikuti rekomendasi berbasis bukti dan diberikan dalam jangka waktu yang terukur, tidak terus-menerus tanpa evaluasi. Tenaga kesehatan juga dianjurkan memberikan edukasi agar lansia tidak membeli suplemen sembarangan, terutama produk yang mengklaim “anti-aging”, “detoks”, atau “penguat kekebalan”, karena sering kali tidak memiliki bukti ilmiah dan berisiko berbahaya. Dengan pendekatan profesional dan terstruktur, manfaat suplemen dapat diperoleh tanpa mengabaikan keselamatan dan kualitas hidup lansia.

Bagaimana Sikap Kita?

  • Pertama, tenaga kesehatan dan keluarga harus mengutamakan pendekatan berbasis bukti ilmiah, tidak hanya mengikuti tren suplementasi tanpa pertimbangan medis. Evaluasi status gizi, pemeriksaan laboratorium, dan assessment fungsi ginjal wajib dilakukan sebelum meresepkan suplemen tertentu, terutama vitamin D, protein tinggi, atau mineral.
  • Kedua, selalu utamakan makanan alami sebagai dasar intervensi nutrisi. Suplemen hanya digunakan ketika kebutuhan nutrisi tidak dapat dipenuhi melalui makanan sehari-hari, atau bila ada indikasi klinis yang jelas. Pemberian suplemen harus terukur, terpantau, dan disesuaikan dengan kondisi medis seperti CKD, diabetes, atau penyakit jantung.
  • Ketiga, edukasi masyarakat sangat penting agar lansia tidak sembarangan mengonsumsi suplemen yang belum terbukti atau bahkan berbahaya. Petugas kesehatan perlu memberikan penjelasan yang sederhana namun akurat mengenai peran protein, vitamin D, omega-3, serta batas aman konsumsi. Pendekatan personal dan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan intervensi nutrisi lansia.

Kesimpulan

Intervensi nutrisi dan suplementasi pada lansia memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup, mencegah sarkopenia, dan memperbaiki fungsi fisik. Namun, pendekatan ini harus terarah, berbasis bukti, dan mengikuti pedoman organisasi geriatrik internasional. Penggunaan suplemen seperti whey protein, BCAA, vitamin D, dan omega-3 memberikan manfaat signifikan bila diberikan secara tepat dan aman. Sikap kita seharusnya menekankan personalisasi, monitoring klinis, dan edukasi untuk memastikan lansia mendapatkan manfaat maksimal tanpa risiko kesehatan.

Daftar Pustaka 

  • Bauer J, et al. Evidence-based recommendations for optimal protein intake in older people: a position paper from the PROT-AGE Study Group. J Am Med Dir Assoc. 2013.
  • Rondanelli M, et al. Effectiveness of whey protein supplementation in the elderly: a systematic review and meta-analysis. Nutrients. 2020.
  • Bischoff-Ferrari HA, et al. Vitamin D supplementation in older adults: meta-analysis of clinical outcomes. JAMA.
  • WHO. Nutrition for Older Persons: Global Strategy. 2020.
  • ESPEN Guideline: Clinical Nutrition and Aging. Clin Nutr. 2019.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *