Berbagai Penelitian Terbaru Menegaskan Parasetamol Selama Kehamilan Tidak Meningkatkan Risiko Autisme atau ADHD
Sejumlah penelitian berskala besar yang dipublikasikan sepanjang 2026 semakin memperkuat bukti bahwa penggunaan parasetamol (acetaminophen/Tylenol) selama kehamilan tidak berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan spektrum autisme (ASD), attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), maupun disabilitas intelektual pada anak. Temuan ini berasal dari studi kohort populasi berskala nasional, analisis saudara kandung (sibling-matched analysis), serta tinjauan sistematis dan meta-analisis, yang saat ini merupakan tingkat bukti ilmiah tertinggi dalam penelitian epidemiologi.
Parasetamol merupakan obat antipiretik dan analgesik yang paling banyak direkomendasikan selama kehamilan untuk mengatasi demam dan nyeri. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kekhawatiran mengenai kemungkinan hubungan antara paparan parasetamol prenatal dan gangguan perkembangan saraf. Kekhawatiran tersebut terutama berasal dari penelitian observasional yang hanya menunjukkan hubungan statistik, bukan hubungan sebab akibat. Berbagai organisasi profesi, termasuk American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), menegaskan bahwa hingga kini belum terdapat bukti yang membuktikan hubungan kausal antara penggunaan parasetamol selama kehamilan dengan autisme maupun ADHD.
Fakta Penelitian Terbaru
Studi kohort di Hong Kong yang dipublikasikan dalam JAMA Internal Medicine (2026) menganalisis 708.020 pasangan ibu-anak selama hampir 20 tahun. Sekitar 43,3% ibu menggunakan parasetamol selama kehamilan. Setelah dilakukan analisis saudara kandung untuk mengendalikan faktor genetik dan lingkungan keluarga, tidak ditemukan peningkatan risiko autisme maupun ADHD. Hasil tersebut tetap konsisten pada berbagai trimester kehamilan, dosis, dan pola penggunaan obat.
Temuan serupa diperoleh dari studi kohort nasional Denmark yang dipublikasikan dalam JAMA Pediatrics (2026), melibatkan lebih dari 1,5 juta anak yang lahir antara tahun 1997 hingga 2022. Penelitian ini juga tidak menemukan hubungan antara penggunaan parasetamol selama kehamilan dengan peningkatan kejadian autisme setelah berbagai faktor perancu, termasuk usia kehamilan saat paparan dan dosis obat, diperhitungkan.
Selain itu, sebuah systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan pada 2026 mengevaluasi seluruh bukti ilmiah berkualitas tinggi yang tersedia. Analisis tersebut menyimpulkan bahwa tidak terdapat bukti yang mendukung hubungan kausal antara penggunaan parasetamol selama kehamilan dengan autisme, ADHD, maupun disabilitas intelektual. Hasil ini mengoreksi interpretasi dari beberapa penelitian observasional sebelumnya yang hanya menunjukkan asosiasi dan sangat dipengaruhi oleh faktor perancu.
Implikasi Klinis
Bukti ilmiah terkini menunjukkan bahwa parasetamol tetap merupakan pilihan utama untuk mengatasi demam dan nyeri selama kehamilan apabila digunakan sesuai indikasi, dengan dosis efektif terendah dan durasi sesingkat mungkin. Pengobatan demam pada ibu hamil justru penting karena demam yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko komplikasi pada ibu maupun janin. Sebaliknya, obat antiinflamasi nonsteroid seperti ibuprofen umumnya tidak dianjurkan terutama pada trimester akhir kehamilan karena dapat menimbulkan efek samping pada janin.
Kesimpulan
Konsensus bukti ilmiah tahun 2026 menunjukkan bahwa penggunaan parasetamol selama kehamilan tidak meningkatkan risiko autisme, ADHD, maupun gangguan perkembangan saraf lainnya. Temuan ini didukung oleh studi kohort berskala sangat besar, analisis saudara kandung, serta meta-analisis yang mengurangi berbagai faktor perancu. Dengan demikian, parasetamol tetap menjadi obat antipiretik dan analgesik yang direkomendasikan selama kehamilan bila digunakan secara rasional sesuai indikasi medis.
Tabel. Ringkasan Penelitian Terbaru
| Penelitian | Desain | Jumlah Sampel | Hasil Utama |
|---|---|---|---|
| JAMA Internal Medicine (2026) | Kohort populasi dengan sibling-matched analysis | 708.020 pasangan ibu-anak | Tidak terdapat peningkatan risiko autisme maupun ADHD pada anak setelah paparan parasetamol selama kehamilan. |
| JAMA Pediatrics (2026) | Kohort nasional Denmark | >1,5 juta anak | Tidak ditemukan hubungan antara penggunaan parasetamol prenatal dan kejadian autisme setelah penyesuaian berbagai faktor risiko. |
| Systematic Review and Meta-analysis (2026) | Tinjauan sistematis dan meta-analisis | Puluhan studi observasional | Tidak ada bukti yang mendukung hubungan kausal antara parasetamol selama kehamilan dengan autisme, ADHD, atau disabilitas intelektual. |
Daftar Pustaka
- Ji Y, et al. Prenatal acetaminophen exposure and risk of autism spectrum disorder and attention-deficit/hyperactivity disorder: a population-based sibling-matched cohort study. JAMA Internal Medicine. 2026.
- JAMA Pediatrics. Prenatal acetaminophen exposure and risk of autism spectrum disorder: Danish nationwide cohort study. 2026.
- Systematic Review and Meta-analysis. Prenatal acetaminophen exposure and neurodevelopmental outcomes: autism spectrum disorder, ADHD, and intellectual disability. 2026.











Leave a Reply