DOKTER AIRLANGGA

"Together Advancing Healthcare, Inspiring Humanity the Future."

Tren “Biblical Eating” atau “diet Alkitab” di Media Sosial, Apa Kata Ilmu Gizi?

Tren “Biblical Eating” atau “diet Alkitab” di Media Sosial, Apa Kata Ilmu Gizi?

“Biblical eating” atau “diet Alkitab” menjadi tren baru di TikTok dan Instagram. Pola makan ini menganjurkan konsumsi makanan yang disebutkan dalam Alkitab, seperti ikan, minyak zaitun, buah delima, buah ara, madu, roti, daging domba, dan berbagai makanan alami, sambil membatasi makanan ultra-proses. Meskipun banyak makanan tersebut memang bergizi, para ahli menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa “Biblical eating” lebih unggul dibandingkan pola makan sehat lain dalam menurunkan berat badan atau mencegah penyakit.

Berbeda dengan pola makan yang dikembangkan berdasarkan penelitian ilmiah, “Biblical eating” berlandaskan pada penafsiran terhadap makanan yang disebutkan dalam kitab suci. Tidak terdapat satu definisi baku mengenai pola makan ini. Sebagian pengikut hanya mengonsumsi makanan yang secara eksplisit disebutkan dalam Alkitab, sedangkan sebagian lainnya menggunakannya sebagai pedoman untuk memilih makanan alami dan menghindari makanan ultra-proses. Popularitasnya meningkat melalui media sosial karena diklaim dapat meningkatkan kesehatan, mengurangi lemak tubuh, bahkan memperkuat kehidupan spiritual.

Apa Saja Makanan yang Dianjurkan?

Pola makan ini umumnya mencakup ikan, minyak zaitun, buah delima, buah ara, anggur, sayuran, biji-bijian utuh, madu, kacang-kacangan, daging domba, kambing, dan roti tradisional, serta membatasi makanan kemasan, minuman berpemanis, dan makanan ultra-proses. Dari sudut pandang ilmu gizi, sebagian besar makanan tersebut memang kaya serat, vitamin, mineral, lemak tak jenuh, dan antioksidan yang diketahui bermanfaat bagi kesehatan.

Fakta Ilmiah

Hingga saat ini belum ada uji klinis acak maupun pedoman gizi internasional yang secara khusus mengevaluasi efektivitas “Biblical eating”. Manfaat kesehatan yang dikaitkan dengan pola makan ini kemungkinan berasal dari tingginya konsumsi makanan utuh dan rendahnya konsumsi makanan ultra-proses, bukan karena makanan tersebut disebutkan dalam Alkitab. Bukti ilmiah yang kuat justru mendukung pola makan seperti Diet Mediterania dan Diet DASH, yang telah terbukti menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, stroke, serta kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Pendapat Para Ahli

Ahli gizi menilai bahwa mengurangi makanan ultra-proses merupakan langkah yang baik. Namun, mereka mengingatkan bahwa informasi gizi di media sosial sering kali berasal dari influencer yang tidak memiliki latar belakang pendidikan kesehatan. Klaim bahwa suatu makanan “lebih suci”, “lebih murni”, atau pasti mampu menyembuhkan penyakit belum memiliki dasar ilmiah yang memadai. Keputusan mengenai pola makan sebaiknya tetap mengacu pada bukti ilmiah dan konsultasi dengan tenaga kesehatan.

Potensi Kelemahan

Pola makan ini dapat menjadi bermasalah apabila diterapkan secara terlalu ketat hingga menghilangkan kelompok makanan tertentu tanpa alasan medis. Pembatasan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kekurangan zat gizi dan memicu hubungan yang tidak sehat dengan makanan, terutama pada individu yang memiliki gangguan makan. Para pakar juga mengingatkan agar nilai spiritual tidak dijadikan pengganti rekomendasi medis berbasis bukti.

Tabel. Perbandingan “Biblical Eating” dengan Diet Mediterania

AspekBiblical EatingDiet Mediterania
Dasar penyusunanPenafsiran makanan dalam AlkitabBukti ilmiah dan penelitian klinis
Fokus makananMakanan alami yang disebutkan dalam AlkitabBuah, sayur, biji-bijian utuh, ikan, minyak zaitun, kacang-kacangan
Makanan ultra-prosesDibatasiDibatasi
Bukti ilmiahBelum ada uji klinis khususDidukung ratusan studi kohort, uji klinis, dan meta-analisis
Manfaat kesehatanBelum terbukti secara ilmiahMenurunkan risiko penyakit jantung, diabetes, stroke, dan kematian dini

Kesimpulan

“Biblical eating” mendorong konsumsi makanan alami yang secara umum sejalan dengan prinsip gizi sehat. Namun, hingga kini tidak terdapat bukti ilmiah bahwa pola makan ini memberikan manfaat kesehatan yang lebih baik dibandingkan pola makan sehat berbasis penelitian. Faktor yang paling menentukan kesehatan tetaplah konsumsi makanan utuh, membatasi makanan ultra-proses, menjaga keseimbangan gizi, rutin beraktivitas fisik, dan menerapkan pola makan yang berkelanjutan.

Daftar Pustaka

  1. Estruch R, Ros E, Salas-Salvadó J, et al. Primary prevention of cardiovascular disease with a Mediterranean diet. N Engl J Med. 2018;378(25):e34.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *