Alergi Makanan atau Intoleransi Makanan? Kenali Perbedaannya agar Tidak Salah Diagnosis
Sandiaz Yudhasmara dr, Widodo Judarwanto dr, pediatrician
Keluhan setelah mengonsumsi makanan tertentu sering membuat seseorang menduga dirinya mengalami alergi makanan. Padahal, tidak semua reaksi terhadap makanan disebabkan oleh alergi. Sebagian keluhan terjadi akibat intoleransi makanan, gangguan pencernaan, atau kondisi medis lain. Alergi makanan melibatkan sistem kekebalan tubuh dan pada kasus tertentu dapat menyebabkan reaksi berat, termasuk anafilaksis. Sebaliknya, intoleransi makanan umumnya tidak melibatkan mekanisme alergi imunologis dan sering berkaitan dengan gangguan pencernaan komponen makanan, seperti laktosa. Perbedaan keduanya penting agar pemeriksaan, pengaturan pola makan, dan pengobatan dapat dilakukan secara tepat. Artikel ini membahas ciri-ciri alergi dan intoleransi makanan, contoh kondisi yang sering dijumpai, pemeriksaan yang diperlukan, serta peran oral food challenge atau uji tantang makanan dalam memastikan diagnosis.
Kata kunci: alergi makanan, intoleransi makanan, reaksi simpang makanan, alergi anak, gangguan pencernaan, oral food challenge.
- Pernahkah seseorang mengalami gatal setelah makan udang, diare setelah minum susu, atau nyeri perut setelah mengonsumsi makanan tertentu? Keluhan seperti ini sering dianggap sebagai alergi makanan. Namun, penyebabnya belum tentu sama.
- Dalam dunia kedokteran, berbagai reaksi yang tidak diinginkan setelah makan disebut adverse reactions to foods atau reaksi simpang makanan. Istilah ini mencakup alergi makanan, intoleransi makanan, reaksi akibat makanan yang terkontaminasi, dan beberapa kondisi lain.
- Membedakan penyebabnya sangat penting. Jika seseorang benar-benar mengalami alergi makanan, paparan berikutnya dapat memicu reaksi yang berbahaya. Sebaliknya, jika keluhannya disebabkan intoleransi, menghindari semua produk makanan tertentu secara berlebihan mungkin tidak diperlukan.
- Kesalahan diagnosis juga dapat berdampak pada anak. Penghindaran susu, telur, gandum, atau berbagai kelompok makanan tanpa alasan yang jelas dapat mengurangi asupan energi, protein, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
1. Apa Perbedaan Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan?
- Perbedaan utamanya terletak pada mekanisme yang menyebabkan gejala.
- Alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap komponen makanan yang dianggap sebagai ancaman. Pada alergi yang diperantarai IgE, reaksi dapat muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. Gejalanya dapat melibatkan kulit, saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan sistem peredaran darah.
- Intoleransi makanan umumnya tidak melibatkan mekanisme alergi imunologis. Keluhan dapat muncul karena tubuh kesulitan mencerna komponen tertentu, tidak mampu menyerapnya dengan baik, atau mengalami respons terhadap zat tertentu dalam makanan.
| Aspek | Alergi makanan | Intoleransi makanan |
|---|---|---|
| Penyebab | Respons sistem kekebalan tubuh | Gangguan pencernaan, penyerapan, atau mekanisme nonalergi lainnya |
| Gejala | Dapat berupa gatal, biduran, bengkak, muntah, gangguan pernapasan, atau reaksi sistemik | Sering berupa kembung, banyak gas, nyeri perut, atau diare |
| Waktu muncul | Sering cepat pada alergi IgE, tetapi dapat tertunda pada jenis alergi lainnya | Bervariasi menurut penyebab dan jumlah makanan |
| Pengaruh jumlah makanan | Jumlah kecil dapat memicu reaksi pada sebagian pasien | Pada banyak kondisi, gejala dipengaruhi jumlah makanan yang dikonsumsi |
| Risiko reaksi berat | Beberapa jenis alergi dapat menyebabkan anafilaksis | Intoleransi biasa tidak menyebabkan anafilaksis |
| Pemeriksaan | Riwayat klinis, tes alergi terarah, dan uji tantang jika diperlukan | Riwayat klinis dan pemeriksaan sesuai penyebab yang dicurigai |
Tabel tersebut merupakan panduan umum. Gejala saja tidak selalu cukup untuk membedakan kedua kondisi tersebut.
2. Alergi Makanan: Ketika Sistem Imun Bereaksi
- Pada alergi makanan, sistem kekebalan tubuh mengenali komponen makanan tertentu sebagai alergen. Pada alergi IgE, sistem imun membentuk antibodi IgE spesifik yang dapat memicu pelepasan zat seperti histamin ketika terjadi paparan berikutnya.
- Akibatnya, gejala dapat muncul pada satu atau beberapa bagian tubuh.
- Gejala yang perlu diperhatikan meliputi:
- Kulit: gatal, biduran, kemerahan, atau pembengkakan bibir dan kelopak mata.
- Saluran pencernaan: muntah, nyeri perut, atau diare.
- Saluran pernapasan: batuk, mengi, suara serak, atau kesulitan bernapas.
- Sistem peredaran darah: pusing berat, pingsan, atau penurunan tekanan darah pada reaksi serius.
- Alergi makanan tidak selalu menyebabkan semua gejala tersebut sekaligus. Sebagian pasien hanya mengalami gejala pada satu sistem organ, sedangkan pasien lain dapat mengalami reaksi sistemik.
- Apakah alergi makanan selalu muncul segera setelah makan?
- Tidak. Alergi yang diperantarai IgE biasanya menimbulkan gejala dengan cepat. Namun, beberapa bentuk alergi non-IgE dapat menimbulkan keluhan beberapa jam setelah konsumsi makanan, terutama pada saluran pencernaan.
- Sebagai contoh, pada food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES), muntah berulang dapat muncul sekitar 1–4 jam setelah makanan pemicu dikonsumsi. Kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi dan memerlukan penanganan medis.
- Karena itu, waktu munculnya gejala merupakan petunjuk penting, tetapi tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis.
3. Intoleransi Makanan: Ketika Tubuh Sulit Mengolah Komponen Makanan
- Intoleransi laktosa
- Intoleransi laktosa merupakan salah satu contoh intoleransi makanan yang dikenal luas. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan enzim laktase dalam jumlah yang cukup untuk mencerna laktosa, yaitu gula alami dalam susu.
- Laktosa yang tidak tercerna dapat difermentasi oleh bakteri di usus besar. Proses ini menghasilkan gas dan dapat menarik air ke dalam usus.
- Gejalanya antara lain:
- Perut kembung.
- Banyak buang angin.
- Nyeri atau mulas.
- Diare setelah mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa.
- Keluhan biasanya dipengaruhi jumlah laktosa yang dikonsumsi dan kemampuan tubuh mencernanya.
- Intoleransi laktosa berbeda dari alergi protein susu sapi. Pada intoleransi laktosa, masalahnya adalah pencernaan gula susu. Pada alergi susu sapi, sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap protein susu.
- Karena itu, susu bebas laktosa belum tentu aman bagi orang yang memiliki alergi protein susu sapi. Produk tersebut masih dapat mengandung protein susu.
- Reaksi terhadap histamin
- Histamin merupakan zat yang secara alami terdapat dalam tubuh dan dapat ditemukan dalam sejumlah makanan. Sebagian orang melaporkan keluhan setelah mengonsumsi makanan tertentu yang kaya histamin, misalnya kemerahan, sakit kepala, atau gangguan pencernaan.
- Namun, diagnosis intoleransi histamin masih memiliki keterbatasan. Belum ada satu pemeriksaan yang dapat memastikan kondisi ini pada semua orang. Gejala serupa juga dapat disebabkan oleh alergi, obat-obatan, atau penyakit lain.
- Oleh karena itu, menghindari banyak jenis makanan hanya berdasarkan dugaan intoleransi histamin tidak dianjurkan tanpa evaluasi yang memadai.
- Sensitivitas terhadap gandum
- Sebagian orang mengalami kembung, nyeri perut, atau perubahan pola buang air besar setelah mengonsumsi gandum. Keluhan ini dapat berkaitan dengan berbagai komponen gandum, bukan hanya gluten.
- Sebelum menyimpulkan adanya sensitivitas gandum non-seliak, dokter perlu mempertimbangkan penyakit seliak dan alergi gandum. Pemeriksaan penyakit seliak sebaiknya dilakukan sebelum seseorang memulai diet bebas gluten, karena perubahan pola makan dapat memengaruhi hasil pemeriksaan.
- 4. Alergi Makanan pada Bayi dan Anak
- Alergi makanan merupakan salah satu kondisi yang perlu dipertimbangkan ketika bayi atau anak mengalami gejala berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu. Namun, gejalanya sering tidak spesifik sehingga perlu dinilai secara hati-hati.
- Pada bayi dan anak, keluhan yang dapat ditemukan antara lain:
- Biduran atau pembengkakan setelah makan.
- Muntah berulang yang memiliki hubungan waktu dengan makanan tertentu.
- Diare atau darah pada tinja dalam konteks klinis yang sesuai.
- Kesulitan makan atau penolakan makanan.
- Gejala gastrointestinal yang menetap.
- Gangguan pertumbuhan yang memerlukan evaluasi menyeluruh.
- Tidak semua anak yang sulit makan, mengalami konstipasi, sering gumoh, atau berat badannya sulit naik memiliki alergi makanan. Keluhan tersebut juga dapat disebabkan oleh masalah pola makan, gangguan pencernaan lain, penyakit kronis, atau faktor pertumbuhan.
- Diagnosis alergi harus didasarkan pada kombinasi riwayat, pemeriksaan, dan evaluasi terhadap kemungkinan penyebab lain.
- Mengapa diet eliminasi pada anak harus hati-hati?
- Sebagian orang tua mencoba menghilangkan susu, telur, gandum, atau beberapa makanan sekaligus karena menduga anak mengalami alergi. Jika dilakukan tanpa indikasi yang jelas, tindakan ini dapat membuat pola makan menjadi terlalu terbatas.
- Pada masa pertumbuhan, anak membutuhkan energi, protein, lemak, kalsium, zat besi, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang memadai. Jika suatu makanan memang harus dihindari, dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan pengganti yang sesuai.
- Diet eliminasi sebaiknya memiliki tujuan yang jelas, waktu evaluasi yang ditentukan, serta rencana untuk menilai apakah makanan tersebut benar-benar menyebabkan gejala.
5. Bagaimana Dokter Memastikan Diagnosis?
- Langkah pertama: menggali riwayat gejala
- Dokter akan menanyakan makanan yang dicurigai, jumlah yang dikonsumsi, waktu munculnya gejala, jenis reaksi, dan apakah keluhan berulang ketika makanan yang sama dimakan kembali.
- Informasi lain juga penting, seperti riwayat alergi, penyakit saluran pencernaan, obat-obatan yang digunakan, serta faktor yang menyertai reaksi.
- Mencatat makanan dan gejala dapat membantu menemukan pola. Namun, catatan tersebut bukan pengganti pemeriksaan medis.
- Pemeriksaan alergi
- Jika gejala mengarah pada alergi IgE, dokter dapat merekomendasikan tes tusuk kulit (skin prick test) atau pemeriksaan IgE spesifik dalam darah.
- Hasil positif menunjukkan bahwa tubuh memiliki sensitisasi terhadap alergen tertentu. Namun, sensitisasi tidak selalu berarti seseorang akan mengalami reaksi alergi ketika memakan makanan tersebut.
- Sebagai contoh, seseorang dapat memiliki hasil tes positif terhadap suatu makanan tetapi tetap dapat mengonsumsinya tanpa gejala. Karena itu, hasil tes harus ditafsirkan bersama riwayat klinis.
- Pemeriksaan panel alergi yang terlalu luas tanpa alasan klinis juga dapat menghasilkan temuan yang tidak relevan. Tes IgG atau IgG4 terhadap makanan tidak direkomendasikan untuk mendiagnosis alergi makanan.
- Pemeriksaan pada alergi non-IgE
- Tidak ada satu tes darah yang dapat memastikan semua bentuk alergi non-IgE. Diagnosis bergantung pada pola gejala, pemeriksaan untuk menyingkirkan penyakit lain, serta eliminasi dan reintroduksi makanan yang direncanakan dengan tepat.
- Pada dugaan gangguan tertentu, seperti esofagitis eosinofilik, dokter dapat memerlukan endoskopi dan biopsi. Pemeriksaan ini tidak diperlukan untuk setiap anak yang mengalami muntah atau sulit makan.
6. Apa Itu Oral Food Challenge?
- Oral food challenge (OFC), atau uji tantang makanan oral, merupakan prosedur ketika makanan yang dicurigai diberikan secara bertahap dengan pengawasan tenaga kesehatan untuk melihat apakah muncul reaksi.
- OFC merupakan metode rujukan penting untuk mengonfirmasi atau menyingkirkan alergi makanan pada kasus terpilih. Prosedur ini dapat dipertimbangkan ketika riwayat gejala dan hasil pemeriksaan alergi belum memberikan jawaban yang jelas, atau ketika dokter ingin menilai apakah alergi masih menetap.
- Namun, OFC tidak diperlukan pada setiap pasien. Keputusan untuk melakukannya harus mempertimbangkan riwayat reaksi, hasil pemeriksaan, manfaat diagnosis, dan risiko bagi pasien.
- OFC harus dilakukan di tempat yang memiliki tenaga terlatih serta fasilitas untuk menangani reaksi alergi akut. Pasien dengan riwayat reaksi berat tidak boleh mencoba menguji makanan pemicu sendiri di rumah.
- Pada dugaan alergi non-IgE tertentu, dokter juga dapat menggunakan eliminasi diagnostik yang diikuti reintroduksi terencana. Strateginya bergantung pada jenis penyakit dan tingkat risiko.
7. Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Diabaikan
- Reaksi alergi berat dapat berkembang dengan cepat. Segera cari pertolongan medis jika setelah makan seseorang mengalami:
- Kesulitan bernapas atau mengi berat.
- Pembengkakan lidah atau tenggorokan.
- Suara serak mendadak disertai gejala lain yang mengkhawatirkan.
- Pingsan, kolaps, atau tanda gangguan sirkulasi.
- Gejala cepat yang melibatkan beberapa sistem tubuh dan mengarah pada anafilaksis.
- Anafilaksis merupakan keadaan darurat. Epinefrin intramuskular adalah terapi lini pertama. Antihistamin tidak dapat menggantikan epinefrin pada reaksi anafilaksis.
- Pada bayi dan anak, muntah berulang disertai pucat, lemas berat, atau tanda dehidrasi juga membutuhkan penilaian medis segera, termasuk kemungkinan FPIES.
8. Prinsip Penting dalam Mengatur Pola Makan
- Penanganan reaksi simpang makanan harus disesuaikan dengan penyebabnya.
- Pada alergi makanan yang telah terkonfirmasi, makanan pemicu perlu dihindari sesuai anjuran dokter. Pasien dengan risiko anafilaksis perlu memiliki rencana tindakan darurat yang jelas.
- Pada intoleransi makanan, penyesuaian jumlah atau jenis makanan mungkin sudah cukup. Sebagai contoh, sebagian orang dengan intoleransi laktosa masih dapat mengonsumsi sejumlah produk susu sesuai toleransinya.
- Pada bayi dan anak, pembatasan makanan harus disertai perhatian terhadap kecukupan nutrisi dan pertumbuhan. Menghindari makanan dalam jangka panjang tanpa konfirmasi diagnosis dapat menimbulkan masalah baru.
- Tujuan evaluasi bukan sekadar menemukan makanan yang harus dihindari, melainkan memastikan makanan yang benar-benar aman tetap dapat dikonsumsi sehingga kebutuhan gizi dan kualitas hidup tetap terjaga.
Kesimpulan
- Alergi makanan dan intoleransi makanan dapat menimbulkan gejala yang serupa, tetapi mekanisme dan penanganannya berbeda. Alergi melibatkan sistem kekebalan tubuh dan pada jenis tertentu dapat menyebabkan anafilaksis. Intoleransi makanan umumnya tidak melibatkan mekanisme alergi imunologis dan sering berkaitan dengan proses pencernaan atau respons terhadap komponen makanan.
- Riwayat klinis yang cermat merupakan langkah awal untuk menentukan pemeriksaan yang tepat. Tes alergi harus ditafsirkan sesuai gejala, sedangkan diet eliminasi perlu direncanakan dan dievaluasi. Oral food challenge dapat membantu memastikan diagnosis pada pasien terpilih, tetapi harus dilakukan dengan pengawasan yang sesuai.
- Pesan terpenting bagi masyarakat adalah jangan langsung menyimpulkan alergi hanya karena suatu makanan menimbulkan keluhan. Diagnosis yang tepat membantu menghindari pembatasan makanan yang tidak diperlukan, menjaga kecukupan gizi, dan mengenali reaksi alergi yang memerlukan penanganan segera.
Daftar Pustaka
- Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057-3076. doi:10.1111/all.15902.
- Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: A review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. J Allergy Clin Immunol. 2018;141(1):41-58. doi:10.1016/j.jaci.2017.11.003.
- Vandenplas Y, Broekaert I, Domellöf M, et al. An ESPGHAN position paper on the diagnosis, management, and prevention of cow’s milk allergy. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2024;78(2):386-413. doi:10.1097/MPG.0000000000003897.
- Nowak-Węgrzyn A, Chehade M, Groetch ME, et al. International consensus guidelines for the diagnosis and management of food protein-induced enterocolitis syndrome: Executive summary. J Allergy Clin Immunol. 2017;139(4):1111-1126.e4. doi:10.1016/j.jaci.2016.12.966.
- Bird JA, Leonard S, Groetch M, et al. Conducting an oral food challenge: An update to the 2009 Adverse Reactions to Foods Committee Work Group Report. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020;8(1):75-90.e17. doi:10.1016/j.jaip.2019.09.029.











Leave a Reply