LONG FLU PASCA INFLUENZA A, INFEKSI SALURAN NAPAS BERULANG, DAN ALERGI MAKANAN: TINJAUAN ILMIAH NARATIF
LONG FLU AFTER INFLUENZA A, RECURRENT RESPIRATORY TRACT INFECTIONS, AND FOOD ALLERGY: A NARRATIVE SCIENTIFIC REVIEW
Sandia Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Influenza A merupakan infeksi saluran napas akut yang pada sebagian pasien dapat diikuti oleh gejala atau gangguan kesehatan yang menetap setelah fase akut berakhir. Fenomena pascainfluenza ini semakin mendapat perhatian karena bukti kohort menunjukkan bahwa influenza tidak hanya berkaitan dengan morbiditas selama fase akut, tetapi juga dengan peningkatan risiko sejumlah luaran kesehatan setelahnya. Xie, Choi, dan Al-Aly melaporkan bahwa pasien yang dirawat karena influenza mengalami peningkatan risiko berbagai luaran kesehatan selama periode tindak lanjut, dengan keterlibatan terutama pada sistem respirasi [1]. Meskipun istilah long flu semakin sering digunakan untuk menggambarkan kondisi tersebut, istilah ini belum mempunyai definisi diagnostik universal dan sebaiknya dipahami sebagai istilah deskriptif, bukan sebagai diagnosis klinis yang telah terstandardisasi.
Interpretasi terhadap fenomena tersebut harus mempertimbangkan bahwa studi Xie dan kolega dilakukan pada populasi pasien yang menjalani rawat inap sehingga tidak dapat secara langsung digeneralisasikan kepada seluruh pasien influenza, terutama anak dengan influenza ringan yang menjalani perawatan di rumah [1]. Selain itu, periode tindak lanjut hingga 18 bulan merupakan periode observasi terhadap luaran kesehatan dan bukan bukti bahwa gejala influenza menetap selama 18 bulan. Secara klinis, gejala yang persisten setelah influenza harus dibedakan antara gejala pascavirus, komplikasi influenza, eksaserbasi penyakit kronis, maupun infeksi baru. Batuk persisten, misalnya, dapat berhubungan dengan hiperresponsivitas jalan napas pascavirus, tetapi juga dapat mencerminkan asma, rinitis alergi, pertusis, sinusitis, atau penyakit paru lainnya.
Penyakit saluran napas alergik merupakan salah satu kondisi yang berpotensi memengaruhi perjalanan klinis pascainfluenza. Infeksi virus respirasi dapat memicu eksaserbasi asma dan memperburuk inflamasi saluran napas pada individu yang memiliki predisposisi atopik. Pada rinitis alergi, kongesti nasal, rinore, bersin, dan postnasal drip dapat mempertahankan gejala respirasi setelah infeksi akut mereda. Oleh karena itu, gejala respirasi yang menetap setelah influenza tidak seharusnya secara otomatis diinterpretasikan sebagai infeksi yang belum sembuh. Evaluasi klinis perlu mempertimbangkan kondisi respirasi yang mendasari, terutama apabila terdapat mengi, sesak, batuk malam hari, riwayat atopi, atau gejala hidung yang persisten.
Hubungan antara alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang juga telah dilaporkan dalam literatur. Woicka-Kolejwa et al. menemukan adanya asosiasi antara alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang pada anak [2]. Namun, penelitian tersebut merupakan penelitian observasional sehingga tidak dapat menetapkan hubungan kausal. Anak dengan alergi makanan dapat mempunyai komorbiditas atopik, termasuk dermatitis atopik, rinitis alergi, dan asma, serta dapat mengalami keterbatasan diet dan gangguan status nutrisi. Faktor-faktor tersebut dapat berperan sebagai confounders terhadap hubungan antara alergi makanan dan infeksi respirasi. Dengan demikian, temuan asosiasi tidak dapat diterjemahkan bahwa alergi makanan secara langsung menyebabkan infeksi berulang.
Secara imunologis, alergi makanan merupakan respons imun patologis terhadap protein makanan tertentu dan berbeda secara konseptual dengan imunodefisiensi. Pada alergi makanan yang dimediasi IgE, paparan alergen dapat menyebabkan aktivasi sel mast dan mediator inflamasi yang menghasilkan manifestasi kulit, gastrointestinal, respirasi, hingga anafilaksis. Bentuk alergi non-IgE atau campuran dapat mempunyai manifestasi gastrointestinal yang lebih dominan [3]. Oleh karena itu, keberadaan alergi makanan tidak dapat digunakan sebagai indikator bahwa sistem imun anak mengalami kelemahan. Pada anak dengan infeksi berulang, evaluasi terhadap pola infeksi, paparan lingkungan, status imunisasi, status nutrisi, penyakit kronis, dan indikasi imunodefisiensi tetap diperlukan secara individual.
Manifestasi gastrointestinal sering menjadi titik temu antara alergi makanan dan gangguan gastrointestinal fungsional (functional gastrointestinal disorders, FGIDs). Nyeri abdomen, mual, muntah, diare, konstipasi, kembung, regurgitasi, dan kesulitan makan dapat ditemukan pada alergi makanan maupun FGID, sehingga gejala tersebut memiliki spesifisitas yang terbatas untuk diagnosis alergi [3,6]. Alergi makanan perlu dicurigai berdasarkan pola klinis yang konsisten, terutama adanya hubungan temporal dan reproduksibilitas gejala setelah paparan makanan tertentu. Sebaliknya, diagnosis alergi tidak seharusnya ditegakkan hanya berdasarkan keberadaan gejala gastrointestinal kronis tanpa bukti hubungan dengan makanan.
Konstipasi merupakan salah satu manifestasi gastrointestinal yang secara khusus telah dibahas dalam kaitannya dengan alergi makanan pada anak. EAACI menerbitkan position paper mengenai diagnosis dan tata laksana konstipasi yang diinduksi alergi makanan pada anak kecil [6]. Meskipun demikian, sebagian besar konstipasi pada anak tetap merupakan konstipasi fungsional dan tidak disebabkan oleh alergi makanan. Karena itu, eliminasi makanan empiris secara luas tidak dapat dianggap sebagai pendekatan diagnostik standar. Pembatasan makanan yang tidak tepat dapat menurunkan variasi diet, menyebabkan kekurangan zat gizi, dan berpotensi memperburuk masalah makan serta pertumbuhan.
Kesulitan makan (feeding difficulties) merupakan masalah klinis yang relevan pada anak dengan alergi makanan. Gejala gastrointestinal, pengalaman reaksi alergi, kecemasan terhadap makanan, pembatasan diet, dan rendahnya variasi makanan dapat berkontribusi terhadap gangguan pola makan. EAACI Task Force melaporkan bahwa masalah makan merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan dalam tata laksana anak dengan alergi makanan [5]. Hubungan tersebut bersifat multifaktorial dan tidak dapat disederhanakan sebagai akibat langsung alergi makanan. Evaluasi nutrisi, pertumbuhan, variasi makanan, dan faktor perilaku perlu menjadi bagian dari tata laksana komprehensif.
Diagnosis alergi makanan harus didasarkan pada integrasi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan alergi yang sesuai, dan bila diperlukan pemeriksaan provokasi makanan. Pedoman EAACI menekankan bahwa pemeriksaan sensitisasi seperti skin prick test dan IgE spesifik harus diinterpretasikan dalam konteks klinis karena hasil positif menunjukkan sensitisasi dan tidak selalu identik dengan alergi makanan klinis [3]. Pendekatan berbasis panel pemeriksaan yang luas tanpa korelasi klinis dapat meningkatkan risiko overdiagnosis dan menyebabkan eliminasi makanan yang tidak diperlukan. Diagnosis yang akurat diperlukan agar terapi diet dapat dilakukan secara spesifik.
Oral food challenge atau OFC mempunyai peran penting ketika diagnosis alergi makanan belum dapat dipastikan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan penunjang. OFC merupakan prosedur terkontrol untuk menentukan apakah konsumsi makanan tertentu menimbulkan reaksi klinis. Pembaruan AAAAI-EAACI PRACTALL memberikan prinsip standardisasi mengenai indikasi, persiapan, pelaksanaan, dan interpretasi OFC [4]. Dalam praktik klinis, open food challenge dapat digunakan pada pasien yang sesuai berdasarkan penilaian risiko, sedangkan double-blind placebo-controlled food challenge memberikan tingkat kontrol yang lebih tinggi terhadap bias dan terutama relevan dalam situasi diagnostik yang kompleks [4,8]. Karena risiko reaksi alergi, OFC harus dilakukan dengan pengawasan tenaga kesehatan dan kesiapan penanganan reaksi akut.
Setelah alergi makanan dikonfirmasi, eliminasi makanan pencetus harus dilakukan secara terarah dengan mempertahankan kecukupan nutrisi dan makanan yang dapat ditoleransi. Tujuan eliminasi bukan memperluas daftar makanan yang dilarang, melainkan menghilangkan makanan yang terbukti atau sangat kuat diduga menyebabkan reaksi berdasarkan evaluasi klinis [5,8]. Pemantauan pertumbuhan, asupan energi dan protein, mikronutrien, serta variasi diet menjadi penting terutama pada anak dengan banyak pantangan makanan. Evaluasi ulang juga diperlukan karena toleransi terhadap makanan tertentu dapat berubah sepanjang perjalanan penyakit.
Hubungan antara saluran gastrointestinal dan respirasi dapat dijelaskan secara biologis melalui konsep gut–lung axis, yang melibatkan interaksi mikrobiota, metabolit, permeabilitas epitel, dan regulasi sistem imun. Konsep ini memberikan dasar biologis untuk penelitian mengenai kemungkinan hubungan antara kesehatan gastrointestinal, alergi, nutrisi, dan penyakit respirasi. Namun, bukti mekanistik tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa FGID atau alergi makanan menyebabkan infeksi saluran napas berulang. Demikian pula, belum tersedia bukti klinis yang memadai bahwa eliminasi makanan dapat meningkatkan imunitas, mencegah influenza, atau mencegah long flu. Hubungan tersebut masih merupakan area penelitian yang memerlukan studi prospektif dengan kontrol terhadap faktor perancu.
Secara keseluruhan, influenza A dapat diikuti oleh gejala atau luaran kesehatan pascainfeksi, terutama pada sistem respirasi, tetapi konsep long flu masih memerlukan definisi klinis dan penelitian lebih lanjut [1]. Pada anak dengan gejala persisten, diagnosis banding harus mencakup efek pascavirus, infeksi baru, asma, rinitis alergi, komplikasi respirasi, serta kondisi lain sesuai manifestasi klinis. Alergi makanan dapat berasosiasi dengan infeksi saluran napas berulang dan dapat disertai manifestasi gastrointestinal serta kesulitan makan, tetapi bukti yang tersedia belum membuktikan hubungan kausal [2,5]. OFC mempunyai posisi penting dalam konfirmasi alergi makanan pada kasus terpilih [3,4]. Dengan demikian, pendekatan klinis yang rasional adalah melakukan diagnosis secara terstruktur, menghindari overdiagnosis alergi, menerapkan eliminasi makanan secara terarah setelah diagnosis, serta melakukan pemantauan nutrisi dan pertumbuhan. Penelitian prospektif dan multicenter masih diperlukan untuk menentukan apakah pengendalian alergi makanan dan gangguan gastrointestinal mempunyai dampak langsung terhadap frekuensi infeksi respirasi maupun gejala pascainfluenza.
Daftar Pustaka
[1] Xie Y, Choi T, Al-Aly Z. Long-term outcomes following hospital admission for COVID-19 versus seasonal influenza: a cohort study. Lancet Infect Dis. 2024;24(3):239–255. doi:10.1016/S1473-3099(23)00684-9.
[2] Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, Pawłowska-Iwanicka K, Kopka M, Stelmach W, Jerzyńska J, Stelmach I. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016;33(2):109–113. doi:10.5114/ada.2016.59151.
[3] Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78:3057–3076. doi:10.1111/all.15902.
[4] Sampson HA, Arasi S, Bahnson HT, et al. AAAAI-EAACI PRACTALL: Standardizing oral food challenges—2024 Update. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(11):e14276. doi:10.1111/pai.14276.
[5] Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, et al. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(4):e14119. doi:10.1111/pai.14119.
[6] Meyer R, Vandenplas Y, Chebar Lozinsky A, et al. Diagnosis and management of food allergy-induced constipation in young children—An EAACI position paper. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(6):e14163. doi:10.1111/pai.14163.
[7] Foong RX, Dantzer JA, Wood RA, Santos AF. Improving the diagnosis of IgE-mediated food allergy. J Allergy Clin Immunol Pract. 2024.
[8] Ishibashi S, Yanagida N, Sato S, Ebisawa M. Management of food allergy based on oral food challenge. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2024;24(3):153–159. doi:10.1097/ACI.0000000000000980.









Leave a Reply