DOKTER AIRLANGGA

"Together Advancing Healthcare, Inspiring Humanity the Future."

Rhinitis Alergi pada Anak dan Kaitannya dengan Alergi Makanan: Tinjauan Berdasarkan Evidence-Based Medicine

 

Rhinitis Alergi pada Anak dan Kaitannya dengan Alergi Makanan: Tinjauan Berdasarkan Evidence-Based Medicine

Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara

Rhinitis alergi merupakan salah satu penyakit alergi kronis yang paling sering dijumpai pada anak. Penyakit ini terjadi akibat reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap alergen yang terhirup, seperti tungau debu rumah, serbuk sari, bulu hewan, atau jamur. Gejala utamanya meliputi bersin berulang, pilek bening, hidung tersumbat, hidung gatal, dan sering disertai mata berair atau gatal. Meskipun tidak mengancam jiwa, rhinitis alergi dapat mengganggu kualitas hidup anak karena menyebabkan gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, penurunan prestasi belajar, serta meningkatkan risiko sinusitis, infeksi telinga, dan asma yang tidak terkontrol.

Rhinitis alergi sering ditemukan bersamaan dengan penyakit alergi lain, seperti dermatitis atopik, asma, dan alergi makanan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyakit-penyakit tersebut memiliki dasar imunologi yang sama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengalami alergi makanan pada usia dini memiliki risiko lebih tinggi mengalami rhinitis alergi pada masa kanak-kanak. Namun, hal ini tidak berarti alergi makanan merupakan penyebab langsung rhinitis alergi. Hubungan tersebut lebih menggambarkan adanya kerentanan genetik dan respons imun tipe 2 yang dikenal sebagai atopic march, yaitu perjalanan alami penyakit alergi dari kulit dan saluran cerna menuju saluran napas.

Hubungan Rhinitis Alergi dan Alergi Makanan

  • Rhinitis alergi dan alergi makanan sama-sama merupakan penyakit yang dipicu oleh respons imun terhadap alergen. Pada rhinitis alergi, alergen masuk melalui saluran napas, sedangkan pada alergi makanan, alergen berasal dari protein makanan. Kedua kondisi ini melibatkan aktivasi sel limfosit Th2, pembentukan imunoglobulin E (IgE), aktivasi sel mast dan eosinofil, serta pelepasan mediator inflamasi yang menimbulkan gejala alergi.
  • Penelitian kohort menunjukkan sekitar 35 hingga 40 persen bayi dengan alergi makanan mengalami rhinitis alergi ketika memasuki usia sekolah. Risiko tersebut lebih tinggi pada anak yang mengalami alergi terhadap susu sapi, telur, atau kacang tanah, terutama bila disertai dermatitis atopik atau memiliki lebih dari satu jenis alergi makanan. Temuan ini mendukung konsep atopic march, yaitu perkembangan penyakit alergi yang dimulai dari dermatitis atopik dan alergi makanan pada masa bayi, kemudian berkembang menjadi asma dan rhinitis alergi pada usia yang lebih besar. Namun, tidak semua anak dengan alergi makanan akan mengalami perjalanan penyakit tersebut.

Bukti Ilmiah

  • Tinjauan pustaka yang dilakukan oleh Al-Abri dan kolega menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara alergi makanan dan rhinitis alergi, tetapi bukti ilmiah saat ini belum dapat menyatakan bahwa alergi makanan merupakan penyebab langsung rhinitis alergi. Hubungan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh interaksi faktor genetik, mekanisme imun, serta paparan lingkungan sehingga masih diperlukan penelitian prospektif dengan jumlah subjek yang lebih besar.
  • Penelitian Al-Rabia terhadap 100 pasien rhinitis alergi menunjukkan bahwa 63% memiliki sensitisasi terhadap satu atau lebih alergen makanan. Akan tetapi, sensitisasi yang terdeteksi melalui pemeriksaan IgE hanya menunjukkan adanya antibodi terhadap makanan tertentu dan tidak selalu berarti pasien benar-benar mengalami alergi makanan. Oleh karena itu, hasil pemeriksaan laboratorium tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis tanpa didukung riwayat klinis yang sesuai.
  • Penelitian prospektif terhadap 435 pasien Asia juga menunjukkan bahwa sensitisasi terhadap makanan lebih sering ditemukan pada anak dibandingkan orang dewasa. Pada kelompok anak, alergen makanan yang paling sering adalah putih telur, susu sapi, dan kedelai. Temuan tersebut menunjukkan bahwa alergi makanan dapat menjadi penyakit penyerta pada sebagian anak dengan rhinitis alergi. Namun, pemeriksaan alergi makanan tidak dianjurkan sebagai skrining rutin pada semua pasien rhinitis alergi, melainkan hanya pada pasien yang memiliki riwayat reaksi setelah mengonsumsi makanan tertentu atau memiliki penyakit atopik lain.

Diagnosis dan Penatalaksanaan

  • Diagnosis rhinitis alergi ditegakkan berdasarkan riwayat keluhan yang khas, pemeriksaan fisik, dan evaluasi klinis oleh dokter. Pada pasien yang dicurigai mengalami alergi makanan, diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan skin prick test, IgE spesifik, panel alergi, atau pemeriksaan sensitisasi lainnya karena hasil positif hanya menunjukkan sensitisasi dan belum tentu menunjukkan alergi yang bermakna secara klinis.
  • Apabila riwayat klinis mengarah pada alergi makanan, diagnosis sebaiknya dikonfirmasi dengan Open Oral Food Challenge (OFC), yang hingga saat ini merupakan baku emas untuk memastikan alergi makanan apabila tidak terdapat kontraindikasi. Setelah makanan penyebab dipastikan, dilakukan eliminasi makanan secara individual dengan pemantauan status gizi agar kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi.
  • Penatalaksanaan rhinitis alergi meliputi menghindari alergen inhalan, melakukan irigasi hidung menggunakan larutan saline, serta pemberian antihistamin generasi kedua dan kortikosteroid intranasal sesuai pedoman. Pada pasien dengan riwayat anafilaksis akibat makanan, keluarga harus memahami penanganan darurat dan penggunaan adrenalin intramuskular bila terjadi reaksi berat.

Hubungan Rhinitis Alergi dan Alergi Makanan pada Anak Berdasarkan Evidence-Based Medicine

AspekKeterangan
DefinisiRhinitis alergi adalah peradangan mukosa hidung yang dimediasi IgE setelah paparan alergen inhalan, sedangkan alergi makanan merupakan respons imun abnormal terhadap protein makanan melalui mekanisme IgE, non-IgE, atau campuran.
HubunganAlergi makanan bukan penyebab langsung rhinitis alergi, tetapi meningkatkan risiko terjadinya rhinitis alergi pada anak yang memiliki predisposisi genetik dan penyakit atopik lainnya. Hubungan ini merupakan bagian dari spektrum penyakit alergi atau atopic march.
Mekanisme imunologiSensitisasi alergen mengaktifkan respons imun tipe 2 dengan produksi IgE spesifik, aktivasi sel mast, eosinofil, limfosit Th2, serta pelepasan sitokin IL-4, IL-5, dan IL-13 yang memicu inflamasi kronis pada saluran napas dan saluran cerna.
Atopic marchPerjalanan alami penyakit atopik yang umumnya dimulai dari dermatitis atopik dan alergi makanan pada masa bayi, kemudian berkembang menjadi asma dan rhinitis alergi pada usia anak yang lebih besar. Tidak semua anak mengikuti pola ini, tetapi risikonya lebih tinggi pada anak dengan alergi makanan dini.
Alergen makanan yang paling seringSusu sapi, telur, kacang tanah, kedelai, gandum, kacang pohon, ikan, dan makanan laut. Jenis alergen berbeda menurut usia dan wilayah geografis.
Faktor risikoRiwayat atopi pada orang tua, dermatitis atopik, alergi multipel, sensitisasi dini terhadap makanan, kadar IgE tinggi, paparan asap rokok, polusi udara, dan paparan alergen lingkungan seperti tungau debu rumah.
Manifestasi klinisRhinitis alergi ditandai bersin berulang, pilek bening, hidung gatal, hidung tersumbat, dan mata gatal. Alergi makanan dapat menimbulkan urtikaria, angioedema, muntah, diare, nyeri perut, eksim, hingga anafilaksis pada kasus berat.
DiagnosisDiagnosis didasarkan pada anamnesis yang konsisten, pemeriksaan fisik, uji tusuk kulit atau IgE spesifik sesuai indikasi. Open Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan alergi makanan bila diagnosis masih meragukan.
PenatalaksanaanRhinitis alergi ditangani dengan menghindari alergen, irigasi saline, antihistamin generasi kedua, dan kortikosteroid intranasal sesuai pedoman. Alergi makanan ditangani dengan eliminasi makanan penyebab yang telah terkonfirmasi, edukasi keluarga, serta pemberian adrenalin pada pasien berisiko anafilaksis.
Dampak klinisKoeksistensi kedua penyakit meningkatkan gangguan tidur, kualitas hidup, prestasi belajar, kontrol asma, serta beban psikososial pada anak dan keluarga.
PrognosisSebagian alergi terhadap susu sapi, telur, gandum, dan kedelai dapat menghilang seiring bertambahnya usia, sedangkan alergi kacang tanah, kacang pohon, ikan, dan makanan laut lebih sering menetap hingga dewasa.
Pesan klinisAnak dengan alergi makanan, terutama yang disertai dermatitis atopik atau asma, perlu dipantau terhadap munculnya rhinitis alergi. Sebaliknya, pada anak dengan rhinitis alergi tidak diperlukan pemeriksaan alergi makanan secara rutin kecuali terdapat riwayat klinis yang mengarah ke alergi makanan.

Kesimpulan

Rhinitis alergi dan alergi makanan merupakan dua penyakit yang sering ditemukan bersamaan karena memiliki mekanisme imunologis dan faktor risiko yang serupa. Alergi makanan bukan penyebab langsung rhinitis alergi, tetapi dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit tersebut pada anak dengan predisposisi atopik. Diagnosis harus didasarkan pada riwayat klinis yang cermat dan tidak hanya mengandalkan hasil pemeriksaan sensitisasi. Bila diperlukan, Open Oral Food Challenge tetap menjadi baku emas untuk memastikan diagnosis alergi makanan sehingga terapi yang diberikan tepat, status gizi tetap terjaga, dan pembatasan makanan yang tidak perlu dapat dihindari.

Daftar Pustaka

  • Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to Future Research. Sultan Qaboos Univ Med J. 2018;18(1):e30-e33.
  • Al-Rabia MW. Food-induced immunoglobulin E-mediated allergic rhinitis. J Microsc Ultrastruct. 2016;4(2):69-75.
  • Pang KA, Pang KP, Pang EB, Tan YN, Chan YH, Siow JK. Food allergy and allergic rhinitis in 435 Asian patients: A descriptive review. Med J Malaysia. 2017;72(4):215-220.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *