DOKTER AIRLANGGA

"Together Advancing Healthcare, Inspiring Humanity the Future."

Tahukah Anda? Makan Malam Tidak Otomatis Menyebabkan Kegemukan

Tahukah Anda? Makan Malam Tidak Otomatis Menyebabkan Kegemukan

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Banyak orang percaya bahwa makan malam pasti menyebabkan kegemukan. Faktanya, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan penelitian ilmiah, kenaikan berat badan terutama ditentukan oleh total energi (kalori) yang dikonsumsi dibandingkan dengan energi yang digunakan tubuh, bukan semata-mata karena makan pada malam hari. Jika total kalori harian sesuai dengan kebutuhan tubuh, makan malam tidak otomatis menyebabkan berat badan bertambah.

Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan di JAMA Network Open tahun 2024 menganalisis 29 uji klinis acak (randomized clinical trials) yang melibatkan 2.485 peserta. Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pengaturan waktu makan, seperti membatasi waktu makan (time-restricted eating) atau mengonsumsi lebih banyak kalori pada pagi hingga siang hari, memang dapat memberikan penurunan berat badan yang sedikit lebih baik. Namun, manfaat tersebut relatif kecil dan tidak berarti bahwa makan malam sendiri merupakan penyebab utama obesitas.

Penelitian lain berupa tinjauan sistematis dan meta-analisis yang membandingkan makan malam besar dengan makan malam kecil menemukan bahwa tidak ada perbedaan bermakna dalam penurunan berat badan antara kedua kelompok. Hasil ini menunjukkan bahwa ukuran makan malam saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa seseorang menjadi gemuk. Faktor seperti total asupan kalori, kualitas makanan, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup sehari-hari jauh lebih berpengaruh.

Meskipun demikian, makan terlalu larut malam atau mengonsumsi makanan tinggi kalori menjelang tidur dapat menyulitkan sebagian orang mengendalikan nafsu makan dan meningkatkan total asupan energi harian. Selain itu, makan besar pada malam hari dapat mengganggu kualitas tidur dan metabolisme pada sebagian individu. Oleh karena itu, banyak ahli menyarankan agar porsi kalori lebih banyak dikonsumsi pada pagi atau siang hari, bukan karena makan malam “dilarang”, tetapi karena pola tersebut dapat membantu pengendalian berat badan dan kesehatan metabolik.

Bila merasa lapar pada malam hari, tidak perlu memaksakan diri untuk tidak makan. Yang lebih penting adalah memilih makanan yang sehat dan porsinya sesuai kebutuhan, misalnya makanan yang mengandung protein tanpa lemak, sayuran, atau buah. Sebaliknya, kebiasaan mengonsumsi camilan tinggi gula, minuman manis, atau makanan cepat saji pada malam hari lebih mudah menyebabkan kelebihan kalori sehingga berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.

Jadi, makan malam bukanlah penyebab langsung kegemukan. Yang menentukan adalah keseimbangan antara kalori yang masuk dan yang digunakan tubuh, kualitas makanan, aktivitas fisik, serta pola hidup secara keseluruhan. Mengatur pola makan bergizi seimbang, rutin berolahraga, tidur yang cukup, dan menghindari kelebihan kalori setiap hari merupakan cara yang jauh lebih efektif untuk menjaga berat badan dibandingkan hanya menghindari makan malam.

Tabel. Fakta Ilmiah tentang Makan Malam dan Kegemukan

PernyataanFakta Ilmiah
Makan malam pasti menyebabkan gemukTidak benar
Faktor utama kenaikan berat badanKelebihan total kalori harian
Apakah waktu makan berpengaruh?Ya, tetapi pengaruhnya relatif kecil dibanding total kalori
Bukti meta-analisis JAMA 202429 uji klinis, 2.485 peserta; pengaturan waktu makan memberi manfaat kecil pada berat badan
Bukti meta-analisis makan malam besar vs kecilTidak ada perbedaan bermakna terhadap penurunan berat badan
Yang dianjurkanPorsi makan sesuai kebutuhan, utamakan makanan bergizi seimbang
Kunci menjaga berat badanPola makan sehat, aktivitas fisik, tidur cukup, dan keseimbangan kalori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *