DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Perlukah Tes Kulit Alergi Sebelum Pemberian Antibiotik?

Perlukah Tes Kulit Alergi Sebelum Pemberian Antibiotik?

Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara

Tes kulit alergi terhadap antibiotik, terutama antibiotik parenteral, sering dipertimbangkan dalam praktik klinis sebagai upaya pencegahan reaksi alergi berat, termasuk anafilaksis. Meskipun demikian, berbagai pedoman internasional menyatakan bahwa pemeriksaan ini tidak direkomendasikan untuk dilakukan secara rutin pada semua pasien, karena manfaat klinisnya sangat bergantung pada riwayat alergi dan probabilitas pra-tes.

Artikel ini bertujuan membahas secara komprehensif indikasi, keterbatasan, serta implikasi klinis tes kulit alergi antibiotik berdasarkan bukti ilmiah terkini, dengan penekanan pada pentingnya anamnesis alergi yang sistematis sebagai landasan utama pengambilan keputusan klinis dan penggunaan antibiotik yang rasional.


Alergi Antibiotik dalam Praktik Klinis

  • Reaksi alergi terhadap antibiotik merupakan salah satu masalah penting dalam pelayanan kesehatan karena berpotensi menimbulkan morbiditas serius dan, pada kasus tertentu, mortalitas. Antibiotik golongan beta-laktam, khususnya penisilin dan sefalosporin, merupakan penyebab tersering reaksi alergi obat yang dimediasi imunoglobulin E (IgE). Reaksi ini umumnya muncul cepat setelah pajanan obat dan dapat berupa urtikaria, angioedema, bronkospasme, hingga anafilaksis.
  • Namun, data epidemiologi menunjukkan adanya overdiagnosis alergi antibiotik. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10% populasi melaporkan alergi penisilin, tetapi setelah evaluasi alergi yang tepat, hanya 5–10% yang benar-benar terbukti alergi secara imunologis, sedangkan sisanya dapat mentoleransi obat dengan baik. Fenomena ini menimbulkan implikasi besar terhadap pilihan terapi dan resistensi antibiotik.

Indikasi Tes Kulit Alergi Antibiotik

  • Berdasarkan rekomendasi EAACI, AAAAI, dan WAO, tes kulit alergi antibiotik hanya dianjurkan pada pasien dengan riwayat reaksi alergi yang jelas atau dicurigai, khususnya reaksi hipersensitivitas tipe cepat (immediate hypersensitivity). Riwayat klinis yang bermakna meliputi urtikaria generalisata, angioedema, sesak napas, bronkospasme, hipotensi, atau anafilaksis yang terjadi dalam waktu menit hingga beberapa jam setelah pemberian antibiotik.
  • Pada kelompok pasien ini, prick test dan intradermal test terhadap antibiotik beta-laktam memiliki nilai diagnostik yang cukup baik dalam mengidentifikasi sensitisasi IgE. Pelaksanaan tes kulit memungkinkan pemilihan antibiotik yang lebih aman serta menurunkan risiko reaksi alergi berat pada pemberian ulang, terutama pada pasien dengan kebutuhan penggunaan antibiotik lini pertama.

Pemeriksaan Diagnostik Alergi Obat: Pendekatan Terkini Berbasis Bukti

  • Di Amerika Serikat, pemeriksaan diagnostik alergi obat terutama didasarkan pada tes kulit reaksi segera (immediate skin testing) dan uji tantang obat (drug challenge). Pemeriksaan kulit untuk reaksi tertunda, termasuk delayed intradermal test (dIDT) dan patch test (PT), memiliki peran yang terus berkembang dalam mendiagnosis fenotipe tertentu dari reaksi hipersensitivitas obat tertunda. Sebaliknya, pemeriksaan in vitro seperti basophil activation test dan lymphocyte transformation test hingga saat ini belum memiliki uji komersial yang tervalidasi dengan baik di Amerika Serikat, sehingga belum direkomendasikan dalam pedoman praktik ini. Secara klinis, pendekatan diagnostik tetap menekankan evaluasi berbasis riwayat klinis yang kuat, dikombinasikan dengan pemeriksaan yang memiliki manfaat klinis nyata.
  • Meskipun tes kulit sering digunakan dalam evaluasi alergi obat, akurasi tes kulit untuk sebagian besar obat masih belum jelas, dan hingga kini belum ada kesepakatan universal mengenai kriteria tes kulit positif. Kelompok kerja terbaru merekomendasikan bahwa tes kulit prick/puncture maupun intradermal dianggap positif bila terbentuk wheal ≥3 mm dibandingkan kontrol negatif, disertai flare ≥5 mm. Studi terbaru menunjukkan metode optimal untuk meningkatkan reprodusibilitas tes intradermal antibiotik, yaitu dengan terlebih dahulu menarik cairan ke dalam spuit sebanyak 0,05–0,07 mL, membuang kelebihan cairan dan gelembung udara hingga tersisa 0,02 mL, kemudian menyuntikkannya untuk menghasilkan bleb awal berdiameter 3–5 mm. Walaupun tes kulit reaksi segera sering digunakan, pemeriksaan ini paling bermanfaat pada pasien dengan riwayat anafilaksis akibat obat. Sebaliknya, sebagian besar pasien dengan reaksi ringan dan non-anafilaktik dapat ditangani tanpa perlu tes kulit.
  • Bukti ilmiah untuk berbagai modalitas pemeriksaan pada reaksi hipersensitivitas obat tertunda masih terbatas dan memiliki tingkat kepastian rendah, umumnya berasal dari seri kasus kecil tanpa konfirmasi uji tantang obat. Oleh karena itu, sensitivitas, spesifisitas, nilai prediktif positif, dan nilai prediktif negatif belum dapat dihitung secara andal. Namun, pada kondisi tertentu—misalnya pada pasien dengan DRESS syndrome di mana terdapat beberapa obat yang dicurigai sebagai penyebab—tes kulit tertunda dapat dipertimbangkan untuk membantu mengidentifikasi obat tersangka. Meskipun akurasinya belum pasti, tes ini dilaporkan relatif aman bila dilakukan 6 minggu hingga 6 bulan setelah reaksi alergi sembuh sepenuhnya.
  • Berbeda dengan tes kulit, uji tantang obat (drug challenge) dianggap sebagai gold standard untuk menilai toleransi pasien terhadap suatu obat. Berbagai istilah pernah digunakan untuk prosedur ini, seperti drug provocation test, graded challenge, atau test dose, namun istilah drug challenge lebih dianjurkan karena sejalan dengan konsep uji tantang pada alergi lain (misalnya alergi makanan). Tujuan uji ini adalah membuktikan toleransi, bukan memicu reaksi. Uji tantang dapat dilakukan secara bertahap (graded) maupun dosis tunggal, baik untuk reaksi segera maupun tertunda, dengan tetap memperhatikan kontraindikasi tertentu. Pada umumnya, uji ini dilakukan saat probabilitas alergi obat rendah, dengan skema satu langkah (dosis terapi penuh) atau dua langkah (10–25% dosis awal, diikuti sisa dosis setelah observasi 20–30 menit). Pasien dengan keluhan subjektif dominan atau riwayat alergi obat multipel sebaiknya dipertimbangkan menjalani uji tantang terkontrol plasebo.
  • Dalam konteks farmakogenomik, sebagian besar asosiasi genetik yang telah diidentifikasi saat ini belum dapat diterapkan secara luas dalam praktik klinis. Namun, beberapa hubungan genetik—terutama alel HLA tertentu—telah terbukti berperan dalam reaksi hipersensitivitas obat berat yang dimediasi imun. Skrining genetik untuk alel HLA spesifik pada obat dan populasi tertentu terbukti mampu menurunkan kejadian reaksi hipersensitivitas serius. Meskipun tes genetik belum digunakan secara rutin untuk diagnosis alergi obat, perkembangan teknologi genotipe dan ketersediaan penanda HLA yang lebih praktis berpotensi memperluas peran pemeriksaan genetik di masa depan, baik untuk skrining maupun penegakan diagnosis alergi obat.

Keterbatasan dan Kondisi yang Tidak Dianjurkan

  • Tes kulit alergi antibiotik tidak dianjurkan pada pasien tanpa riwayat alergi antibiotik yang jelas. Pada populasi ini, probabilitas pra-tes sangat rendah, sehingga nilai prediktif positif tes menurun secara signifikan dan meningkatkan risiko hasil positif palsu. Studi observasional menunjukkan bahwa 80–90% pasien dengan label alergi penisilin sebenarnya tidak alergi dan dapat menerima penisilin tanpa efek samping serius.
  • Dampak klinis dari hasil positif palsu sangat bermakna. Pasien yang salah dilabeli alergi antibiotik cenderung mendapatkan antibiotik alternatif spektrum luas, seperti fluorokuinolon atau karbapenem. Berbagai penelitian kohort besar menunjukkan bahwa kondisi ini berhubungan dengan peningkatan kejadian infeksi Clostridioides difficile, resistensi antimikroba, durasi rawat inap lebih lama, serta biaya perawatan kesehatan yang lebih tinggi.
  • Dari sudut pandang imunopatologi, tes kulit alergi hanya mendeteksi reaksi hipersensitivitas tipe I yang dimediasi IgE. Sebaliknya, keluhan seperti mual, muntah, diare, atau ruam makulopapular yang muncul lambat umumnya merupakan reakksi non-imun atau hipersensitivitas non-IgE, yang tidak dapat diprediksi oleh tes kulit dan biasanya bersifat ringan serta self-limited. Oleh karena itu, pemeriksaan tes kulit pada kondisi tersebut tidak memberikan manfaat diagnostik.
  • Berdasarkan bukti ilmiah dan pedoman internasional, tes kulit alergi antibiotik tidak direkomendasikan sebagai alat skrining rutin, melainkan sebagai pemeriksaan selektif berbasis indikasi klinis yang kuat. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip antimicrobial stewardship yang direkomendasikan oleh WHO untuk mencegah resistensi antibiotik.

Pendekatan Klinis yang Dianjurkan

  • Pendekatan terbaik dalam pencegahan reaksi alergi antibiotik adalah anamnesis alergi yang sistematis dan terstruktur, meliputi jenis antibiotik, waktu timbul reaksi, manifestasi klinis, serta derajat keparahan reaksi. Informasi ini menjadi dasar utama dalam stratifikasi risiko alergi.
  • WHO, WAO, EAACI, dan AAAAI merekomendasikan agar pemilihan antibiotik didasarkan pada evaluasi klinis yang cermat, dengan penggunaan tes kulit hanya pada pasien berisiko tinggi dan dilakukan oleh tenaga medis terlatih di fasilitas dengan kesiapan kegawatdaruratan. Pemantauan klinis pascapemberian antibiotik tetap menjadi komponen penting dalam menjamin keselamatan pasien.

Kesimpulan

Tes kulit alergi tidak diperlukan secara rutin sebelum pemberian antibiotik, tetapi memiliki peran penting pada pasien dengan riwayat alergi yang jelas atau dicurigai, khususnya terhadap antibiotik beta-laktam. Anamnesis yang komprehensif tetap merupakan pilar utama dalam penilaian risiko alergi obat, sementara tes kulit berfungsi sebagai alat bantu diagnostik yang selektif, aman, dan berbasis bukti. Pendekatan ini mendukung keselamatan pasien sekaligus penggunaan antibiotik yang rasional dan berkelanjutan.


Daftar Pustaka 

  • Macy E. Penicillin allergy: optimizing diagnostic protocols and public health implications. J Allergy Clin Immunol. 2015;136(3):686–693.
  • Blumenthal KG, et al. The impact of a reported penicillin allergy on surgical site infection risk. Clin Infect Dis. 2018;66(3):329–336.
  • Solensky R, et al. Penicillin allergy: a practical guide to assessment and management. Ann Allergy Asthma Immunol. 2014;113(4):307–321.
  • Torres MJ, et al. Diagnosis of immediate hypersensitivity reactions to beta-lactam antibiotics. Allergy. 2019;74(10):1885–1896.
  • World Health Organization. Antimicrobial stewardship programmes in health-care facilities. WHO; 2019.
  • EAACI Drug Allergy Interest Group. Guidelines for drug hypersensitivity reactions. EAACI; 2013.
  • AAAAI. Drug allergy: an updated practice parameter. J Allergy Clin Immunol. 2010.
  • World Allergy Organization. WAO anaphylaxis and drug allergy guidelines. WAO; 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *