Gut-Brain Axis: Hubungan Usus dan Otak serta Peran Nutrisi
Gut-brain axis merupakan jaringan komunikasi dua arah antara saluran cerna dan otak yang melibatkan sistem saraf, sistem imun, hormon, metabolit mikrobiota, dan neurotransmiter. Saluran cerna tidak hanya berfungsi mencerna makanan, tetapi juga memiliki sistem saraf enterik, sel enteroendokrin, jaringan imun, dan komunitas mikroorganisme yang dapat memengaruhi fungsi otak. Komunikasi tersebut berlangsung antara lain melalui nervus vagus, sistem saraf enterik, sirkulasi darah, metabolit mikrobiota seperti short-chain fatty acids (SCFA), metabolisme asam empedu dan triptofan, serta mekanisme imun dan inflamasi. Nutrisi menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi ekosistem mikrobiota dan fungsi gut-brain axis. Pola makan yang beragam dengan sumber serat, protein berkualitas, asam lemak tidak jenuh, serta makanan kaya senyawa bioaktif dapat mendukung kesehatan usus. Namun, bukti bahwa manipulasi mikrobiota atau makanan tertentu dapat mengobati gangguan neurologis atau neuropsikiatri masih berkembang. Pada anak, hubungan ini semakin penting karena mikrobiota dan sistem saraf masih mengalami perkembangan. Bukti terbaru menunjukkan adanya hubungan antara mikrobiota, nutrisi, dan perkembangan neurokognitif, tetapi hubungan tersebut belum dapat diartikan sebagai hubungan sebab akibat untuk sebagian besar gangguan perkembangan saraf. (PubMed)
Selama bertahun-tahun, otak dan saluran cerna sering dipandang sebagai dua sistem yang terpisah. Penelitian dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa keduanya berkomunikasi secara terus-menerus melalui jaringan yang disebut gut-brain axis. Komunikasi ini berlangsung dua arah. Otak dapat memengaruhi motilitas, sekresi, sensitivitas dan fungsi imun saluran cerna. Sebaliknya, kondisi saluran cerna, mikrobiota, metabolit, sistem imun, dan status nutrisi dapat mengirimkan sinyal yang memengaruhi sistem saraf. Pada masa kanak-kanak, hubungan ini mendapat perhatian khusus karena perkembangan mikrobiota dan otak berlangsung bersamaan. (PubMed)
Gut-brain axis tidak berarti bahwa semua keluhan perilaku atau neurologis berasal dari usus. Konsep ini menggambarkan jaringan biologis yang kompleks. Sebagian bukti berasal dari penelitian manusia, sebagian lainnya berasal dari penelitian hewan dan laboratorium. Karena itu, hubungan biologis yang ditemukan belum selalu dapat diterjemahkan menjadi terapi klinis.
Komponen utama gut-brain axis
| Komponen | Cara berkomunikasi | Pengaruh potensial |
|---|---|---|
| Nervus vagus | Mengirim sinyal antara usus dan otak | Motilitas, sensasi visceral, respons stres |
| Sistem saraf enterik | Mengatur fungsi lokal saluran cerna | Motilitas dan sekresi |
| Sistem imun | Sitokin dan mediator inflamasi | Neuroinflamasi dan fungsi otak |
| Mikrobiota | Menghasilkan metabolit | Metabolisme, imun dan sinyal saraf |
| SCFA | Produk fermentasi serat | Integritas barrier, imun dan metabolisme |
| Triptofan | Diubah menjadi berbagai metabolit | Jalur serotonin dan kynurenine |
| Asam empedu | Dimodifikasi oleh mikrobiota | Sinyal metabolik dan imun |
| Hormon | Dihasilkan antara lain oleh sel enteroendokrin | Nafsu makan, metabolisme dan respons stres |
| Nutrisi | Menyediakan substrat untuk tubuh dan mikrobiota | Pertumbuhan, metabolisme dan fungsi saraf |
- 1. Nervus vagus dan sistem saraf enterik
- Saluran cerna mempunyai sistem saraf sendiri yang disebut enteric nervous system. Sistem ini mengatur banyak fungsi gastrointestinal, termasuk pergerakan usus dan sekresi.
- Nervus vagus menjadi salah satu jalur utama komunikasi antara saluran cerna dan otak.
- Informasi dari saluran cerna dapat memengaruhi sistem saraf pusat melalui jalur saraf. Sebaliknya, otak dapat memengaruhi aktivitas gastrointestinal melalui sistem saraf otonom.
- Inilah salah satu alasan mengapa stres dapat disertai perubahan nafsu makan, mual, perubahan frekuensi BAB, kembung atau nyeri perut.
- Namun, hubungan tersebut bersifat dua arah. Gejala gastrointestinal yang menetap juga dapat memengaruhi kenyamanan, tidur, aktivitas, dan kondisi psikologis seseorang.
- 2. Neurotransmiter dan molekul sinyal
- Komunikasi gut-brain axis juga melibatkan berbagai molekul neuroaktif.
- Serotonin merupakan salah satu contoh penting. Sebagian besar serotonin tubuh berada di jaringan perifer, terutama saluran cerna, dan berperan dalam fungsi gastrointestinal. Serotonin juga mempunyai fungsi penting dalam sistem saraf pusat.
- Mikrobiota juga dapat memengaruhi metabolisme senyawa yang berhubungan dengan sistem neurotransmiter, termasuk jalur GABA, glutamat, dopamin, dan serotonin.
- Namun, keberadaan neurotransmiter atau prekursor neurotransmiter di usus tidak berarti bahwa zat tersebut secara langsung masuk ke otak dan menghasilkan efek psikologis tertentu. Sistem saraf pusat dan perifer memiliki mekanisme regulasi yang kompleks.
- 3. Mikrobiota usus
- Triliunan mikroorganisme hidup di saluran gastrointestinal. Komunitas ini terdiri atas bakteri, virus, fungi, dan mikroorganisme lainnya.
- Mikrobiota bukan sekadar “bakteri baik dan bakteri jahat”.
- Komposisi dan fungsi mikrobiota sangat kompleks. Yang penting bukan hanya jumlah satu jenis bakteri, tetapi interaksi antarorganisme, metabolit yang dihasilkan, kondisi mukosa, makanan yang tersedia, sistem imun, serta lingkungan tempat mikroorganisme tersebut hidup.
- Mikrobiota dapat berubah akibat:
- • pola makan
- • usia
- • obat
- • antibiotik
- • infeksi
- • aktivitas fisik
- • kondisi metabolik
- • lingkungan
- • penyakit gastrointestinal
- Pada anak, proses pembentukan mikrobiota sangat dinamis. Cara persalinan, pola pemberian makan, paparan antibiotik, diet, dan lingkungan ikut memengaruhi perkembangan mikrobiota. (PubMed)
- 4. Short-chain fatty acids
- Salah satu mekanisme penting adalah produksi short-chain fatty acids atau SCFA.
- SCFA terutama meliputi:
- • acetate
- • propionate
- • butyrate
- Mikrobiota menghasilkan SCFA melalui fermentasi berbagai jenis karbohidrat yang tidak dicerna di usus halus, terutama serat.
- SCFA dapat memengaruhi:
- • sel epitel usus
- • sistem imun
- • metabolisme energi
- • integritas intestinal barrier
- • sinyal hormon
- • fungsi saraf melalui beberapa jalur
- Butyrate menjadi salah satu metabolit yang paling banyak diteliti karena berperan sebagai sumber energi bagi sel kolon dan mempunyai efek terhadap regulasi imun serta fungsi barrier.
- Karena itu, makanan yang menyediakan substrat untuk fermentasi mikrobiota dapat memengaruhi lingkungan metabolik usus.
- 5. Gut barrier dan sistem imun
- Dinding usus berfungsi sebagai penghalang antara isi saluran cerna dan jaringan tubuh.
- Barrier tersebut melibatkan:
- • lapisan mukus
- • sel epitel
- • tight junction
- • sistem imun mukosa
- • metabolit mikrobiota
- Ketika fungsi barrier terganggu, interaksi antara antigen makanan, mikroorganisme, produk mikroba dan sistem imun dapat berubah.
- Namun, istilah “leaky gut” sering digunakan secara berlebihan di media sosial. Peningkatan permeabilitas intestinal memang merupakan fenomena biologis yang dapat terjadi pada berbagai kondisi, tetapi keberadaannya tidak otomatis menjelaskan semua penyakit kronis atau gangguan perilaku.
- 6. Inflamasi dan gut-brain axis
- Sistem imun merupakan salah satu penghubung penting antara usus dan otak.
- Mikrobiota dapat berinteraksi dengan sistem imun mukosa. Sebaliknya, inflamasi gastrointestinal dapat mengubah lingkungan mikrobiota dan metabolit.
- Mediator inflamasi juga dapat memengaruhi sistem saraf.
- Pada sejumlah penyakit neurologis dan psikiatri, penelitian menemukan hubungan antara inflamasi, perubahan mikrobiota dan metabolisme tertentu. Namun, hubungan tersebut sering bersifat kompleks dan belum dapat menunjukkan bahwa perubahan mikrobiota merupakan penyebab utama penyakit.
- Karena itu, istilah “inflamasi usus menyebabkan gangguan otak” terlalu sederhana untuk menggambarkan bukti ilmiah yang ada.
- 7. Triptofan dan jalur serotonin
- Triptofan merupakan asam amino esensial yang diperoleh dari makanan.
- Triptofan dapat masuk ke beberapa jalur metabolisme.
- Salah satunya berkaitan dengan pembentukan serotonin.
- Jalur lainnya menghasilkan metabolit kynurenine.
- Mikrobiota dapat memengaruhi metabolisme triptofan dan keseimbangan berbagai metabolit tersebut.
- Hubungan antara triptofan, mikrobiota, sistem imun dan otak menjadi salah satu bidang penelitian penting dalam gut-brain axis.
- 8. Asam empedu
- Asam empedu awalnya dikenal karena perannya dalam pencernaan dan penyerapan lemak.
- Namun, penelitian menunjukkan bahwa asam empedu juga berfungsi sebagai molekul sinyal.
- Mikrobiota mengubah asam empedu primer menjadi berbagai metabolit lain. Molekul tersebut kemudian dapat memengaruhi reseptor tertentu pada usus, hati, sistem imun dan jaringan lain.
- Dengan demikian, makanan dan mikrobiota dapat memengaruhi jaringan metabolik yang lebih luas daripada sekadar proses pencernaan.
Peran nutrisi dalam gut-brain axis
- Nutrisi mempunyai dua sasaran sekaligus.
- Pertama, menyediakan kebutuhan tubuh.
- Kedua, menyediakan substrat yang dapat memengaruhi mikrobiota.
- Karena itu, pola makan dapat mengubah lingkungan mikrobiologis usus.
Makanan yang mendukung kesehatan gut-brain axis
| Kelompok makanan | Contoh | Potensi mekanisme |
|---|---|---|
| Serat | Sayur, buah, kacang, biji, whole grains | Substrat fermentasi mikrobiota |
| Omega-3 | Ikan berlemak | Modulasi metabolisme dan inflamasi |
| Protein berkualitas | Ikan, telur, daging, kacang-kacangan | Asam amino untuk pertumbuhan dan metabolisme |
| Makanan fermentasi | Yogurt, kefir, makanan fermentasi tertentu | Menyediakan mikroorganisme atau metabolit tertentu |
| Polyphenol | Buah, sayuran, teh, kakao, minyak zaitun | Interaksi dengan mikrobiota dan metabolisme |
| Prebiotic food | Bawang, bawang putih, pisang, asparagus, kacang tertentu | Substrat bagi mikrobiota tertentu |
| Air | Air putih | Mendukung fungsi fisiologis dan hidrasi |
Pola makan yang kaya makanan utuh dan beragam umumnya lebih masuk akal daripada mencari satu “superfood” untuk gut-brain axis. Pada anak, kecukupan energi, protein, lemak esensial, vitamin dan mineral harus tetap menjadi prioritas. Review terbaru mengenai nutrisi dan mikrobiota pada perkembangan otak anak menunjukkan bahwa kualitas dan kecukupan nutrisi berhubungan dengan perkembangan otak dan fungsi kognitif. (PubMed)
Gut-Brain Axis, Alergi Makanan, dan Oral Food Challenge
- Gut-brain axis menggambarkan komunikasi dua arah antara saluran cerna dan otak melalui sistem saraf, saraf vagus, sistem imun, hormon, metabolit mikrobiota, serta jalur metabolisme triptofan. Pada anak, hubungan ini sangat dinamis karena mikrobiota usus, sistem imun, dan otak masih berkembang. Nutrisi berperan penting dalam menjaga keragaman mikrobiota, integritas sawar usus, fungsi imun, dan perkembangan otak. Karena itu, gangguan saluran cerna dapat memengaruhi kenyamanan, pola makan, tidur, dan perilaku anak, sementara pola makan yang sangat terbatas juga dapat memengaruhi mikrobiota dan kecukupan nutrisi. Namun, hubungan gut-brain axis bersifat kompleks dan dua arah. Temuan tentang perubahan mikrobiota tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab gangguan perkembangan atau perilaku tertentu.
- Alergi makanan dapat menjadi salah satu kondisi yang memengaruhi hubungan antara saluran cerna, sistem imun, pola makan, dan gut-brain axis. Reaksi alergi dapat menimbulkan gejala gastrointestinal seperti muntah, nyeri perut, diare, atau gangguan makan, sementara eliminasi makanan yang terlalu luas tanpa indikasi yang jelas dapat mengurangi keragaman makanan dan meningkatkan risiko kekurangan zat gizi. Karena itu, diagnosis alergi makanan harus didasarkan pada riwayat klinis, pemeriksaan yang sesuai, dan hubungan yang konsisten antara paparan makanan dengan gejala. Hasil pemeriksaan alergi saja tidak selalu membuktikan bahwa suatu makanan merupakan penyebab keluhan. Pada kondisi tertentu, oral food challenge atau OFC dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis untuk menilai apakah anak benar-benar mengalami reaksi terhadap makanan yang dicurigai.
- Oral food challenge merupakan prosedur diagnostik terkontrol dengan memberikan makanan dalam jumlah bertahap dan mengamati munculnya reaksi secara langsung. Dalam evaluasi alergi makanan, OFC dapat membantu membedakan alergi yang benar-benar masih aktif dari dugaan alergi berdasarkan riwayat atau pemeriksaan sebelumnya. Bila makanan terbukti dapat ditoleransi, anak dapat memperoleh kembali sumber nutrisi yang sebelumnya dihindari sehingga membantu memperluas variasi makanan dan mendukung pertumbuhan. Sebaliknya, bila terjadi reaksi, hasil OFC memberikan informasi klinis penting untuk menentukan strategi penghindaran dan tata laksana berikutnya. Dengan demikian, pendekatan pada anak dengan keluhan pencernaan, alergi makanan, atau gangguan makan sebaiknya tidak berhenti pada istilah “gut-brain axis”, tetapi dilanjutkan dengan diagnosis yang tepat, kecukupan nutrisi, dan evaluasi toleransi makanan secara ilmiah.
Serat dan mikrobiota
- Serat merupakan salah satu komponen makanan yang paling penting dalam hubungan diet dan mikrobiota.
- Sebagian serat tidak dicerna di usus halus. Serat tersebut mencapai kolon dan dapat difermentasi oleh mikrobiota.
- Hasil fermentasi menghasilkan SCFA.
- Secara sederhana:
- Serat makanan → mikrobiota → fermentasi → SCFA → interaksi dengan usus, imun, metabolisme dan sistem saraf.
- Namun, kebutuhan serat berbeda menurut usia dan kondisi kesehatan.
- Anak dengan penyakit gastrointestinal tertentu mungkin membutuhkan modifikasi tekstur, jenis serat atau jumlah serat. Pasien dengan striktur Crohn disease, misalnya, dapat mempunyai kebutuhan diet yang berbeda dari individu sehat.
- Probiotik
- Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan bila diberikan dalam jumlah yang memadai pada kondisi tertentu.
- Tidak semua probiotik sama.
- Efek probiotik sangat bergantung pada:
- • strain
- • dosis
- • lama pemberian
- • kondisi pasien
- • penyakit yang ditargetkan
- Karena itu, hasil penelitian satu strain tidak otomatis berlaku untuk semua produk probiotik.
- Istilah “psychobiotic” digunakan untuk menggambarkan intervensi mikrobiota yang diteliti karena kemungkinan pengaruhnya terhadap fungsi otak atau kondisi psikologis.
- Penelitian menunjukkan potensi pada beberapa kondisi, tetapi bukti klinis belum cukup untuk menyatakan bahwa probiotik dapat mengobati gangguan psikiatri secara umum. (PubMed)
- Prebiotik
- Prebiotik merupakan substrat yang digunakan secara selektif oleh mikroorganisme inang dan memberikan manfaat kesehatan.
- Banyak prebiotik berasal dari komponen makanan yang tidak dicerna di usus halus.
- Contohnya mencakup kelompok fructans, galacto-oligosaccharides dan beberapa jenis serat lainnya.
- Prebiotik dapat mengubah metabolisme mikrobiota dan produksi SCFA.
- Namun, efek klinis terhadap kecemasan, depresi atau fungsi kognitif masih menjadi bidang penelitian.
- Fermented food
- Makanan fermentasi seperti yogurt dan kefir dapat menyediakan mikroorganisme serta produk hasil fermentasi.
- Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan fermentasi dapat memengaruhi mikrobiota dan berbagai parameter imun atau metabolik.
- Namun, tidak semua makanan fermentasi memiliki mikroorganisme hidup yang sama. Proses pemanasan atau pasteurisasi setelah fermentasi juga dapat mengubah kandungan mikroba hidup.
- Karena itu, istilah “makanan fermentasi” tidak boleh dianggap sebagai satu kelompok dengan efek biologis yang identik.
- Omega-3 dan otak
- Asam lemak omega-3, terutama EPA dan DHA, memiliki peran penting dalam struktur dan fungsi membran sel.
- DHA merupakan komponen penting jaringan otak dan retina.
- Sumber makanan antara lain:
- • ikan berlemak
- • seafood
- • beberapa jenis kacang dan biji sebagai sumber ALA
- Hubungan omega-3 dengan mikrobiota dan fungsi otak masih terus diteliti. Nutrisi tersebut penting bagi kesehatan secara keseluruhan, tetapi suplementasi omega-3 tidak boleh diposisikan sebagai terapi tunggal untuk gangguan neuropsikiatri.
Gut-brain axis pada anak
Masa awal kehidupan merupakan periode penting dalam perkembangan microbiota-gut-brain axis.
- Faktor yang dapat memengaruhi proses tersebut meliputi:
- • nutrisi ibu
- • kondisi kehamilan
- • cara persalinan
- • pemberian ASI
- • penggunaan antibiotik
- • pola makan
- • infeksi
- • lingkungan
- • stres
- • kualitas nutrisi
Review terbaru menunjukkan adanya hubungan antara nutrisi, mikrobiota dan perkembangan otak anak. Namun, banyak bukti masih bersifat observasional atau berasal dari penelitian mekanistik. (PubMed)
Systematic review 2026 terhadap 78 penelitian pada anak dan remaja menemukan hubungan antara karakteristik mikrobiota dan perkembangan neuropsikologis, tetapi heterogenitas penelitian dan faktor perancu membuat hubungan sebab akibat belum dapat dipastikan. (PubMed)
Apakah gut-brain axis berhubungan dengan autisme?
- Penelitian menemukan adanya perbedaan mikrobiota pada sebagian kelompok anak dengan autism spectrum disorder.
- Namun, temuan tersebut tidak membuktikan bahwa dysbiosis menyebabkan autisme.
- Autisme merupakan kondisi neurodevelopmental yang kompleks dengan kontribusi genetik dan faktor lingkungan.
- Review terbaru menilai intervensi yang menargetkan mikrobiota, termasuk diet, probiotik, prebiotik dan fecal microbiota transplantation, masih membutuhkan penelitian pediatric yang lebih kuat. (PubMed)
- Karena itu:
- Mikrobiota berbeda ≠ penyebab autisme.
- Gangguan pencernaan pada anak dengan autisme juga tidak boleh diabaikan. Keluhan gastrointestinal perlu dinilai dan ditangani berdasarkan diagnosisnya sendiri.
Apakah memperbaiki usus dapat memperbaiki otak?
- Pertanyaan ini menarik, tetapi jawabannya belum sederhana.
- Ada bukti biologis yang kuat bahwa usus dan otak saling berkomunikasi.
- Ada bukti bahwa diet dapat mengubah mikrobiota.
- Ada bukti bahwa mikrobiota menghasilkan metabolit yang dapat berinteraksi dengan sistem imun dan saraf.
- Namun, bukti bahwa manipulasi mikrobiota tertentu dapat menyembuhkan gangguan otak atau neurodevelopmental disorder masih terbatas.
- Pada anak, para peneliti menekankan perlunya penelitian jangka panjang, randomized controlled trials, dan metode multi-omics sebelum intervensi mikrobiota dapat digunakan secara rutin untuk tujuan neurodevelopmental. (PubMed)
Gut-brain axis dan gangguan gastrointestinal
Hubungan gut-brain axis juga penting dalam memahami gejala gastrointestinal fungsional.
- Nyeri perut, kembung, mual dan perubahan pola BAB dapat dipengaruhi oleh interaksi antara:
- • motilitas usus
- • sensitivitas visceral
- • sistem saraf enterik
- • nervus vagus
- • stres
- • sistem imun
- • mikrobiota
- • pola makan
- Ini menjelaskan mengapa dua orang dengan pemeriksaan saluran cerna yang serupa dapat mempunyai tingkat gejala yang berbeda.
Apa yang sebaiknya dilakukan?
Pendekatan terhadap gut-brain axis tidak perlu dimulai dari suplemen mahal. Prioritasnya adalah:
- • makan beragam
- • memenuhi kebutuhan energi dan protein
- • konsumsi sayur dan buah sesuai toleransi
- • memperoleh serat sesuai kebutuhan
- • memilih sumber lemak sehat
- • mengonsumsi ikan sebagai sumber omega-3
- • menjaga tidur
- • melakukan aktivitas fisik
- • menghindari penggunaan antibiotik tanpa indikasi
- • menangani penyakit gastrointestinal yang terbukti
- • menghindari eliminasi makanan yang tidak memiliki indikasi
Pada anak, kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan harus menjadi pertimbangan utama. Diet eliminasi yang terlalu luas dapat menyebabkan kekurangan nutrisi dan justru mengganggu pertumbuhan.
Tabel hubungan usus dan otak
| Faktor | Jalur | Dampak potensial |
|---|---|---|
| Diet | Mengubah substrat mikrobiota | Mengubah metabolit mikroba |
| Serat | Fermentasi mikrobiota | Produksi SCFA |
| Mikrobiota | Produksi metabolit | Sinyal imun dan metabolik |
| SCFA | Reseptor dan metabolisme | Barrier, imun dan sinyal saraf |
| Triptofan | Serotonin dan kynurenine | Neurotransmisi dan imun |
| Asam empedu | Metabolit mikroba | Sinyal metabolik |
| Vagus | Sinyal neural | Komunikasi usus-otak |
| Inflamasi | Sitokin | Memengaruhi sistem saraf |
| Stres | Sistem saraf dan hormonal | Mengubah fungsi gastrointestinal |
| Tidur | Neuroendokrin dan metabolisme | Memengaruhi kesehatan sistemik |
Pesan ilmiah penting
- Gut-brain axis adalah hubungan biologis nyata antara saluran cerna dan otak.
- Namun, konsep ini tidak berarti bahwa semua penyakit otak berasal dari usus.
- Nutrisi dapat memengaruhi mikrobiota. Mikrobiota dapat menghasilkan metabolit yang berinteraksi dengan sistem imun, metabolisme dan sistem saraf.
- Pada anak, hubungan tersebut semakin menarik karena perkembangan mikrobiota dan otak berlangsung bersamaan. Bukti terbaru mendukung adanya hubungan antara nutrisi, mikrobiota dan perkembangan neurokognitif, tetapi sebagian besar bukti belum cukup untuk menetapkan hubungan sebab akibat atau menjadikan terapi mikrobiota sebagai pengobatan standar gangguan neurodevelopmental. (PubMed)
- Pendekatan yang paling rasional adalah memperbaiki kualitas dan kecukupan nutrisi, menjaga kesehatan gastrointestinal, menghindari pembatasan makanan yang tidak diperlukan, serta menangani penyakit yang terbukti secara medis.
Daftar pustaka pilihan
- Jiang Y, Li X. The role of nutrition and gut microbiome in childhood brain development and behavior. Frontiers in Nutrition. 2025. doi:10.3389/fnut.2025.1590172. (PubMed)
- Marano G, et al. The Pediatric Microbiota-Gut-Brain Axis: Implications for Neuropsychiatric Development and Intervention. Children. 2025;12(11):1561. doi:10.3390/children12111561. (PubMed)
- Chatzinikolaou R, Rouskas K, Argiriou A. Exploring the links between nutrition, gut microbiome, and neurodevelopmental disorders. Nutrition. 2026;148:113030. doi:10.1016/j.nut.2025.113030. (PubMed)
- The relationship between the gut microbiota and neuropsychological development and behaviour during childhood and adolescence: a systematic review of epidemiological studies. Brain, Behavior, and Immunity – Health. 2026;101212. (PubMed)
- Cohen Kadosh K, et al. Nutritional Support of Neurodevelopment and Cognitive Function in Infants and Young Children. Nutrients. 2021. (PubMed)
- Ağagündüz D, et al. Probiotics, Live Biotherapeutic Products, and Gut-Brain Axis Related Psychological Conditions. Probiotics and Antimicrobial Proteins. 2023;15:1014-1031. (PubMed)










Leave a Reply