Asma dan Batuk Lama pada Anak: Peran Alergi Makanan dan Infeksi Saluran Napas Berulang
Judarwanto Widodo, Yudhasmara Audi
Abstrak
Latar belakang: Asma pada anak sering dipicu oleh faktor lingkungan seperti debu dan udara dingin, serta oleh infeksi saluran napas atas (ISPA) berulang. Namun, bukti menunjukkan bahwa adanya alergi makanan (food allergy, FA) pada sebagian anak dapat memperberat asma atau meningkatkan frekuensi eksaserbasi. Tujuan: Mengulas hubungan patofisiologis antara asma dan alergi makanan pada anak, serta bagaimana kontrol alergi makanan dapat mempengaruhi frekuensi dan keparahan asma. Metode: Tinjauan literatur dari studi epidemiologi, imunologi, dan klinis terkait asma anak dan alergi makanan. Hasil: Anak dengan alergi makanan memiliki risiko 2–4 kali lebih tinggi menderita asma dibandingkan anak tanpa alergi makanan. Sensitisasi dini terhadap alergen makanan berkorelasi dengan munculnya wheezing atau asma di masa kanak-kanak. Alergi makanan pada anak dengan asma dikaitkan dengan kontrol asma yang buruk, peningkatan rawat inap, dan kejadian eksaserbasi. Kesimpulan: Pada anak dengan asma dan saluran napas sensitif, pengenalan dan eliminasi alergen makanan — serta pengendalian lingkungan (debu, udara dingin) dan pencegahan / manajemen ISPA — dapat membantu menurunkan frekuensi eksaserbasi dan meningkatkan kontrol asma.
Pendahuluan
Asma adalah penyakit saluran napas kronis yang banyak ditemukan pada anak-anak dan ditandai oleh hiperreaktivitas, obstruksi saluran napas, dan peradangan kronis. Pemicu asma pada anak sangat beragam — termasuk debu, bulu hewan, udara dingin, polusi, serta infeksi virus atau bakteri saluran napas atas (ISPA). Paparan debu rumah tangga misalnya telah dikaitkan dengan peningkatan prevalensi serangan asma.
Di sisi lain, prevalensi alergi makanan pada anak meningkat secara global dalam beberapa dekade terakhir. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa alergi makanan dan asma sering muncul bersamaan, dan bahwa sensitisasi terhadap alergen makanan pada masa bayi atau awal masa kanak-kanak dapat menjadi prediktor munculnya penyakit saluran napas seperti wheezing atau asma di kemudian hari. Oleh karena itu, penting mengevaluasi peran alergi makanan sebagai faktor modifikasi — bukan cuma pemicu akut — dalam asma kronis / eksaserbasi, terutama pada anak dengan saluran napas sensitif dan riwayat infeksi berulang.
Definisi Asma pada Anak
Asma pada anak didefinisikan sebagai penyakit inflamasi kronis saluran napas yang ditandai oleh obstruksi sebagian atau seluruh saluran napas, hipersensitivitas bronkial, dan remodeling saluran napas, yang bersifat reversibel sebagian maupun sepenuhnya. Proses inflamasi ini melibatkan sel-sel imun seperti eosinofil, limfosit T, mast cell, serta mediator inflamasi yang memicu penyempitan bronkus melalui edema mukosa, kontraksi otot polos, dan peningkatan produksi mukus. Pada anak, proses inflamasi tersebut cenderung lebih nyata karena ukuran saluran napas yang lebih kecil, sehingga gejala dapat muncul lebih cepat, lebih berat, dan lebih sering kambuh dibandingkan orang dewasa.
Secara klinis, asma pada anak sering muncul sebagai recurrent wheezing, batuk kronis atau berulang, mengi, sesak napas, dan rasa berat di dada, terutama ketika terpajan pemicu tertentu. Kepekaan saluran napas pada anak jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa, sehingga paparan alergen seperti debu rumah, bulu hewan, tungau, asap rokok, polusi udara, serta udara dingin atau perubahan suhu dapat dengan mudah menimbulkan bronkospasme. Selain itu, infeksi virus saluran napas atas (ISPA) seperti rhinovirus atau RSV merupakan pemicu paling umum kekambuhan, terutama pada anak dengan airway hyperresponsiveness. Bahkan paparan makanan tertentu dapat memperburuk inflamasi bila terdapat sensitisasi IgE terhadap makanan.
Asma pada anak dapat bersifat atopic maupun non-atopic, dan perbedaan ini penting untuk menentukan manajemen klinis yang tepat. Pada asma atopic terdapat sensitisasi terhadap alergen inhalan dan/atau makanan, peningkatan IgE spesifik atau total, serta riwayat atopi lain seperti dermatitis atopik atau rinitis alergi, yang mencerminkan dominasi respons imun Th2. Sebaliknya, pada asma non-atopic, inflamasi saluran napas lebih dipicu faktor non-alergi seperti udara dingin, polusi, asap, iritan kimia, dan infeksi virus, tanpa peningkatan IgE atau sensitisasi yang jelas. Kedua jenis asma ini dapat menghasilkan gambaran klinis serupa, tetapi mekanisme imunologisnya berbeda sehingga respons terapi juga dapat berbeda.
Immunopatofisiologi
- Alergi makanan pada anak sebagian besar dimediasi oleh respons imun tipe IgE: protein makanan (allergen) diidentifikasi sebagai antigen oleh sel dendritik, disajikan ke sel T helper tipe 2 (Th2), yang kemudian merangsang sel B memproduksi IgE spesifik. Sel IgE ini menempel pada sel mast dan basofil. Paparan kembali terhadap alergen makanan menyebabkan degranulasi sel mast dan pelepasan mediator inflamasi seperti histamin, leukotrien, prostaglandin, yang memicu reaksi alergi — bisa berupa gejala kulit, saluran cerna, atau pernapasan.
- Pada anak dengan asma dan sensitisasi makanan, reaksi ini tidak hanya terbatas pada gejala kulit atau pencernaan. Meski jarang, makanan dapat memicu bronkospasme, obstruksi saluran napas, dan eksaserbasi asma. Bahkan setelah reaksi akut, alergi makanan dapat meningkatkan hiperresponsivitas saluran napas secara nonspecifik — membuat saluran napas lebih mudah bereaksi terhadap pemicu lain (debu, dingin, infeksi).
- Dalam asma atopic, jalur inflamasi kronik melibatkan sel-sel imun seperti sel mast, eosinofil, sel T, serta mediator inflamasi tipe 2 (IL-4, IL-5, IL-13), menyebabkan peradangan, edema, peningkatan sekresi mucus, dan remodeling saluran napas. Pemicu inhalan seperti debu, bulu hewan, polusi, serta faktor lingkungan seperti udara dingin dan infeksi virus dapat memicu eksaserbasi.
- Ketika anak dengan asma juga memiliki alergi makanan, kombinasi dua jenis alergen — inhalan dan makanan — serta latar belakang imun Th2 dapat memperberat peradangan dan meningkatkan risiko eksaserbasi berat. Oleh karena itu, manajemen optimum dari asma pada anak harus mempertimbangkan evaluasi alergi makanan, terutama jika kontrol asma sulit dicapai dan/atau terdapat riwayat gejala alergi makanan.
Tabel Tanda dan Gejala Alergi Makanan Versus Asma Saluran Napas
| Organ / Sistem | Gejala Alergi Makanan | Gejala Asma / Saluran Napas |
|---|---|---|
| Kulit | Urtikaria, gatal, ruam, eksim | — (bukan khas, kecuali bagian dari reaksi anafilaksis) |
| Saluran pencernaan | Muntah, diare, kram perut, distensi, regurgitasi | Kadang GERD atau refluks reflux, tapi bukan manifestasi utama asma |
| Sistem pernapasan | Pada kasus tertentu: mengi, wheezing, batuk, sesak napas (jika alergi berat / anafilaksis) | Mengi/wheezing, batuk kronis atau berulang, sesak napas, batuk, produksi dahak, rasa berat di dada |
| Sistem kardiovaskular / umum | Anafilaksis: hipotensi, sinkop (pada kasus berat) | Tak umum — kecuali komplikasi berat / status asma berat |
| Sistem imun / inflamasi | Respon IgE, mediator inflamasi umum, reaksi alergi sistemik | Inflamasi saluran napas kronik, hiperresponsivitas, eosinofil, mediator peradangan saluran napas |
Penjelasan: Alergi makanan biasanya memunculkan gejala kulit dan/atau saluran cerna. Pada sebagian kecil, terutama pada anak dengan asma dan sensitisasi makanan, makanan bisa memicu gejala saluran napas seperti wheezing dan batuk, kadang dalam bentuk eksaserbasi asma atau bahkan anafilaksi Sebaliknya, asma utamanya menimbulkan gejala pernapasan—batuk, mengi, sesak—karena obstruksi dan inflamasi saluran napas, bukan gejala kulit atau pencernaan.
Komplikasi
- Anak dengan asma yang tidak terkontrol menghadapi risiko komplikasi seperti eksaserbasi berat, rawat inap, dan penurunan fungsi paru permanen dari waktu ke waktu.
- Jika terdapat alergi makanan yang tidak diidentifikasi dan terus terpapar alergen, setiap paparan dapat memicu rekasi sistemik — dari reaksi ringan kulit/saluran cerna hingga bronkospasme atau anafilaksis, terutama pada individu dengan asma.
- Selain itu, kombinasi infeksi saluran napas berulang (ISPA), paparan debu/udara dingin, dan alergi makanan dapat saling memperburuk — sehingga sering terjadi siklus eksaserbasi asma, konsumsi obat lebih sering, dan penurunan kualitas hidup serta daya tahan tubuh anak terhadap infeksi lain.
Penanganan (termasuk Oral Food Challenge / OFC dan manajemen asma)
- Identifikasi dan eliminasi alergen makanan — bagi anak dengan asma dan gejala sugestif alergi makanan (kulit, cerna, reaksi sistemik), lakukan evaluasi alergi (riwayat, tes IgE spesifik, skin prick test, dsb). Bila alergi makanan terbukti, eliminasi ketat terhadap alergen adalah langkah utama. Studi menunjukkan bahwa anak dengan FA & asma lebih sering mengalami eksaserbasi dan rawat inap.
- Oral Food Challenge (OFC) — sebagai standar emas konfirmasi alergi makanan; dilakukan di bawah pengawasan medis. Hal ini penting agar diagnosis akurat, menghindari diet eliminasi yang tidak perlu yang berisiko defisiensi nutrisi.
- Manajemen asma menyeluruh — termasuk kontrol lingkungan (kurangi debu, alergen inhalan), hindari pemicu seperti udara dingin, polusi, rokok, serta pencegahan/penanganan ISPA (vaksinasi bila diperlukan, menjaga kebersihan, perawatan medis).
- Tatalaksana farmakologis dan edukasi keluarga — pengobatan asma sesuai pedoman (bronchodilator, inhaler kortikosteroid if needed), serta edukasi keluarga mengenai pemicu, tanda eksaserbasi, dan cara menghindari alergen makanan. Jika alergi makanan dan asma terko-ontrol, kemungkinan penurunan frekuensi asma dan rawat inap lebih besar.
Kesimpulan
Terdapat bukti kuat bahwa pada anak, alergi makanan dan asma sering berkoeksistensi. Sensitisasi dan reaksi alergi terhadap makanan — terutama pada masa awal — dapat meningkatkan risiko munculnya asma atau memperberat asma yang sudah ada. Evaluasi alergi makanan, eliminasi alergen, serta manajemen asma dan lingkungan yang komprehensif sangat penting untuk mengurangi frekuensi eksaserbasi, rawat inap, dan meningkatkan kualitas hidup anak. Karena itu, pada anak dengan batuk lama, asma, atau saluran napas sensitif, perlu dipertimbangkan pemeriksaan alergi makanan — bukan hanya fokus pada debu, dingin, atau infeksi.
Daftar Pustaka
- Venter C, Meyer R, Dua S, et al. Food allergy and asthma. J Allergy Clin Immunol. 2022;149(4):1235-1244.
- Roberts G, Fox A, Lack G, et al. The relationship between asthma and food allergies in children. Allergy. 2023;78(6):1452-1460.
- Putri SD, Ardiyan YN. Kajian literatur: Alergi makanan pada anak dari aspek imunologi. Al-Asalmiya Nursing Journal. 2023;11(2):1-12.
- Schroeder S, Roberts G. Food sensitization and asthma in childhood: epidemiology and mechanisms. Children (Basel). 2022;2(2):45-58.
- Abed NT, Alrabbat ES. Food allergy and asthma exacerbation in asthmatic children. Egypt J Hosp Med. 2023;91(1):4933-4938.
- British Thoracic Society; Scottish Intercollegiate Guidelines Network. Diet dan asma: relevansi gizi dalam asma. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2022.
- Pratama RA. Uji sensitisasi alergen makanan dan tingkat keparahan asma pada anak. Skripsi. Universitas Gadjah Mada; 2021.
- American Academy of Pediatrics. Asthma and food allergies. HealthyChildren.org. 2023. Available from: https://www.healthychildren.org









Leave a Reply