Temper Tantrum pada Anak
Kapan Masih Normal, Kapan Orang Tua Perlu Waspada?
Widodo Judarwanto, Sandiaz Yudhasmara
Abstrak
Hampir semua orang tua pernah menghadapi anak yang tiba-tiba menangis keras, berteriak, berguling di lantai, memukul, atau melempar barang ketika keinginannya tidak terpenuhi. Perilaku ini dikenal sebagai temper tantrum. Kondisi tersebut sebenarnya merupakan bagian normal dari proses perkembangan emosi pada sebagian besar anak usia 1 hingga 4 tahun. Berbagai penelitian menunjukkan sekitar 70 sampai 90 persen balita pernah mengalami tantrum, dengan puncak kejadian pada usia 2 sampai 3 tahun. Sebagian besar hanya berlangsung beberapa menit dan akan semakin jarang seiring bertambahnya usia.
Meski demikian, tidak semua tantrum dapat dianggap normal. Tantrum yang terjadi hampir setiap hari, berlangsung lama, disertai perilaku menyakiti diri sendiri atau orang lain, atau tetap sering terjadi setelah usia sekolah dapat menjadi tanda adanya gangguan perkembangan, gangguan perilaku, atau masalah kesehatan yang membuat anak merasa tidak nyaman. Gangguan tidur, sembelit, refluks lambung, dermatitis atopik, hingga beberapa penyakit alergi dapat membuat anak lebih mudah mengalami ledakan emosi. Artikel ini membahas temper tantrum berdasarkan penelitian ilmiah dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga orang tua dapat mengenali kapan kondisi ini masih merupakan bagian dari tumbuh kembang dan kapan perlu berkonsultasi dengan dokter.
Anak Menangis di Mal, Siapa yang Tidak Pernah Mengalaminya?
Bayangkan seorang anak berusia dua tahun sedang asyik bermain di pusat perbelanjaan. Ketika orang tuanya mengajak pulang, ia langsung menangis keras, memeluk mainan, berguling di lantai, bahkan menendang ketika digendong. Banyak orang tua merasa malu, panik, bahkan dianggap tidak mampu mendidik anak.
Situasi seperti ini sebenarnya sangat sering terjadi. Penelitian menunjukkan sekitar delapan dari sepuluh balita pernah mengalami temper tantrum. Pada usia sekitar dua tahun, sebagian anak bahkan dapat mengalami satu kali tantrum setiap hari. Kabar baiknya, sebagian besar kondisi tersebut merupakan bagian normal dari proses belajar mengendalikan emosi.
Yang perlu dipahami adalah, tantrum bukan berarti anak nakal. Pada usia balita, bagian otak yang berfungsi mengendalikan emosi dan menahan keinginan masih belum berkembang sempurna. Anak sudah memiliki banyak keinginan, tetapi belum mampu mengungkapkannya dengan baik. Akibatnya, rasa kecewa sering berubah menjadi tangisan dan ledakan emosi.
Apa Itu Temper Tantrum?
- Temper tantrum adalah ledakan emosi yang muncul ketika anak merasa marah, kecewa, lapar, lelah, takut, atau tidak mampu menyampaikan keinginannya.
- Bentuknya sangat beragam. Anak dapat menangis keras, berteriak, memukul, menggigit, melempar barang, menolak berjalan, bahkan berguling di lantai.
- Contohnya sederhana. Seorang anak ingin membeli balon. Ketika orang tua menolak karena balon sudah habis di rumah, anak langsung menangis dan berteriak. Contoh lain, anak diminta berhenti bermain karena sudah waktunya makan, tetapi ia justru melempar sendok dan menolak duduk di meja makan.
- Pada usia balita, perilaku seperti ini masih sering ditemukan dan umumnya bukan tanda gangguan mental.
Seberapa Sering Tantrum Terjadi?
Penelitian dari Wakschlag dan kolega menunjukkan sekitar 83 persen anak usia prasekolah pernah mengalami tantrum dalam satu bulan terakhir. Sekitar sepertiga balita usia 18 sampai 36 bulan mengalami tantrum setidaknya satu kali setiap hari. Penelitian Potegal juga menunjukkan sebagian besar tantrum hanya berlangsung sekitar 3 sampai 10 menit.
Tabel 1. Fakta Penelitian tentang Temper Tantrum
| Temuan Penelitian | Hasil |
|---|---|
| Anak pernah mengalami tantrum | 70 sampai 90% |
| Puncak usia | 2 sampai 3 tahun |
| Tantrum setiap hari | 30 sampai 35% balita |
| Durasi rata-rata | 3 sampai 10 menit |
| Durasi lebih dari 25 menit | Jarang terjadi |
| Mulai berkurang | Setelah usia 4 sampai 5 tahun |
Artinya, jika balita sesekali mengalami tantrum, orang tua belum perlu terlalu khawatir.
Mengapa Anak Bisa Tantrum?
- Sebagian besar orang tua mengira tantrum hanya disebabkan anak terlalu dimanja. Faktanya, penelitian menunjukkan penyebabnya jauh lebih kompleks.
- Otak balita masih belajar mengendalikan emosi. Saat anak lapar, mengantuk, kelelahan, atau terlalu banyak rangsangan dari lingkungan, kemampuan mengontrol emosi menjadi semakin menurun.
- Kondisi kesehatan juga dapat berperan. Anak yang mengalami sembelit sering merasa nyeri ketika buang air besar. Anak dengan refluks lambung dapat merasa perih setelah makan. Anak yang mengalami eksim sering terbangun malam karena gatal. Kurang tidur akibat kondisi tersebut membuat anak lebih mudah marah pada siang hari.
- Pada sebagian anak, alergi makanan juga dapat menyebabkan nyeri perut, kembung, gangguan tidur, atau eksim yang kambuh. Rasa tidak nyaman yang berlangsung terus-menerus membuat anak lebih mudah mengalami ledakan emosi.
Tabel 2. Penyebab Tantrum yang Sering Ditemukan
| Penyebab | Contoh sehari-hari |
|---|---|
| Lapar | Belum sempat makan saat diajak bepergian |
| Mengantuk | Bermain hingga larut malam |
| Kelelahan | Seharian jalan-jalan |
| Sulit berbicara | Belum mampu menjelaskan keinginannya |
| Rutinitas berubah | Mulai masuk sekolah |
| Konstipasi | Sulit buang air besar |
| Refluks lambung | Menangis setelah makan |
| Eksim | Gatal sehingga sulit tidur |
| Alergi makanan | Nyeri perut, kembung, atau gangguan tidur |
| ADHD atau autisme | Kesulitan mengendalikan emosi |
Kapan Tantrum Masih Normal?
- Sebagian besar tantrum merupakan bagian dari tumbuh kembang.
- Misalnya, anak menangis karena es krimnya jatuh. Setelah dipeluk beberapa menit atau dialihkan dengan permainan lain, ia kembali bermain seperti biasa. Kondisi seperti ini masih termasuk normal.
- Yang perlu diperhatikan adalah pola tantrumnya, bukan hanya sekali atau dua kali kejadian.
Tabel 3. Tantrum Normal dan Tantrum yang Perlu Diwaspadai
| Masih Normal | Perlu Evaluasi |
|---|---|
| Usia 1 sampai 4 tahun | Masih sering setelah usia 5 tahun |
| Kurang dari 10 menit | Lebih dari 20 sampai 30 menit |
| Ada penyebab yang jelas | Tanpa penyebab yang jelas |
| Mudah ditenangkan | Sangat sulit ditenangkan |
| Tidak melukai diri | Memukul kepala atau menggigit diri sendiri |
| Tidak mengganggu aktivitas | Mengganggu sekolah dan kehidupan keluarga |
Penelitian menunjukkan bahwa tantrum yang berlangsung lama dan terjadi berkali-kali setiap hari memiliki risiko lebih tinggi berkaitan dengan gangguan perilaku pada masa berikutnya.
Jangan Langsung Menyalahkan Pola Asuh
- Tidak semua anak yang sering tantrum disebabkan oleh pola asuh yang salah.
- Seorang anak yang mengalami sembelit selama lima hari dapat terus merasa nyeri sehingga menjadi lebih mudah marah. Anak yang tidur hanya enam jam karena hidung tersumbat akibat alergi juga akan lebih mudah rewel keesokan harinya.
- Karena itu, ketika tantrum terjadi terus-menerus, dokter tidak hanya menilai perilaku anak, tetapi juga mencari kemungkinan adanya gangguan tidur, gangguan makan, penyakit saluran cerna, alergi, atau gangguan perkembangan.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua?
- Ketika anak sedang tantrum, hal pertama yang perlu dilakukan adalah tetap tenang. Berteriak balik hanya akan membuat anak semakin sulit mengendalikan emosinya.
- Pastikan anak berada di tempat yang aman. Tunggu hingga emosinya mereda. Setelah tenang, jelaskan aturan dengan kalimat sederhana.
- Penelitian menunjukkan bahwa memberikan perhatian saat anak berperilaku baik jauh lebih efektif dibandingkan menghukum saat anak sedang marah.
Tabel 4. Cara Menghadapi Tantrum
| Sebaiknya Dilakukan | Sebaiknya Dihindari |
|---|---|
| Tetap tenang | Berteriak |
| Pastikan anak aman | Memukul |
| Peluk bila anak menginginkannya | Memaksa anak segera diam |
| Terapkan aturan yang konsisten | Mengubah aturan setiap hari |
| Beri pujian saat anak berhasil tenang | Memberi semua keinginan agar berhenti menangis |
| Cari penyebab bila sering berulang | Menganggap anak selalu manja |
Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?
Segera konsultasikan apabila ditemukan salah satu kondisi berikut.
- • Tantrum hampir setiap hari.
- • Berlangsung lebih dari 20 sampai 30 menit.
- • Anak melukai dirinya sendiri atau orang lain.
- • Masih sering terjadi setelah usia lima tahun.
- • Disertai keterlambatan bicara atau sulit berinteraksi.
- • Gangguan tidur yang berat.
- • Sulit makan atau berat badan sulit naik.
- • Sering sembelit, muntah berulang, nyeri perut, atau diare kronis.
- • Orang tua mencurigai adanya ADHD, autisme, atau gangguan perkembangan lainnya.
Penutup
Temper tantrum merupakan bagian dari proses belajar mengendalikan emosi. Pada sebagian besar balita, kondisi ini akan berkurang dengan sendirinya ketika kemampuan berbicara, berpikir, dan mengendalikan diri semakin matang.
Namun, orang tua juga perlu memahami bahwa tantrum yang sangat sering atau berlangsung lama tidak selalu hanya berkaitan dengan pola asuh. Gangguan tidur, konstipasi, refluks lambung, dermatitis atopik, alergi makanan, maupun gangguan perkembangan dapat membuat anak terus merasa tidak nyaman sehingga lebih mudah marah. Mengenali penyebabnya sejak dini membantu anak mendapatkan penanganan yang tepat dan mendukung tumbuh kembangnya secara optimal.












Leave a Reply