Rhinitis Alergi dan Alergi Makanan: Menelaah Bukti Ilmiah dan Tantangan Penelitian
Audi Yudhasmara
Rhinitis alergi merupakan salah satu penyakit alergi kronis yang paling sering dijumpai di seluruh dunia dan memberikan dampak yang besar terhadap kualitas hidup, produktivitas, serta biaya pelayanan kesehatan. Penyakit ini sering ditemukan bersamaan dengan kondisi atopik lain, seperti dermatitis atopik, asma, dan alergi makanan. Meskipun hubungan antara penyakit-penyakit tersebut telah lama diketahui, peran alergi makanan dalam perkembangan rhinitis alergi masih belum sepenuhnya dipahami dan hingga kini masih menjadi topik penelitian yang berkembang.
Dalam tinjauan pustaka yang dipublikasikan oleh Al-Abri dan kolega pada tahun 2018, berbagai hasil penelitian mengenai hubungan rhinitis alergi dan alergi makanan dianalisis secara komprehensif. Penulis menyoroti bahwa sebagian besar bukti yang tersedia menunjukkan adanya hubungan epidemiologis antara kedua penyakit tersebut, terutama pada anak dengan riwayat penyakit atopik. Namun, bukti yang ada belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa alergi makanan merupakan penyebab langsung terjadinya rhinitis alergi.
Berbagai penelitian yang dikaji menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan, terutama yang mengalami alergi sejak usia dini, memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami rhinitis alergi pada usia berikutnya. Hubungan tersebut diperkirakan berkaitan dengan mekanisme atopic march, yaitu perjalanan alami penyakit atopik yang dimulai dari dermatitis atopik dan alergi makanan pada masa bayi, kemudian berkembang menjadi asma dan rhinitis alergi pada masa kanak-kanak. Selain itu, faktor genetik, disfungsi sawar epitel, serta respons imun tipe 2 juga diduga berperan penting dalam proses tersebut.
Meskipun demikian, penulis menegaskan bahwa hubungan tersebut tidak selalu bersifat sebab akibat. Banyak penelitian yang masih memiliki keterbatasan, seperti ukuran sampel yang kecil, perbedaan definisi alergi makanan, penggunaan metode diagnosis yang tidak seragam, serta belum digunakannya baku emas diagnosis alergi makanan, yaitu Open Oral Food Challenge, pada sebagian besar penelitian. Keterbatasan tersebut menyebabkan hasil antarpenelitian masih bervariasi sehingga hubungan kausal belum dapat dipastikan.
Tinjauan ini juga menekankan bahwa pemeriksaan sensitisasi, seperti skin prick test maupun IgE spesifik, tidak dapat digunakan sendiri untuk menegakkan diagnosis alergi makanan karena hanya menunjukkan adanya sensitisasi imunologis. Diagnosis alergi makanan harus selalu dikaitkan dengan riwayat klinis yang konsisten dan, bila diperlukan, dikonfirmasi menggunakan Open Oral Food Challenge. Pendekatan ini penting untuk menghindari diagnosis yang berlebihan serta pembatasan makanan yang tidak diperlukan dan berisiko menyebabkan gangguan nutrisi pada anak.
Berdasarkan keseluruhan bukti yang tersedia, Al-Abri dan kolega menyimpulkan bahwa hubungan antara rhinitis alergi dan alergi makanan merupakan bidang penelitian yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Penelitian prospektif dengan jumlah subjek yang besar, penggunaan kriteria diagnosis yang seragam, serta konfirmasi alergi makanan menggunakan Open Oral Food Challenge diperlukan untuk menjelaskan hubungan kausal antara kedua penyakit tersebut. Hasil penelitian semacam ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan strategi pencegahan, diagnosis, dan tata laksana penyakit alergi yang lebih akurat dan berbasis bukti.
Referensi
- Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to future research. Sultan Qaboos Univ Med J. 2018 Feb;18(1):e30-e33. doi: 10.18295/squmj.2018.18.01.005. Epub 2018 Apr 4. PMID: 29666678; PMCID: PMC5892810.












Leave a Reply