Peran Sensitisasi Imunoglobulin E terhadap Alergen Makanan sebagai Prediktor Risiko Mortalitas Kardiovaskular. Analisis Berdasarkan Studi Kohort NHANES dan Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA)
Hubungan Sensitisasi Imunoglobulin E terhadap Alergen Makanan dengan Mortalitas Kardiovaskular. Analisis Dua Studi Kohort Prospektif Berskala Besar
Sensitisasi Imunoglobulin E terhadap Alergen Makanan dan Risiko Mortalitas Kardiovaskular. Tinjauan Reportase Berdasarkan Studi NHANES dan Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis
Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara
Peran Sensitisasi Imunoglobulin E terhadap Alergen Makanan sebagai Faktor Risiko Mortalitas Kardiovaskular
Selama bertahun-tahun, sensitisasi terhadap alergen makanan yang hanya ditunjukkan oleh hasil positif pemeriksaan imunoglobulin E (IgE) spesifik, tanpa disertai manifestasi klinis setelah konsumsi makanan tersebut, umumnya dianggap sebagai temuan imunologis yang tidak memiliki konsekuensi klinis. Paradigma tersebut didasarkan pada anggapan bahwa keberadaan IgE spesifik hanya mencerminkan pengenalan antigen oleh sistem imun tanpa menimbulkan reaksi alergi yang bermakna. Namun, dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa aktivasi sistem imun tipe 2 dan keberadaan IgE spesifik kemungkinan mencerminkan keadaan inflamasi sistemik yang dapat berkontribusi terhadap berbagai penyakit kronis di luar spektrum penyakit alergi klasik. Temuan tersebut memunculkan hipotesis bahwa sensitisasi terhadap alergen makanan mungkin merupakan biomarker inflamasi kronis yang memiliki implikasi terhadap kesehatan kardiovaskular.
Bukti terkuat mengenai hipotesis tersebut dipublikasikan oleh Keet dan kolega dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology tahun 2024. Penelitian ini menunjukkan bahwa sensitisasi IgE terhadap alergen makanan umum berhubungan secara bermakna dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular. Hasil tersebut menjadi perhatian karena selama ini hubungan antara penyakit alergi dan aterosklerosis masih belum dipahami secara utuh. Penelitian ini membuka perspektif baru bahwa respons imun terhadap alergen makanan mungkin mencerminkan aktivasi inflamasi sistemik yang berkontribusi terhadap proses aterogenesis, disfungsi endotel, dan ketidakstabilan plak aterosklerotik.
Desain Penelitian Berbasis Dua Kohort Prospektif Berskala Besar
Penelitian menggunakan dua kohort prospektif yang telah lama menjadi rujukan epidemiologi penyakit kronis di Amerika Serikat. Kohort pertama berasal dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) periode 2005 hingga 2006 yang dihubungkan dengan data mortalitas nasional sampai tahun 2019. Kohort kedua berasal dari Wake Forest Site of the Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA), yang merekrut individu dewasa tanpa penyakit kardiovaskular klinis pada awal penelitian antara tahun 2000 hingga 2002. Penggunaan dua kohort independen memungkinkan validasi eksternal terhadap hasil penelitian sehingga meningkatkan kekuatan bukti epidemiologis.
Sebanyak 4.414 peserta NHANES dengan 229 kematian akibat penyakit kardiovaskular serta 960 peserta MESA dengan 56 kematian akibat penyakit kardiovaskular dianalisis. Seluruh peserta menjalani pemeriksaan IgE total dan IgE spesifik terhadap berbagai alergen makanan menggunakan metode laboratorium yang telah tervalidasi. Pada NHANES dilakukan pemeriksaan terhadap susu sapi, telur, kacang tanah, udang, serta panel alergen hirup. Pada kohort MESA dilakukan pemeriksaan terhadap susu sapi, alpha-gal, kacang tanah, tungau debu rumah, dan timothy grass. Analisis statistik menggunakan model Cox proportional hazards dengan penyesuaian terhadap usia, jenis kelamin, ras, kebiasaan merokok, tingkat pendidikan, dan riwayat asma sehingga hubungan yang ditemukan relatif independen terhadap faktor risiko kardiovaskular konvensional.
Hubungan Sensitisasi IgE dengan Mortalitas Kardiovaskular
Analisis menunjukkan bahwa individu dengan sensitisasi terhadap sedikitnya satu alergen makanan memiliki risiko mortalitas kardiovaskular yang secara bermakna lebih tinggi dibandingkan individu tanpa sensitisasi makanan. Pada kohort NHANES, sensitisasi terhadap minimal satu alergen makanan meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 70% dengan hazard ratio (HR) 1,70 dan interval kepercayaan 95% sebesar 1,20 hingga 2,40. Hubungan tersebut tetap signifikan setelah dilakukan penyesuaian terhadap berbagai faktor risiko klasik penyakit jantung, menunjukkan bahwa sensitisasi IgE merupakan faktor yang berdiri sendiri dan tidak sepenuhnya dijelaskan oleh variabel perancu lainnya.
Hubungan paling konsisten ditemukan pada sensitisasi terhadap protein susu sapi. Pada NHANES, sensitisasi terhadap susu berkaitan dengan peningkatan risiko mortalitas kardiovaskular sekitar dua kali lipat. Temuan tersebut kemudian berhasil direplikasi pada kohort MESA dengan besaran asosiasi yang lebih kuat, yaitu hampir empat kali lipat peningkatan risiko. Konsistensi hasil pada dua kohort independen memberikan validitas yang tinggi terhadap hubungan tersebut dan mengurangi kemungkinan bahwa temuan hanya merupakan hasil variasi statistik.
Sensitisasi terhadap Alergen Makanan Lain
Analisis lanjutan dilakukan dengan membatasi populasi hanya pada individu yang benar-benar mengonsumsi makanan yang bersangkutan. Pendekatan ini bertujuan mengurangi kemungkinan salah klasifikasi akibat peserta yang tidak pernah terpajan alergen. Setelah pembatasan tersebut dilakukan, hubungan antara sensitisasi makanan dan mortalitas kardiovaskular menjadi semakin kuat. Selain protein susu sapi, sensitisasi terhadap udang dan kacang tanah juga berhubungan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pajanan berulang terhadap alergen makanan yang sesuai dengan sensitisasi IgE mungkin mempertahankan proses inflamasi kronis pada sebagian individu yang rentan.
Mekanisme Patofisiologis yang Mendasari
Walaupun penelitian ini tidak dirancang untuk menjelaskan hubungan kausal, beberapa mekanisme biologis dinilai dapat menjelaskan asosiasi tersebut. Ikatan alergen dengan IgE spesifik pada permukaan sel mast dan basofil memicu degranulasi yang menghasilkan pelepasan histamin, triptase, prostaglandin, leukotrien, platelet activating factor, serta berbagai sitokin proinflamasi. Selain menyebabkan gejala alergi akut, mediator tersebut diketahui memengaruhi fungsi endotel vaskular, meningkatkan permeabilitas pembuluh darah, mengaktivasi makrofag, mempercepat pembentukan plak aterosklerosis, dan meningkatkan ketidakstabilan plak sehingga berpotensi meningkatkan kejadian infark miokard maupun stroke.
Selain mekanisme tersebut, aktivasi kronis respons imun tipe 2 yang melibatkan IL-4, IL-5, IL-13, eosinofil, sel mast, dan limfosit Th2 diduga mempertahankan inflamasi sistemik derajat rendah yang berperan dalam proses aterogenesis. Penelitian eksperimental sebelumnya juga menunjukkan adanya infiltrasi sel mast dan eosinofil pada plak aterosklerosis yang tidak stabil. Oleh karena itu, sensitisasi IgE terhadap alergen makanan mungkin tidak hanya berfungsi sebagai penanda alergi, tetapi juga sebagai indikator adanya aktivasi inflamasi kronis yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Implikasi terhadap Diagnosis Alergi
Meskipun menunjukkan hubungan yang kuat dengan mortalitas kardiovaskular, penelitian ini tidak mengubah prinsip diagnosis alergi makanan. Sensitisasi IgE tetap berbeda dengan alergi makanan yang terbukti secara klinis. Hasil pemeriksaan IgE positif hanya menunjukkan adanya respons imun terhadap suatu protein makanan dan tidak dapat memastikan bahwa makanan tersebut akan menimbulkan gejala ketika dikonsumsi. Oleh karena itu, interpretasi hasil pemeriksaan IgE harus selalu dikaitkan dengan riwayat klinis yang konsisten. Eliminasi makanan hanya berdasarkan hasil laboratorium tidak direkomendasikan karena berpotensi menyebabkan pembatasan diet yang tidak diperlukan, meningkatkan risiko defisiensi nutrisi, serta menurunkan kualitas hidup.
Implikasi bagi Penelitian dan Praktik Klinis
Temuan Keet dan kolega memperluas pemahaman mengenai hubungan antara penyakit alergi dan penyakit kardiovaskular. Sensitisasi IgE terhadap alergen makanan berpotensi menjadi biomarker inflamasi sistemik yang membantu mengidentifikasi individu dengan risiko kardiovaskular lebih tinggi. Namun, karena penelitian ini bersifat observasional, hubungan sebab akibat belum dapat dipastikan. Diperlukan penelitian prospektif lanjutan, studi mekanistik, serta uji intervensi untuk menentukan apakah pengendalian inflamasi alergi dapat menurunkan kejadian penyakit maupun mortalitas kardiovaskular.
Kesimpulan
Penelitian Keet dan kolega merupakan salah satu bukti epidemiologi terkuat yang menunjukkan bahwa sensitisasi IgE terhadap alergen makanan berkaitan secara independen dengan peningkatan risiko mortalitas kardiovaskular pada populasi dewasa. Hubungan paling konsisten ditemukan pada sensitisasi terhadap protein susu sapi dan berhasil direplikasi pada dua kohort prospektif besar. Temuan ini menantang paradigma bahwa sensitisasi IgE tanpa gejala klinis selalu bersifat jinak serta membuka peluang penelitian baru mengenai peran inflamasi alergi dalam patogenesis penyakit kardiovaskular. Namun demikian, sensitisasi IgE tidak dapat disamakan dengan alergi makanan yang bermakna secara klinis. Diagnosis alergi tetap harus didasarkan pada korelasi antara riwayat klinis, pemeriksaan penunjang, dan bila diperlukan dikonfirmasi melalui Open Oral Food Challenge sebagai baku emas diagnosis alergi makanan.
Daftar Pustaka Utama
Keet C, McGowan EC, Jacobs D, Post WS, Richards NE, Workman LJ, Platts-Mills TAE, Manichaikul A, Wilson JM. IgE to common food allergens is associated with cardiovascular mortality in the National Health and Examination Survey and the Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis. J Allergy Clin Immunol. 2024;153(2):471-478.e3. doi:10.1016/j.jaci.2023.09.038. PMID: 37943208. PMCID: PMC10922097.












Leave a Reply