Apakah Lansia Perlu Cek Laboratorium Secara Rutin?
Pertanyaan:
Apakah semua lansia perlu melakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin setiap tahun untuk mendeteksi penyakit sejak dini, atau pemeriksaan laboratorium sebaiknya dilakukan berdasarkan usia, faktor risiko, gejala, penyakit yang sudah ada, obat-obatan yang digunakan, dan hasil pemeriksaan sebelumnya?
Jawaban:
Tidak semua lansia memerlukan panel pemeriksaan laboratorium yang sama secara rutin. Pada prinsipnya, pemeriksaan laboratorium pada lansia harus bersifat individual dan berbasis risiko, bukan semata-mata karena seseorang telah berusia lanjut. Tujuannya adalah mendeteksi penyakit atau komplikasi yang memang memiliki kemungkinan cukup besar dan hasil pemeriksaannya akan memengaruhi keputusan klinis.
Lansia memang memiliki prevalensi lebih tinggi terhadap berbagai penyakit kronis seperti diabetes, penyakit ginjal, gangguan lipid, anemia, dan gangguan fungsi organ. Karena itu, pemeriksaan tertentu dapat menjadi bagian dari evaluasi kesehatan berkala. Namun, pemeriksaan harus disesuaikan dengan riwayat kesehatan, gejala, faktor risiko, obat yang dikonsumsi, penyakit penyerta, status gizi, serta hasil pemeriksaan sebelumnya.
Pemeriksaan tekanan darah sebenarnya bukan pemeriksaan laboratorium, tetapi merupakan salah satu evaluasi kesehatan paling penting pada lansia. Demikian pula pengukuran berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh, lingkar tertentu bila diperlukan, status fungsional, dan risiko jatuh. Pemeriksaan klinis sederhana sering kali memberikan informasi penting sebelum menentukan apakah pemeriksaan laboratorium diperlukan.
Untuk diabetes atau gangguan metabolisme glukosa, pemeriksaan seperti glukosa darah dan/atau HbA1c dapat dipertimbangkan sesuai usia, faktor risiko, riwayat penyakit, serta hasil pemeriksaan sebelumnya. Pada lansia yang sudah menderita diabetes, pemeriksaan berkala lebih penting untuk memantau pengendalian penyakit dan mendeteksi komplikasi. Frekuensi pemeriksaan tidak harus sama pada setiap orang.
Fungsi ginjal juga penting diperhatikan, terutama pada lansia dengan hipertensi, diabetes, penyakit kardiovaskular, riwayat penyakit ginjal, atau penggunaan obat tertentu. Pemeriksaan kreatinin dan estimasi glomerular filtration rate (eGFR), serta pemeriksaan urin tertentu bila diindikasikan, dapat membantu menilai fungsi ginjal dan mendeteksi penyakit ginjal kronis.
Profil lipid dapat diperiksa berdasarkan usia, risiko kardiovaskular, riwayat penyakit jantung atau stroke, serta apakah seseorang sedang mendapatkan terapi penurun lipid. Pemeriksaan ini tidak harus dilakukan dengan frekuensi yang sama pada seluruh lansia. Interpretasinya juga perlu mempertimbangkan keseluruhan risiko kardiovaskular, bukan satu angka laboratorium secara terpisah.
Pemeriksaan darah lengkap dapat bermanfaat bila terdapat kecurigaan anemia, infeksi, gangguan hematologi, penurunan berat badan yang tidak jelas, kelelahan yang menetap, atau kondisi klinis lainnya. Pada lansia, anemia bukan sekadar “karena usia”. Bila ditemukan anemia, penyebabnya perlu dicari, misalnya kekurangan zat besi, penyakit kronis, gangguan ginjal, perdarahan, atau penyebab lainnya.
Pemeriksaan fungsi hati, elektrolit, vitamin B12, folat, vitamin D, tiroid, atau pemeriksaan lainnya tidak selalu perlu dilakukan kepada seluruh lansia secara otomatis. Pemeriksaan tersebut lebih tepat dilakukan berdasarkan gejala, faktor risiko, obat yang digunakan, kondisi medis, atau temuan pada evaluasi awal. Pemeriksaan yang terlalu banyak tanpa indikasi dapat menghasilkan temuan yang tidak spesifik sehingga justru memicu pemeriksaan lanjutan yang tidak diperlukan.
Yang tidak kalah penting, pemeriksaan laboratorium tidak menggantikan penilaian geriatri secara menyeluruh. Kesehatan lansia juga perlu dinilai dari kemampuan berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari, fungsi kognitif, suasana hati, status nutrisi, kualitas tidur, penglihatan dan pendengaran, penggunaan banyak obat (polypharmacy), risiko jatuh, serta dukungan sosial. Seorang lansia dapat memiliki hasil laboratorium yang relatif baik tetapi tetap mengalami frailty, sarcopenia, demensia, gangguan mobilitas, atau masalah fungsional lainnya.
Kesimpulan
Lansia tidak harus melakukan semua pemeriksaan laboratorium secara rutin dan seragam setiap tahun. Yang lebih tepat adalah melakukan pemeriksaan kesehatan berkala dengan laboratorium yang dipilih berdasarkan usia, faktor risiko, penyakit yang sudah ada, gejala, obat-obatan, dan hasil pemeriksaan sebelumnya. Prinsipnya bukan “semakin banyak pemeriksaan semakin baik”, tetapi pemeriksaan yang tepat, pada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dan menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk tindakan klinis.
Jika lansia memiliki penurunan berat badan tanpa sebab, mudah lelah, kelemahan yang semakin berat, perubahan kesadaran atau kognitif, sering jatuh, sesak, perdarahan, perubahan pola buang air, atau penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, jangan menunggu jadwal pemeriksaan rutin; diperlukan evaluasi medis untuk menentukan pemeriksaan yang sesuai.










Leave a Reply