
Abstrak
Polifarmasi adalah penggunaan lima atau lebih obat secara bersamaan, terutama sering ditemukan pada lansia yang memiliki penyakit kronis ganda. Meski bertujuan mengontrol kondisi medis, polifarmasi meningkatkan risiko efek samping, interaksi obat, penurunan kognitif, bahkan kematian. Ketidaksadaran terhadap bahaya ini dapat memperparah kualitas hidup lansia. Artikel ini membahas penyebab utama polifarmasi, tanda dan gejalanya, serta strategi penanganan dan pencegahan agar lansia mendapatkan pengobatan yang aman, efektif, dan rasional.

Lansia merupakan kelompok populasi dengan kerentanan tinggi terhadap berbagai penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, osteoartritis, dan gagal jantung. Dalam upaya menangani kondisi ini, mereka sering kali diresepkan berbagai jenis obat oleh lebih dari satu dokter, tanpa adanya koordinasi menyeluruh. Akibatnya, fenomena polifarmasi pun tidak terhindarkan.
Polifarmasi bukan hanya persoalan jumlah obat, melainkan kompleksitas interaksi farmakologis, penurunan fungsi organ, dan kesalahan dalam penggunaan. Lansia yang menggunakan banyak obat berisiko mengalami efek samping serius, kebingungan, jatuh, serta gangguan fungsi ginjal dan hati. Oleh karena itu, perhatian khusus terhadap manajemen pengobatan lansia sangatlah penting.
Penyebab
- Penyebab utama polifarmasi adalah multi-morbiditas, yaitu ketika satu individu menderita dua atau lebih penyakit kronis. Dalam kondisi ini, masing-masing penyakit membutuhkan pengobatan spesifik, yang seringkali tidak dievaluasi secara holistik, menyebabkan tumpukan resep dari berbagai spesialis.
- Selain itu, faktor lain seperti kurangnya evaluasi berkala terhadap daftar obat, pengobatan mandiri dengan suplemen atau jamu, dan kurangnya komunikasi antar tenaga kesehatan memperburuk risiko polifarmasi. Banyak pasien juga berpikir bahwa “semakin banyak obat, semakin cepat sembuh,” padahal sebaliknya dapat membahayakan tubuh.
Tanda dan Gejala
- Gejala paling umum adalah keracunan obat yang terjadi akibat penumpukan zat aktif, terutama jika fungsi ginjal dan hati lansia menurun. Tanda-tandanya bisa berupa mual, muntah, kehilangan nafsu makan, atau lemas berlebihan setelah minum obat.
- Lansia sering mengalami gangguan kesadaran atau kebingungan (delirium) karena interaksi obat yang memengaruhi neurotransmiter otak. Ini sering disalahartikan sebagai gejala demensia, padahal dapat diatasi jika obat disesuaikan atau dikurangi.
- Risiko jatuh juga meningkat akibat konsumsi obat penenang, antihipertensi, atau obat antidiabetes. Obat-obat tersebut bisa menyebabkan hipotensi ortostatik atau hipoglikemia yang memicu pusing, pingsan, hingga patah tulang akibat jatuh.
- Lansia dengan polifarmasi juga mungkin mengalami gangguan tidur, seperti insomnia akibat stimulan, atau kantuk berlebih akibat obat sedatif. Kondisi ini sangat memengaruhi kualitas hidup dan kemandirian mereka.
- Gangguan pencernaan seperti konstipasi, diare, atau nyeri perut sering terjadi akibat NSAID, antibiotik, atau suplemen zat besi. Banyak dari gejala ini tidak disadari sebagai efek samping obat.
- Perubahan emosi seperti depresi, mudah marah, atau cemas juga dapat muncul sebagai dampak dari obat-obatan psikotropika atau interaksi antara obat untuk tekanan darah dan antidepresan.
- Kelemahan otot dan gemetar bisa terjadi pada pasien yang mengonsumsi obat statin, diuretik, atau beta blocker. Gejala ini sering membuat lansia takut beraktivitas dan menjadi tidak mandiri.
- Tanda lain adalah non-adherensi pengobatan, yaitu ketika pasien tidak mengikuti aturan pakai karena bingung, terlalu banyak obat, atau tidak memahami fungsi masing-masing obat. Ini memperparah penyakit yang sedang diderita dan meningkatkan risiko rawat inap.
Penanganan
- Langkah pertama adalah melakukan review pengobatan secara rutin, setidaknya setiap tiga bulan sekali. Dokter harus memeriksa semua obat yang dikonsumsi, termasuk suplemen dan obat bebas, serta mengevaluasi manfaat dan risiko tiap-tiap obat.
- Penting juga dilakukan pendekatan deprescribing, yaitu proses pengurangan atau penghentian obat yang tidak lagi diperlukan, dengan pengawasan ketat. Deprescribing membantu menurunkan risiko efek samping dan meningkatkan kualitas hidup lansia.
- Konsultasi farmasi klinis dapat sangat membantu. Apoteker dapat memberikan informasi interaksi obat, dosis optimal, dan edukasi tentang cara konsumsi yang benar. Ini akan memperkecil kemungkinan kesalahan konsumsi.
- Terakhir, pemberian alat bantu seperti kotak obat berlabel (pillbox), pengingat minum obat digital, dan pendampingan keluarga dapat meningkatkan kepatuhan minum obat dan mengurangi risiko duplikasi atau kesalahan waktu minum.
Pencegahan
- Pencegahan dimulai dari edukasi kepada lansia dan keluarga tentang pentingnya melaporkan semua obat yang dikonsumsi kepada dokter. Keterbukaan informasi sangat membantu dokter meresepkan secara lebih bijak.
- Setiap kali resep diberikan, tenaga kesehatan harus melakukan medikasi rekonsiliasi, yaitu mencocokkan semua obat yang digunakan untuk menghindari duplikasi atau kontraindikasi. Ini penting terutama saat pasien dirawat atau dipindahkan dari fasilitas kesehatan.
- Dokter juga dianjurkan menggunakan pendekatan holistic dan non-farmakologis bila memungkinkan, seperti terapi fisik, perubahan gaya hidup, atau konseling untuk menghindari ketergantungan pada obat.
- Terakhir, perlu adanya sistem pemantauan terpadu, seperti kartu obat lansia atau aplikasi digital yang bisa dipantau oleh beberapa dokter. Hal ini mencegah tumpang tindih pengobatan dari berbagai klinik atau rumah sakit.
Saran
- Pertama, setiap fasilitas kesehatan perlu menyediakan layanan farmasi klinik lansia sebagai bagian dari perawatan geriatri. Farmasi tidak hanya meracik obat, tetapi menjadi bagian dari tim perawatan terpadu.
- Kedua, keluarga sebaiknya aktif memantau dan mendampingi lansia dalam pengobatan, termasuk memastikan obat diminum sesuai waktu, tidak sembarangan membeli obat tanpa resep, dan bertanya kepada dokter bila ragu.
- Ketiga, perlu dukungan pemerintah dalam bentuk kebijakan pengendalian polifarmasi, seperti pelatihan tenaga medis mengenai deprescribing dan penyediaan sistem digital rekam medis obat yang saling terkoneksi.
Kesimpulan
Polifarmasi adalah tantangan besar dalam kesehatan lansia yang sering tersembunyi namun berdampak serius. Penanganannya memerlukan kerjasama antara dokter, apoteker, keluarga, dan sistem kesehatan yang terintegrasi. Edukasi, deprescribing, dan pengawasan berkala menjadi kunci dalam mengurangi bahaya polifarmasi dan meningkatkan kualitas hidup lansia.












Leave a Reply