DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Nyeri Perut pada Anak: Tinjauan Patofisiologi, Peran Imunopatologi Dalam Keterkaitan Alergi Makanan 

Nyeri Perut pada Anak: Tinjauan Patofisiologi, Peran Imunopatologi Dalam Keterkaitan Alergi Makanan 


Abstrak

Nyeri perut pada anak adalah keluhan klinis yang umum, dengan spektrum penyebab yang luas mulai dari gangguan fungsional hingga proses inflamasi atau imunologis. Selain faktor gastrointestinal, peran sistem imun, terutama melalui kerja interleukin dan sel imun, semakin diakui sebagai bagian penting dalam etiologi nyeri perut. Respons imun terhadap alergen makanan atau mikroorganisme dapat mencetuskan reaksi inflamasi mukosa gastrointestinal yang memicu gejala nyeri. Interleukin seperti IL-4, IL-5, IL-6, dan IL-13 memiliki peran penting dalam menengahi inflamasi, disfungsi mukosa, dan nyeri visceral. Kajian ini bertujuan menggambarkan mekanisme imunopatofisiologis nyeri perut pada anak, serta menyoroti hubungan antara alergi makanan dan aktivasi jalur interleukin dalam memperparah kondisi ini. Pemahaman ini penting untuk pengembangan strategi diagnosis dan terapi yang lebih tepat pada pasien pediatrik.


Nyeri perut merupakan keluhan yang sangat sering dijumpai pada anak-anak, baik dalam praktik rawat jalan maupun di unit gawat darurat. Keluhan ini bisa bersifat akut atau kronik, dan dapat timbul dari berbagai sistem tubuh, meskipun paling sering berasal dari saluran pencernaan. Penyebab nyeri perut bervariasi, mulai dari infeksi, konstipasi, intoleransi makanan, kelainan struktural, hingga gangguan psikosomatik.

Meskipun sering dianggap sebagai gangguan ringan atau fungsional, nyeri perut yang berulang atau berat dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup anak, termasuk gangguan nutrisi, tidur, dan fungsi sosial. Belakangan ini, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa sistem imun, terutama melalui aktivasi interleukin dan respon alergi makanan, memiliki peran penting dalam terjadinya nyeri perut yang tidak dapat dijelaskan oleh kelainan anatomis saja.


Tanda dan Gejala

Nyeri perut pada anak dapat muncul dalam berbagai bentuk. Gejalanya bisa berupa nyeri tumpul, tajam, atau terasa seperti kram, yang biasanya terletak di sekitar pusar atau menyebar ke seluruh abdomen. Pada bayi, gejala ini ditunjukkan melalui tangisan berlebihan, menggeliat, atau menarik-narik kaki ke arah perut.

Selain nyeri itu sendiri, anak dapat mengalami gejala gastrointestinal lain seperti mual, muntah, diare, konstipasi, perut kembung, atau sering bersendawa. Tanda-tanda ini bisa datang bersamaan atau bergantian tergantung pada penyebab nyeri. Dalam kasus alergi makanan, gejala nyeri perut sering muncul setelah konsumsi makanan tertentu.

Gejala sistemik lain yang menyertai bisa berupa demam ringan, kelelahan, dan kehilangan nafsu makan. Anak mungkin juga tampak pucat, mudah marah, atau lesu. Jika disertai penurunan berat badan, darah pada tinja, atau muntah berulang, hal ini perlu dievaluasi lebih lanjut karena bisa menjadi tanda penyakit serius.


Kajian Mekanisme Terjadinya Gangguan

  • Nyeri perut pada anak dapat berasal dari berbagai mekanisme, salah satunya adalah distensi dinding usus akibat produksi gas, konstipasi, atau akumulasi cairan. Distensi ini mengaktifkan reseptor mekanik pada pleksus enterik yang mengirimkan sinyal nyeri ke sistem saraf pusat.
  • Selain itu, hipermotilitas atau spasme otot polos saluran cerna akibat stres, infeksi, atau iritasi kimia juga dapat memicu nyeri. Mekanisme ini sering ditemukan pada kondisi seperti sindrom iritasi usus (IBS) atau gangguan motilitas terkait alergi makanan.
  • Inflamasi mukosa gastrointestinal, baik akut maupun kronik, menyebabkan aktivasi sel imun lokal yang menghasilkan mediator inflamasi termasuk prostaglandin, leukotrien, dan interleukin. Mediator ini meningkatkan kepekaan saraf visceral dan menurunkan ambang nyeri.
  • Disbiosis atau ketidakseimbangan mikrobiota usus juga dapat memicu inflamasi mukosa. Bakteri patogen dapat menginduksi pelepasan lipopolisakarida (LPS) yang memicu aktivasi sel imun dan pelepasan interleukin seperti IL-6 dan TNF-α, yang berkontribusi pada timbulnya nyeri dan gejala gastrointestinal lainnya.
  • Sensitisasi sistem saraf pusat dan perifer akibat peradangan berulang memperpanjang dan memperkuat persepsi nyeri. Ini menjelaskan mengapa anak dengan riwayat alergi makanan atau infeksi pencernaan sebelumnya bisa mengalami nyeri perut kronis meskipun rangsangan minimal.

Imunopatofisiologi

  • Respon imun terhadap rangsangan dari saluran cerna dimulai dari aktivasi sel epitel dan sel imun mukosa seperti sel dendritik, makrofag, dan sel T. Sel dendritik memproses antigen dari makanan atau mikroba dan mempresentasikannya ke sel T di jaringan limfoid usus (GALT).
  • Dalam kondisi alergi makanan, terdapat dominasi respons Th2 yang menghasilkan interleukin seperti IL-4, IL-5, dan IL-13. IL-4 berperan penting dalam menginduksi produksi IgE oleh sel B, yang kemudian memicu aktivasi sel mast di mukosa usus.
  • Sel mast yang diaktifkan melepaskan histamin dan protease yang merangsang kontraksi otot polos, meningkatkan permeabilitas usus, dan menyebabkan nyeri. IL-5 juga merekrut eosinofil ke jaringan mukosa, di mana mereka melepaskan mediator toksik seperti ECP (eosinophilic cationic protein) yang menyebabkan kerusakan epitel dan inflamasi.
  • IL-6, sitokin proinflamasi lain, dilepaskan oleh makrofag dan sel epitel sebagai respons terhadap infeksi atau iritasi. IL-6 berperan dalam memperkuat inflamasi lokal dan sistemik, serta meningkatkan sensitisasi saraf visceral.
  • IL-10, sitokin antiinflamasi yang diproduksi oleh sel T regulator, memiliki peran penting dalam menjaga toleransi imun terhadap antigen makanan. Penurunan kadar IL-10 ditemukan pada anak dengan alergi makanan atau IBS, yang menyebabkan respon inflamasi yang berlebihan.
  • Interleukin lain seperti IL-17 (dari sel Th17) dapat memperkuat respon inflamasi kronis, terutama jika terjadi disbiosis usus. IL-17 meningkatkan produksi kemokin yang menarik neutrofil dan memperparah kerusakan jaringan mukosa.

Alergi Makanan dan Nyeri Perut

  • Alergi makanan merupakan salah satu penyebab tersering nyeri perut kronik atau berulang pada anak. Paparan terhadap alergen makanan memicu aktivasi sel T CD4+ Th2 dan produksi IL-4, IL-5, dan IL-13, yang memperkuat jalur inflamasi dan reaksi hipersensitivitas.
  • IL-4 meningkatkan produksi IgE, yang berikatan dengan sel mast di mukosa usus. Ketika anak kembali terpapar alergen yang sama, reaksi degranulasi sel mast menghasilkan mediator inflamasi seperti histamin dan serotonin yang merangsang nyeri perut dan diare.
  • IL-5 meningkatkan infiltrasi eosinofil yang kemudian merusak mukosa usus melalui pelepasan protein sitotoksik. Eosinofilia gastrointestinal sering dikaitkan dengan nyeri perut kronik pada anak dengan alergi makanan, bahkan tanpa gejala sistemik lainnya.
  • IL-13 menurunkan fungsi sawar usus, sehingga meningkatkan permeabilitas dan memperbesar kemungkinan alergen menembus lapisan epitel. Hal ini menciptakan siklus inflamasi berulang yang menyebabkan gejala menetap meskipun jumlah alergen yang masuk sedikit.
  • Peran IL-10 sangat penting dalam mencegah reaksi alergi terhadap makanan, namun pada anak dengan nyeri perut terkait alergi, ekspresi IL-10 sering terganggu. Oleh karena itu, pendekatan terapi imunomodulasi yang menargetkan jalur interleukin menjadi sangat menjanjikan dalam manajemen kasus seperti ini.

Tabel Peran Interleukin dalam Nyeri Perut Anak

InterleukinSumber SelulerPeran dalam Nyeri PerutEfek Klinis
IL-4Sel T Th2Induksi produksi IgE dan aktivasi sel mastNyeri, diare, reaksi alergi
IL-5Sel T Th2Rekrutmen eosinofil ke mukosa ususInflamasi mukosa, kerusakan epitel
IL-6Makrofag, epitel ususProinflamasi, meningkatkan sensitisasi sarafNyeri visceral, mual, gejala sistemik
IL-10Sel T regulatorSupresi inflamasi dan menjaga toleransi antigenMencegah eksaserbasi alergi
IL-13Sel T Th2Menurunkan integritas sawar epitel, produksi mukusDisfungsi usus, peningkatan gejala alergi
IL-17Sel Th17Induksi inflamasi kronik, rekrutmen neutrofilNyeri menetap, gangguan pencernaan

Kesimpulan

Nyeri perut pada anak merupakan kondisi multifaktorial yang melibatkan mekanisme neuromuskular, inflamasi, dan imunologis. Aktivasi jalur interleukin, terutama IL-4, IL-5, IL-6, dan IL-13, memainkan peran penting dalam mediasi nyeri yang berkaitan dengan alergi makanan dan gangguan gastrointestinal. Disregulasi interleukin seperti rendahnya IL-10 turut memperparah inflamasi dan memperpanjang gejala. Identifikasi keterlibatan imunologi dan interleukin pada nyeri perut memberikan dasar bagi pengembangan pendekatan terapi berbasis imunomodulasi untuk manajemen yang lebih efektif pada anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *