Prosedur Transfusi Darah pada Kegawatdaruratan Obstetri: Pendekatan Berbasis Bukti Menurut WHO, FIGO, ACOG, dan RCOG
Perdarahan obstetri merupakan penyebab utama kematian ibu di dunia dan memerlukan penanganan yang cepat, termasuk resusitasi cairan dan transfusi darah. Keberhasilan transfusi tidak hanya ditentukan oleh kecepatan pemberian darah, tetapi juga oleh ketepatan indikasi, pemilihan komponen darah, pemantauan respons klinis, serta tata laksana koagulopati secara simultan. Pedoman WHO, FIGO, ACOG, dan RCOG menekankan penggunaan Massive Transfusion Protocol (MTP) pada perdarahan masif untuk mempertahankan oksigenasi jaringan, mencegah koagulopati, dan meningkatkan keselamatan ibu.
Perdarahan obstetri dapat terjadi pada plasenta previa, solusio plasenta, perdarahan postpartum, ruptura uteri, kehamilan ektopik terganggu, maupun komplikasi obstetri lainnya. Kehilangan darah lebih dari 1.000 mL dalam waktu singkat dapat menyebabkan syok hipovolemik, disfungsi multiorgan, disseminated intravascular coagulation (DIC), hingga kematian apabila tidak segera ditangani. Oleh karena itu, transfusi darah merupakan bagian integral dari resusitasi obstetri.
Pelaksanaan transfusi harus dilakukan secara sistematis oleh tim multidisiplin yang melibatkan dokter obstetri, anestesi, bank darah, laboratorium, dan perawat. Prinsip utama adalah mengobati penyebab perdarahan sambil mengganti volume darah, kapasitas pengangkutan oksigen, dan faktor pembekuan secara bersamaan.
Indikasi Transfusi Darah
Transfusi dipertimbangkan pada kondisi berikut:
- Perdarahan obstetri aktif dengan instabilitas hemodinamik.
- Syok hemoragik.
- Kehilangan darah ≥1.000 mL disertai tanda hipoperfusi.
- Hemoglobin <7 g/dL atau lebih tinggi bila terdapat perdarahan aktif.
- Koagulopati atau DIC.
- Perdarahan masif yang memerlukan aktivasi Massive Transfusion Protocol (MTP).
Prosedur Transfusi
1. Aktivasi Tim Resusitasi
Segera aktifkan tim obstetri emergensi, anestesi, bank darah, laboratorium, dan ruang operasi bila diperlukan.
2. Penilaian ABC
– Airway (jalan napas)
– Breathing (oksigen 10–15 L/menit)
– Circulation (dua jalur infus besar 14–16 G)
3. Pengambilan Sampel Darah
Segera kirim pemeriksaan:
– Golongan darah ABO dan Rhesus
– Crossmatch
– Darah lengkap
– PT, aPTT
– Fibrinogen
– Elektrolit
– Analisis gas darah
– Fungsi ginjal bila memungkinkan
4. Resusitasi Cairan
Berikan kristaloid hangat secukupnya sambil menunggu darah tersedia. Hindari pemberian cairan kristaloid berlebihan karena dapat memperberat koagulopati.
5. Mulai Transfusi Darah
Bila perdarahan berat dan darah belum sempat dicocokkan:
– Gunakan Packed Red Cells (PRC) golongan O Rh negatif, terutama pada wanita usia reproduksi.
– Bila tersedia, gunakan darah sesuai hasil crossmatch sesegera mungkin.
6. Massive Transfusion Protocol (MTP)
Pada perdarahan masif dianjurkan rasio mendekati:
– PRC : Fresh Frozen Plasma (FFP) : Trombosit = 1 : 1 : 1
Tambahkan kriopresipitat bila fibrinogen <2 g/L.
7. Monitoring Selama Transfusi
Pantau setiap 5–15 menit:
– Tekanan darah
– Nadi
– Saturasi oksigen
– Frekuensi napas
– Diuresis (>30 mL/jam)
– Perdarahan
– Kesadaran
– Tanda reaksi transfusi
8. Evaluasi Laboratorium Berulang
Ulangi pemeriksaan:
– Hemoglobin
– Trombosit
– PT/aPTT
– Fibrinogen
– Analisis gas darah
– Laktat
– Kalsium ion
9. Koreksi Gangguan Metabolik
Perhatikan:
– Hipokalsemia akibat sitrat transfusi
– Hipotermia
– Asidosis
– Hiperkalemia
Semua harus dikoreksi selama resusitasi.
10. Hentikan Perdarahan
Transfusi tidak akan berhasil tanpa menghentikan sumber perdarahan melalui:
– Uterotonika
– Tamponade uterus
– Jahitan kompresi (B-Lynch)
– Embolisasi arteri uterina
– Laparotomi
– Histerektomi bila diperlukan
Komponen Darah yang Digunakan
- Packed Red Cells (PRC): meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen.
- Fresh Frozen Plasma (FFP): mengganti faktor pembekuan.
- Trombosit: diberikan bila trombosit <50.000/µL dengan perdarahan aktif.
- Kriopresipitat/Fibrinogen Konsentrat: diberikan bila fibrinogen <2 g/L.
Komplikasi Transfusi
– Reaksi hemolitik akut
– Reaksi alergi
– Demam nonhemolitik
– Transfusion-associated circulatory overload (TACO)
– Transfusion-related acute lung injury (TRALI)
– Hipokalsemia
– Hipotermia
– Hiperkalemia
– Koagulopati dilusional
Poin Penting
- Jangan menunda transfusi pada perdarahan masif hanya karena menunggu hasil laboratorium.
- Aktivasi Massive Transfusion Protocol sedini mungkin.
- Gunakan transfusi komponen darah, bukan whole blood rutin.
- Pertahankan fibrinogen ≥2 g/L pada perdarahan obstetri.
- Koreksi hipotermia, asidosis, dan hipokalsemia secara bersamaan.
- Pengendalian sumber perdarahan tetap merupakan terapi definitif.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. WHO Recommendations for the Prevention and Treatment of Postpartum Haemorrhage. https://www.who.int/publications
- International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO). FIGO Recommendations on Management of Postpartum Hemorrhage. https://www.figo.org
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Practice Bulletin No. 183: Postpartum Hemorrhage. https://www.acog.org
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). Blood Transfusion in Obstetrics (Green-top Guideline No. 47). https://www.rcog.org.uk















Leave a Reply