Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (ADHD) pada Anak: Tinjauan Mekanisme Neurologis dan Imunopatofisiologi Berkaitan Alergi Makanan
Abstrak
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan neurodevelopmental yang ditandai dengan gejala inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas, sering muncul pada usia dini dan berdampak pada prestasi akademik, sosial, dan perilaku anak. Meskipun penyebab ADHD bersifat multifaktorial, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa peradangan sistemik dan disregulasi imun, khususnya keterlibatan interleukin, memainkan peran penting dalam patogenesisnya. Aktivasi sitokin proinflamasi seperti IL-6, IL-1β, dan TNF-α telah dikaitkan dengan gangguan fungsi neurotransmiter dopamin dan norepinefrin yang esensial dalam regulasi perhatian dan perilaku. Selain itu, sensitivitas terhadap makanan tertentu juga berkontribusi melalui mekanisme imunologi dan peradangan ringan kronis yang memengaruhi fungsi otak. Kajian ini bertujuan menelaah hubungan antara ADHD, sistem imun, dan peran interleukin serta memberikan landasan untuk pendekatan manajemen berbasis imunomodulasi dan alergi makanan
ADHD adalah salah satu gangguan perkembangan saraf yang paling umum pada anak-anak, dengan prevalensi global mencapai sekitar 5–7%. Gangguan ini ditandai oleh pola persistensi dari inatensi (kurang fokus), hiperaktivitas, dan impulsivitas yang mengganggu fungsi sosial, akademik, dan emosional. Gejala biasanya muncul sebelum usia 12 tahun dan dapat menetap hingga dewasa.
Faktor penyebab ADHD bersifat kompleks dan melibatkan interaksi antara genetik, lingkungan, dan proses biologis. Beberapa teori mengaitkannya dengan disfungsi neurotransmiter, terutama dopamin dan norepinefrin. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa respon imun dan peradangan sistemik juga memainkan peran penting dalam perkembangan ADHD, melalui jalur sitokin dan interleukin yang dapat mempengaruhi perkembangan dan fungsi otak.
Tanda dan Gejala
Gejala utama ADHD terbagi menjadi tiga kelompok: inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Anak dengan inatensi sering terlihat sulit berkonsentrasi, mudah teralihkan, dan sering lupa atau kehilangan barang. Mereka cenderung tidak menyelesaikan tugas sekolah dan memiliki kesulitan mengorganisasi kegiatan.
Anak dengan gejala hiperaktif cenderung selalu gelisah, tidak bisa duduk diam, dan terus bergerak. Mereka sering berbicara berlebihan, memanjat atau berlari tanpa alasan, bahkan dalam situasi yang tidak sesuai. Aktivitas ini sering mengganggu situasi sosial dan akademik.
Impulsivitas ditunjukkan dengan kesulitan menunggu giliran, sering menyela atau menyusup ke pembicaraan orang lain, dan membuat keputusan tanpa berpikir panjang. Anak-anak dengan ADHD juga sering memiliki gangguan tidur, emosional labil, dan mengalami kesulitan dalam hubungan sosial dengan teman sebaya.
Kajian Mekanisme Terjadinya Gangguan
- Disfungsi sistem dopaminergik dan noradrenergik di prefrontal cortex merupakan mekanisme utama dalam ADHD. Wilayah ini bertanggung jawab atas perhatian, kendali impuls, dan perencanaan. Ketidakseimbangan neurotransmiter menyebabkan penurunan kontrol perilaku dan konsentrasi.
- Penelitian neuroimaging menunjukkan bahwa anak dengan ADHD memiliki volume otak yang lebih kecil, khususnya di area frontal, basal ganglia, dan cerebellum. Hal ini dapat berkaitan dengan gangguan maturasi otak dan sinaptogenesis selama masa perkembangan awal.
- Selain faktor genetik, paparan prenatal terhadap stres, infeksi, dan toksin lingkungan (seperti timbal) diketahui memicu aktivasi sistem imun dan meningkatkan risiko ADHD. Peradangan sistemik selama periode kritis perkembangan otak dapat mengganggu pembentukan koneksi saraf.
- Jalur inflamasi yang melibatkan sitokin seperti IL-6 dan TNF-α dapat menembus sawar darah otak dan memengaruhi fungsi neurotransmiter. Sitokin ini juga berperan dalam mengubah ekspresi gen yang berhubungan dengan neuroplastisitas dan respons stres.
- Peran mikroglia, sel imun utama di sistem saraf pusat, sangat penting dalam ADHD. Mikroglia yang teraktivasi berlebihan dapat mengganggu pruning sinaptik (pemangkasan koneksi saraf yang tidak perlu), yang sangat penting dalam perkembangan normal otak anak.
Imunopatofisiologi
- IL-6 merupakan salah satu interleukin yang paling konsisten meningkat pada anak dengan ADHD. IL-6 diketahui dapat mengganggu keseimbangan dopamin di otak dan menginduksi stres oksidatif, yang menyebabkan perubahan dalam fungsi neuron.
- IL-1β memiliki efek neurotoksik dan dapat mengganggu perkembangan neuron serta plastisitas sinaptik. Peningkatan IL-1β dalam sirkulasi perifer atau otak dapat menurunkan fungsi kognitif dan meningkatkan gejala hiperaktif-impulsif.
- TNF-α dikenal sebagai mediator inflamasi utama yang memicu kerusakan sawar darah otak dan meningkatkan sensitivitas neuron terhadap stres. Pada anak ADHD, TNF-α yang tinggi berhubungan dengan gangguan regulasi emosi dan perilaku.
- IL-10, sebagai interleukin antiinflamasi, berperan dalam menekan produksi sitokin proinflamasi. Namun, beberapa studi menunjukkan bahwa anak dengan ADHD memiliki kadar IL-10 yang lebih rendah, yang menyebabkan respon inflamasi tidak terkontrol.
- Aktivasi mikroglia oleh interleukin proinflamasi menyebabkan perubahan morfologi dan fungsi sel, mengganggu konektivitas saraf, dan menurunkan neuroplastisitas. Hal ini menyebabkan otak anak menjadi kurang fleksibel dalam beradaptasi terhadap stimulus belajar atau sosial.
- Sel T regulator dan sel Th17 juga memiliki peran dalam jalur imun ADHD. Ketidakseimbangan antara Th17 (proinflamasi) dan Treg (antiinflamasi) menciptakan lingkungan neuroinflamasi yang merugikan perkembangan otak normal.
Alergi Makanan dan ADHD
- Hubungan antara alergi makanan dan ADHD semakin mendapat perhatian. Reaksi imun terhadap makanan tertentu dapat memicu pelepasan interleukin seperti IL-4, IL-5, dan IL-13 yang berperan dalam jalur Th2 dan inflamasi sistemik.
- IL-4 mendorong produksi IgE dan aktivasi sel mast, yang dapat melepaskan histamin dan mediator lainnya ke sistem peredaran darah. Mediator ini tidak hanya memengaruhi saluran cerna, tetapi juga dapat menembus sawar darah otak dan memengaruhi fungsi neuron.
- IL-5 meningkatkan aktivitas eosinofil yang bersifat proinflamasi. Eosinofil menghasilkan protein toksik yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan meningkatkan permeabilitas usus serta sawar darah otak, yang membuka jalan bagi molekul inflamasi menuju otak.
- IL-13 turut memperburuk kondisi dengan menurunkan integritas sawar mukosa dan menurunkan toleransi imun terhadap makanan. Keadaan ini meningkatkan kemungkinan inflamasi ringan kronis yang berdampak pada otak dan perilaku.
- Pendekatan eliminasi makanan tertentu (seperti pewarna buatan, gluten, atau susu sapi) telah menunjukkan hasil positif pada sebagian anak dengan ADHD, yang mendukung keterlibatan respon imun dan interleukin terhadap pola perilaku anak.
Tabel Peran Interleukin dalam ADHD
| Interleukin | Sumber Seluler | Peran Imunologis | Efek Klinis pada ADHD |
|---|---|---|---|
| IL-6 | Makrofag, mikroglia | Gangguan keseimbangan dopamin, stres oksidatif | Inatensi, gangguan memori |
| IL-1β | Makrofag, mikroglia | Neurotoksisitas, gangguan plastisitas sinaptik | Hiperaktivitas, penurunan fungsi kognitif |
| TNF-α | Sel T, makrofag | Disrupsi sawar darah otak, sensitivitas neuron | Gangguan emosi dan perilaku impulsif |
| IL-10 | Sel T regulator | Anti-inflamasi, penyeimbang respon imun | Protektif; rendahnya kadar meningkatkan gejala ADHD |
| IL-4 | Sel Th2 | Aktivasi sel mast, produksi IgE | Perilaku terganggu akibat reaksi alergi |
| IL-13 | Sel Th2 | Permeabilitas sawar usus/otak, inflamasi sistemik | Pemicu disfungsi neurologis melalui inflamasi |
Kesimpulan
ADHD pada anak bukan hanya gangguan neuropsikiatri, tetapi juga melibatkan proses imunologis yang kompleks. Keterlibatan interleukin seperti IL-6, IL-1β, TNF-α, serta sitokin Th2 seperti IL-4 dan IL-13 menunjukkan bahwa inflamasi sistemik dan alergi makanan dapat memperburuk gejala ADHD. Pemahaman akan jalur imunopatofisiologis ini membuka peluang untuk terapi baru berbasis imunomodulasi dan diet eliminasi yang disesuaikan. Penelitian lanjutan sangat dibutuhkan untuk memvalidasi penggunaan biomarker interleukin dalam diagnosis dan manajemen ADHD secara lebih personal dan efektif.












Leave a Reply