Interpretasi Laboratorium Tes Alergi dalam Diagnosis Alergi Makanan
Abstrak
Alergi makanan merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat pada anak dan dewasa, dengan manifestasi klinis yang luas dan sering tidak spesifik. Berbagai metode pemeriksaan laboratorium tes alergi telah dikembangkan, namun interpretasi hasilnya sering menimbulkan kesalahan diagnosis apabila tidak dikaitkan dengan riwayat klinis dan uji konfirmasi. Artikel ini bertujuan membahas peran tes alergi dalam diagnosis alergi makanan, termasuk tes kulit, tes darah IgE spesifik, bioresonansi, serta Oral Food Challenge (OFC) sebagai standar emas. Penekanan diberikan pada interpretasi hasil laboratorium berdasarkan sensitivitas, spesifisitas, serta keterbatasan masing-masing metode. Diharapkan artikel ini dapat meningkatkan ketepatan diagnosis alergi makanan dan mencegah overdiagnosis maupun diet eliminasi yang tidak perlu.
Kata kunci: alergi makanan, tes alergi, skin prick test, IgE spesifik, oral food challenge
Alergi makanan adalah reaksi imunologis terhadap protein makanan tertentu yang dapat dimediasi oleh IgE, non-IgE, atau mekanisme campuran. Diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan hasil tes laboratorium, melainkan harus berlandaskan riwayat klinis yang kuat dan respons terhadap eliminasi serta provokasi makanan.
Dalam praktik sehari-hari, pemeriksaan tes alergi sering disalahartikan sebagai alat diagnosis pasti. Hasil positif kerap diartikan sebagai alergi, padahal tes tersebut hanya menunjukkan adanya sensitisasi imunologis, bukan reaksi klinis. Oleh karena itu, pemahaman yang tepat mengenai interpretasi tes alergi sangat penting untuk mencegah kesalahan diagnosis dan dampak negatif jangka panjang.
Diagnosis Alergi Makanan
Riwayat Penyakit
- Diagnosis alergi makanan diawali dengan anamnesis yang rinci, mencakup hubungan temporal antara konsumsi makanan tertentu dan munculnya gejala. Gejala dapat melibatkan kulit (urtikaria, eksim), saluran cerna (muntah, diare, nyeri perut), saluran napas (batuk, mengi), maupun sistemik (anafilaksis).
- Pola gejala yang konsisten, berulang, dan membaik setelah eliminasi makanan tertentu merupakan petunjuk klinis yang paling penting. Tanpa korelasi klinis yang jelas, hasil tes alergi tidak boleh dijadikan dasar diagnosis.
Riwayat Keluarga dan Oral Food Challenge
- Riwayat keluarga atopi (asma, rinitis alergi, dermatitis atopik, alergi makanan) meningkatkan risiko alergi, namun tidak bersifat diagnostik. Faktor genetik berperan dalam kecenderungan sensitisasi, tetapi manifestasi klinis tetap dipengaruhi lingkungan dan paparan makanan.
- Oral Food Challenge (OFC) merupakan metode paling akurat untuk menegakkan diagnosis alergi makanan. OFC menilai respons klinis langsung setelah pemberian makanan tersangka secara terkontrol, sehingga mampu membedakan antara sensitisasi dan alergi sejati.
Interpretasi Hasil Laboratorium Tes Alergi
- Tes Kulit (Skin Prick Test / SPT)
- Tes kulit menilai adanya IgE spesifik terhadap alergen tertentu pada permukaan kulit. Hasil positif menunjukkan sensitisasi, namun tidak selalu berkorelasi dengan gejala klinis. Nilai prediktif positif relatif rendah, terutama pada anak dengan dermatitis atopik.
- Tes Darah (IgE Total dan IgE Spesifik)
- IgE total tidak spesifik dan sering meningkat pada berbagai kondisi non-alergi. IgE spesifik terhadap makanan membantu mengidentifikasi sensitisasi, tetapi tidak mampu memastikan alergi tanpa korelasi klinis. Nilai ambang tertentu dapat meningkatkan nilai prediktif, namun tetap tidak menggantikan OFC.
- Bioresonansi
- Bioresonansi dan metode serupa tidak berbasis imunologi maupun bukti ilmiah yang kuat. Hingga saat ini, metode ini tidak direkomendasikan oleh organisasi alergi internasional karena sensitivitas dan spesifisitasnya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
- Oral Food Challenge
- Double Blind Placebo Controlled Food Challenge (DBPCFC) merupakan standar emas diagnosis alergi makanan karena menghilangkan bias subjektif. Sementara itu, OFC terbuka sederhana sering digunakan dalam praktik klinis dengan pengawasan ketat, terutama pada risiko rendah.
Perbandingan Metode Pemeriksaan Tes Alergi
| Metode | Sensitivitas | Spesifisitas | Perkiraan Biaya | Kelemahan Utama |
|---|---|---|---|---|
| Skin Prick Test | Tinggi | Rendah–sedang | Sedang | Positif ≠ alergi |
| IgE spesifik darah | Sedang–tinggi | Sedang | Tinggi | Tidak prediktif klinis |
| IgE total | Rendah | Rendah | Rendah | Tidak diagnostik |
| Bioresonansi | Tidak valid | Tidak valid | Tinggi | Tidak ilmiah |
| OFC terbuka sederahana | Tinggi | Tinggi | Murah | Perlu pengawasan |
| DBPCFC | Sangat tinggi | Sangat tinggi | Sangat tinggi | Mahal dan kompleks |
Kesimpulan
Tes alergi laboratorium merupakan alat bantu dalam diagnosis alergi makanan, namun tidak dapat berdiri sendiri. Skin prick test dan IgE spesifik hanya menunjukkan sensitisasi, bukan alergi klinis. Metode bioresonansi tidak direkomendasikan karena tidak berbasis bukti ilmiah. Oral Food Challenge, terutama DBPCFC, tetap menjadi standar emas dalam menegakkan diagnosis alergi makanan. Interpretasi hasil tes alergi harus selalu dikaitkan dengan riwayat klinis dan respons terhadap eliminasi makanan untuk mencegah kesalahan diagnosis dan terapi yang tidak perlu.
Daftar Pustaka
- Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: Epidemiology, pathogenesis, diagnosis, and treatment. J Allergy Clin Immunol. 2014;133(2):291–307.
- Boyce JA, et al. Guidelines for the diagnosis and management of food allergy. J Allergy Clin Immunol. 2010;126(6):S1–S58.
- Muraro A, et al. EAACI food allergy and anaphylaxis guidelines. Allergy. 2014;69(8):1008–1025.
- Nowak-Węgrzyn A, et al. Oral food challenges. J Allergy Clin Immunol. 2009;123(6):S365–S383.
- ASCIA. Skin prick testing and serum specific IgE testing. Clin Exp Allergy. 2016.











Leave a Reply