DOKTER AIRLANGGA

SMART PEOPLE, SMART HEALTH

Eksim (Eczema/Atopic Dermatitis): Hubungan dengan Alergi Makanan, Patofisiologi, dan Pendekatan Terapi Terkini

Eksim (Eczema/Atopic Dermatitis): Hubungan dengan Alergi Makanan, Patofisiologi, dan Pendekatan Terapi Terkini


Abstrak

Eksim atau dermatitis atopik merupakan penyakit kulit inflamasi kronis yang ditandai oleh kulit kering, gatal, dan peradangan berulang. Kondisi ini sering berhubungan dengan faktor genetik, disfungsi sawar kulit, serta reaksi imun terhadap alergen, termasuk makanan. Pada bayi dan anak, alergi makanan seperti susu sapi, telur, kedelai, dan gandum sering memperberat gejala eksim. Patogenesis melibatkan interaksi kompleks antara disfungsi sawar kulit, disregulasi imun, dan paparan alergen lingkungan. Diagnosis memerlukan evaluasi klinis dan konfirmasi alergi bila dicurigai, termasuk dengan uji oral food challenge (OFC). Terapi komprehensif mencakup perawatan kulit, pengendalian inflamasi, dan manajemen alergi makanan. Perkembangan terapi terbaru seperti inhibitor JAK dan dupilumab telah membuka era baru dalam pengelolaan eksim sedang-berat.


Eksim atau dermatitis atopik (DA) merupakan salah satu penyakit kulit kronis paling umum, terutama pada anak-anak. Prevalensinya meningkat secara global, dengan estimasi 15–20% anak dan 2–10% dewasa mengalami gejala. DA tidak hanya menyebabkan gangguan fisik seperti pruritus berat dan infeksi sekunder, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup, tidur, serta kesehatan mental pasien dan keluarganya.

Penyakit ini merupakan bagian dari atopic march, di mana anak dengan DA berisiko mengembangkan asma dan rinitis alergi di kemudian hari. Faktor lingkungan modern, perubahan mikrobiota kulit, dan pola diet diyakini turut memperburuk insidensi DA. Identifikasi faktor pemicu, termasuk alergen makanan, menjadi langkah penting dalam manajemen individual.


Penyebab 

  • Ikan laut dan Susu sapi merupakan alergen paling umum pada bayi dengan dermatitis atopik sedang–berat. Protein susu seperti kasein dan β-laktoglobulin dapat memicu reaksi IgE dan non-IgE yang memperparah inflamasi kulit.
  • Telur ayam menjadi penyebab kedua tersering. Protein ovalbumin dan ovomucoid terbukti memicu peradangan kulit melalui pelepasan histamin dan sitokin proinflamasi.
  • Kedelai, gandum, dan kacang-kacangan berperan pada sebagian kecil kasus, terutama pada anak dengan riwayat atopik keluarga. Reaksi silang antarprotein (cross-reactivity) dapat memperluas spektrum alergi makanan.
  • Alergi makanan non-IgE mediated, seperti intoleransi protein kompleks, dapat memicu inflamasi kronis kulit tanpa gejala akut, menyebabkan sulit dikenali tanpa uji eliminasi-provokasi (oral food challenge).

Patofisiologi 

  • Patogenesis DA melibatkan disfungsi sawar kulit (skin barrier) akibat mutasi gen filaggrin yang menyebabkan kehilangan air transepidermal dan peningkatan penetrasi alergen. Kondisi ini memicu aktivasi imun lokal melalui sel dendritik kulit.
  • Selain itu, disregulasi sistem imun adaptif memainkan peran kunci. Respons imun didominasi oleh jalur Th2 yang menghasilkan IL-4, IL-5, dan IL-13, memicu eosinofilia dan peningkatan IgE serum. Pada fase kronik, dominasi berpindah ke Th1 dan Th22, menyebabkan penebalan kulit dan likenifikasi.
  • Interaksi antara kulit dan mikrobioma, terutama kolonisasi Staphylococcus aureus, memperburuk inflamasi dengan memicu produksi toksin superantigen. Faktor lingkungan seperti sabun keras, polusi, dan stres memperburuk kerusakan sawar kulit.

Tabel 1. Tanda dan Gejala Klinis Eksim (Eczema/Atopic Dermatitis)

Manifestasi KlinisDeskripsiFrekuensi
Pruritus (gatal hebat)Gatal menetap, memburuk saat malam hariHampir semua kasus
Kulit kering (xerosis)Tekstur kasar, retak, mudah iritasi>90%
Eritema dan papulPeradangan merah, papul eksudatif atau berkerakUmum pada fase akut
LikenifikasiPenebalan kulit akibat garukan kronisFase kronis
Distribusi khasBayi: pipi dan scalp; Anak: lipatan siku/lutut; Dewasa: tangan, leherSesuai usia
Infeksi sekunderLesi bernanah akibat S. aureus30–50% kasus berat

Penanganan dan Terapi

  1. Perawatan dasar kulit (skin barrier therapy)
    Penggunaan emolien secara rutin 2–3 kali sehari merupakan dasar utama terapi. Sabun tanpa deterjen dan pelembap berbasis ceramide membantu memulihkan sawar kulit.
  2. Manajemen alergi makanan dengan Oral Food Challenge (OFC)
    OFC merupakan metode baku emas untuk menegakkan diagnosis alergi makanan penyebab eksim. Eliminasi makanan dilakukan 2–4 minggu, kemudian dilakukan provokasi di bawah pengawasan medis. Hasil positif bila timbul flare eksim dalam 24–72 jam. OFC membantu mencegah eliminasi diet berlebihan yang dapat mengganggu gizi anak.
  3. Terapi medikamentosa antiinflamasi
    Penggunaan kortikosteroid topikal (mometasone, hydrocortisone) dan inhibitor calcineurin (tacrolimus, pimecrolimus) digunakan untuk menekan inflamasi. Antihistamin oral dapat membantu mengurangi gatal, meski efeknya terbatas.
  4. Terapi sistemik dan biologik pada kasus berat
    Bila resistensi terhadap terapi topikal, digunakan terapi sistemik seperti kortikosteroid oral jangka pendek, siklosporin, metotreksat, atau agen biologik seperti dupilumab yang menargetkan IL-4 dan IL-13.

Tabel 2. Terapi Medikasi Terkini (2024–2025) untuk Dermatitis Atopik

Kelas TerapiContoh Agen / DosisMekanisme UtamaEfikasi KlinisEfek Samping UtamaRekomendasi Klinis
Kortikosteroid TopikalHydrocortisone, MometasoneAntiinflamasi, menekan sitokinEfektif fase akutAtrofi kulit bila kronisLini pertama pada eksim ringan-sedang
Calcineurin InhibitorTacrolimus, PimecrolimusInhibisi IL-2, mengurangi aktivasi sel TEfektif untuk wajah/lipatanSensasi panas sementaraAlternatif steroid pada area sensitif
PDE4 InhibitorCrisaborole 2%Menekan inflamasi Th2Repigmentasi lebih cepatIritasi ringan lokalUntuk eksim ringan–sedang
Biologik Anti-IL-4RαDupilumabBlokade IL-4 dan IL-13Respons 60–80% kasus beratKonjungtivitis, injeksi site reactionStandar emas kasus sedang–berat
JAK Inhibitor (Topikal/Oral)Ruxolitinib cream, Upadacitinib, BaricitinibInhibisi JAK-STATEfikasi tinggi, cepatRisiko infeksi ringanAlternatif biologik modern
Fototerapi NB-UVB311 nm, 2–3x/mingguImunosupresif lokalEfektif lesi luasEritema, pigmentasiUntuk pasien gagal terapi topikal

Prognosis

  1. Anak-anak dengan onset dini biasanya mengalami perbaikan bertahap pada usia sekolah, terutama dengan kontrol lingkungan yang baik.
  2. Kasus persisten hingga dewasa sering berkaitan dengan faktor genetik (mutasi filaggrin) dan alergi multipel.
  3. Prognosis memburuk bila disertai infeksi kulit berulang, gangguan tidur, atau gangguan psikologis akibat gatal kronis.
  4. Dengan terapi baru seperti dupilumab dan JAK inhibitors, prognosis eksim sedang-berat meningkat secara signifikan, dengan remisi parsial dalam 6–12 bulan.

Kesimpulan

Eksim atau dermatitis atopik merupakan penyakit kulit inflamasi kronis multifaktorial dengan hubungan erat terhadap alergi makanan. Pendekatan manajemen harus individual dan mencakup pengendalian inflamasi, perbaikan sawar kulit, dan identifikasi alergen penyebab melalui oral food challenge. Terapi modern seperti biologik anti-IL-4/13 dan JAK inhibitors telah merevolusi pengobatan kasus berat yang refrakter. Edukasi pasien dan dukungan keluarga tetap menjadi komponen penting dalam menjaga remisi jangka panjang.


Daftar Pustaka

  • Paller AS, Kabashima K, Bieber T. Therapeutic pipeline for atopic dermatitis: End of the drought? J Allergy Clin Immunol. 2023;151(1):25–39. doi:10.1016/j.jaci.2022.10.003.
  • Eichenfield LF, Ahluwalia J, Waldman A, et al. Current and emerging therapies for atopic dermatitis: A systematic review. JAMA Dermatol. 2024;160(2):155–167. doi:10.1001/jamadermatol.2023.4321.
  • Sidbury R, Davis DM, Cohen DE, et al. Guidelines of care for the management of atopic dermatitis. J Am Acad Dermatol. 2023;88(3):497–522. doi:10.1016/j.jaad.2022.08.016.
  • Cork MJ, Danby SG, Vasilopoulos Y, et al. Epidermal barrier dysfunction in atopic dermatitis. J Invest Dermatol. 2009;129(8):1892–1908. doi:10.1038/jid.2009.133.
  • Wollenberg A, Flohr C, Simon D, et al. European task force on atopic dermatitis (ETFAD) position paper: Modern management of atopic dermatitis. Allergy. 2025;80(1):1–17. doi:10.1111/all.16589.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *