Hubungan Alergi Makanan dengan Ankylosing Spondylitis, Peran Oral Food Challenge, dan Pendekatan Berbasis Bukti
Ankylosing spondylitis (AS) merupakan penyakit autoimun inflamasi kronis yang terutama menyerang sendi sakroiliaka dan tulang belakang. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara alergi makanan, mikrobiota usus, permeabilitas usus, dan sistem imun dapat berperan dalam proses inflamasi kronis. Salah satu penelitian di West China Hospital melaporkan bahwa pasien AS memiliki kadar imunoglobulin G (IgG) terhadap beberapa antigen makanan lebih tinggi dibandingkan kelompok sehat, terutama terhadap daging sapi, kepiting, dan daging babi, serta kadar IgG terhadap daging babi berkorelasi positif dengan kadar C-reactive protein (CRP). Meskipun demikian, IgG makanan bukan merupakan metode diagnosis alergi makanan yang direkomendasikan oleh organisasi alergi internasional. Diagnosis alergi makanan tetap didasarkan pada riwayat klinis, pemeriksaan IgE bila sesuai, serta Oral Food Challenge (OFC) sebagai baku emas. Artikel ini membahas hubungan alergi makanan dengan AS, mekanisme biologis yang mungkin terlibat, bukti penelitian terkini, serta peran OFC dalam identifikasi makanan pencetus secara individual.
Ankylosing spondylitis merupakan bagian dari kelompok spondiloartritis yang ditandai oleh inflamasi kronis pada tulang belakang dan sendi sakroiliaka. Penyakit ini berhubungan erat dengan faktor genetik, terutama HLA-B27, tetapi faktor lingkungan juga diketahui berperan dalam memicu aktivitas penyakit. Salah satu faktor yang semakin banyak diteliti adalah hubungan antara saluran cerna, mikrobiota usus, dan sistem imun.
Perkembangan ilmu mengenai gut microbiome menunjukkan bahwa perubahan komposisi bakteri usus dapat memengaruhi aktivasi sistem imun, meningkatkan permeabilitas usus, serta memicu produksi sitokin proinflamasi. Pada sebagian individu, paparan makanan tertentu diduga dapat memperberat proses inflamasi melalui mekanisme imunologis yang kompleks. Oleh karena itu, identifikasi makanan pencetus menjadi salah satu bidang penelitian yang berkembang pada penyakit autoimun, termasuk ankylosing spondylitis.
Ankylosing spondylitis
Ankylosing spondylitis adalah penyakit inflamasi kronis autoimun yang terutama menyerang tulang belakang, sendi sakroiliaka, dan entesis sehingga menyebabkan nyeri punggung kronis, kekakuan, keterbatasan gerak, hingga terbentuknya fusi tulang belakang pada stadium lanjut. Penyakit ini melibatkan interaksi faktor genetik, imunologis, mikrobiota usus, dan lingkungan. Walaupun alergi makanan bukan penyebab utama AS, beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan tertentu dapat berkontribusi terhadap peningkatan inflamasi pada sebagian pasien melalui perubahan respons imun dan gangguan keseimbangan mikrobiota usus.
Patofisiologi Ankylosing Spondylitis
Ankylosing spondylitis (AS) merupakan penyakit autoimun inflamasi kronis yang terutama dipengaruhi oleh interaksi faktor genetik, sistem imun, dan lingkungan. Faktor genetik terkuat adalah Human Leukocyte Antigen B27 (HLA-B27), yang ditemukan pada sekitar 80 hingga 95% pasien AS, meskipun tidak semua individu dengan HLA-B27 akan mengalami penyakit ini. Faktor lingkungan seperti infeksi saluran cerna, perubahan mikrobiota usus, merokok, dan gangguan sawar usus diduga berperan sebagai pencetus aktivasi sistem imun pada individu yang memiliki kerentanan genetik.
Pada AS terjadi aktivasi sel dendritik, makrofag, limfosit T, dan berbagai sitokin proinflamasi, terutama tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), interleukin-17 (IL-17), dan interleukin-23 (IL-23). Mediator inflamasi tersebut menyebabkan peradangan kronis pada entesis, yaitu tempat melekatnya tendon dan ligamen pada tulang. Inflamasi yang berlangsung lama mengakibatkan erosi tulang diikuti pembentukan tulang baru secara berlebihan sehingga terbentuk jembatan tulang antarruas tulang belakang (syndesmophyte). Proses ini akhirnya menyebabkan kekakuan progresif dan fusi tulang belakang yang dikenal sebagai bamboo spine.
Penelitian beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya hubungan erat antara usus dan sendi melalui konsep gut-joint axis. Disbiosis mikrobiota usus dapat meningkatkan permeabilitas usus sehingga berbagai antigen mikroba maupun makanan lebih mudah memicu respons imun sistemik. Aktivasi jalur IL-23/IL-17 kemudian mempertahankan inflamasi kronis pada sendi dan entesis. Oleh karena itu, kesehatan saluran cerna diduga berperan dalam aktivitas penyakit, meskipun mekanisme pastinya masih terus diteliti.
Selain menyebabkan inflamasi pada sistem muskuloskeletal, AS juga dapat menimbulkan manifestasi di organ lain seperti mata, usus, kulit, dan sistem kardiovaskular. Inflamasi sistemik yang berlangsung lama meningkatkan kadar protein fase akut seperti C-reactive protein (CRP) dan laju endap darah (LED). Apabila tidak ditangani dengan baik, penyakit dapat menyebabkan deformitas tulang belakang, penurunan fungsi fisik, gangguan kualitas hidup, hingga peningkatan risiko komplikasi jantung dan osteoporosis.
Tanda dan Gejala
Gejala utama ankylosing spondylitis adalah nyeri punggung bawah kronis yang berlangsung lebih dari tiga bulan dengan karakter inflamasi, yaitu muncul perlahan sebelum usia 45 tahun, memburuk saat istirahat, membaik setelah aktivitas, serta disertai kekakuan pagi hari selama lebih dari 30 menit. Nyeri biasanya dimulai pada sendi sakroiliaka kemudian menjalar ke tulang belakang bagian atas secara bertahap.
Selain nyeri punggung, pasien dapat mengalami nyeri bokong bergantian, nyeri pada tumit akibat entesitis, nyeri sendi panggul, bahu, lutut, atau dinding dada sehingga napas dalam terasa nyeri. Manifestasi ekstraartikular cukup sering ditemukan, terutama uveitis anterior akut yang menyebabkan mata merah, nyeri, silau, dan penurunan tajam penglihatan. Sebagian pasien juga mengalami psoriasis atau penyakit radang usus.
Keluhan sistemik meliputi mudah lelah, gangguan tidur akibat nyeri, penurunan berat badan, demam ringan, serta keterbatasan aktivitas sehari-hari. Pada stadium lanjut terjadi penurunan fleksibilitas tulang belakang, postur tubuh membungkuk, keterbatasan ekspansi dada, serta berkurangnya kemampuan bergerak akibat terbentuknya fusi tulang belakang.
Selain mengenai tulang belakang, AS dapat menyebabkan nyeri pada sendi panggul, bahu, lutut, atau tumit akibat entesitis. Sebagian pasien mengalami nyeri dada akibat keterlibatan sendi kostovertebral sehingga ekspansi dada menjadi terbatas. Manifestasi ekstraartikular seperti uveitis anterior akut juga cukup sering ditemukan dan memerlukan penanganan segera.
Sebagian pasien juga mengalami keluhan saluran cerna seperti nyeri perut, kembung, diare, konstipasi, intoleransi makanan, atau gejala yang menyerupai penyakit radang usus. Hal ini mendukung konsep gut-joint axis, yaitu hubungan erat antara kesehatan saluran cerna dengan inflamasi sendi. Penelitian menunjukkan bahwa disbiosis mikrobiota usus dapat meningkatkan aktivasi sistem imun dan memperberat inflamasi sistemik.
Gejala sistemik lain meliputi kelelahan kronis, penurunan kualitas hidup, gangguan tidur, penurunan berat badan, serta peningkatan penanda inflamasi seperti CRP dan LED. Aktivitas penyakit dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk genetik, lingkungan, infeksi, dan kemungkinan paparan makanan tertentu pada individu yang rentan.
Diagnosis
Diagnosis ankylosing spondylitis ditegakkan melalui kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pencitraan. Dokter akan menilai karakteristik nyeri punggung inflamasi, riwayat keluarga, adanya entesitis, uveitis, psoriasis, atau penyakit radang usus. Pemeriksaan fisik meliputi Schober test, pengukuran ekspansi dada, pemeriksaan mobilitas tulang belakang, dan evaluasi sendi sakroiliaka.
Pemeriksaan laboratorium meliputi CRP dan LED sebagai penanda inflamasi serta pemeriksaan HLA-B27 untuk mendukung diagnosis pada pasien yang sesuai secara klinis. Pemeriksaan HLA-B27 tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis karena sebagian individu sehat juga dapat memiliki gen tersebut.
Pemeriksaan radiologi merupakan bagian penting dalam diagnosis. Foto polos pelvis dapat menunjukkan sakroiliitis bilateral, sedangkan magnetic resonance imaging (MRI) lebih sensitif untuk mendeteksi inflamasi dini sebelum perubahan radiologis tampak pada foto polos. Kriteria Assessment of SpondyloArthritis International Society (ASAS) dan Modified New York Criteria banyak digunakan sebagai pedoman diagnosis dalam praktik klinis dan penelitian.
Hubungan Alergi Makanan dengan Ankylosing Spondylitis
Hubungan antara alergi makanan dan AS masih menjadi bidang penelitian yang berkembang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan tertentu dapat memengaruhi mikrobiota usus, meningkatkan permeabilitas usus, mengaktifkan sel imun, dan meningkatkan produksi sitokin inflamasi seperti TNF-α, IL-17, dan IL-23 yang berperan penting dalam patogenesis AS. Namun hingga saat ini belum terdapat bukti bahwa alergi makanan merupakan penyebab langsung ankylosing spondylitis.
Penelitian di West China Hospital terhadap 75 pasien AS dan 78 kontrol sehat menemukan kadar IgG terhadap daging sapi, kepiting, dan daging babi lebih tinggi pada pasien AS. Kadar IgG terhadap daging babi juga berkorelasi positif dengan kadar CRP sebagai penanda inflamasi. Peneliti mengemukakan hipotesis bahwa antigen α-Gal yang terdapat pada daging mamalia mungkin berperan dalam proses inflamasi pada sebagian pasien. Akan tetapi, hasil ini masih memerlukan konfirmasi melalui penelitian prospektif yang lebih besar.
Perlu ditekankan bahwa berbagai organisasi alergi internasional seperti EAACI, AAAAI, dan WAO tidak merekomendasikan pemeriksaan IgG makanan sebagai alat diagnosis alergi makanan karena IgG lebih mencerminkan paparan terhadap makanan dibandingkan reaksi alergi. Oleh sebab itu, interpretasi hasil IgG harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan tidak dijadikan dasar tunggal untuk melakukan eliminasi makanan.
Penanganan dan Peran Oral Food Challenge
Penatalaksanaan utama ankylosing spondylitis tetap meliputi edukasi, latihan fisik, fisioterapi, obat antiinflamasi nonsteroid, obat biologik, serta pengendalian faktor risiko sesuai rekomendasi rheumatology internasional. Pada pasien yang dicurigai memiliki hubungan antara makanan dan kekambuhan gejala, evaluasi harus dilakukan secara individual oleh dokter yang berpengalaman.
Oral Food Challenge merupakan baku emas dalam menegakkan diagnosis alergi makanan. OFC dilakukan secara terkontrol dengan pemberian makanan yang dicurigai secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis. Melalui OFC dapat diketahui apakah suatu makanan benar-benar menimbulkan gejala klinis sehingga menghindari eliminasi makanan yang tidak perlu. Pada pasien dengan AS, OFC dapat dipertimbangkan bila terdapat riwayat klinis yang kuat mengarah pada alergi makanan, bukan hanya berdasarkan hasil IgG.
Kesimpulan
Ankylosing spondylitis merupakan penyakit autoimun yang dipengaruhi oleh interaksi faktor genetik, sistem imun, mikrobiota usus, dan lingkungan. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara respons imun terhadap beberapa antigen makanan dan aktivitas inflamasi pada sebagian pasien AS, tetapi bukti tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa alergi makanan merupakan penyebab penyakit. Pemeriksaan IgG makanan belum direkomendasikan sebagai alat diagnosis alergi. Diagnosis alergi makanan tetap harus menggunakan pendekatan klinis dengan Oral Food Challenge sebagai baku emas. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan peran intervensi diet yang dipersonalisasi pada pasien ankylosing spondylitis.
Daftar Pustaka
- Wang Z, et al. Food antigen-specific IgG antibodies in patients with ankylosing spondylitis. Clinical Rheumatology.
- Braun J, Sieper J. Ankylosing spondylitis. Lancet.
Niu Q, Wei W, Huang Z, Zhang J, Yang B, Wang L. - Association between food allergy and ankylosing spondylitis: An observational study. Medicine (Baltimore). 2019 Feb;98(6):e14421. doi: 10.1097/MD.0000000000014421. PMID: 30732197; PMCID: PMC6380781.
- Niu Q, Wei W, Huang Z, Zhang J, Yang B, Wang L. Association between food allergy and ankylosing spondylitis: An observational study. Medicine (Baltimore). 2019 Feb;98(6):e14421. doi: 10.1097/MD.0000000000014421. PMID: 30732197; PMCID: PMC6380781.











Leave a Reply