DOKTER AIRLANGGA

"Together Advancing Healthcare, Inspiring Humanity the Future."

NANYA DONG, DOK: Gangguan Pencernaan pada Bayi: Benarkah Bisa Disebabkan oleh Alergi Makanan?

Gangguan Pencernaan pada Bayi: Benarkah Bisa Disebabkan oleh Alergi Makanan? Kenali Gejalanya Sejak Dini

Tanya

Bayi saya sering gumoh, muntah, sembelit, kadang diare, perutnya kembung, sering rewel setelah minum susu, dan berat badannya sulit naik. Apakah semua keluhan tersebut hanya gangguan pencernaan biasa, atau bisa disebabkan oleh alergi makanan? Gejala apa saja yang perlu diwaspadai, dan bagaimana cara memastikan bahwa penyebabnya benar-benar alergi makanan, bukan penyakit lain?


Jawaban

Banyak orang tua mengira alergi makanan hanya menyebabkan ruam merah, gatal, atau bentol-bentol pada kulit. Padahal, pada bayi justru saluran pencernaan sering menjadi organ pertama yang terkena. Hal ini karena makanan yang dikonsumsi pertama kali akan melewati lambung dan usus. Bila sistem kekebalan tubuh bayi bereaksi berlebihan terhadap protein makanan tertentu, misalnya protein susu sapi, maka dapat timbul berbagai gangguan pencernaan.

Gejala alergi makanan pada bayi tidak hanya berupa diare. Bayi juga dapat mengalami gumoh berlebihan, muntah berulang, refluks atau GERD, perut kembung, kolik (menangis terus tanpa sebab yang jelas), sembelit atau sulit BAB, BAB keras, BAB berlendir atau berdarah, sulit makan, sering rewel setelah makan, hingga berat badan yang sulit naik. Tidak semua bayi mengalami gejala yang sama. Ada yang hanya mengalami satu gejala, tetapi ada pula yang mengalami beberapa gejala sekaligus.

Banyak orang tua juga mengira bahwa sembelit tidak mungkin disebabkan oleh alergi makanan. Padahal, pada sebagian bayi, alergi terhadap protein makanan dapat menyebabkan peradangan ringan pada usus bagian bawah sehingga BAB terasa nyeri. Akibatnya bayi sering menahan BAB, tinja menjadi semakin keras, dan sembelit berlangsung berulang. Sebaliknya, bayi lain justru mengalami diare kronis. Jadi, alergi makanan dapat menyebabkan diare maupun sembelit, tergantung respons tubuh masing-masing anak.

Alergi makanan juga dapat menyebabkan gumoh atau GERD tampak lebih berat. Bayi sering muntah setelah menyusu, menangis saat atau setelah minum, melengkungkan badan karena tidak nyaman, atau tampak sulit tidur akibat refluks. Bila kondisi ini berlangsung terus-menerus, bayi bisa menjadi sulit makan dan berat badannya sulit bertambah.

Selain gangguan pencernaan, sebagian bayi juga mengalami gejala lain, seperti eksim, batuk berulang, pilek yang sering kambuh, mengi, atau hidung tersumbat. Namun, ada juga bayi yang tidak memiliki gejala pada kulit sama sekali dan hanya mengalami gangguan pencernaan. Oleh karena itu, alergi makanan sering tidak disadari karena gejalanya menyerupai penyakit lain.

Perlu diketahui bahwa tidak semua gumoh, diare, atau sembelit berarti alergi makanan. Keluhan tersebut juga dapat disebabkan oleh infeksi virus, intoleransi laktosa, gangguan pencernaan biasa, atau penyebab lainnya. Karena itu, diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala, pengalaman orang tua, cerita di media sosial, atau hasil tes alergi saja.

Banyak orang tua juga langsung menghentikan susu atau berbagai jenis makanan setelah melihat hasil tes alergi. Padahal, hasil tes alergi darah (IgE) atau skin prick test belum tentu berarti anak benar-benar alergi terhadap makanan tersebut. Tes tersebut hanya menunjukkan bahwa tubuh mengenali protein makanan tertentu, tetapi belum membuktikan bahwa makanan itu benar-benar menyebabkan gejala. Menghindari makanan tanpa alasan yang jelas justru dapat menyebabkan kekurangan gizi pada bayi yang sedang tumbuh.

Bila dokter mencurigai adanya alergi makanan, pemeriksaan akan dimulai dengan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan penilaian hubungan antara makanan dengan munculnya gejala. Bila diperlukan, dokter dapat melakukan Oral Food Challenge (OFC), yaitu memberikan makanan yang dicurigai secara bertahap dan aman di bawah pengawasan tenaga medis. OFC merupakan pemeriksaan yang paling akurat (gold standard) untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan alergi. Dengan diagnosis yang tepat, bayi dapat memperoleh penanganan yang sesuai tanpa menjalani pantangan makanan yang sebenarnya tidak diperlukan.


Tabel. Gejala Gangguan Pencernaan yang Dapat Berhubungan dengan Alergi Makanan pada Bayi

GejalaYang Terlihat pada BayiPerlu Dicurigai Bila…
Gumoh berlebihanGumoh sangat seringTidak membaik sesuai usia atau mengganggu pertumbuhan
GERDMuntah, menangis setelah menyusuBerlangsung lama atau bayi sulit makan
Muntah berulangMuntah setelah makanTerjadi berulang tanpa infeksi
DiareBAB cair berulangBerlangsung lebih dari 2 minggu atau disertai lendir/darah
SembelitBAB keras, mengejanTidak membaik dengan terapi biasa
BAB berlendir atau berdarahAda lendir atau bercak darahHarus segera diperiksa dokter
Perut kembungPerut tampak penuh dan kerasDisertai rewel atau sulit BAB
KolikMenangis lama terutama sore atau malamBerulang hampir setiap hari
Sulit makanMenolak menyusu atau makanBerat badan sulit naik
Berat badan sulit naikPertumbuhan melambatDisertai gejala pencernaan kronis

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera konsultasikan bila bayi mengalami:

  • Muntah atau diare berulang.
  • BAB berdarah atau berlendir.
  • Sembelit yang berlangsung lama.
  • Berat badan tidak naik atau turun.
  • Gumoh sangat sering disertai sulit makan.
  • Rewel terus-menerus setelah menyusu atau makan.
  • Gejala berulang setiap kali mengonsumsi makanan tertentu.

Pesan penting:

Tidak semua gangguan pencernaan pada bayi disebabkan oleh alergi makanan. Namun, bila keluhan berlangsung lama, berulang, atau disertai gangguan pertumbuhan, bayi perlu dievaluasi oleh dokter. Diagnosis alergi makanan tidak boleh hanya berdasarkan dugaan atau hasil tes alergi, tetapi harus berdasarkan penilaian klinis yang menyeluruh. Bila diperlukan, Oral Food Challenge (OFC) merupakan pemeriksaan yang paling akurat untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menjadi penyebab gejala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *