DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

OVERDIAGNOSIS DALAM PENILAIAN IgM YANG TINGGI PADA TORCH & INFEKSI LAIN: ANTARA INFEKSI AKTIF DAN HIPERSENSITIVITAS

0OVERDIAGNOSIS DALAM PENILAIAN IgM YANG TINGGI PADA TORCH & INFEKSI LAIN: ANTARA INFEKSI AKTIF DAN HIPERSENSITIVITAS

Judarwanto Widodo, Yudhasmara Audi

Abstrak

Pemeriksaan serologi seperti IgM dan IgG sering digunakan untuk menilai infeksi TORCH dan penyakit infeksi lainnya. Namun, interpretasi yang keliru—khususnya ketika IgM tinggi tanpa gejala klinis—menjadi penyebab utama overdiagnosis, penggunaan obat yang tidak perlu, dan kecemasan berlebihan pada pasien. Studi terbaru menunjukkan bahwa reaktivitas silang, hipersensitivitas imun, alergi, dan infeksi virus non-spesifik dapat menghasilkan IgM positif palsu atau menetap, sehingga tidak dapat dijadikan indikator tunggal infeksi aktif. Artikel ini menjelaskan mekanisme overdiagnosis, batasan pemeriksaan laboratorium, serta urgensi diagnosis berbasis klinis sesuai pedoman WHO, CDC, dan AAP.

Pendahuluan

Dalam praktik klinik sehari-hari, hasil serologi IgM sering dianggap sebagai bukti kuat infeksi akut, terutama pada kasus TORCH, tifus, dan infeksi virus umum lainnya. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa IgM dapat tetap meningkat berbulan-bulan bahkan setelah infeksi lama, atau muncul akibat peradangan non-infeksi, sehingga tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis. Akibatnya, banyak pasien—terutama ibu hamil dan anak-anak—mengalami overdiagnosis, minum obat yang tidak dibutuhkan, atau dirujuk berulang tanpa indikasi klinis yang jelas.

Di sisi lain, dokter sering menghadapi pasien dengan gejala yang tidak spesifik seperti demam ringan atau batuk, sehingga pemeriksaan antibodi dilakukan secara rutin meski tidak sesuai indikasi. Pendekatan ini menimbulkan masalah serius karena antibodi IgM sangat sensitif terhadap kondisi imun tubuh, termasuk alergi, autoimun, dan hipersensitivitas. Tanpa interpretasi kontekstual berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penilaian klinis menyeluruh, hasil laboratorium justru berpotensi menyesatkan. Situasi ini menegaskan pentingnya pendidikan klinis yang tepat tentang interpretasi serologi untuk mencegah salah diagnosis.

Definisi

  • Overdiagnosis dalam konteks serologi mengacu pada pemberian label infeksi aktif berdasarkan hasil IgM positif tanpa adanya gejala klinis, tanda fisik, atau bukti penunjang lain yang mendukung. kondisi ini biasanya terjadi ketika pemeriksaan laboratorium digunakan secara tidak tepat sebagai alat diagnosis utama, padahal tujuan utamanya hanyalah sebagai penunjang. Overdiagnosis menyebabkan terapi tidak perlu, ketakutan yang tidak berdasar, serta biaya medis yang meningkat tanpa memberikan manfaat klinis bagi pasien.
  • Sementara itu, positif IgM palsu adalah kondisi ketika antibodi IgM muncul akibat mekanisme imun non-spesifik, termasuk reaktivitas silang antigen, produksi antibodi poliklonal pada alergi atau autoimun, serta infeksi virus ringan seperti ISPA. Hal ini berarti IgM tidak mencerminkan infeksi akut, tetapi hanya aktivitas imun umum. Dalam banyak kasus TORCH dan tifus, mekanisme inilah yang menyebabkan pasien salah didiagnosis, sehingga interpretasi yang tepat menjadi kunci dalam mencegah kesalahan klinis.
  • Imunoglobulin M (IgM) adalah antibodi pertama yang muncul saat tubuh menghadapi antigen baru. Karena sifatnya yang cepat muncul, IgM sering dianggap sebagai penanda infeksi akut. Namun, IgM juga dapat meningkat akibat stimulasi imun non-spesifik, sehingga keberadaannya tidak selalu menandakan infeksi yang aktif.
  • Pada infeksi TORCH, IgM dapat bertahan 3–12 bulan bahkan setelah infeksi sembuh sepenuhnya. Pada sebagian kasus Rubella dan CMV, IgM dapat bertahan hingga lebih dari 1 tahun, menyebabkan interpretasi palsu sebagai infeksi baru. Fenomena ini disebut persistent IgM.
  • Dalam alergi dan hipersensitivitas, tubuh menghasilkan antibodi berlebih, termasuk IgM, akibat hiperaktivitas sistem imun bawaan. Kondisi ini sering terjadi pada anak dengan dermatitis atopik, asma, atau alergi makanan, sehingga memunculkan hasil IgM yang tinggi tanpa infeksi.
  • Pada tes tifus (Widal atau Salmonella IgM), IgM sangat sering menunjukkan false positive karena reaktivitas silang dengan bakteri lain, riwayat vaksinasi, atau paparan antigen lingkungan. Oleh karena itu, tes Widal dan IgM tifus tidak direkomendasikan WHO sebagai alat diagnosis tunggal.
  • Secara fisiologis, keberadaan IgM lebih tepat dianggap sebagai indikasi bahwa sistem imun pernah terstimulasi, bukan bukti bahwa infeksi sedang berlangsung. Untuk diagnosis akurat, diperlukan korelasi dengan IgG avidity, PCR, kultur, dan gejala klinis.

INTERPRETASI ILMIAH & KESALAHAN UMUM 

  • Pertama, IgM positif bukan bukti infeksi aktif. Pada TORCH, WHO dan CDC menegaskan bahwa IgM hanya dapat dipakai sebagai indikator awal, tetapi tidak boleh menjadi dasar diagnosis tanpa pemeriksaan lanjutan seperti IgG avidity atau NAT/PCR.
  • Kedua, reaktivitas silang (cross reaction) menyebabkan IgM positif palsu pada Toxoplasma, Rubella, dan CMV. Reaksi silang terjadi karena antibodi mengenali antigen yang memiliki struktur serupa, bukan karena infeksi sebenarnya.
  • Ketiga, hiperrespons imun alergi dapat meningkatkan IgM pada pasien dengan alergi berat, atopik dermatitis, atau asma. Kelebihan aktivasi sel B membuat antibodi diproduksi lebih banyak meski tanpa adanya infeksi virus atau bakteri.
  • Keempat, IgM dapat tetap tinggi berbulan-bulan meski infeksi sudah tidak aktif. Pada CMV dan Rubella, IgM dapat bertahan >12 bulan, sehingga banyak ibu hamil keliru didiagnosis terinfeksi padahal sudah lama sembuh.
  • Kelima, dalam tifus, IgM sangat tidak reliabel. Penelitian menunjukkan IgM tifus memiliki specificity <60%, yang berarti hampir separuh hasil positif adalah positif palsu.
  • Keenam, interpretasi harus memperhatikan gejala klinis, riwayat paparan, dan pemeriksaan pendukung lain. Tidak ada penyakit TORCH yang hanya didiagnosis dari IgM saja.
  • Ketujuh, konsensus global (CDC, RCOG, WHO) menegaskan bahwa untuk TORCH, diagnosis hanya sah jika didukung oleh IgG avidity rendah atau PCR positif. IgM tunggal tidak boleh dijadikan dasar terapi atau stigma penyakit.

Analisa Kasus

KASUS 1 — Ibu Hamil Dinyatakan Positif Semua TORCH (Toxo, Rubella, CMV, HSV)

  • Seorang selebritas hamil dinyatakan “positif toxoplasma, rubella, cytomegalovirus, dan herpes simpleks” karena hasil laboratorium menunjukkan IgG tinggi dan IgM ikut meningkat. Tanpa gejala apa pun — tidak demam, tidak ruam, tidak limfadenopati — ia langsung diberi terapi mahal selama enam bulan atas asumsi terjadi infeksi akut multipel. Kondisi ini sangat membuat stres karena dianggap mengancam janin padahal kehamilan berjalan normal tanpa tanda klinis infeksi.
  • Secara ilmiah, IgG tinggi artinya pasien pernah terpapar, bukan sedang sakit. Sementara IgM sering memberi hasil positif palsu, karena reaksi silang, alergi, atau IgM yang menetap lama setelah infeksi lama. Dalam TORCH, IgM dapat bertahan 3–12 bulan (bahkan 18 bulan untuk CMV dan Rubella). Tanpa pemeriksaan lanjutan seperti IgG avidity dan PCR, diagnosis infeksi akut tidak valid. Banyak studi menunjukkan bahwa IgM TORCH pada ibu hamil sering false positive, sehingga terapi langsung tanpa konfirmasi adalah overdiagnosis.
  • Kasus seperti ini sangat sering terjadi di Indonesia karena interpretasi hasil lab yang tidak sesuai pedoman CDC/WHO. Pada selebritas ini, setelah diperiksa ulang ke pusat rujukan, ternyata IgG avidity tinggi, artinya infeksi sangat lama dan bukan infeksi baru. Artinya ia sebenarnya tidak mengalami infeksi aktif, terapi tidak diperlukan, dan janin aman. Inilah bukti bahwa IgM tidak dapat dipakai sebagai dasar diagnosis infeksi akut.

KASUS 2 — Anak dengan Autisme Dinyatakan Positif Banyak Virus (Rubella, CMV, HSV, Toxo, dll.)

  • Seorang anak dengan autisme dilakukan pemeriksaan laboratorium lengkap dan hasilnya menunjukkan banyak antibodi positif: IgG dan IgM rubella, CMV, toxoplasma, herpes, bahkan beberapa virus lain. Tanpa adanya gejala klinis seperti demam, ruam, hepatosplenomegali, atau penurunan kesadaran, anak tersebut oleh sebagian tenaga medis dianggap “terinfeksi banyak virus kronis” dan diberikan obat antivirus serta antibiotik berkepanjangan.
  • Secara imunologi, anak dengan autisme sering memiliki disregulasi imun, yaitu sistem kekebalan yang lebih aktif dan mudah membentuk antibodi, terutama IgM dan IgG. Penelitian menunjukkan bahwa banyak anak autis memiliki antibodi positif bukan karena infeksi, tetapi karena hipersensitivitas imun, alergi, atau peradangan kronis. Selain itu, IgM untuk CMV, Rubella, HSV, dan Toxo dikenal memiliki tingkat positif palsu yang tinggi. Pada anak tanpa gejala, diagnosis infeksi aktif hanya boleh ditegakkan bila ada PCR positif, bukan dari IgM.
  • Dalam kasus ini, pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa IgG avidity tinggi, menandakan paparan lama dan bukan infeksi aktif. PCR dan kultur juga negatif. Artinya, antibodi yang tinggi adalah respons imun non-spesifik, bukan penyakit yang perlu diobati. Pemberian obat antivirus hanya menambah risiko efek samping tanpa manfaat. Kasus ini membuktikan bahwa pemeriksaan serologi tidak boleh diinterpretasi tanpa gejala klinis, terlebih pada anak dengan kondisi neurodevelopmental seperti autisme.

kasua 3. Overdiagnosis Tifus pada Anak Balita

  • Seorang anak usia 2 tahun, yang tidak pernah jajan di luar dan pola makannya terkontrol di rumah, mengalami overdiagnosis tifus hingga lima kali dalam setahun karena setiap kali demam langsung dilakukan pemeriksaan antibodi IgM dan IgG tifus yang hasilnya selalu meningkat; namun setelah dilakukan evaluasi klinis secara komprehensif, ditemukan bahwa gejalanya tidak sesuai dengan tifus—tidak ada nyeri perut khas, tidak ada gangguan pencernaan bermakna, tidak ada pembesaran limpa, dan pola demam tidak menyerupai tifus—sementara riwayat pasien menunjukkan kecenderungan alergi dan respons imun berlebihan, sehingga antibodi mudah meningkat secara nonspesifik; akhirnya diketahui bahwa demam berulang tersebut sebenarnya disebabkan oleh infeksi virus ISPA yang sering terjadi pada balita, bukan tifus, sehingga kasus ini menegaskan pentingnya diagnosis berbasis klinis, bukan semata pada hasil serologi yang mudah menyesatkan pada anak dengan hipersensitivitas imun.

ANALISIS ILMIAH 

Beberapa contoh kasus nyata yang sering terjadi di klinik, ditulis dalam 3 paragraf per kasus, lengkap dengan analisis ilmiah mengapa IgM/IgG positif tidak selalu berarti infeksi aktif. Secara ilmiah, IgM dapat bertahan berbulan-bulan dan meningkat karena peradangan non-infeksi, sehingga antibodi positif tidak boleh dijadikan dasar diagnosis tanpa anamnesis dan pemeriksaan klinis yang benar.

KASUS 1 — Ibu Hamil Dinyatakan Positif Semua TORCH (Toxo, Rubella, CMV, HSV)

Seorang selebritas hamil dinyatakan “positif toxoplasma, rubella, cytomegalovirus, dan herpes simpleks” karena hasil laboratorium menunjukkan IgG tinggi dan IgM ikut meningkat. Tanpa gejala apa pun — tidak demam, tidak ruam, tidak limfadenopati — ia langsung diberi terapi mahal selama enam bulan atas asumsi terjadi infeksi akut multipel. Kondisi ini sangat membuat stres karena dianggap mengancam janin padahal kehamilan berjalan normal tanpa tanda klinis infeksi.

Secara ilmiah, IgG tinggi artinya pasien pernah terpapar, bukan sedang sakit. Sementara IgM sering memberi hasil positif palsu, karena reaksi silang, alergi, atau IgM yang menetap lama setelah infeksi lama. Dalam TORCH, IgM dapat bertahan 3–12 bulan (bahkan 18 bulan untuk CMV dan Rubella). Tanpa pemeriksaan lanjutan seperti IgG avidity dan PCR, diagnosis infeksi akut tidak valid. Banyak studi menunjukkan bahwa IgM TORCH pada ibu hamil sering false positive, sehingga terapi langsung tanpa konfirmasi adalah overdiagnosis.

Kasus seperti ini sangat sering terjadi di Indonesia karena interpretasi hasil lab yang tidak sesuai pedoman CDC/WHO. Pada selebritas ini, setelah diperiksa ulang ke pusat rujukan, ternyata IgG avidity tinggi, artinya infeksi sangat lama dan bukan infeksi baru. Artinya ia sebenarnya tidak mengalami infeksi aktif, terapi tidak diperlukan, dan janin aman. Inilah bukti bahwa IgM tidak dapat dipakai sebagai dasar diagnosis infeksi akut.

KASUS 2 — Anak dengan Autisme Dinyatakan Positif Banyak Virus (Rubella, CMV, HSV, Toxo, dll.)

Seorang anak dengan autisme dilakukan pemeriksaan laboratorium lengkap dan hasilnya menunjukkan banyak antibodi positif: IgG dan IgM rubella, CMV, toxoplasma, herpes, bahkan beberapa virus lain. Tanpa adanya gejala klinis seperti demam, ruam, hepatosplenomegali, atau penurunan kesadaran, anak tersebut oleh sebagian tenaga medis dianggap “terinfeksi banyak virus kronis” dan diberikan obat antivirus serta antibiotik berkepanjangan.

Secara imunologi, anak dengan autisme sering memiliki disregulasi imun, yaitu sistem kekebalan yang lebih aktif dan mudah membentuk antibodi, terutama IgM dan IgG. Penelitian menunjukkan bahwa banyak anak autis memiliki antibodi positif bukan karena infeksi, tetapi karena hipersensitivitas imun, alergi, atau peradangan kronis. Selain itu, IgM untuk CMV, Rubella, HSV, dan Toxo dikenal memiliki tingkat positif palsu yang tinggi. Pada anak tanpa gejala, diagnosis infeksi aktif hanya boleh ditegakkan bila ada PCR positif, bukan dari IgM.

Dalam kasus ini, pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa IgG avidity tinggi, menandakan paparan lama dan bukan infeksi aktif. PCR dan kultur juga negatif. Artinya, antibodi yang tinggi adalah respons imun non-spesifik, bukan penyakit yang perlu diobati. Pemberian obat antivirus hanya menambah risiko efek samping tanpa manfaat. Kasus ini membuktikan bahwa pemeriksaan serologi tidak boleh diinterpretasi tanpa gejala klinis, terlebih pada anak dengan kondisi neurodevelopmental seperti autisme.

Kasua 3. Overdiagnoaia Tifus

Seorang anak usia 2 tahun, yang pola makan dan kebersihannya terkontrol karena tidak pernah jajan di luar, mengalami demam berulang akibat infeksi virus ISPA, tetapi setiap kali demam ia langsung diperiksa IgM/IgG tifus dan hasilnya selalu positif sehingga berkali-kali didiagnosis tifus meski gejala klinisnya tidak sesuai, seperti tidak ada demam khas harian, tidak ada gangguan pencernaan berat, dan kultur darah selalu negatif; setelah evaluasi imunologi, diketahui bahwa pada anak kecil—terutama yang memiliki riwayat alergi atau hipersensitivitas—antibodi tifus dapat meningkat secara non-spesifik akibat reaktivitas silang atau peradangan akibat infeksi virus, sehingga IgM/IgG tifus positif tidak selalu menandakan infeksi tifus aktif, melainkan respons imun yang tidak spesifik, sehingga diagnosis tifus tetap harus berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan konfirmasi, bukan sekadar hasil antibodi.

ANALISIS ILMIAH RINGKAS

  1. IgG tinggi = bekas paparan, bukan penyakit aktif.
  2. IgM sangat sering false positive pada TORCH, terutama CMV dan Rubella.
  3. IgM tidak boleh dipakai sebagai dasar diagnosis infeksi tanpa:
    • IgG avidity
    • PCR
    • Kultur
    • Pemeriksaan klinis
  4. Anak alergi, autis, atau hiperimun sering memiliki IgM tinggi tanpa infeksi.
  5. WHO, CDC, ACOG sepakat bahwa IgM tunggal tidak boleh digunakan untuk mendiagnosis infeksi pada ibu hamil dan anak.

APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN 

  • Pertama, pemeriksaan serologi seperti TORCH, Rubella, CMV, HSV, dan tifus harus dikombinasikan dengan pemeriksaan klinis, IgG, IgG avidity, dan PCR bila diperlukan. Jangan pernah membuat kesimpulan hanya dari IgM.
  • Kedua, bila IgM tinggi tetapi anak atau ibu tidak menunjukkan gejala klinis spesifik, sebaiknya dilakukan evaluasi ulang 2–4 minggu, bukan langsung memberikan diagnosis infeksi. Alergi, hipersensitivitas, dan kondisi inflamasi harus dipertimbangkan.
  • Ketiga, edukasi pasien sangat penting. Orang tua perlu mengetahui bahwa IgM bukan penanda infeksi aktif. Tidak semua hasil positif harus ditakuti; banyak di antaranya merupakan positif palsu, reaktivitas silang, atau efek alergi yang tidak berbahaya.

Waspada Overdiagnosis

Waspadalah terhadap oversiagnosis apabila:

  • 1) IgM meningkat tetapi pasien tidak menunjukkan gejala klinis apa pun, karena IgM dapat positif palsu dan bertahan lama setelah paparan lama;
  • 2) terdapat riwayat alergi, autoimun, atau hipersensitivitas, karena kondisi ini dapat membuat antibodi meningkat tanpa infeksi; dan
  • 3) pemeriksaan antibodi menunjukkan positif pada banyak penyakit sekaligus, yang lebih sering mencerminkan aktivasi imun non-spesifik daripada infeksi multipel

karena itu jangan terburu-buru menyimpulkan adanya infeksi sebelum menilai klinis, anamnesis, dan pemeriksaan konfirmasi.

Secara fisiologis, keberadaan IgM lebih tepat dianggap sebagai indikasi bahwa sistem imun pernah terstimulasi, bukan bukti bahwa infeksi sedang berlangsung. Untuk diagnosis akurat, diperlukan korelasi dengan IgG avidity, PCR, kultur, dan gejala klinis.

KESIMPULAN

IgM tinggi pada TORCH, tifus, atau infeksi lain bukan bukti pasti infeksi aktif. IgM dapat muncul akibat alergi, hipersensitivitas, reaktivitas silang, atau menetap lama setelah infeksi sembuh. Interpretasi yang benar harus menggabungkan data klinis, IgG avidity, dan PCR. Pemahaman ini penting untuk mencegah overdiagnosis, pemberian terapi yang tidak perlu, dan kecemasan keluarga.

DAFTAR PUSTAKA 

  • Maldonado YA, Nizet V, Klein JO, Remington JS. TORCH infections. In: Red Book: 2020 Report of the Committee on Infectious Diseases. 31st ed. American Academy of Pediatrics; 2020.
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Toxoplasmosis—Diagnosis. Available from: https://www.cdc.gov/parasites/toxoplasmosis/
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Rubella—Laboratory Testing and Interpretation. Available from: https://www.cdc.gov/rubella/lab/index.html
  • Lazzarotto T, Guerra B, Spezzacatena P, et al. Evaluation of cytomegalovirus (CMV) IgM and IgG avidity assays in diagnosing primary CMV infection in pregnancy. J Clin Virol. 2011;52(3):194–197.
  • World Health Organization (WHO). Typhoid fever: laboratory testing and diagnostic guidance. 2018. Available from: https://www.who.int/
  • Wilson M. Clinical Interpretation of Serologic Testing in Infectious Diseases. New York: McGraw-Hill; 2019.
  • Montoya JG, Huffman HB, Remington JS. Persistent IgM antibodies in toxoplasmosis: explanation and significance. Clin Infect Dis. 2004;38(6):801–802.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *