DOKTER AIRLANGGA

"Together Advancing Healthcare, Inspiring Humanity the Future."

INFLUENZA A PADA ANAK, DEWASA, DAN LANSIA Kapan Perlu Dirawat, Kapan Perlu Antivirus, dan Apakah Vitamin D Diperlukan?

INFLUENZA A PADA ANAK, DEWASA, DAN LANSIA Kapan Perlu Dirawat, Kapan Perlu Antivirus, dan Apakah Vitamin D Diperlukan?

Influenza A merupakan infeksi saluran napas akut yang dapat menyebabkan penyakit ringan hingga pneumonia berat, sepsis, gagal napas, dan komplikasi multisistem. Sebagian besar penderita influenza dapat sembuh dengan perawatan suportif di rumah, tetapi risiko komplikasi tidak sama pada semua kelompok usia. Anak kecil, terutama usia di bawah 5 tahun dan paling tinggi risikonya pada usia di bawah 2 tahun, lansia usia 65 tahun atau lebih, ibu hamil, serta individu dengan penyakit kronis atau imunosupresi memiliki risiko komplikasi lebih tinggi.

Antivirus, terutama oseltamivir, mempunyai posisi penting pada pasien yang dirawat di rumah sakit, mengalami penyakit berat atau progresif, serta kelompok dengan risiko tinggi komplikasi. Manfaat paling besar diperoleh bila terapi dimulai sedini mungkin, idealnya dalam 48 jam pertama, tetapi pada pasien berat, progresif, berisiko tinggi, atau dirawat di rumah sakit, terapi tetap dapat bermanfaat meskipun sudah lebih dari 48 jam sejak timbulnya gejala.

Vitamin D mempunyai peran penting dalam kesehatan tulang dan fungsi imun, tetapi vitamin D bukan terapi spesifik influenza A. Bukti mengenai suplementasi vitamin D untuk mencegah infeksi saluran napas masih heterogen, sedangkan bukti untuk mengobati infeksi saluran napas yang sudah terjadi menunjukkan manfaat yang terbatas atau tidak konsisten. Karena itu, vitamin D terutama diberikan untuk memenuhi kebutuhan atau mengoreksi defisiensi, bukan sebagai pengganti antivirus.


 

Influenza sering dianggap sama dengan “flu biasa”. Secara klinis, influenza mempunyai karakteristik yang berbeda. Influenza biasanya menimbulkan onset akut dengan demam, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri otot atau sendi, sakit kepala, menggigil, dan rasa lemah yang cukup berat. Pada anak, muntah dan diare juga dapat terjadi.

Influenza A memiliki spektrum penyakit yang luas. Sebagian pasien hanya mengalami demam dan batuk selama beberapa hari, sedangkan sebagian lainnya dapat mengalami pneumonia, hipoksemia, dehidrasi, eksaserbasi asma atau penyakit kronis, ensefalopati, sepsis, hingga gagal napas. Karena itu, hasil pemeriksaan influenza A positif tidak secara otomatis berarti pasien harus dirawat di rumah sakit. Yang menentukan kebutuhan rawat bukan hanya nama virus, tetapi keadaan klinis pasien, usia, faktor risiko, kemampuan mempertahankan hidrasi dan oksigenasi, serta ada atau tidaknya komplikasi.


Influenza A Tidak Selalu Berarti Harus Dirawat

  • Sebagian besar kasus influenza bersifat ringan dan dapat ditangani secara suportif di rumah. WHO menyatakan bahwa kebanyakan pasien influenza mengalami pemulihan tanpa membutuhkan perawatan medis, sedangkan kasus berat memerlukan evaluasi dan perawatan segera.
  • Pasien dengan influenza ringan pada umumnya dapat menjalani perawatan di rumah apabila:
    • kesadaran baik;
    • napas tidak sesak;
    • tidak terdapat tanda hipoksemia;
    • mampu minum;
    • tidak mengalami dehidrasi;
    • masih dapat makan atau menerima cairan;
    • tidak terdapat pneumonia berat;
    • tidak terdapat komplikasi;
    • penyakit kronis tetap terkontrol;
  • keluarga mampu melakukan pemantauan dan kembali mencari pertolongan bila kondisi memburuk.
  • Namun, ambang evaluasi medis sebaiknya lebih rendah pada bayi, anak kecil, lansia, ibu hamil, pasien dengan penyakit kronis, dan individu dengan imunosupresi.

Kapan Influenza A Perlu Dirawat di Rumah Sakit?

  • Keputusan rawat inap terutama ditentukan oleh derajat keparahan penyakit dan risiko komplikasi, bukan semata-mata hasil PCR atau rapid test positif.

Tabel. Indikasi klinis yang perlu dipertimbangkan untuk evaluasi rumah sakit

KondisiMakna klinis
Sesak napas atau peningkatan kerja napasKemungkinan keterlibatan saluran napas bawah
HipoksemiaMembutuhkan evaluasi oksigenasi dan kemungkinan terapi oksigen
PneumoniaKomplikasi penting influenza
Penurunan kesadaranTanda penyakit berat atau komplikasi neurologis/metabolik
KejangMembutuhkan evaluasi segera
Dehidrasi sedang–beratDapat memerlukan cairan parenteral
Tidak mampu minumRisiko dehidrasi dan perburukan
Muntah terus-menerusMengganggu hidrasi dan pemberian obat
Sepsis atau syokKondisi emergensi
Eksaserbasi asma/PPOK/penyakit jantungInfluenza dapat memperberat penyakit dasar
Kondisi memburuk setelah sempat membaikPerlu mencari komplikasi atau infeksi sekunder
Bayi sangat muda dengan kondisi klinis mengkhawatirkanRisiko komplikasi lebih tinggi
Lansia dengan penurunan fungsi atau penyakit penyertaAmbang evaluasi lebih rendah

WHO menekankan bahwa influenza berat dapat ditandai oleh sindrom seperti distress pernapasan, sepsis, acute respiratory distress syndrome, atau kegagalan multiorgan dan kondisi tersebut membutuhkan perawatan suportif segera, sering kali di rumah sakit.


Anak Merupakan Kelompok yang Perlu Perhatian Khusus

  • Anak di bawah 5 tahun mempunyai risiko komplikasi influenza yang lebih tinggi dibandingkan anak yang lebih besar, terutama anak di bawah 2 tahun. Risiko tertinggi terdapat pada bayi usia di bawah 6 bulan.
  • Komplikasi influenza pada anak dapat meliputi:
  • pneumonia;
  • otitis media;
  • dehidrasi;
  • perburukan asma;
  • perburukan penyakit jantung atau paru;
  • ensefalopati;
  • komplikasi neurologis lainnya;
  • gagal napas.
  • Karena itu, anak kecil dengan influenza A positif tidak selalu perlu dirawat, tetapi harus dinilai berdasarkan kondisi klinis dan faktor risikonya.

Lansia Mempunyai Risiko Komplikasi Lebih Tinggi

  • Usia 65 tahun atau lebih merupakan kelompok risiko tinggi influenza. Risiko semakin meningkat bila terdapat penyakit jantung, paru kronis, diabetes, penyakit neurologis, gangguan imun, atau beberapa penyakit kronis sekaligus.
  • Pada lansia, gejala juga tidak selalu tampak seperti gambaran influenza klasik. Demam dapat tidak menonjol, sementara penurunan aktivitas, kelemahan, gangguan makan-minum, kebingungan, atau perburukan penyakit kronis dapat menjadi tanda penting.
  • Oleh karena itu, penilaian influenza pada lansia tidak boleh hanya berdasarkan suhu tubuh.

Apakah Influenza A Memerlukan Antivirus?

  • Tidak semua pasien influenza A membutuhkan antivirus, tetapi kelompok tertentu sangat dianjurkan mendapat antivirus.
  • CDC merekomendasikan terapi antivirus sedini mungkin pada pasien yang:
  • dirawat di rumah sakit;
  • mengalami influenza berat, komplikatif, atau progresif;
  • mempunyai risiko tinggi mengalami komplikasi influenza.
  • Pada anak, CDC dan American Academy of Pediatrics merekomendasikan antivirus untuk influenza yang dicurigai atau terkonfirmasi pada anak dengan penyakit berat, komplikatif, progresif, dirawat di rumah sakit, atau mempunyai risiko tinggi komplikasi.

Oseltamivir: Antivirus yang Paling Banyak Digunakan

  • Oseltamivir merupakan inhibitor neuraminidase yang aktif terhadap influenza A dan B.
  • Untuk pasien rawat inap, CDC merekomendasikan oseltamivir oral atau melalui saluran enteral sesegera mungkin. Terapi tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan laboratorium apabila secara klinis influenza sangat dicurigai dan pasien termasuk kelompok prioritas.
  • Manfaat terbesar diperoleh bila obat diberikan sedini mungkin, terutama dalam 48 jam pertama.
  • Namun, terdapat satu prinsip penting:
  • Lewat 48 jam bukan berarti antivirus otomatis tidak berguna.
  • Pada pasien yang berat, progresif, berisiko tinggi, atau dirawat di rumah sakit, antivirus tetap dapat diberikan walaupun pasien datang lebih dari 48 jam setelah onset.

Mengapa Antivirus Tidak Boleh Terlambat pada Pasien Risiko Tinggi?

  • Replikasi virus influenza berlangsung terutama pada fase awal penyakit. Karena itu, pemberian antivirus lebih dini memberikan peluang lebih besar untuk menghambat proses tersebut.
  • Namun pada penyakit berat, masalah klinis tidak hanya berasal dari replikasi virus. Dapat terjadi inflamasi berat, kerusakan epitel saluran napas, gangguan pertukaran gas, pneumonia, dehidrasi, serta komplikasi organ lainnya.
  • Karena itu, pada influenza berat, antivirus merupakan bagian dari terapi, tetapi bukan satu-satunya terapi.
  • Pasien mungkin juga membutuhkan:
  • oksigen;
  • cairan;
  • pemantauan;
  • terapi bronkodilator bila terdapat indikasi;
  • terapi komplikasi;
  • antibiotik bila terdapat kecurigaan infeksi bakteri sekunder;
  • dukungan pernapasan pada gagal napas.
  • WHO menekankan bahwa terapi suportif merupakan dasar penatalaksanaan influenza berat.

Bagaimana dengan Pasien Influenza Ringan?

  • Pada orang dewasa atau anak yang sehat, tidak berisiko tinggi, tidak mengalami komplikasi, dan datang dengan influenza ringan, antivirus tidak selalu wajib.
  • CDC menyatakan bahwa pada pasien rawat jalan yang tidak berisiko tinggi, antivirus dapat dipertimbangkan berdasarkan penilaian klinis, terutama bila terapi dapat dimulai dalam 48 jam pertama.
  • Dengan demikian, terdapat dua kelompok berbeda:
  • Influenza ringan pada individu sehat
  • Dapat ditangani dengan:
  • istirahat + cairan + pengendalian gejala + pemantauan.
  • Antivirus dapat dipertimbangkan bila datang sangat dini berdasarkan keputusan klinis.
  • Influenza pada kelompok risiko tinggi atau penyakit berat
  • Antivirus dianjurkan sesegera mungkin.
  • Jangan menunggu penyakit menjadi berat.

Tabel: Siapa yang Lebih Membutuhkan Antivirus?

KelompokAntivirus
Pasien rawat inap dengan influenzaDirekomendasikan sesegera mungkin
Influenza berat/progresif/komplikatifDirekomendasikan
Anak <2 tahun dengan influenzaSangat perlu dipertimbangkan/direkomendasikan bila influenza dicurigai atau terkonfirmasi
Anak <5 tahunRisiko komplikasi lebih tinggi, evaluasi antivirus penting
Lansia ≥65 tahunDirekomendasikan bila influenza
Ibu hamilDirekomendasikan bila influenza
Penyakit jantung kronisDirekomendasikan bila influenza
Penyakit paru kronis/asmaDirekomendasikan bila influenza
DiabetesDirekomendasikan bila influenza
ImunosupresiDirekomendasikan bila influenza
Dewasa sehat, influenza ringanDapat dipertimbangkan terutama <48 jam
Anak sehat lebih besar, influenza ringanPertimbangan klinis, terutama bila <48 jam

CDC secara eksplisit memasukkan anak kecil, lansia, serta pasien dengan berbagai penyakit kronis sebagai kelompok dengan risiko komplikasi lebih tinggi.


Bagaimana Dosis Oseltamivir pada Anak?

  • Dosis oseltamivir pada anak ditentukan berdasarkan usia, berat badan, fungsi ginjal, dan kondisi klinis.
  • Untuk terapi influenza, CDC mencantumkan regimen dua kali sehari selama 5 hari untuk influenza tidak berkomplikasi. Pada pasien dengan penyakit berat, durasi dapat diperpanjang berdasarkan kondisi klinis.
  • Tabel dosis terapi yang umum digunakan menurut CDC
KelompokOseltamivir terapi
<1 tahun3 mg/kg/dosis, 2× sehari*
≥1 tahun, ≤15 kg30 mg, 2× sehari
>15–23 kg45 mg, 2× sehari
>23–40 kg60 mg, 2× sehari
>40 kg75 mg, 2× sehari
Durasi umum5 hari
  • *Penggunaan pada bayi sangat muda membutuhkan pertimbangan klinis khusus. CDC/AAP merekomendasikan penggunaan terapi oseltamivir pada bayi, termasuk usia <14 hari dalam situasi influenza, meskipun indikasi label berbeda menurut yurisdiksi. Penyesuaian dosis juga diperlukan pada gangguan fungsi ginjal.
  • Dosis individual sebaiknya ditentukan dokter, terutama pada bayi, anak dengan penyakit berat, gangguan ginjal, atau pasien rawat inap.

Apakah Vitamin D Diperlukan pada Influenza A?

  • Ini merupakan pertanyaan yang sering menimbulkan salah persepsi.
  • Vitamin D memang mempunyai peran dalam fungsi imun. Kekurangan vitamin D dapat mengganggu berbagai aspek respons imun. Namun, vitamin D bukan antivirus influenza.
  • Bukti mengenai suplementasi vitamin D untuk mencegah infeksi saluran napas masih tidak konsisten.
  • NIH Office of Dietary Supplements menyimpulkan bahwa hasil penelitian mengenai suplementasi vitamin D dan infeksi saluran napas beragam. Beberapa meta-analisis menemukan sedikit manfaat, terutama pada individu dengan kadar vitamin D rendah, sedangkan penelitian lain tidak menemukan manfaat yang bermakna. Untuk pengobatan infeksi saluran napas yang sudah terjadi, manfaatnya terbatas dan tidak konsisten.

Bukti Terbaru pada Anak

  • Sebuah tinjauan Cochrane yang diterbitkan pada 2026 mengevaluasi suplementasi vitamin D untuk mencegah infeksi saluran pernapasan akut pada anak usia hingga 5 tahun.
  • Hasilnya menunjukkan bahwa vitamin D mungkin sedikit mengurangi proporsi anak yang membutuhkan kunjungan dokter atau rumah sakit akibat infeksi saluran napas akut, tetapi kepastian bukti rendah dan vitamin D tidak terbukti mengurangi frekuensi kunjungan per anak. Dosis yang lebih tinggi dibandingkan dosis lebih rendah juga tidak menunjukkan manfaat yang jelas.
  • Hal penting lainnya adalah penelitian tersebut menilai infeksi saluran pernapasan akut secara umum, bukan membuktikan bahwa vitamin D merupakan terapi influenza A.
  • Jadi:
  • Vitamin D tidak boleh diposisikan sebagai pengganti oseltamivir pada influenza A.

Kapan Vitamin D Layak Diberikan?

  • Vitamin D tetap penting apabila seseorang:
  • mengalami defisiensi;
  • mempunyai asupan yang tidak mencukupi;
  • mempunyai kondisi yang meningkatkan risiko defisiensi;
  • membutuhkan suplementasi sesuai kebutuhan usia;
  • mendapat rekomendasi dokter berdasarkan kondisi klinis.
  • Namun, tujuan utamanya adalah memenuhi kebutuhan vitamin D, bukan mengobati influenza A.

Tabel: Vitamin D dan influenza

SituasiVitamin D
Defisiensi vitamin DPerlu dikoreksi
Asupan tidak mencukupiDapat diberikan sesuai kebutuhan
Influenza A ringanBukan terapi spesifik
Influenza A beratTidak menggantikan antivirus
Rawat inap karena influenzaTidak rutin sebagai antivirus
Ingin mempercepat sembuh dari influenzaBukti tidak cukup
Megadosis vitamin DTidak dianjurkan tanpa indikasi medis

Apakah Vitamin C dan Zinc Juga Harus Diberikan?

  • Prinsipnya sama.
  • Vitamin dan mineral memang diperlukan untuk fungsi imun. Namun, pada individu yang tidak mengalami defisiensi, pemberian suplemen dosis tinggi tidak otomatis menghasilkan efek terapi terhadap influenza.
  • NIH menekankan bahwa apabila tidak terdapat defisiensi, suplementasi mikronutrien secara rutin kemungkinan hanya memberikan sedikit manfaat dalam mencegah atau mengobati infeksi spesifik.
  • Karena itu, pendekatan yang lebih ilmiah adalah:
  • cukupi kebutuhan nutrisi terlebih dahulu, identifikasi defisiensi bila relevan, dan jangan menggantikan terapi influenza dengan suplemen.

Influenza A dan Antibiotik

  • Influenza A adalah infeksi virus.
  • Karena itu, antibiotik tidak mengobati virus influenza.
  • Antibiotik dapat dipertimbangkan bila terdapat bukti atau kecurigaan klinis terhadap infeksi bakteri sekunder, misalnya pneumonia bakteri.
  • Penggunaan antibiotik rutin pada influenza tanpa dugaan infeksi bakteri tidak memberikan manfaat dan dapat meningkatkan risiko efek samping serta resistensi antimikroba. WHO memberikan rekomendasi kuat untuk tidak menggunakan antibiotik pada influenza non-berat dengan probabilitas koinfeksi bakteri yang rendah.

Influenza A dan Kortikosteroid

  • Kortikosteroid juga bukan terapi rutin influenza.
  • Penggunaan steroid secara rutin pada influenza berat tidak direkomendasikan kecuali terdapat indikasi lain, misalnya eksaserbasi asma yang memang membutuhkan steroid.
  • WHO menekankan bahwa kortikosteroid tidak boleh digunakan secara rutin untuk influenza dan dapat berhubungan dengan efek merugikan tertentu pada pasien influenza berat.

Tabel Besar: Influenza A dari Rumah sampai Rumah Sakit

KondisiPerawatanAntivirusVitamin DRawat inap
Influenza ringan, dewasa sehatSuportifPertimbangkan <48 jamHanya bila perluTidak rutin
Influenza ringan, anak sehatSuportif + observasiPertimbangkan sesuai usia/risikoSesuai kebutuhanTidak rutin
Anak <5 tahunEvaluasi lebih ketatPertimbangkan kuatBukan terapi influenzaBerdasarkan klinis
Anak <2 tahunEvaluasi lebih ketatDirekomendasikan bila influenzaBukan antivirusBerdasarkan klinis
Lansia ≥65 tahunEvaluasi risikoDirekomendasikanKoreksi defisiensi bila adaBerdasarkan klinis
Penyakit kronisEvaluasi lebih ketatDirekomendasikanSesuai kebutuhanBerdasarkan klinis
Influenza progresifTerapi aktifSegeraBukan terapi utamaSering perlu evaluasi RS
PneumoniaSuportif + evaluasi komplikasiSegeraBukan terapi utamaSering diperlukan
HipoksemiaOksigen + monitoringSegeraBukan terapi utamaYa, umumnya
Sepsis/gagal napasPerawatan intensifSegeraBukan terapi utamaYa

Tanda Bahaya pada Anak

  • Orang tua perlu segera membawa anak untuk evaluasi medis apabila terdapat:
  • napas cepat atau sesak;
  • tarikan dinding dada;
  • bibir atau wajah kebiruan;
  • sulit dibangunkan;
  • penurunan kesadaran;
  • kejang;
  • tidak mau minum;
  • muntah terus-menerus;
  • tanda dehidrasi;
  • tidak buang air kecil dalam waktu yang mengkhawatirkan;
  • demam atau batuk yang sempat membaik kemudian memburuk;
  • nyeri dada;
  • kondisi umum semakin lemah.
  • Pada bayi sangat muda, perubahan perilaku, kesulitan minum, gangguan napas, atau penurunan aktivitas harus dinilai lebih serius.

Tanda Bahaya pada Dewasa dan Lansia

Pada dewasa dan terutama lansia, perhatian khusus diperlukan bila terdapat:

  • sesak napas;
  • nyeri atau tekanan dada;
  • saturasi oksigen rendah;
  • kebingungan baru;
  • penurunan kesadaran;
  • kelemahan berat;
  • dehidrasi;
  • penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari;
  • perburukan penyakit jantung atau paru;
  • demam atau batuk yang kembali memburuk setelah sempat membaik.
  • Pada lansia, tidak adanya demam tidak selalu berarti influenza ringan.

Prinsip Klinis yang Paling Penting

  • Influenza positif ≠ otomatis harus dirawat
  • Keputusan rawat berdasarkan keadaan klinis, bukan sekadar hasil pemeriksaan.
  • Influenza positif ≠ otomatis harus mendapat antibiotik
  • Influenza adalah infeksi virus. Antibiotik digunakan bila terdapat indikasi infeksi bakteri.
  • Influenza positif pada kelompok risiko tinggi ≠ menunggu berat
  • Kelompok risiko tinggi perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan antivirus lebih awal.
  • Lewat 48 jam ≠ antivirus tidak berguna
  • Pada penyakit berat, progresif, kelompok risiko tinggi, dan pasien rawat inap, terapi antivirus tetap dapat bermanfaat meskipun diberikan setelah 48 jam.
  • Vitamin D ≠ antivirus
  • Vitamin D penting untuk status nutrisi dan fungsi imun, tetapi tidak menggantikan oseltamivir atau terapi suportif.

Ringkasan Praktis

PertanyaanJawaban ilmiah
Semua influenza A harus dirawat?Tidak
Influenza A bisa sembuh sendiri?Ya, sebagian besar kasus ringan dapat sembuh dengan suportif
Anak kecil berisiko lebih tinggi?Ya, terutama <2 tahun
Lansia berisiko lebih tinggi?Ya, terutama ≥65 tahun
Perlu antivirus?Ya pada rawat inap, penyakit berat/progresif, dan kelompok risiko tinggi
Paling ideal kapan?Sedini mungkin, idealnya ≤48 jam
Jika sudah >48 jam?Tetap diberikan pada penyakit berat, progresif, risiko tinggi, atau rawat inap
Oseltamivir untuk anak?Ya, dapat digunakan sesuai usia, berat badan, dan kondisi klinis
Perlu vitamin D untuk mengobati influenza?Tidak sebagai terapi spesifik
Perlu vitamin D jika defisiensi?Ya, untuk mengoreksi defisiensi
Perlu antibiotik?Tidak kecuali ada dugaan/indikasi infeksi bakteri
Perlu steroid?Tidak rutin, kecuali ada indikasi lain
Kapan harus ke RS?Sesak, hipoksemia, dehidrasi, gangguan kesadaran, pneumonia, sepsis, atau perburukan klinis

Kesimpulan

  • Influenza A mempunyai spektrum penyakit yang luas. Sebagian besar kasus ringan tidak memerlukan rawat inap, tetapi keputusan harus mempertimbangkan usia, penyakit penyerta, kemampuan minum, status hidrasi, oksigenasi, dan adanya komplikasi.
  • Antivirus terutama penting pada pasien rawat inap, penyakit berat atau progresif, serta kelompok berisiko tinggi. Oseltamivir merupakan pilihan utama yang banyak digunakan dan sebaiknya diberikan sedini mungkin. Manfaat terbesar diperoleh dalam 48 jam pertama, tetapi keterlambatan lebih dari 48 jam bukan alasan untuk menunda terapi pada pasien berat, progresif, berisiko tinggi, atau dirawat di rumah sakit.
  • Vitamin D mempunyai peran dalam kesehatan dan fungsi imun, tetapi bukan obat influenza A. Suplementasi paling rasional adalah untuk memenuhi kebutuhan atau mengoreksi defisiensi. Bukti klinis mengenai manfaat suplementasi vitamin D terhadap infeksi saluran napas masih heterogen dan manfaatnya untuk mengobati infeksi yang sudah terjadi belum meyakinkan.
  • Dengan demikian, prinsip penatalaksanaan influenza A dapat diringkas menjadi:
  • Nilai berat penyakit → identifikasi kelompok risiko → mulai antivirus bila ada indikasi → berikan terapi suportif → cari komplikasi → gunakan vitamin dan mineral sesuai kebutuhan, bukan sebagai pengganti terapi antivirus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *