DOKTER AIRLANGGA

"Together Advancing Healthcare, Inspiring Humanity the Future."

NANYA DONG DOK: Adenoid Muncul Lagi Habis Operasi, Apakah Alergi Berkaitan ?

Pertanyaan:

Dok, anak saya sekarang usia 9 tahun 7 bulan. Sekitar satu tahun yang lalu sudah menjalani operasi adenoid. Setelah operasi, alhamdulillah ngorok, hidung tersumbat, dan sleep apnea membaik. Namun, anak saya masih sering pilek, bersin, batuk, dan memang memiliki riwayat alergi. Dua bulan terakhir ngoroknya muncul lagi, bahkan keras, dan sleep apnea juga kambuh. Saya sampai melakukan rontgen dan ternyata adenoidnya membesar lagi. Selain itu, anak saya sering nyeri perut, mual, sembelit, dan kulitnya sensitif. Bagaimana solusi yang tepat? Mengapa anak saya tetap sering pilek dan adenoidnya bisa tumbuh lagi padahal sudah dioperasi?

Jawaban,

Operasi adenoid (adenoidektomi) umumnya memberikan hasil yang sangat baik untuk mengatasi sumbatan jalan napas, mendengkur, dan obstructive sleep apnea (OSA) pada anak. Namun, operasi hanya mengangkat jaringan adenoid yang membesar, bukan menghilangkan penyebab peradangannya. Oleh karena itu, apabila faktor yang menyebabkan peradangan tetap berlangsung, seperti rinitis alergi, infeksi saluran napas berulang, atau paparan iritan, jaringan limfoid yang masih tersisa dapat kembali mengalami pembesaran. Kekambuhan adenoid setelah operasi memang relatif jarang, tetapi dapat terjadi, terutama pada anak yang dioperasi pada usia lebih muda atau memiliki alergi yang belum terkontrol.

Keluhan anak yang masih sering bersin, pilek, hidung tersumbat, dan batuk sangat mengarah pada rinitis alergi yang belum terkendali dengan baik. Pada rinitis alergi, mukosa hidung mengalami peradangan kronis sehingga hidung mudah tersumbat, produksi lendir meningkat, dan saluran napas bagian atas menjadi lebih mudah mengalami infeksi. Peradangan yang berlangsung terus-menerus juga dapat merangsang jaringan adenoid untuk kembali membesar. Oleh karena itu, pada banyak anak, pengobatan setelah operasi tidak berhenti pada tindakan bedah saja, tetapi juga memerlukan pengendalian alergi secara optimal.

Riwayat nyeri perut, mual, sembelit, kulit sensitif, serta penyakit alergi lain menunjukkan bahwa proses alergi pada anak mungkin tidak hanya melibatkan saluran napas, tetapi juga saluran cerna dan kulit. Pada sebagian anak, alergi makanan dapat berperan sebagai salah satu pencetus peradangan kronis, terutama bila memang telah terbukti melalui evaluasi dokter. Peradangan saluran cerna yang berlangsung lama dapat memengaruhi fungsi sawar usus dan regulasi sistem imun. Sebagian penelitian menunjukkan adanya hubungan antara gangguan saluran cerna, penyakit alergi, dan peningkatan peradangan pada saluran napas atas, meskipun hubungan sebab-akibatnya tidak selalu sederhana dan dapat berbeda pada setiap anak.

Selain itu, saluran cerna merupakan tempat sebagian besar jaringan imun tubuh berada. Bila terjadi peradangan kronis akibat alergi makanan atau gangguan lain pada usus, regulasi sistem kekebalan dapat terganggu sehingga sebagian anak menjadi lebih rentan mengalami infeksi saluran napas berulang, seperti pilek, batuk, sinusitis, maupun radang telinga. Infeksi yang berulang inilah yang dapat mempertahankan peradangan di hidung dan nasofaring sehingga rinitis tetap kambuh dan adenoid yang tersisa berpotensi membesar kembali. Walaupun demikian, pembesaran adenoid pascaoperasi umumnya bersifat multifaktorial, sehingga tidak dapat disimpulkan hanya disebabkan oleh alergi makanan.

Bila adenoid sudah kembali membesar dan disertai ngorok keras, henti napas saat tidur (sleep apnea), gangguan tidur, atau penurunan kualitas hidup, anak sebaiknya dievaluasi kembali oleh dokter spesialis THT. Dokter akan menilai apakah pembesaran adenoid memang menjadi penyebab utama, apakah ada pembesaran amandel, sinusitis kronis, deviasi septum, atau faktor lain yang memperberat sumbatan jalan napas. Pada saat yang sama, evaluasi terhadap rinitis alergi, kondisi saluran cerna, pola makan, dan kemungkinan alergi makanan juga perlu dilakukan secara menyeluruh agar penyebab peradangan kronis dapat diatasi, bukan hanya akibatnya.

Penanganan umumnya meliputi pengendalian rinitis alergi dengan mengurangi paparan pencetus, irigasi hidung menggunakan larutan saline, serta obat-obatan seperti semprot kortikosteroid hidung atau antihistamin bila memang diindikasikan oleh dokter. Bila terdapat kecurigaan alergi makanan yang berhubungan dengan keluhan saluran cerna dan alergi, diagnosis sebaiknya ditegakkan secara sistematis. Oral Food Challenge (OFC) tetap merupakan baku emas untuk memastikan alergi makanan, sehingga anak tidak menjalani pembatasan makanan yang tidak perlu. Menghindari makanan hanya berdasarkan dugaan atau hasil tes alergi tanpa konfirmasi justru berisiko menyebabkan kekurangan gizi.

Apabila evaluasi menunjukkan bahwa pembesaran adenoid kembali menyebabkan sumbatan jalan napas yang bermakna dan terapi medis optimal tidak lagi efektif, dokter THT dapat mempertimbangkan tindakan lanjutan sesuai kondisi anak. Namun, pengalaman klinis menunjukkan bahwa keberhasilan jangka panjang tidak hanya bergantung pada operasi, melainkan juga pada keberhasilan mengendalikan faktor-faktor yang mendasari peradangan kronis, terutama rinitis alergi, infeksi berulang, dan bila terbukti, alergi makanan. Dengan pendekatan yang menyeluruh, banyak anak mengalami penurunan frekuensi pilek, kualitas tidur yang kembali membaik, serta berkurangnya risiko pembesaran adenoid berulang.

Referensi

  • Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to future research. Sultan Qaboos Univ Med J. 2018 Feb;18(1):e30-e33. doi: 10.18295/squmj.2018.18.01.005. Epub 2018 Apr 4. PMID: 29666678; PMCID: PMC5892810.
  • Ciprandi G, Martelli A, Tosca M Do Foods Cause Rhinitis? The Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice, 2024; 12, 1484-1486
  • Yonis MA, Ibrahim MA, Farag FK, El Shennawy AM. Relationship between adenoidal hypertrophy and allergic rhinitis in children. Egypt J Hosp Med. 2019;74(1):94-102.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *