DOKTER AIRLANGGA

"Together Advancing Healthcare, Inspiring Humanity the Future."

Penanganan Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus

Penanganan Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus

Glomerulonefritis akut pasca streptokokus (GNAPS) merupakan glomerulonefritis pasca infeksi yang disebabkan oleh respons imun setelah infeksi Streptococcus pyogenes nefritogenik. Penyakit ini merupakan penyebab tersering sindrom nefritik akut pada anak usia sekolah. Manifestasi klinis umumnya muncul 1 sampai 3 minggu setelah faringitis atau 3 sampai 6 minggu setelah impetigo, ditandai dengan hematuria, edema, hipertensi, dan penurunan fungsi ginjal sementara. Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat infeksi streptokokus, gambaran klinis, urinalisis, penurunan kadar C3, serta peningkatan antibodi antistreptokokus. Tata laksana bersifat suportif dan sebagian besar pasien anak mengalami penyembuhan sempurna dengan prognosis yang baik.

Glomerulonefritis akut pasca streptokokus merupakan penyakit inflamasi glomerulus yang terjadi akibat mekanisme imun setelah infeksi Streptococcus pyogenes. Penyakit ini masih menjadi penyebab penting sindrom nefritik akut pada anak, terutama di negara berkembang. Kerusakan ginjal tidak disebabkan oleh invasi bakteri secara langsung, melainkan oleh deposisi kompleks imun pada glomerulus yang mengaktifkan sistem komplemen dan memicu inflamasi.

Epidemiologi

GNAPS paling sering terjadi pada anak usia 5 hingga 12 tahun dan lebih banyak ditemukan pada laki-laki. Penyakit ini biasanya muncul setelah infeksi saluran napas atas atau infeksi kulit yang disebabkan oleh strain streptokokus nefritogenik.

Etiologi dan Patogenesis

Penyebab utama GNAPS adalah infeksi Streptococcus pyogenes grup A. Antigen bakteri memicu pembentukan kompleks imun yang mengendap pada glomerulus. Aktivasi sistem komplemen menyebabkan inflamasi, proliferasi sel glomerulus, peningkatan permeabilitas membran filtrasi, serta penurunan laju filtrasi glomerulus. Akibatnya timbul hematuria, proteinuria ringan, edema, dan hipertensi.

Faktor Risiko Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus

Faktor RisikoPenjelasan
Faringitis streptokokusPenyebab tersering pada negara maju.
Impetigo streptokokusLebih sering ditemukan di daerah tropis.
Kepadatan penduduk tinggiMempermudah penularan Streptococcus.
Sanitasi kurang baikMeningkatkan risiko infeksi kulit.
Status sosial ekonomi rendahBerhubungan dengan tingginya angka infeksi streptokokus.
Anak usia sekolahKelompok usia dengan insidensi tertinggi.

Patogenesis GNAPS

TahapMekanisme
1Infeksi Streptococcus pyogenes nefritogenik.
2Pelepasan antigen streptokokus seperti NAPlr dan SpeB.
3Pembentukan antibodi oleh sistem imun.
4Terbentuk kompleks imun.
5Kompleks imun mengendap pada glomerulus.
6Aktivasi jalur komplemen, terutama jalur alternatif.
7Rekrutmen neutrofil dan makrofag.
8Inflamasi glomerulus dan proliferasi sel.
9Penurunan laju filtrasi glomerulus.
10Timbul hematuria, edema, hipertensi, dan oliguria.

Manifestasi Klinis

Gejala biasanya muncul mendadak setelah masa laten infeksi. Manifestasi yang sering ditemukan meliputi hematuria berwarna cokelat, edema terutama pada kelopak mata, hipertensi, oliguria, dan malaise. Sebagian pasien mengalami sakit kepala, mual, atau sesak akibat retensi cairan.

ManifestasiFrekuensiKeterangan
HematuriaSangat seringWarna urin cokelat atau seperti air cucian daging.
Edema periorbitalSangat seringTerutama pada pagi hari.
HipertensiSeringAkibat retensi natrium dan air.
OliguriaSeringPenurunan produksi urin.
ProteinuriaRingan hingga sedangJarang mencapai derajat nefrotik.
MalaiseSeringKeluhan umum akibat inflamasi.
Sakit kepalaKadangBerhubungan dengan hipertensi.
Sesak napasKadangAkibat edema paru pada kasus berat.

Pemeriksaan Laboratorium

PemeriksaanHasil KhasMakna Klinis
UrinalisisHematuriaMenunjukkan kerusakan glomerulus.
Protein urin+1 sampai +2Kebocoran protein ringan.
Silinder eritrositPositifSangat khas glomerulonefritis.
Eritrosit dismorfikPositifMenunjukkan perdarahan berasal dari glomerulus.
Kreatinin serumNormal atau meningkatMenilai fungsi ginjal.
UreumDapat meningkatMenunjukkan penurunan filtrasi.
eGFRMenurunMenilai derajat gangguan fungsi ginjal.
C3MenurunTemuan khas fase akut.
C4NormalMembantu membedakan dengan lupus nefritis.
ASOMeningkatBukti infeksi streptokokus saluran napas.
Anti-DNase BMeningkatLebih sensitif setelah impetigo.

Gambaran Histopatologi

PemeriksaanTemuan
Mikroskop cahayaProliferasi endokapiler difus, hiperselularitas glomerulus.
ImunofluoresensiDeposisi granular IgG dan C3 dengan pola “starry sky”.
Mikroskop elektronEndapan subepitelial berbentuk “humps”.

Diagnosis Banding

PenyakitPembeda Utama
Nefropati IgAHematuria muncul bersamaan dengan infeksi, C3 normal.
Lupus nefritisANA dan anti-dsDNA positif, C3 dan C4 menurun.
Sindrom hemolitik uremikAnemia hemolitik, trombositopenia, diare sebelumnya.
Glomerulonefritis membranoproliferatifPenurunan C3 menetap lebih dari 8 minggu.
Vaskulitis ANCAANCA positif, sering disertai manifestasi sistemik.

Diagnosis

Diagnosis didasarkan pada kombinasi riwayat infeksi streptokokus, gambaran klinis, dan pemeriksaan laboratorium.

PemeriksaanTemuan
UrinalisisHematuria, proteinuria ringan, silinder eritrosit
C3 serumMenurun
ASO atau Anti-DNase BMeningkat
Kreatinin serumDapat meningkat
eGFRMenurun pada kasus sedang hingga berat

Biopsi ginjal hanya dilakukan bila perjalanan penyakit tidak khas atau terdapat dugaan penyakit glomerulus lain.

Tata Laksana

Terapi bersifat suportif dan bertujuan mengatasi komplikasi. Pembatasan garam dan cairan diberikan pada pasien dengan edema. Diuretik digunakan bila terdapat retensi cairan, sedangkan antihipertensi diberikan bila tekanan darah meningkat. Antibiotik diberikan bila infeksi streptokokus masih aktif. Dialisis hanya diperlukan pada kasus dengan gagal ginjal akut berat atau komplikasi yang mengancam jiwa.

TerapiIndikasi
IstirahatFase akut dengan gejala berat.
Pembatasan garamEdema dan hipertensi.
Pembatasan cairanOliguria atau edema berat.
DiuretikRetensi cairan.
AntihipertensiHipertensi persisten.
Penisilin atau antibiotik lainEradikasi infeksi streptokokus aktif.
DialisisGagal ginjal akut berat, hiperkalemia, edema paru, atau asidosis berat.

Prognosis

ParameterPerjalanan Klinis
EdemaMenghilang dalam 1 sampai 2 minggu.
HipertensiNormal dalam 2 sampai 4 minggu.
KreatininKembali normal dalam beberapa minggu.
C3 serumNormal kembali dalam 6 sampai 8 minggu.
ProteinuriaHilang dalam beberapa bulan.
Hematuria mikroskopikDapat menetap hingga 6 sampai 12 bulan.
Kesembuhan pada anakLebih dari 90 persen pulih sempurna.
Prognosis dewasaRisiko penyakit ginjal kronis lebih tinggi dibandingkan anak.

Sebagian besar anak mengalami pemulihan sempurna dalam beberapa minggu hingga bulan. Kadar C3 biasanya kembali normal dalam waktu 6 sampai 8 minggu, sedangkan hematuria mikroskopik dapat menetap selama beberapa bulan. Prognosis pada orang dewasa umumnya kurang baik dibandingkan anak.

Ringkasan Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus (GNAPS)

AspekKeterangan
DefinisiPeradangan akut glomerulus akibat respons imun setelah infeksi Streptococcus pyogenes nefritogenik.
PenyebabStreptococcus beta hemolitikus grup A (Streptococcus pyogenes).
Kelompok usiaTerutama anak usia 5 sampai 12 tahun.
Jenis kelaminLebih sering pada laki-laki.
Masa laten setelah faringitisSekitar 1 sampai 3 minggu.
Masa laten setelah impetigoSekitar 3 sampai 6 minggu.
Mekanisme penyakitDeposisi kompleks imun pada glomerulus yang mengaktifkan komplemen dan menyebabkan inflamasi.
Gambaran klinis utamaHematuria, edema, hipertensi, oliguria, proteinuria ringan.
PrognosisSebagian besar anak pulih sempurna dalam beberapa minggu hingga bulan.

Kesimpulan

Glomerulonefritis akut pasca streptokokus merupakan penyakit glomerulus akibat respons imun setelah infeksi Streptococcus pyogenes. Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat infeksi, gambaran klinis, serta pemeriksaan laboratorium. Tata laksana bersifat suportif dan prognosis pada anak umumnya sangat baik apabila komplikasi dapat ditangani secara optimal.

Daftar Pustaka

  1. Nelson Textbook of Pediatrics.
  2. Brenner and Rector’s The Kidney.
  3. Robbins & Cotran Pathologic Basis of Disease.
  4. Kidney Disease: Improving Global Outcomes.
  5. International Pediatric Nephrology Association.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *